Sabtu, 06 Oktober 2012

kita, sayang....


aku dan kamu adalah cinta yang dianugerahkan
aku dan kamu adalah rindu yang digelorakan
aku dan kamu adalah rasa yang saling bertautan
aku dan kamu adalah langit bumi yang disatukan
aku dan kamu adalah raga jiwa yang dipertemukan
aku dan kamu adalah kanan kiri yang dipasangkan
aku dan kamu adalah memadunya bagian menjadi keutuhan
aku dan kamu adalah kepedihan dan kebahagiaan yang melahirkan kehidupan
aku dan kamu adalah ….......

Jumat, 05 Oktober 2012

Ul, merindumu lagi

Ul, kembali merindumu
dalam raga dan sukmaku
kembali ku merindumu
akan peluk dan ciummu
akan belai dan usapmu
akan tutur dan sapamu
akan senyum dan tawamu

kembali ku merindumu
merindu untuk membelaimu
merindu menatap matamu
merindu menikmati senyummu
membelai rambutmu
mendengar suaramu
merasakan desahmu

kembali ku merindumu
merindu hangat kasihmu
merindu gelora di dadamu
merindu aliran cinta dari jiwamu

kembali ku merindumu
merindu segala yang ada padamu
raga dan jiwamu

kembali ku merindumu
merindu segala yang berasal darimu
lahir dan batinmu

kembali ku merindumu
merindu untuk kembali berpadu
menyatu dengan desah dan nafasmu

kembali ku merindumu
merindu hangat peluk kasihmu
berpadu jiwaku dan jiwamu

kembali ku merindumu
merindumu sepanjang waktu..........

Selasa, 02 Oktober 2012

Ul, ternyata aku masih hanya bisa bercerita kepadamu, tidak kepada yang lain.....

Senin, 01 Oktober 2012

Kembali bercerita padamu

Ul, ngapa kok jadine kayak gini? Kayake aku benar-benar mulai merindumu untuk mewujud dalam dirinya. Benar-benar mulai kurasakan perasaan yang sama dalam kehadiranmu di dirinya.
Ul, aku kadang juga ga ngerti, apakah ini hayalan terpendamku untuk kembali menghadirkan dirimu di sisiku, ataukah ini kenyataan sebenarnya bahwa Allah telah mengijinkan jiwamu dibangkitkan kembali dalam dirinya agar kembali menemaniku.
Ul, kenapa jadinya seperti ini? Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa akan kurasakan rindu yang sama pada dirinya. Tak pernah ku bayangkan bahwa aku akan kembali merasakan kecemburuan sebagaimana kecemburuan ketika engkau bercerita kepadaku tentang teman-teman lelakimu di masa lalu.
Ul, berusaha ku tetap menjadi kesadaranku bahwa mungkin ini hanya hayalanku, sehingga berusaha sedapat mungkin aku tidak terlalu masuk dalam pusarannya, meski kadang aku terseret masuk dalam pusaran airnya.
Ul, gimana menurutmu? apakah engkau menghendaki ini dengan menyengaja --dengan ijin Tuhanmu-- untuk kembali bangkit jiwa dan bersemayam dalam raga yang kau pilihkan untukku? Ataukah ini hanya hayalanku karena belum juga mampu ku redam segala rindu akan hadirmu?
Ul, tak akan mungkin semua ini ku ceritakan selain kepadamu. Bukan karena aku takut ditertawakan, namun lebih karena hanya padamu aku bisa bercerita lepas, bebas, tanpa khawatir engkau akan mencibirku.
Ul, kadang ku rasakan terlalu lama engkau tidak mengunjungi malam-malamku. Kadang benar-benar malam menjadi impian akan keindahan pertemuan denganmu, dalam rindu yang menggebu, dalam cinta yang menggelora, dalam seutuh sepenuh jiwa untuk menyatu bersama. Bergumul kasih berpeluk sayang. Mengalir aliran lewat bibir berpagutan, berbagi kehangatan dalam dekap berpelukan.
Ul, benar-benar merindumu dalam raga dan jiwaku.................................

Kamis, 27 September 2012

Musim Haji Lagi

Ul, hari ini pelepasan jamaah haji Selo, seperti biasa jamaah dilepas di masjid. Hari ini yang berangkat 5 orang, Lek Ali dan Bu Is, Pak Lih dan Mbak Sih, dan Bu Parti. Berangkat habis subuh, tepate jam 5 pagi. 
Sebenare aku juga ga ikut melihat ke masjid karena Lana durung bangun, tapi mendengar talbiyah, kemudian melihat iring-iringan dari depan rumah, tetap saja membuatku kembali menangis. Ada perih menyelip di dada. 
Ul, kembali ku ingat apa yang pernah kita rencanakan, apa yang pernah kau katakan, apa yang pernah kau agendakan, bahwa kita akan menabung untuk haji. Bahwa kita akan menyisakan uang sedikit demi sedikit agar kita bisa berangkat haji.
Ul, tak bisa ku tahan tangisku jika ku ingat semua itu, jika ku ingat rencana haji kita.
Perih, perih melihat pasangan suami isteri berangkat haji Ul, sakit, sakit mendengarnya Ul.
Ul, mungkin satu yang masih bisa ku janjikan padamu, aku mesti haji, dan di sana kita akan bertemu, kita akan berhaji bersama Ul. Karna bagiku haji adalah ibadah jiwa, maka aku yakin kita pasti bisa bertemu dan berhaji bersama.
Ul, aku tak tahu berapa kali lagi mesti ku tahan tangisku atau berlari ke kamar kita untuk kembali menangis tersedu melihat pelepasan haji. Kamu tahu Ul, saat ini untuk berangkat haji perlu waktu 10 tahun dari waktu pendaftarannya. Jadi kalau sekarang aku daftar mungkin tahun 2022 atau 2023 aku baru bisa berangkat.
Tapi maafkan aku Ul, karna aku belum juga mendaftar, perlu sekitar 20 juta agar nama kita masuk dalam daftar calon peserta haji dan maafkan aku karna hingga kini aku belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.
Ul, beberapa waktu lalu aku mencoba mencari tahu tentang tabungan haji, ku coba ambil brosur tabungan haji dari beberapa bank, dan aku berharap ada salah satu di antaranya yang memberikan fasilitas langsung masuk dalam daftar tunggu calon jamaah haji meski belum mampu menyediakan uang 20 juta.
Doakan aku Ul, semoga kita segera mampu melaksanakan ibadah haji, bertemu di sana dan bersama menjalankan wajib sunnahnya.

Rabu, 26 September 2012

Ul, maafkan aku...

Ul, kembali ingin bercerita kepadamu, kembali ingin berbincang banyak hal denganmu.
Ul, banyak hal yang terjadi hari-hari ini. Banyak hal lucu yang terpaksa membuatku tertawa, banyak hal menjengkelkan yang memaksaku tak mampu menahan marah, banyak hal berjalan tak semestinya yang memaksaku tak mampu untuk menghindari kecewa.
Ul, sekarang Lana sudah mau belajar di TPQ, meski tetap saja masih harus ditemani mbak Nani, bahkan sudah sebulan belum juga mau untuk maju ke depan dan mendaras di depan guru TPQ. Beberapa hari ini Lana sering bertanya tentangmu, bahkan sering pertanyaannya seakan memprotes ketiadaanmu. Mungkin ia juga mulai merindumu, mulai melihat dengan iri teman-temannya yang bisa bermanja dengan ibunya. Beberapa hari ini terlalu sering Lana bertanya, 'Bapak lapo gusti Allah ngajak ibu nang langit?", kadang juga bertanya, "Ibu pinter bapak?", "ya", jawabku. "Ibu pinter trus dijak gusti Allah nang langit bapak", Ul aku bingung mesti jawab apa, karna belum sempat ku jawab Lana sudah bilang, "brarti nak Lana pinter, Lana yo dijak gusti Allah nang langit bapak". Hampir pecah tangisku Ul saat Lana ngomong itu, segera saja ku dekap ia karna aku memang ga bisa ngomong apa-apa. Ku pikir Lana benar-benar mulai merindumu, merindu ibunya, merasa iri ketika melihat teman-temannya bermain dan bermanja dengan ibunya.
Ul, beberapa hari ini juga Lana menjadi gampang ngambek, marah, rewel. Sudah semingguan ini kalo mau sekolah susah banget disuruh mandi, hampir setiap pagi nangis gara-gara mandi, padahal kamu tahu kan, yang mandiin mbak Nani (sekarang Lana benar-benar ga mau tak mandiin, padahal dulu sudah mau--mungkin karena ia ga berani mbantah aku).
Ul, sekarang Lana sudah mulai mau belajar menulis, tulisannya pun udah mulai tertata, meski kadang susah banget kalo disuruh belajar. 
Maafkan aku Ul karena sampai sekarang aku belum tahu cara yang tepat untuk mengajari Lana, cara yang tepat agar Lana merasa nyaman belajar denganku. Biasanya Lana belajar bareng Salma, di situ ia mau karena ada beberapa teman TK ne yang juga belajar di sana.
Maka, kalau boleh aku meminta, tolong Ul temani Lana dalam tidurnya, biarkan ia kembali merasakan kehadiranmu bersamanya, bermain bersamanya, biar ia kembali bisa kembali bermanja denganmu, meski hanya dalam alam mimpinya.
Ul, maafkan aku juga karena mungkin aku belum mampu memenuhi janjiku padamu untuk mewakilimu menjadi orang yang selalu ada ketika adik-adikmu membutuhkanmu. Jelas aku tak mungkin bisa menggantikan posisimu dalam hati mereka, yang berusaha aku lakukan hanyalah menjadi orang yang selalu ada ketika mereka perlu, bukan untuk menggantikan posisimu karena aku tak akan pernah mampu.
Ul, aku ngerasa hari-hari ini Anip dan Jun mungkin sedang mengalami kegelisahan luar biasa--entah karena apa--yang menurutku tidak akan mungkin dibagi denganku, karena bagi mereka mungkin hanya engkau lah yang paling layak untuk dijadikan tempat berbagi. Dan aku pun sama sekali tidak ingin dan tidak berhayal untuk menggantikan tempatmu. Mungkin yang bisa aku lakukan hanya berusaha untuk menjadi teman bicara yang baik bagi mereka, namun itupun belum mampu aku lakukan. 
Ul, bagiku tidak penting apakah kemudian anip ato jun bicara tentang masalahnya denganku atau tidak, karena menurutku--seperti saat aku mengalami kegelisahan--kita membutuhkan teman untuk diajak bicara. Hanya sekedar bicara, berbincang yang bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan permasalahan yang lagi menghinggapi kita. Dan biasanya Ul, bagiku itu cukup untuk meringankan beban dan mensegarkan kembali hati dan pikiran. Dan aku berharap ketika mereka dalam masalah, kami dapat saling bercerita--meski apa yang kami bicarakan tidak berhubungan dengan masalah sebenarnya--sedikit banyak dapat mengurangi beban permasalahan.
Ul, sekali lagi maafkan aku karena masih terlalu banyak hal yang mungkin masih jauh dari harapanmu padaku....
Ul, temani aku ya, karena kadang-kadang pun aku tidak bisa bicara kepada siapapun kecuali kepadamu....
Thanks Ul....
Miss U as always....
You're still my everything...


Sabtu, 22 September 2012

berandai-andai

Ul, kalau aku boleh berandai-andai, maka aku hanya punya satu, berandai-andai bahwa engkau bangkit kembali, mengisi kembali ruang kosong dalam ragaku. Kembali kita mengisi hari dengan cita dan impian, merangkai harapan, menyusun masa depan.
Ul, kalau boleh aku berharap, maka harapanku tinggal satu, semoga Allah memperkenankan raga ini biarlah kosong tanpa jiwa, karna jiwaku ada dalam jiwamu. Biar tak lagi punya ingin, biar tak lagi punya mimpi, biar tak lagi punya harap. Biarlah raga ini berjalan tanpa kehendak diri. Biar ia ikuti saja arah takdirnya, terima ikhlas peran kehidupannya, biarlah semua ku kembalikan pada-Nya. Biar Ia yang menentukan segalanya.
Ul, rindu kadang begitu membelenggu. Mengikat sukma dalam peraduannya. Menangis terseguk dalam kesendiriannya. Pilu.
Ul, cinta memang tak kenal masa, tak kenal beda alam ataupun beda singgasana. Cinta adalah rumah jiwa, di mana jiwa berada dalam kesejatiannya.
Ul, merindumu jelas adalah anugerah bagiku, membuat sekujur tubuhku beraroma tubuhmu.
Ul, temui aku kapan engkau mau, karna di sini aku tetap merindumu....