Minggu, 14 Oktober 2012

Ul, terus ki aku kudu piye...............................................................
sungguh aku bingung iki,.............................................. tell me something, please...!

Kembali merindumu, semakin menggebu, mengharu. Ul, huft, entahlah aku lagi bingung, sejujurnya ga ngerti juga ku apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Kembali merindumu, berusaha menemukanmu kembali dalam lintasan masa dan ingatanku.

Ul, biasanya juga begitu sih, cuma biasanya aku bercerita pada Jun tentang rinduku, dan seminggu tidak dapat bercakap, bertukar cerita dengannya ternyata juga mulai menjadi masalah bagiku.
Ul, ga ngerti juga sebenarnya apa yang sedang terjadi, aku merasakan betapa aku merindumu, yang sebelumnya dengan mudah ku kuasai ketika aku mampu berkomunikasi dengan Jun, entah itu sekedar sms, email, atau ngobrol.
Ul, aku ga tahu mengapa begitu. Real kerinduan yang kurasakan adalah kerinduanku padamu. Sangat jelas bagiku. Namun mengapa seringkali bisa ku selesaikan ketika mampu menjalin komunikasi dengan Jun. Apakah engkau ada di dalamnya?
Ul, seminggu ini aku ga bisa menghubungi Jun, baik lewat sms, email, atau pun lainnya, hanya kadang saja ia masih mau merespon ketika di fb. Aku ga tahu juga mengapa tiba-tiba ia seperti menghindariku, mengapa tiba-tiba ia begitu berusaha untuk tidak berkomunikasi denganku. aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Ya sebenarnya Ul, kalau sekedar mengira-ngira, bisalah aku lakukan, dan itupun tidak dalam satu perkiraan, ada beberapa kemungkinan yang sekarang lagi terjadi pada Jun, alasan kenapa ia memilih untuk memutus komunikasi dengannya, sehingga seakan ketika berusaha menghubunginya aku seperti berada di pinggir jurang dalam kemudian suara dan kata dariku harus masuk pada kehampaan.
Ul, aku benar-benar mulai khawatir yang apa yang sedang terjadi, beberapa di antara kemungkinan yang ada di pikiranku adalah bahwa Jun mungkin lagi kecewa atau marah atas sesuatu hal. Dan sesuatu hal itu terkait--entah langsung entah tidak--denganku, denganmu, dan dengan Lana.
Haaaah, entahlah Ul, bagaimana aku mesti bercerita kepadamu, karena aku sendiri juga sangat bingung........
Aaahhhh, entahlah....baru itu yang bisa ku ceritakan saat ini, mungkin lain kali aku aku menyambungnya kembali, ketika aku menemukan sesuatu yang baru dalam kejadian seperti ini....
....

Jumat, 12 Oktober 2012

Ul, berbagi cerita nih...

Hai Ul, aku selalu yakin bahwa engkau selalu berada dalam keadaan yang semakin baik di sisi Ia yang Maha Menghendaki Segala.

Ul, perkembangan Lana belakangan ini membuatku bingung, ragu, dan gamang untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Beberapa hari ini--mungkin sekitar 2 mingguan--Lana menjadi seperti males berangkat ke TPQ. Aku belum tahu pasti sebenarnya kenapa ia menjadi malas berangkat, apakah karena ia ingin bermain saja, ataukah ia merasa keberatan ketika harus sekolah dua kali, pagi di TK dan sore di TPQ, ataukah ia merasa terbebani dengan kenyataan bahwa ia belum berani untuk maju sendiri.
Sebenarnya terpikir juga bahwa ada kemungkinan Lana cukup terbebani dengan beban belajar ini. Ia yang secara usia mungkin masih sangat membutuhkan banyak bermain, tiba-tiba harus berangkat sekolah dua kali sehari, mungkin inilah stress keccil gaya anak-anak, menjadi malas berangkat.
Ada saja alasan yang ia gunakan agar tidak berangkat, mulai dari ngantuk, tidak mau mandi, hingga tidak mau pakai baju (maka beberapa kali Lana berangkat sekolah dengan menggunakan kaos). Sehingga dalam beberapa hari inipun aku sering bertegang urat dengan Lana karena tidak mau berangkat TPQ. Ya, akhirnya ia berangkat juga sih, tapi berangkatnya dengan keterpaksaan, terpaksa karena ga berani membantahku.
Ul, aku sendiri cukup terbebani melihat Lana berangkat TPQ dengan terpaksa. Aku sendiri merasa jangan-jangan belum waktunya bagi Lana untuk benar-benar belajar di sebuah institusi pendidikan.
Tapi kalau tidak ikut di TPQ, Lana mau mulai belajar ngaji di mana? Karena sekarang sudah menjadi umum bahwa anak-anak belajar ngaji di TPQ. Ngaji di musholla seperti saat kita kecil dulu sudah ga laku lagi. Sementara sampai sekarang aku juga masih bingung bagaimana cara ngajari Lana.
Ul, beberapa kali aku nyoba ngajari Lana ngaji, tapi selalu saja ia menolak dan kalau dipaksa, hasilnya ia nangis. Kalau sudah begini aku sendiri akhirnya yang ga tega.
Ya, untung saja ada satu kebiasaan yang sudah diterima Lana, yaitu bahwa habis magrib ia mesti ngaji fasholatan, meskipun kadang juga dilakukan sambil bermain dan aku yang lebih banyak membaca daripada ia.
Ul, seringkali juga aku bingung dengan kecenderungan Lana yang masih saja sangat bergantung pada mbak Nani. Tidak salah memang karena engkau sudah tidak ada di sisinya lagi, tapi pada tingkat tertentu aku khawatir ia menjadi semakin tergantung pada mbak Nani sehingga tidak memiliki keberanian untuk bertindak sendiri, bertindak mandiri.
Ah, entahlah Ul, hari-hari ini aku sering bingung mesti bicara dengan siapa, bertukar pikiran dengan siapa? Biasanya memang aku bicara dengan Jun dan seringkali ia memberi solusi yang bagus, namun beberapa hari ini kayaknya Jun sendiri lagi bertarung dengan dirinya sendiri dan kayaknya belum bisa diganggu dengan hal-hal lainnya.
Ya, akhirnya cerita sajalah ke awakmu karena memang selama ini kepada engkaulah aku mengatakan semuanya pada akhirnya, he he he.
Semoga segera ku temukan caranya, bantu aku ya...

Ul, seperti biasanya I love you as always, aku merindumu dalam tidur dan sadarku....

Rabu, 10 Oktober 2012

ul....

Ul, ah...tak tahu lagi ku mesti cerita dari mana. Sepertinya banyak hal yang terjadi dan banyak hal yang membuatku serasa gambang dan seperti kehilangan kendali diri.
Ul, entahlah aku juga bingung bagaimana cara mengatasi ini, rasanya segala sesuatu menjadi lebih berat untuk dihadapi,

Selasa, 09 Oktober 2012

Uuuuulllllllllllllllllllllllllllllllll...................................................
hanya bisa ku rasakan,
tak lagi mampu ku katakan

Uuuuuuuullllllllllllllllllllllllllll...........................
kembali merindumu dan selalu merindumu.

Ul, aku percaya bahwa apapun yang terjadi tak akan menghilangkan apa yang telah tertanam dalam dada, karena semua berasal dari-Nya. Apapun yang menimpa tak akan mungkin mampu merubah apa yang telah diabadikan dalam jiwa, karena semua adalah kehendak-Nya.

Ul, ah....sudahlah....kadang memang tak ada lagi kata yang bisa diucap, tak ada lagi huruf yang bisa dirangkai, tak lagi ada kalimat yang dapat diurai....

Minggu, 07 Oktober 2012

Sekedar cerita

Hai Ul, aku yakin engkau dalam keadaan yang selalu baik malah mungkin semakin hari semakin luar biasa karena engkau kini bersama Ia yang Maha Segala.
Ul, aku merindumu, pasti itu, tapi bukan untuk itu aku menulis kali ini. Aku hanya ingin bercerita bahwa kayake sekarang Jun baru dalam masalah yang mungkin ia sendiri kurang bisa terima. Mungkin juga saat ini ia merasa bahwa satu-satunya orang yang berhak untuk mendengar ceritanya adalah engkau, maka kalau bisa datanglah padanya, biar ia bisa bercerita, menceritakan banyak hal yang mungkin saat ini mengganjal dan menekan batinnya.
Ul, aku bukan engkau dan tidak akan pernah menjadi engkau. Bagi Jun dan Anip engkau jelas tak tergantikan. Aku hanyalah orang yang dulu pernah engkau ajak untuk membantumu, menjaga agar segalanya tetap berjalan dengan baik, menjadi orang yang akan ada ketika diperlukan, dibutuhkan.
Ul, terus terang hanya satu yang bisa ku janjikan untukmu bahwa aku berusaha selalu menjadi orang yang membantumu untuk menjaga mereka, orang-orang yang bertahta dalam singgasana hatimu, menjadi orang yang senantiasa ada ketika diperlukan, menjadi orang yang selalu bersedia untuk setiap bantuan dan pertolongan.
Ul, jangan biarkan anak-anak itu kehilangan pegangannya, hadirlah saat mereka benar-benar membutuhkanmu untuk bicara, mungkin saja mereka agak terbiasa denganku untuk membicarakan banyak hal, tapi Ul, aku tak akan pernah mampu untuk menyentuh wilayah privacy mereka, wilayah yang mungkin hanya engkau yang boleh memasukinya.
Benar katamu Ul bahwa pada akhirnya semua orang akan sendiri, namun benar juga bahwa ada saat ketika orang tidak dapat menahan segalanya sendiri. Ada saat-saat di mana orang membutuhkan seorang yang benar-benar dipercaya untuk sekedar berbagi cerita. Untuk sekedar melepaskan penah di dada, untuk sekedar meringankan beban yang menekan hati dan rasa.
Ul, aku mulai berpikir bahwa mungkin saja apa yang kulakukan selama ini salah. Aku salah sudah berbicara terlalu dalam dengan Jun mengenai berbagai hal yang terkait denganmu, Lana, dan aku sendiri.  Aku khawatir bahwa ada beberapa hal dari yang aku ceritakan sedikit banyak mengusik atau bahkan mungkin mengganggu.
Awalnya memang aku hanya ingin berbagi, dengan harapan Jun juga mau berbagi persoalan denganku--meski aku tahu aku tak bisa berharap terlalu banyak karna aku tahu mungkin hanya engkau yang mampu--. Dan kenyataannya memang begitu.
Ul, aku tidak marah, tidak kecewa. Bagiku ketika Jun dan Anip bisa menerimaku sebagai teman bicara, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Artinya aku tetap masih punya cukup banyak kesempatan untuk tetap melakukan apa yang pernah aku janjikan padamu, menjaga dan menjadi orang yang ada ketika dibutuhkan, ketika diminta bantuan.
Ul, sekali lagi, dengan izin Ia yang Maha Segala, hadirlah dalam hatinya, biar ia dapat kembali berbincang denganmu, berbagai beban denganmu agar tak terlalu lama berada dalam kegelisahan yang kadang sangat menyakitkan.
Ul, wis disik ya, meski sebenare tak pernah ada cukup waktu bagiku ketika bersamamu.........
Ul, kembali merindumu, dalam raga dan sukmaku....

Sabtu, 06 Oktober 2012

kita, sayang....


aku dan kamu adalah cinta yang dianugerahkan
aku dan kamu adalah rindu yang digelorakan
aku dan kamu adalah rasa yang saling bertautan
aku dan kamu adalah langit bumi yang disatukan
aku dan kamu adalah raga jiwa yang dipertemukan
aku dan kamu adalah kanan kiri yang dipasangkan
aku dan kamu adalah memadunya bagian menjadi keutuhan
aku dan kamu adalah kepedihan dan kebahagiaan yang melahirkan kehidupan
aku dan kamu adalah ….......

Jumat, 05 Oktober 2012

Ul, merindumu lagi

Ul, kembali merindumu
dalam raga dan sukmaku
kembali ku merindumu
akan peluk dan ciummu
akan belai dan usapmu
akan tutur dan sapamu
akan senyum dan tawamu

kembali ku merindumu
merindu untuk membelaimu
merindu menatap matamu
merindu menikmati senyummu
membelai rambutmu
mendengar suaramu
merasakan desahmu

kembali ku merindumu
merindu hangat kasihmu
merindu gelora di dadamu
merindu aliran cinta dari jiwamu

kembali ku merindumu
merindu segala yang ada padamu
raga dan jiwamu

kembali ku merindumu
merindu segala yang berasal darimu
lahir dan batinmu

kembali ku merindumu
merindu untuk kembali berpadu
menyatu dengan desah dan nafasmu

kembali ku merindumu
merindu hangat peluk kasihmu
berpadu jiwaku dan jiwamu

kembali ku merindumu
merindumu sepanjang waktu..........