Minggu, 17 Juli 2011

kadang ragu

Hai Ul, nisfu sya'ban--biasanya Yaasin tiga kali setelah shalat magrib, iya kan? masih kulakukan kok.
Ul, kadang aku benar-benar takut tidak mampu memberi Lana apa yang mesti ia dapatkan. Mendidik, mengajar, membekali dengan segala kebutuhan menghadapi zamannya. Kadang aku ragu akan kemampuanku untuk melapangkan jalan bagi perkembangan Lana, perkembangan fisik maupun psikisnya.
Ul, tahun ini Lana mulai sekolah, meski masih belum kenal betul gunanya sekolah.
Lucu--mungkin kamu juga akan tertawa--hari pertama masuk ga sampai istirahat udah minta jajan dan langsung pulang, ga mau masuk lagi. Hari kedua sukses sampai akhir setelah istirahat beli kembang api.
Ul, ku rindu selalu bersamamu, sharing ide, bikin rencana, buat agenda, kejar mimpi, wujudkan angan.
Ul, semoga engkau sejahtera dan damai selalu, nyenyak dalam tidur panjangmu, di ranjang semerbang bunga mewangi, hingga bangkit di akhir penantianmu.

Rabu, 06 Juli 2011

isteriku,....


Ul, benar-benar sepi ku rasa hari ini. Tak ada perayaan, tak ada yang ribut merencanakan liburan, tak ada yang memilih tempat untuk sekedar makan. Benar-benar sunyi hari ini, tak ada belaian, pelukan, apalagi ciuman.
Ul, semakin terasa betapa perpisahan begitu menyakitkan, betapa kesendirian begitu menyeramkan, betapa kebersamaan begitu berharga dan tak terbayarkan.
Kadang masih saja air mata tak mampu ku tahan. Nyeri masih begitu terasa di hati. Sakit masih begitu terasa di jiwa. Sunyi hampa tanpa canda, sepi sendiri tanpa belahan diri.
Benar memang semua adalah takdir yang telah ditetapkan. Benar pula bahwa garis ketetapan tak ada yang mampu membelokkan. Tapi menerima semua takdir bukan berarti tidak lagi merasakan sakit dan pedih bukan?
Menerima bahwa segala peristiwa adalah hal terbaik yang mesti terjadi pada tiap diri bukan berarti tidak ada luluh lantak dalam diri ketika peristiwa begitu berbeda dengan yang diangan bukan?
Ul, semakin rindu ku padamu, semakin yakin akan maknamu bagiku. Semakin mengalir deras inginku bersamamu semakin yakin ku akan takdirmu bagiku.
Inilah anugerah terindah bagi jiwa. Anugerah yang mampu membuatku mengharu biru, anugerah yang mampu membuatku berkobar menyala, anugerah yang mampu membuatkan dingin membeku, anugerah yang mampu membuatku menangis darah, anugerah yang mampu membuatku bagai tersayat sembilu, anugerah yang selalu membuat hatiku begitu megah, anugerah yang kadang seakan mendorongku untuk tertuntuk menyerah, namun sekaligus juga tegak menantang.
Ul, rinduku padamu adalah bukti keagungan anugerah cinta bagiku. Anugerah yang mampu membuat manusia menjadi malaikat sekaligus iblis dalam kehidupannya..............

Sabtu, 25 Juni 2011

Ul, rinduku padamu

sungguh ku sangat rindu padamu
bahkan mungkin terlalu rindu padamu

rindu akan hangat tubuhmu
                    peluk eratmu
                     belai lembutmu
                      kecup bibirmu
                     senyum indahmu
                    suara merdumu

sungguh ku sangat merindu
dan semakin terlalu merindu
                               padamu
rindu akan kobar semangatmu
                    ide-ide cerdasmu
                     kritik pedasmu
                     
sungguh ku sangat merindu
semakin bertambah sepanjang waktu
rindu akan hangat cintamu
                    sejuk kasihmu
                     gelora sayangmu
                       gelombang rindumu
                     damai bersamamu

sungguh ku sangat merindu
padamu selalu
puisiku
    kekasihku
       isteriku
          raniku
      Syarifa-ku
         Ulya-ku

ku merindu segala
    di dirimu
        ragamu
         jiwamu
           sifatmu
         caramu
Ul, mmmmmmmmmmmmmmm.....ah...........

Minggu, 12 Juni 2011

rindu padamu

Ul, ku rindu padamu dalam setiap peran yang kau mainkan bagiku. Ku rindu padamu sebagai laki-laki yang merindu perempuan. Aku merindumu sebagai suami yang merindu isteri. Aku merindumu sebagai kekasih yang merindu belahan hati. Aku rindu padamu sebagai seorang sahabat yang merindu sahabat jiwa.
Ul, tak mungkin bagiku untuk menceritakan segala rinduku padamu. Tidak pada siapapun, karena rinduku padamu hanya mampu kubagi padamu. Rinduku padamu hanya mampu ku ungkap padamu. rinduku padamu hanya mampu ku urai denganmu.
Ul, kadang gemetar seluruh badan, bergetar di tiap titik aliran badan, ketika mencoba menahan rindu padamu.

Senin, 06 Juni 2011

hai

Ul, kau tahu, tak mungkin ku ceritakan sepiku kepada orang lain selain dirimu, tak mungkin ku ungkap resah gelisahku kepada orang lain selain dirimu.
rinduku, tak bisa ku alihkan kecuali ke dirimu. getar rasa dan jiwaku tetaplah milikmu. inilah bagian dari anugerah terbesar Tuhanku.
Ul, kini kau lebih tahu dariku kedalaman makna dari tiap peristiwa, lebih dekat pada sang Sejati.

Jumat, 03 Juni 2011

Rinduku Ul

kadang benar-benar seprti hampir putus asa. tak tahu lagi mesti bagaimana. Ul, ketika tiba-tiba ku rindu padamu, rindu belaimu, pelukmu, ciummu, cumbumu, menggigil tubuhku seprti tak ada lagi panas mengalir dalam darahku. Beku dalam salju merindu.
Ul, maafkan aku mesti menggunggumu dengan persoalan seperti ini. Di sana tentu kau tak lagi butuh kehadiran raga, damaimu kini damai jiwa, tak lagi membutuhkan pemenuhan tubuh.
Ul, kadang ku merindumu dalam rindu laki-laki kepada keperempuananmu, raga laki-laki yang membutuhkan raga perempuan, untuk memadu, bersatu, saling mengalirkan panas gejolak sebelum menggumpal membeku yang menyesakkan dada, mengaburkan pikir. Menggigil seluruh tubuh saat itu, ketika panas tak lagi tertahankan, semua jadi kebekuan.
Ul, saat ku merindumu dalam rindu sahabat untuk berbagi, serasa sepi seluruh bumi, lidah kelu terkunci. Segala hal yang mesti dibagi, menumpuk menekan dalam diri. Tinggal sunyi, menahan beban hampir meledak dalam dada, menyesakkan pikiran, menyempitkan wawasan, menyumbat aliran kecerdasan.
Ul, ku merindumu sebagai apapun yang melengkapi diri, tak mungkin mampu ku ganti, tak bisa dialihkan, tak bisa ku belokkan...