Jumat, 07 Oktober 2011

sayang, aku merindumu lagi

Ul, tiba-tiba rindu menyerang di pagi ini. Bergetar hati, menggigil tubuh, merindu hadirmu di hari-hariku. Segala kenangan, setiap keindahan, tiap jengkal perjalanan kembali melintas, bermain-main dalam pikiran, mengiris setiap lapis kepedihan yang belum juga tersembuhkan.
Ul, merindumu adalah salah satu nikmat terbesar yang dianugerahkan padaku, sekaligus juga kegelisahan yang terlalu sering dapat tertahankan.

Minggu, 02 Oktober 2011

ketika kata tak lagi bermakna

kerinduan,
sesuatu yang tak lagi mampu ku ungkapkan
getar dahsyat yang tak lagi mampu ku uraikan
gejolak yang tak lagi mampu ku wakilkan
 pada huruf
    pada kata
      pada kalimat

tinggal rasa
  makna tanpa kata
     arti tanpa bunyi

rasa cinta,
menghilangkan seluruh kata
  melenyapkan segenap simbol
     mendangkalkan setiap makna

cukup rasakan
getaran,
    aliran,
       gelombang badainya

padamu,
ku serahkan
tak ada akal
  tak ada pikir
     tak ada nalar

hanya jiwa
             hati
      dan sukma

ceritaku

Ul, lagi suntuk banget hari ini, ga da pa-pa, semua pekerjaan hari ini telah selesai, tapi aku malah kembali masuk dalam dunia sepi, tinggal hampa menemani.
Kadang terpikir untuk tidak pulang, bawa motor entah kemana, mencoba mencari keramaian untuk tutupi kesepian dalam diri, tapi selalu ae ingat Lana lagi main, so akhire ya pulang juga, tapi ketika sampai rumah dan Lana ga da di rumah, entah main entah pergi seperti saat ini, maka tanpa daya langsung ae terseret dalam pusaran kesepian yang kadang sangat menyakitkan, kadang sangat tak tertahankan. segalanya lenyap, tak ada suara, tak ada hembusan, tak ada kesejukan, hanya sunyi, sepi, hampa. hanya panas, gersang, meranggas. hanya kering, kerontang.
Ul, kadang kemarahan tak juga mampu ku kendalikan, ketika segala sesuatu berjalan tidak sesuai harapan, ketika tiap langkah hanya menghasilkan kekecewaan. kembali meranggas dalam ketak berdayaan. tak ada lagi yang meredam kemarahan ketika sampai di rumah, tak ada lagi yang menyiram kesejukan saat kegerahan menyerang di balik apa yang tampak di luaran.
Ul, ku semakian saja ku rasakan betapa engkau sangat aku butuhkan. untuk menemani, mendampingi, mengingatkan, mendamaikan, menyejukkan, menggairahkan.
Ul, ah....

Sabtu, 24 September 2011

akhire

hingga pada akhirnya
tak lagi mampu ku menulis apapun
tentangmu
    padamu

tinggal kelu
              membisu

Minggu, 18 September 2011

bukan separo tapi seluruh

bagaimana mungkin
ku kehilangan
separuh
       jiwaku
saat engkau 
         pergi

jika
seluruh hatiku
bersama
   denganmu
    

Sabtu, 17 September 2011

Ul

rindu, kangen, bronto, missing, dzauq, atau apapun lah orang dari berbagai belahan dunia menyebutnya. yang jelas seluruh jiwa mengharap pertemuan denganmu, segenap hati hanya terfokus padamu, setiap pori dalam tubuh benar-benar mengharap bertemu, berpadu dengan setiap pori dalam dirimu.
untuk bertemu, memadu, menyatu. dalam gelora yang bergulung, dalam desiran yang mententramkan, dalam kobaran yang mensirnakan.

Kamis, 15 September 2011

curhat lagi

Ul, tidak ada kebohongan di antara kita, tidak ada hal yang disembunyikan di antara kita. Semua ku ceritakan padamu, hanya padamu. Tak seorangpun boleh menerima seluruh ceritaku, engkaulah yang akan tahu.
Ul, kini masih saja ku bingung untuk kembali bercerita kepadamu, dari mana ku mulai cerita, terlalu banyak hal mengendap di kepala yang kadang seakan gak mampu ku tahan dan menekan berat pada pikiran, bagaimana aku bercerita, terlalu banyak kisah yang hendak kuceritakan namun tak tahu cara menyampaikan ceritaku padamu. tentang kegelisahan, tentang kerinduan, tentang cinta, tentang kita, tentang lana.
Ul, kadang memang aku bercerita kepada orang lain, tentang beberapa hal yang kurasakan, namun tetap saja terlalu banyak hal yang hanya ku ceritakan padamu, terlalu banyak kisah yang hanya bisa ku ungkapkan padamu, terlalu banyak peristiwa yang hanyak bisa ku urai padamu, terlalu banyak yang tak mungkin bisa ku ceritakan kepada orang lain, sedekat apapun ia denganku.
Ul, ah....mungkin dengan cara inilah ku mampu bercerita padamu. Dalam diam, dalam tepekur, dalam kesunyian kata, seluruh cerita mengalir dalam rasa, segenap kisah tersampaikan dalam sunyi,
Ul,