Jumat, 19 Oktober 2012

Curhat hari ini

Hai Ul, hari ini sebenare q pengen coba nata kembang, tapi sejak subuh tadi untuku kumat. Ga seperti biasane, kali sampai sakit bukan main sampai kepala pusing, mata berkunang, terus badan lemes, padahal dah kumur pakai air garam (biasane manjur) terus tak kasih amox dan paracetamol (langkah berikute nak air garam ga manjur), dan tetapi saja masih sakit bukan main. Tapi kali ini dah agak mendingan so bisa mulai cerita ke kamu. Mungkin karena matahari wis panas (biasane jika sakit gigi memang kalau siang ga terlalu terasa tapi menjelang sore kambung lagi og).
Ul, tadi malam aku mimpi Jun ngecall aku tapi ketika tak angkat dia ga ngomong apa-apa cuma nangis. Aku ga tahu sebenarnya apa yang terjadi tapi setelah itu aku bangun dan sms ke Jun menanyakan kabar, ya....masih saja ga mau balas dia. Aku cuma berharap bahwa mimpi itu bukan apa-apa hanya sekedar bunga tidur akibat kepikiran karena ga pernah bisa berkomunikasi dengan Jun beberapa hari ini.
Ul, tetap saja aku ga bisa menghindari rasa penasaran dan kepikiran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku juga ga bisa memastikan apakah email yang tak kirim dibaca atau tidak oleh Jun, tapi kemarin sekitar jam 10 an tiba-tiba perasaanku ga enak. Perasaan yang biasanya terjadi ketika ada orang yang marah atau lagi ada sesuatu denganku, dan jika itu terkait emailku ke Jun maka ada kemungkinan ia sudah membacanya atau minimal ia sudah melihatnya.
Ah, entahlah Ul. Mungkin kesalahan terbesarku adalah karena tanpa sadar aku dalam beberapa hal aku telah menjadikan Jun sebagai penggantimu. Aku mulai merasakan kenyamanan ketika aku bercerita dengannya sebagaimana ketika aku bercerita kepadamu (ya tentu saja ada beberapa hal yang bisa kubagi denganmu namun tidak bisa kubagi dengan Jun).
Serius Ul, aku mulai menyadari hal itu ketika Jun mau berangkat ke Arizona, tiba-tiba aku ngerasa, wah kalau gini trus gimana aku bisa berbagi dengannya? Di awal-awal Jun di Arizona memang tidak ada kendala karena ia juga masih sering bercerita kepadaku dan komunikasi lancar, tapi beberapa waktu lalu keadaan mulai berubah dan aku harus mengakui bahwa apa yang tak perkirakan benar. Aku kehilangan tempat berbagi, kehilangan kenyamanan berbagi.
Ul, lihat saja tulisan di sini, baru beberapa hari saja sudah banyak posting yang tak lakukan, padahal sebelumnya sangat jarang aku ngepos di sini. Aku tidak bisa lagi bercerita padanya sehingga aku kembali menulis kepadamu di sini.
Ul, kadang terlintas juga dalam pikiranku bahwa Jun adalah perempuan yang engkau pilihkan untukku, makanya aku mulai merasakan bahwa rinduku padamu dapat ditawarkan ketika aku bisa berbicara dengannya. Aku mulai merasakan kebutuhan untuk selalu merasakan kehadirannya dalam sebuah komunikasi yang timbal balik sebagaimana aku membutuhkan kehadiranmu untuk melengkapi keutuhan jiwa. Maka ketiadaan komunikasi dengan Jun pun sekarang menjadi menggelisahkanku.
Tapi, sebenarnya masih ada satu lagi yang tak anggap jauh melampaui seluruh keinginanku untuk menjadikan Jun sebagai penggantimu, yaitu aku benar-benar tidak ingin hubungan baik yang terjadi selama ini (Jun yang mungkin menganggapku sebagai kakak dan aku yang memandangnya sebagai adik) rusak hanya karena keinginanku untuk menikahinya yang datang belakangan.
Ul, pernikahan bagiku menjadi tidak penting lagi jika kemudian mengungkapkannya saja sudah merusak hal-hal baik yang akan berusaha selalu aku pertahankan. Aku lebih memilih hubungan sebagai saudara yang sudah ada sejak lama daripada menginginkan hubungan suami isteri namun merusak hubungan persaudaraan yang ada.
Ul aku tetap tidak akan pernah rela jika keinginanku yang mulai muncul untuk menjadikan Jun isteriku merusak hubungan persaudaraan kami. Dan aku curiga hal ini sedikit banyak terkait dengan hal itu. Maka mungkin mestinya ku bunuh saja keinginanku agar hubungan kami kembali seperti sebelumnya.
Tapi bagaimana aku bisa membunuhnya Ul, karena sebenarnya saat ini belatinya ada di tangan Jun. Aku butuh bantuannya untuk membunuhnya. Cukup dengan mengatakan, 'Mas aku ga bisa nikah dengan pean', sudah selesai dan pandanganku kepadanya tidak akan lagi bias, aku akan melihatnya sebagai benar-benar hanya adikku, bukan bias seperti sekarang ini, pada satu sisi aku memandangnya sebagai adikku, tapi pada sisi lain aku juga melihatnya sebagai perempuan yang akan menjadi calon isteriku, karena dalam dirinya kurasakan hadirmu.
Atau kadang aku juga merasa jangan-jangan Jun juga memberi harapan padaku karena aku juga berpikir bahwa jika engkau ada dalam diri seorang perempuan maka tidak mungkin perempuan itu menolakku, karena tidak mungkin engkau menolakku. Namun sebagai perempuan, tentu ia tidak akan mampu dibandingkan atau diposisikan sebagai yang kedua, padahal ia sudah tahu bahwa jika ia mau menerimaku maka ia pasti akan berada dalam bayang-bayang perempuan lain yang ia gantikan (meskipun itu dirimu Ul, kakaknya sendiri yang sangat dikaguminya). Dan saat ini ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri untuk itu.
Ah entahlah Ul, aku juga ga ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Cuma semakin lama ia mendiamkanku semakin bingung dan gelisah aku. Meski tetap saja aku akan berusaha untuk berlaku sebagaimana biasa, menyapa lewat sms, fb, atau bahkan berkirim email.
Ah Ul, sungguh sebenarnya aku sangat ingin menceritakan semua ini pada Jun, cuma aku khawatir akan menjadi tambah runyam masalah karena saat ini cerita ini pasti penuh dengan bias.
Ul, aku hanya berharap ini cepat selesai sehingga hubunganku dengan Jun bisa kembali seperti sediakala.

Wis sik ya, I love so much as always 

Ul, tetap saja aku merindumu sepanjang waktu dalam tidur dan sadarku....

Kamis, 18 Oktober 2012

the next story

Ul, ah...gimana ki. Aku mulai bingung Ul. Aku  ga ngerti apa sebenarnya yang terjadi. Hampir dua minggu Jun ga bisa atau tepatnya ga mau berkomunikasi sama sekali. Awalnya aku mengira mungkin ia lagi ada masalah besar yang harus diselesaikan dan ia butuh ketengangan untuk menyelesaikannya, namun sudah hampir dua minggu dan ia tetap ae ga mau berkomunikasi.
Ul, beberapa kali aku mencoba mengajaknya komunikasi dengan menanyakan hal-hal biasa yang dulu sering kami lakukan, beberapa kali juga aku mencoba melakukannya dengan memberi berita biasa yang sedang terjadi di sini. Biasanya ia akan memberi komentar meskipun cuma beberapa kata, tapi ini tidak sama sekali.
Ul, kamu tahu kan, aku sangat tidak bisa diam ketika aku merasa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Aku pasti akan berusaha untuk terus mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi. Itupun tidak bisa tak hindari dalam hal ini, meskipun dalam porsi dan cara yang jauh berbeda.
Ul, dulu ketika kamu engkau marah, cara marahmu juga mendiamkanku, biasanya aku akan selalu bertanya ke awakmu mengapa engkau marah dan biasanya juga tapi ga sampai 3 hari pasti kau gomong ke aku mengapa engkau marah, meski kadang setelah itu kau kembali ga mau ngomong ke aku. Itu cukup bagiku, aku tahu dan kan ku biarkan engkau marah hingga reda setelah beberapa hari.
Tapi ini Jun, she is not you Ul, tentu aku tidak bisa berlaku sama seperti apa yang tak lakukan padamu.
Beberapa hari ini aku berpikir untuk berkirim email atau tidak, dan tadi aku baru saja mengirim email ke alamat email Jun. Ul, tetap saja aku tidak bisa tahan untuk terus berada dalam kebingungan karena tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dan aku putuskan untuk bertanya (meskipun tentu saja aku juga tidak tahu apakah emailku akan menjadi jalan bagi penyelesaian masalah atau malah memperkeruh persoalan?).
Ul, kalau mau mengira-ngira apa yang terjadi maka ada beberapa kemungkinan (tapi ini hanya versiku lho, bukan apa yang sebenarnya terjadi).
Pertama, Jun marah karena aku bilang kadang aku sangat merindukan perempuan dan aku pengen nikah, tambah lagi aku bilang bahwa ia adalah salah satu perempuan yang memiliki kans besar untuk kuajak nikah. Karena Jun pernah bilang bahwa ia tidak bisa membayangkan Lana punya ibu baru.
Sungguh Ul, meskipun saat ini seringkali kerinduanku padamu dapat diturunkan tensinya (atau mungkin sedikit banyak terobati) ketika aku berbicara dengannya, tapi kalau hal ini membuat hubunganku dengannya buruk maka tentu akan aku katakan bahwa aku tidak akan menikah, kecuali ia membolehkannya.
Kedua, mungkin beberapa tulisanku ataupun ucapanku membuatnya tersinggung. Tapi sungguh Ul, semua yang ku tulis dan ku ucap adalah benar adanya. Aku hanya ingin ia tahu apa yang sebenarnya, tak ada maksud sedikit pun untuk menyakiti hatinya, apalagi dengan sengaja merusak hal baik yang sudah terjalin di antara kami.
Ketiga, mungkin Jun baru bertarung dengan dirinya sendiri untuk menentukan langkah hidupnya dan ia tidak mau ada orang lain yang mengganggu prosesnya. Dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Ul, sebenarnya aku hanya ingin bahwa meskipun kami tidak bisa saling berkomunikasi, namun aku setidaknya aku tahu bahwa kami sedang tidak dalam masalah. Aku tidak akan marah (dan memang tidak punya hak untuk marah) misalnya Jun mengatakan padaku, mas pean ga usah nggubungi aku selama aku di Arizona. It's OK bagiku, asal memang tidak ada masalah yang terjadi di antara kami.

Tapi Ul, selama aku ngerasa bahwa sesuatu yang salah terjadi. Sungguh Ul, aku pasti akan berusaha untuk mencari tahu letak permasalahannya. Kau kan tahu Ul, aku paling tidak kuat untuk menyimpan masalah sendiri, pasti stress kalau kayak gitu.

Ul, aku juga masih saja seperti dulu, hanya bisa bercerita dengan satu orang, tidak lebih. Dan setelah engkau tidak ada, Jun perlahan-lahan menjadi orang itu. Aku perlahan-lahan merasakan kenyamanan tersendiri ketika bercerita dengannya. Sama denganmu dulu. Dan kalau itu tidak bisa ku lakukan maka menulis menjadi jalan terakhirku.

Bedane Ul, kalau dulu aku lagi punya masalah denganmu, aku pun juga akan membicarakannya denganmu (ingat gak, ketika suatu waktu kita punya masalah, lalu aku bercerita padamu tentang isteriku yang lagi marah padaku via sms?) karena memang aku ga bisa bercerita kepada orang lain.
Jelas yang seperti itu ga bisa tak lakukan kepada Jun, lagian kadang aku juga ngerasa ga adil dengan anak itu, benar memang bahwa seperti katamu ada saat di mana ia jauh lebih dewasa dibandingkan aku, tapi tetap saja ia juga punya masalah sendiri yang dihadapi dan kamu tahu Ul, ia tidak pernah menceritakan masalah yang dihadapinya kepadaku sehingga aku pun kadang menjadi merasa ga enak, khawatir kalau beberapa di antara ceritaku akan membebani pikirannya. (Beda dengan kita dulu yang selalu bertukar cerita--meski tentu saja kita sama-sama tahu bahwa kita tetap memiliki rahasia masing-masing yang ga pernah bisa kita bagi dengan orang lain, meskipun itu pasangan kita sendiri).

Ah, entahlah Ul, aku hanya berharap bahwa semua ini akan berakhir dengan baik, benar-benar aku tidak menginginkan atau berharap bahwa pada akhirnya hubunganku dengan Jun, Anip, Aam, Bue, Mas Fuad, Mas Ib menjadi renggang karena masalah-masalah yang datang kemudian.

Ul, aku selalu berharap engkau tetap menemaniku, memberiku ide untuk mensikapi setiap masalah dengan baik (dalam hal ini jelas aku tidak mengenal Jun dan engkau tentu lebih mengenalnya daripada aku).

Sudah dulu Ul, lagian hari ini aku berangkat pagi, so harus segera bersiap-siap (tetap saja aku masih ingat betapa engkau sewot ketika jam segini aku belum ngapa-ngapa padahal harus masuk kelas jam 7, he he).

The last, Ul love U as always dan merindumu adalah bagian dari nikmat terbesarku....

Senin, 15 Oktober 2012

I must learn from the live. I know that. Everything is a way to make me be better, be stronger and I believe everyone is prepared for his destiny.
When we believe in a thing, we will be tested. The stronger more and more in what we believe ini it, the harder test will come to us, more anda more.
God is the most mercyful and He'll be patient to wait for us to tak action and make a change. But He never let us for taking a rest too long, because He know when we do that, our years will be lost usefullness.


Minggu, 14 Oktober 2012

Ul, terus ki aku kudu piye...............................................................
sungguh aku bingung iki,.............................................. tell me something, please...!

Kembali merindumu, semakin menggebu, mengharu. Ul, huft, entahlah aku lagi bingung, sejujurnya ga ngerti juga ku apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Kembali merindumu, berusaha menemukanmu kembali dalam lintasan masa dan ingatanku.

Ul, biasanya juga begitu sih, cuma biasanya aku bercerita pada Jun tentang rinduku, dan seminggu tidak dapat bercakap, bertukar cerita dengannya ternyata juga mulai menjadi masalah bagiku.
Ul, ga ngerti juga sebenarnya apa yang sedang terjadi, aku merasakan betapa aku merindumu, yang sebelumnya dengan mudah ku kuasai ketika aku mampu berkomunikasi dengan Jun, entah itu sekedar sms, email, atau ngobrol.
Ul, aku ga tahu mengapa begitu. Real kerinduan yang kurasakan adalah kerinduanku padamu. Sangat jelas bagiku. Namun mengapa seringkali bisa ku selesaikan ketika mampu menjalin komunikasi dengan Jun. Apakah engkau ada di dalamnya?
Ul, seminggu ini aku ga bisa menghubungi Jun, baik lewat sms, email, atau pun lainnya, hanya kadang saja ia masih mau merespon ketika di fb. Aku ga tahu juga mengapa tiba-tiba ia seperti menghindariku, mengapa tiba-tiba ia begitu berusaha untuk tidak berkomunikasi denganku. aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Ya sebenarnya Ul, kalau sekedar mengira-ngira, bisalah aku lakukan, dan itupun tidak dalam satu perkiraan, ada beberapa kemungkinan yang sekarang lagi terjadi pada Jun, alasan kenapa ia memilih untuk memutus komunikasi dengannya, sehingga seakan ketika berusaha menghubunginya aku seperti berada di pinggir jurang dalam kemudian suara dan kata dariku harus masuk pada kehampaan.
Ul, aku benar-benar mulai khawatir yang apa yang sedang terjadi, beberapa di antara kemungkinan yang ada di pikiranku adalah bahwa Jun mungkin lagi kecewa atau marah atas sesuatu hal. Dan sesuatu hal itu terkait--entah langsung entah tidak--denganku, denganmu, dan dengan Lana.
Haaaah, entahlah Ul, bagaimana aku mesti bercerita kepadamu, karena aku sendiri juga sangat bingung........
Aaahhhh, entahlah....baru itu yang bisa ku ceritakan saat ini, mungkin lain kali aku aku menyambungnya kembali, ketika aku menemukan sesuatu yang baru dalam kejadian seperti ini....
....

Jumat, 12 Oktober 2012

Ul, berbagi cerita nih...

Hai Ul, aku selalu yakin bahwa engkau selalu berada dalam keadaan yang semakin baik di sisi Ia yang Maha Menghendaki Segala.

Ul, perkembangan Lana belakangan ini membuatku bingung, ragu, dan gamang untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Beberapa hari ini--mungkin sekitar 2 mingguan--Lana menjadi seperti males berangkat ke TPQ. Aku belum tahu pasti sebenarnya kenapa ia menjadi malas berangkat, apakah karena ia ingin bermain saja, ataukah ia merasa keberatan ketika harus sekolah dua kali, pagi di TK dan sore di TPQ, ataukah ia merasa terbebani dengan kenyataan bahwa ia belum berani untuk maju sendiri.
Sebenarnya terpikir juga bahwa ada kemungkinan Lana cukup terbebani dengan beban belajar ini. Ia yang secara usia mungkin masih sangat membutuhkan banyak bermain, tiba-tiba harus berangkat sekolah dua kali sehari, mungkin inilah stress keccil gaya anak-anak, menjadi malas berangkat.
Ada saja alasan yang ia gunakan agar tidak berangkat, mulai dari ngantuk, tidak mau mandi, hingga tidak mau pakai baju (maka beberapa kali Lana berangkat sekolah dengan menggunakan kaos). Sehingga dalam beberapa hari inipun aku sering bertegang urat dengan Lana karena tidak mau berangkat TPQ. Ya, akhirnya ia berangkat juga sih, tapi berangkatnya dengan keterpaksaan, terpaksa karena ga berani membantahku.
Ul, aku sendiri cukup terbebani melihat Lana berangkat TPQ dengan terpaksa. Aku sendiri merasa jangan-jangan belum waktunya bagi Lana untuk benar-benar belajar di sebuah institusi pendidikan.
Tapi kalau tidak ikut di TPQ, Lana mau mulai belajar ngaji di mana? Karena sekarang sudah menjadi umum bahwa anak-anak belajar ngaji di TPQ. Ngaji di musholla seperti saat kita kecil dulu sudah ga laku lagi. Sementara sampai sekarang aku juga masih bingung bagaimana cara ngajari Lana.
Ul, beberapa kali aku nyoba ngajari Lana ngaji, tapi selalu saja ia menolak dan kalau dipaksa, hasilnya ia nangis. Kalau sudah begini aku sendiri akhirnya yang ga tega.
Ya, untung saja ada satu kebiasaan yang sudah diterima Lana, yaitu bahwa habis magrib ia mesti ngaji fasholatan, meskipun kadang juga dilakukan sambil bermain dan aku yang lebih banyak membaca daripada ia.
Ul, seringkali juga aku bingung dengan kecenderungan Lana yang masih saja sangat bergantung pada mbak Nani. Tidak salah memang karena engkau sudah tidak ada di sisinya lagi, tapi pada tingkat tertentu aku khawatir ia menjadi semakin tergantung pada mbak Nani sehingga tidak memiliki keberanian untuk bertindak sendiri, bertindak mandiri.
Ah, entahlah Ul, hari-hari ini aku sering bingung mesti bicara dengan siapa, bertukar pikiran dengan siapa? Biasanya memang aku bicara dengan Jun dan seringkali ia memberi solusi yang bagus, namun beberapa hari ini kayaknya Jun sendiri lagi bertarung dengan dirinya sendiri dan kayaknya belum bisa diganggu dengan hal-hal lainnya.
Ya, akhirnya cerita sajalah ke awakmu karena memang selama ini kepada engkaulah aku mengatakan semuanya pada akhirnya, he he he.
Semoga segera ku temukan caranya, bantu aku ya...

Ul, seperti biasanya I love you as always, aku merindumu dalam tidur dan sadarku....

Rabu, 10 Oktober 2012

ul....

Ul, ah...tak tahu lagi ku mesti cerita dari mana. Sepertinya banyak hal yang terjadi dan banyak hal yang membuatku serasa gambang dan seperti kehilangan kendali diri.
Ul, entahlah aku juga bingung bagaimana cara mengatasi ini, rasanya segala sesuatu menjadi lebih berat untuk dihadapi,

Selasa, 09 Oktober 2012

Uuuuulllllllllllllllllllllllllllllllll...................................................
hanya bisa ku rasakan,
tak lagi mampu ku katakan

Uuuuuuuullllllllllllllllllllllllllll...........................
kembali merindumu dan selalu merindumu.

Ul, aku percaya bahwa apapun yang terjadi tak akan menghilangkan apa yang telah tertanam dalam dada, karena semua berasal dari-Nya. Apapun yang menimpa tak akan mungkin mampu merubah apa yang telah diabadikan dalam jiwa, karena semua adalah kehendak-Nya.

Ul, ah....sudahlah....kadang memang tak ada lagi kata yang bisa diucap, tak ada lagi huruf yang bisa dirangkai, tak lagi ada kalimat yang dapat diurai....