sungguh ku sangat rindu padamu
bahkan mungkin terlalu rindu padamu
rindu akan hangat tubuhmu
peluk eratmu
belai lembutmu
kecup bibirmu
senyum indahmu
suara merdumu
sungguh ku sangat merindu
dan semakin terlalu merindu
padamu
rindu akan kobar semangatmu
ide-ide cerdasmu
kritik pedasmu
sungguh ku sangat merindu
semakin bertambah sepanjang waktu
rindu akan hangat cintamu
sejuk kasihmu
gelora sayangmu
gelombang rindumu
damai bersamamu
sungguh ku sangat merindu
padamu selalu
puisiku
kekasihku
isteriku
raniku
Syarifa-ku
Ulya-ku
ku merindu segala
di dirimu
ragamu
jiwamu
sifatmu
caramu
Sabtu, 25 Juni 2011
Minggu, 12 Juni 2011
rindu padamu
Ul, ku rindu padamu dalam setiap peran yang kau mainkan bagiku. Ku rindu padamu sebagai laki-laki yang merindu perempuan. Aku merindumu sebagai suami yang merindu isteri. Aku merindumu sebagai kekasih yang merindu belahan hati. Aku rindu padamu sebagai seorang sahabat yang merindu sahabat jiwa.
Ul, tak mungkin bagiku untuk menceritakan segala rinduku padamu. Tidak pada siapapun, karena rinduku padamu hanya mampu kubagi padamu. Rinduku padamu hanya mampu ku ungkap padamu. rinduku padamu hanya mampu ku urai denganmu.
Ul, kadang gemetar seluruh badan, bergetar di tiap titik aliran badan, ketika mencoba menahan rindu padamu.
Ul, tak mungkin bagiku untuk menceritakan segala rinduku padamu. Tidak pada siapapun, karena rinduku padamu hanya mampu kubagi padamu. Rinduku padamu hanya mampu ku ungkap padamu. rinduku padamu hanya mampu ku urai denganmu.
Ul, kadang gemetar seluruh badan, bergetar di tiap titik aliran badan, ketika mencoba menahan rindu padamu.
Senin, 06 Juni 2011
hai
Ul, kau tahu, tak mungkin ku ceritakan sepiku kepada orang lain selain dirimu, tak mungkin ku ungkap resah gelisahku kepada orang lain selain dirimu.
rinduku, tak bisa ku alihkan kecuali ke dirimu. getar rasa dan jiwaku tetaplah milikmu. inilah bagian dari anugerah terbesar Tuhanku.
Ul, kini kau lebih tahu dariku kedalaman makna dari tiap peristiwa, lebih dekat pada sang Sejati.
rinduku, tak bisa ku alihkan kecuali ke dirimu. getar rasa dan jiwaku tetaplah milikmu. inilah bagian dari anugerah terbesar Tuhanku.
Ul, kini kau lebih tahu dariku kedalaman makna dari tiap peristiwa, lebih dekat pada sang Sejati.
Jumat, 03 Juni 2011
Rinduku Ul
kadang benar-benar seprti hampir putus asa. tak tahu lagi mesti bagaimana. Ul, ketika tiba-tiba ku rindu padamu, rindu belaimu, pelukmu, ciummu, cumbumu, menggigil tubuhku seprti tak ada lagi panas mengalir dalam darahku. Beku dalam salju merindu.
Ul, maafkan aku mesti menggunggumu dengan persoalan seperti ini. Di sana tentu kau tak lagi butuh kehadiran raga, damaimu kini damai jiwa, tak lagi membutuhkan pemenuhan tubuh.
Ul, kadang ku merindumu dalam rindu laki-laki kepada keperempuananmu, raga laki-laki yang membutuhkan raga perempuan, untuk memadu, bersatu, saling mengalirkan panas gejolak sebelum menggumpal membeku yang menyesakkan dada, mengaburkan pikir. Menggigil seluruh tubuh saat itu, ketika panas tak lagi tertahankan, semua jadi kebekuan.
Ul, saat ku merindumu dalam rindu sahabat untuk berbagi, serasa sepi seluruh bumi, lidah kelu terkunci. Segala hal yang mesti dibagi, menumpuk menekan dalam diri. Tinggal sunyi, menahan beban hampir meledak dalam dada, menyesakkan pikiran, menyempitkan wawasan, menyumbat aliran kecerdasan.
Ul, ku merindumu sebagai apapun yang melengkapi diri, tak mungkin mampu ku ganti, tak bisa dialihkan, tak bisa ku belokkan...
Ul, maafkan aku mesti menggunggumu dengan persoalan seperti ini. Di sana tentu kau tak lagi butuh kehadiran raga, damaimu kini damai jiwa, tak lagi membutuhkan pemenuhan tubuh.
Ul, kadang ku merindumu dalam rindu laki-laki kepada keperempuananmu, raga laki-laki yang membutuhkan raga perempuan, untuk memadu, bersatu, saling mengalirkan panas gejolak sebelum menggumpal membeku yang menyesakkan dada, mengaburkan pikir. Menggigil seluruh tubuh saat itu, ketika panas tak lagi tertahankan, semua jadi kebekuan.
Ul, saat ku merindumu dalam rindu sahabat untuk berbagi, serasa sepi seluruh bumi, lidah kelu terkunci. Segala hal yang mesti dibagi, menumpuk menekan dalam diri. Tinggal sunyi, menahan beban hampir meledak dalam dada, menyesakkan pikiran, menyempitkan wawasan, menyumbat aliran kecerdasan.
Ul, ku merindumu sebagai apapun yang melengkapi diri, tak mungkin mampu ku ganti, tak bisa dialihkan, tak bisa ku belokkan...
Label:
rindu
Jumat, 27 Mei 2011
isteriku
Ul, apa lagi yang mesti ku tuliskan untuk ungkap rindu padamu. Kata tak lagi mampu mewakili rasa. Kalimat hanya akan menyempitkan makna. Gelora rinduku padamu, hanya mampu dijawab oleh satu kata KETEMU, tak peduli ketemu di mana, bagaimana, kapan.
Kadang benar-benar merasa sendiri, sepi, tanpa teman untuk berbagi. Ul, ketidak bersamaan denganmu sungguh mencerabut akar hatiku. hampa, sunyi, senyap.
hanya itulah bahasa rinduku padamu, yang mampu ku tuliskan untukmu. tidak untuk mewakili apa-apa, tidak untuk mengungkapkan apa-apa. hanya berkata, hanya menulis, hanya memberitahu
aku rindu padamu, sungguh rindu padamu
Kadang benar-benar merasa sendiri, sepi, tanpa teman untuk berbagi. Ul, ketidak bersamaan denganmu sungguh mencerabut akar hatiku. hampa, sunyi, senyap.
hanya itulah bahasa rinduku padamu, yang mampu ku tuliskan untukmu. tidak untuk mewakili apa-apa, tidak untuk mengungkapkan apa-apa. hanya berkata, hanya menulis, hanya memberitahu
aku rindu padamu, sungguh rindu padamu
Senin, 23 Mei 2011
rindu Lana
seperti rinduku padamu, mungkin seperti itu juga Lana merindumu, ibunya. Cuma mungkin ia belum bisa bicara, belum bisa ungkapkan apa yang dirasa. kadang ku lihat wajah kecilnya gelisah, seperti tak mengerti apa yang diinginkannya. Saking bingungnya kadang ia tak mampu kalahkan kantuknya, dan tiap tawaran untuk melihat video atau fotonya bersamamu, ia pasti kan menerimanya.
kadang menangis sendiri, tak tahu mesti harus bagaimana. menatap wajah mungilnya, rasakan gelisah yang tiba-tiba melandanya,
Ul, ku harap engkau hadir dalam mimpi-mimpinya, membimbing dalam tidurnya, hingga tak pernah ia rasa tiada bunda....
trima kasih untukmu kekasihnya, belahan abadi jiwaku, puisi yang membentangkan duniaku
kadang menangis sendiri, tak tahu mesti harus bagaimana. menatap wajah mungilnya, rasakan gelisah yang tiba-tiba melandanya,
Ul, ku harap engkau hadir dalam mimpi-mimpinya, membimbing dalam tidurnya, hingga tak pernah ia rasa tiada bunda....
trima kasih untukmu kekasihnya, belahan abadi jiwaku, puisi yang membentangkan duniaku
Label:
pengin cerita
Langganan:
Postingan (Atom)