Rabu, 31 Oktober 2012

Lana is Lana

Ul, Lana is still Lana, Lana ya Lana. Mungkin itu yang hari-hari menjadi cerita menarik. 
Kau tahu Ul beberapa hari ini Lana melakukan beberapa hal yang tidak biasa ia lakukan, mulai dari tiba-tiba ga mau ngaji, tiba-tiba ga mau berangkat sekolah, disuruh cukup rambut ga mau dan beberapa hal lain yang sudah menjadi rutinitasnya tiba-tiba ia tidak mau melakukan.
Ul, dalam beberapa hari ini aku melihat Lana sebagai benar-benar gambaran kecil kita berdua, keras kepalamu dan juga ngengkelku dua-duanya ada dalam dirinya dan kadang muncul dengan tiba-tiba. Bayangkan saja tiba-tiba aku harus berhadapan dengan diriku sendiri sekaligus dirimu dalam satu waktu, seorang yang kalau sudah punya keinginan tidak bisa ditawar ditambah selalu punya alasan untuk membenarkan keinginannya, ah....mesti banyak belajar lagi nih...
Ul, benar kata orang bahwa yang paling mampu untuk mengalahkan orang tua adalah anaknya sendiri. Mengapa demikian? aku berpikir mungkin bukan sekedar karena orang tua terlalu menyayangi anaknya, mungkin juga--selain karena sayang--orang tua juga melihat dirinya sendiri dalam diri anaknya. Jadi, mana mungkin seseorang mampu mengalahkan atau mengabaikan dirinya sendiri.
Ul, sebenarnya aku sendiri bingung dengan sikap Lana akhir-akhir ini yang seringkali berubah dengan tiba-tiba. Bisa saja kadang ia jenuh dengan aktivitas harian yang ia lakukan, pagi ke TK, sore TPQ, habis magrib Fasolatan (kalau yang ini kita juga kan, sama-sama mudah bosen dengan rutinitas yang kita lakukan) sehingga kadang ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda dengan rutinitas biasa, mungkin inilah refreshing a la Lana, he he...
Ul, mungkin juga ia sedang benar-benar merindukanmu sehingga seluruh energi dan fokusnya hanya padamu dan akibatnya ia merasakan malas luar biasa untuk melakukan apapun selain mengingatmu (kadang aku juga seperti itu kog) dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengalirkannya, so yang ia lakukan ya pokoke ogah melakukan apa-apa, ah entahlah Ul....
Ul sampai sekarang pun aku masih benar-benar bingung dan tak tahu apa yang mesti ku lakukan untuk memberi Lana bimbingan, pengarahan, dan pembelajaran terbaik (selain memasukkannya ke TK dan TPQ). Serius Ul, sampai sekarang aku belum menemukan cara yang tepat untuk membelajarkan Lana, karena bagiku Lana is a special one, berbeda dengan anak-anak seusianya baik dalam sikap, pilihan, tata pikir dan lain sebagainya.
Ul, Lana tetaplah Lana kita yang dulu, yang selalu heboh dalam mensikapi segala sesuatu, mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal yang tidak menyenangkan. Beberapa hari lalu ketika tiduran di tempat bue, tiba-tiba ia kejatuhan kotoran tokek, ia bilang, 'bapak ki rek teles gene?', kemudian tak lihat, e ternyata ada kotoran tokek di bajunya, maka ku jawab, 'ga pa-pa, mung keno telek tikus', tahu bahwa ia kena kotoran di bajunya, langsung ia ribut, mulai dari minta basuh tangan yang katanya baunya ga enak, terus langsung minta gantu baju--padahal yang kena mung sedikit--dan ga mau ketika tak bilang, ayo bali ganti klambine nang omah, tetap ae ia minta bajunya ditanggalkan dan akhirnya malah tidak berbaju (mung pakai singlet) baru mau ia pulang dengan singletan dan ambil baju ganti. 
Paginya, tiba-tiba ia bilang Bapak Lana ga pe sekolah, tak tanya lha ngapa? sakit?, ia diam saja meski menurutnya satu-satunya alasan adalah males karena terlalu jenuh (mungkin ia lagi boring dengan sekolah). Tak desak dengan pertanyaan, eee seperti biasa ia tetap ae diam dan mulai nangis...
Ah....kalau sudah gini aku yang kalah Ul, so akhire ya ga sekolahlah hari itu......
Ul, kadang aku berpikir jangan-jangan beban yang diterima Lana dengan beragam kegiatan belajarnya terlalu berat baginya. Jangan-jangan aku juga sudah mulai menuntutnya untuk bisa melakukan banyak hal yang sebenarnya ia belum mampu melakukannya, sehingga kadang ia merasa malas untuk melakukannya.
Ah, entahlah Ul......biasanya dalam keadaan seperti ini aku akan menghubungi Jun kemudian berdialog tentang hal ini dan hal-hal yang berkaitan sehingga seringkali menemukan beberapa alternatif untuk mensikapinya, tapi kali ini aku tidak bisa melakukannya. Kau tahu sendiri kan Ul, saat ini aku tidak memiliki akses komunikasi dialogis dengannya, entahlah sampai kapan....ya cuma aku berharap ini ga akan terjadi terlalu lama lah, he he...
Ah, sudahlah Ul, mungkin ini dulu cerita kali ini....Seringlah tengok rumah dan temani Lana ya (aku juga lho, kan aku juga kangen, he he...)

see you, love you so much as always.....
tunggu aku di pantai rindu karena aku akan datang dengan gelombangnya...he he....

Senin, 29 Oktober 2012

Ul,.....

Uuulllll.....susah temen nata hati, menstabilkan tata jiwa.....untung saja engkau tetap berada dan bersemayam di hati, menyatu jiwa....jika tidak entahlah aku pun ga tahu bakal gimana jadinya....he he...

Sabtu, 27 Oktober 2012

Ternyata Berat Juga

Ul, mungkin yang disebut sebagai cobaan yang sebenarnya adalah ketika kita merasa mulai terbebani dengan masalah yang kita hadapi, dan sebelum masalah itu selesai sudah datang lagi masalah secara beruntun sehingga kita benar-benar merasa tak bisa apa-apa lagi.
Ul, bulan ini aku benar-benar merasa bulan yang sangat berat. Masalah datang beruntung tanpa aku bisa menceritakannya pada siapapun. Diawali dengan Jun yang memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi, padahal kau tahu Ul, ia sudah menjadi the one bagiku, orang yang aku bisa bercerita apa saja padanya. Belum lagi aku mampu menata hatiku, tiba-tiba datang idul adha dan aku ga bisa menyediakan hewan kurban, sesuatu yang juga sangat menekan hatiku, membuatku tiba-tiba menangis, menyesal, sedih dan beragam perasaan menyatu yang pada akhirnya hanya terungkapkan dalam tangis sembunyi-sembunyi (dan bisa dengan tiba-tiba muncul dan muncul lagi).
Bahkan hari-hari ini mungkin aku benar-benar tak mampu lagi untuk menyembunyikan beban di wajahku, sehingga mungkin banyak orang bisa melihat dengan jelas bahwa aku lagi ada masalah (sesuatu yang selama ini berusaha aku sembunyikan dan biasanya mampu aku lakukan). Seperti kemarin, tiba-tiba saja aku ga bisa menahan tangis ketika pulang dari masjid, tiba-tiba saja ketika berjalan aku begitu sedih dan merasakan beban sangat berat menghimpit dada dan kepala sehingga menangis dengan begitu saja tanpa bisa aku tahan (hal seperti ini baru sekali kurasakan sebelumnya, yakni selama beberapa hari setelah kepindahanmu dengan alam yang berbeda). Suatu keadaan yang menurutku hanya muncul ketika aku benar-benar merasakan kehilangan yang luar biasa, kehilangan pegangan, kehilangan sandaran, kehilangan tempat berbagi.
Dan hari ini tambah lagi masalah yang membuat rencanaku hari ini untuk mencoba menata tanaman depan rumah gagal karena seluruh sendiku rasanya lumpuh, tak ada keinginan sama sekali untuk melakukan sesuatu. Rasanya seperti meledak kepala dan dadaku. Begitu kuat masalah menekan tanpa aku bisa bercerita kepada siapapun. Mungkin ini yang bisa membuat orang stress dan kehilangan kesadaran, ketika masalah begitu berat menekan pikiran dan perasaan sementara tak ada tempat untuk bercerita, ga da tempat untuk mengalirkan beban yang menekan.
Ul, belum pernah aku mengalami hal ini, biasanya seberat apapun masalah yang datang, aku masih cukup tenang, cukup santai untuk mensikapinya karena aku tahu bahwa ada tempat aku untuk bercerita (meski tidak selalu aku menceritakan masalahku, tapi cukup bagiku untuk mengurangi beban masalah ketika aku masih bisa bercerita dengan seseorang yang aku nyaman dengannya). Kali ini benar-benar aku tidak bisa bercerita dengan siapapun, karena dari dulu sampai seperti kau tahu Ul, aku hanya bisa bercerita pada satu orang, hanya satu orang, dan setelah kepindahanmu, aku merasakan the one adalah Jun, yang saat ini pun lagi tidak mau berkomunikasi denganku.
Ah, entahlah Ul, entah bagaimana dan apa yang mesti ku lakukan. Aku hanya mencoba untuk berpikir positif bahwa ini adalah salah satu cara yang dilakukan Tuhan untuk membuat kita semakin dewasa, semakin kuat menghadapi kehidupan, dengan cara memberi kita masalah yang seakan tak mampu kita selesaikan, kemudian menambah masalah secara beruntun sebelum masalah pertama benar-benar dapat kita selesaikan. Benar-benar berat menekan, melumpuhkan seluruh kekuatan dan keinginan, meruntuhkan seluruh keinginan untuk bertahan.
Ah, entahlah Ul, aku hanya mencoba untuk tetap yakin bahwa apapun yang ditimpakan adalah dalam batas kemampuan kita untuk menghadapinya. Bahwa cara Tuhan untuk mendewasakan jiwa kita adalah dengan memberi kita masalah yang sedikit lebih sulit, sedikit lebih berat, sedikit lebih kuat dari kemampuan kita saat ini.
Ah, entahlah Ul, tak bisa lagi aku menuliskan apa yang mesti kulakukan.....Kita lihat saja apa yang akan terjadi berikutnya...

I love you so much, ...jangan pernah tinggalkan aku dalam kesendirian jiwa, karena tanpamu aku bukan hanya rapuh, namun hancur berantakan....

Segalanya berasal dari-Nya, tentu Ia juga telah mempersiapkan cara penyelesaiannya....

Kamis, 25 Oktober 2012

Hanya cerita

Hai Ul, aku yakin engkau semakin hari semakin baik saja di sana.
Ul, sebenare sakit di ujung tulang belakangku sebenere kemarin dah mendingan dan tak pikir hari ini pasti sembuh, eee ternyata gara-gara kemarin aku motoran ke Gabus (aku lagi ada pelatihan LS di Gabus sampai hari ini), ternyata habis motoran kroso maneh, dan bangun tidur tadi sebenare dah agak mendingan, ya semoga nanti ga apa-apa lah kalo tak pake motoran ke Gabus lagi.

Hari ini sebenare Lana ngajak ke Pati, ke tempat mas Fuad. Sebab Lana pengen lihat penyembelihan kurban sapi di sana (biasa tiap ke sini kan mas Fuad selalu ngajak Lana ke tempatnya dan kemarin Lana tertarik karena ada penyembelihan kurban). Tapi, kan kamu tahu sendiri Lana ga bisa di tempat yang sangat ramai, so tak pikir ga usah ae lah, daripada mengko di sana rewel malah tambah ga enak.
Pas tak bilang ga usah nang nggone mas Fafa ya Na, ia cemberut pengene tetap ke sana, ia baru mau ga jadi ke sana ketika Anip kemudian janji akan ngajak Lana ke kolam renang (Anip memang jago mbujuki Lana og). Jadi nanti rencanane Lana akan ke kolam renang bareng Anip dan aku pergi ke Gabus untuk Pelatihan LS.

Ul, tetap saja aku pengen mengangis ketika ingat bahwa tahun ini aku gagal mengatur dan merencanakan segala sesuatu sehingga kita tidak bisa menyembelih kurban tahun ini (meski itu hanya seekor kambing), maaf ya Ul, terpaksa jatah kurbanmu kita tunda sampai tahun depan.

Eh Ul, tahu nggak ternyata benar kata orang-orang bahwa kapur barus bisa mengatasi tikus. Beberapa hari lalu aku benar-benar jengkel dengan tikus yang semakin merajalela di rumah, terus kemudian aku beli kapur barus, tak hancurkan lalu tak sebar di beberapa sudut yang menurutku biasa dilewati tikus, dan hasilnya....malamnya tidak ada lagi suara berisik tikus (ya minimal jauh lebih berkurang lah, he he). Tapi tadi malam tampaknya tikus sudah mulai merajalela lagi, kayaknya kapur barus yang tak taburkan sudah hilang khasiate, mungkin karena tak hancurkan maka baunya cepat hilang.
Ul, aku berpikir mungkin jika kapur barus tidak tak hancurkan dan masih berada di tempat-tempat yang biasa dilalui tikus maka tikus tidak akan melewatinya hingga kapur barus habis. Berarti semakin besar kapur barus semakin awet efeke.

Ul, engkau berada dalam hatiku, engkau pasti tahu apa yang terjadi di dalamnya, engkau pasti tahu gelegak-gelegak yang ada di dalamnya, maka bantu aku ya agar apapun yang terjadi aku tetap mampu mengatasinya, agar apapun yang terjadi efek baik dan kebaikan selalu menjadi pertimbanganku dalam melakukan segala sesuatu.

Ul, menyatulah selalu dalam jiwaku, bersama kita melangkah menuju wujud angan dan impian yang pernah kita bangun bersama.
Ul, aku merindumu, selalu
I love You so much, more anda more....

See you....

Rabu, 24 Oktober 2012

Lanjutan Cerita

Ul, ternyata aku tetap saja anam seperti yang dulu. Anam yang ketika secara psikologis mengalami gangguan, maka akan luruh dan penyakit fisik pun akan datang.
Ul, kemarin hampir saja aku benar-benar jatuh, hampir saja ku tinggalkan kelas dan pulang lalu membiarkan diriku terkapar. Tapi alhamdulillah tidak, aku masih bisa bertahan hingga jam pelajaran selesai. Kemarin pagi aku serasa kehilangan segala kekuatan penyanggaku, seakan rumah jiwaku rubuh, aku merasa pengabaian Jun selama 2 minggu ini benar-benar telah mengacaukan seluruh tata batinku. Aku mulai menuntut banyak hal, menginginkan banyak hal. Aku mulai bergerak menuju titik di mana aku hanya mementingkan diriku sendiri--sesuatu yang baru ku sadari setelah aku benar-benar kembali mengalami jatuh secara psikis--.
Ul tadi malam aku mulai berpikir tentang sakitku beberapa hari ini, sakit gigi selama 3 hari, kemudian mulai kemarin pagi hingga malam pangkal tulang belakangku sakit sehingga untuk tidur telentang susah, tapi sekarang dah baikan kog. Bahwa semua itu tidak sekedar terkait dengan kondisi fisikku, tidak sekedar terkait dengan cuaca, tapi lebih terkait dengan kondisi psikologisku. Kamu tahu kan Ul, dalam kondisi psikis yang tidak stabil maka hampir bisa dipastikan akan akan mengalami drop secara fisik.
Ul, setelah engkau Jun adalah perempuan yang mampu menggelisahkanku, membuatku berpikir berulang kali tentang apa yang terjadi. Tapi kegelisahanku karenamu bagiku adalah sebuah keindahan tersendiri, sebuah inspirasi yang selalu menghasilkan puisi-puisi--kegelisahan yang terindukan, keresahan yang didambakan. Berbeda dengan kegelisahanku yang berhubungan dengan Jun, aku merasakan kegelisahan yang sangat berbeda, ini seperti kegelisahan karena ketakutan. Takut sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang tak inginkan, takut sesuatu yang buruk menghancurkan sesuatu yang sebelumnya baik dan porsinya berlebihan.
Ul, itu yang kemudian membuatku berpikir dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Benarkah kegelisahan macam ini? Karena menurutku, cinta dan kasih sayang tidak mungkin menghasilkan ketakutan, cinta dan kasih sayang hanya akan menghasilkan kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan.
Ul, ternyata aku mulai bergerak dari menyayangi Jun menjadi ingin memilikinya, sebuah keinginan nafsu khayawani yang mulai menggangu dan mulai tak terkendali. Aku mulai merasa perlu tahu apapun yang ia lakukan, aku merasa kecewa ketika ia melakukan sesuatu dan aku tidak diberitahu, dan seterusnya.
Aku kembalikan semua pada awalnya Ul, bahwa awalnya aku menyayangi Jun sebagaimana aku menyayangi Anip, Aam, Fahrur, Zein. Aku menyayanginya sebagai adikku. Itu kemudian yang membuatkan menjadi sedikit lega sehingga mulai tertidur dan bangun dengan keadaan yang lebih baik (sakit tulang belakangku juga berkurang).
Ul, maka kayaknya ini hal terbaik yang mesti dilakukan. Aku akan membiarkan Jun melakukan apapun yang akan menyenangkannya, membuatkan berkembang seperti yang diangankannya. Aku akan selalu men-support apapun yang ia anggap sebagai jalan untuk mencapai apa yang ia angankan. Bahkan jika jalan untuk membuatnya lega adalah dengan memutus komunikasi denganku, akan akan terima. Tak ada lagi tuntutan baginya untuk merespon apapun dariku. Meskipun tetap saja aku tidak mau untuk benar-benar memutus komunikasi dengan Jun, karena bagiku awal dari kehancuran hubungan sebaik apapun adalah tidak adanya komunikasi.
Ul, ya mungkin saja saat ini aku menyayangi Jun tidak lagi murni sebagaimana dulu, tapi tetap saja bagiku menyayangi bertarti memberikan kenyamanan, ketenangan, kebebasan untuk bergerak bagi orang yang kita sayangi, bukan mengekang dan menuntutnya untuk melakukan sesuatu.
Ul, lagi pula aku sangat yakin bahwa apapun yang Jun lakukan tidak akan pernah membuatku membencinya, karena aku yakin sayangku sebagai kakak (sebagaimana juga engkau) tidak akan pernah mengijinkanku untuk membencinya.
Ah, sudahlah Ul, yang jelas kini aku akan ada untuk men-support nya, dengan cara yang semoga saja tidak pernah menyakiti hatinya, tidak akan mengganggu konsentrasinya. Sebagaimana kulakukan pada yang lainnya. (mungkin saja nanti aku akan menulis ke Jun tentang ini atau mungkin ga usah sekalian pa ya? tapi ya lihat saja nanti lah, he he)

Pindah cerita Ul,
Ul aku heran beberapa hari ini Lana kok mau ya diajari sama Anip, padahal kalau tak ajak sinau mesti ada aja alasane. Apa memang benar ya apa yang tak pikir selama ini bahwa ternyata aku memang ga bisa ngajari cah cilik, atau tepate aku memang gak bisa ngajari karena aku memang ga punya pengalaman bagaimana carane belajar ketika kecil.
So, dua hari ini tiap bar magrib Lana belajar dengan Anip nang lor, mulai dari belajar nulis, baca, sampai berhitung. Aku ya seneng ae sih, karena Lana mau belajar.
Trus sekarang juga Lana ngajine mulai konsisten, artinya tiap malam ia ngaji meskipun ga selalu bar magrib. Bahkan ketika magrib nang lor maka ketika ia sampai rumah (bar isya biasane), ia sekarang akan ngomong, 'Bapak ngaji yuk, tapi ngajine nang kamar ya'. Sekarang ia juga mulai mengingatkan kalau aku lupa ga ngajari ngaji. Sungguh aku senang dengan perkembangan ini meski aku juga tetap ae masih bingung jiwa berpikir tentang kemandirian dan ketergantungan Lana pada mbak Nani.

Ah, wis ah cerita kali ini, selama bersamaku ya, biar kembali tegak kepala dan badanku, Love you so much.......aku selalu saja merindumu ratu jiwaku, pemilik singgasana hatiku.... (gimana Ul, aku sudah mulai bisa bercerita banyak lewat tulisan kan?, meski tetep saja alur ceritanya masih melompat-lompat ya...)

Selasa, 23 Oktober 2012

Ul, tak ceritani...

Ul, malam ini nyamuk banyak banget, sehingga Lana pun ga iso nyenyak tidure, hingga akhire terpaksa tak nyalakan obat nyamuk bakar, setelah lebih dari 2 bulan aku ga pakai. Tak pikir obat nyamuk bakar tetep saja ga baik untuk kesehatan, so aku berusaha untuk tidak lagi makai, atau minimal menguranginya, tapi malam ini benar-benar ga bisa--akeh banget nyamuke sehingga susah mengusirnya--.
Ul, hari ini Anip pulang. Lana seperti biasanya menyambutnya dengan cukup ribut--biasa jika Anip pulang Lana ya kayak gitu og--. Apalagi Lana juga ada acara nagih janji, ketika ia minta call Anip ia akan selalu bertanya kapan pulang, terus kemudian minta dibeliin ini itu.
Ul, ada sedikit cerita tentang Jun yang buat aku lega sekaligus membuatku kembali berpikir tentang apa yang sedang terjadi. Anip cerita, 'mas mas, mbak Jun ngebel aku esuk-esuk mung ape pamer nak ke grand canyon, wis crita sampean durung?' Tak jawab; 'beberapa hari ki aku ga komunikasi karo Jun, lagian 3 hari ini aku sakit gigi og' (dan bener aku memang sakit gigi mulai Jum'at kemarin, sampai saat inipun masih belum benar-benar pulih--kayake faktor cuaca sih karena beberapa penyandang sakit gigi yang kutemui katanya juga lagi kumat gigine). Lalu ia ngelanjutkan; 'katane mbak Jun ..............."
Ul, aku lega karena ia tak mungkin akan menjadi seperti nyai Ontosorah--masalahnya bukan benar-benar ingin melepaskan sesuatu dari dirinya. Dan yang lebih melegakan lagi bagiku Ul, Jun tidak akan sendiri, ia masih bisa dan mau bercerita pada Anip, dan juga Aam tak kira. Apapun masalah yang dihadapi asal masih ada seseorang yang menemani (setidaknya seseorang yang akan selalu ada) pasti masalah tersebut akan selesai pada akhirnya.
Ul, mau ga mau aku jadi kembali berpikir tentang apa yang terjadi antara aku dan Jun, mengapa ia menjadi seperti menghindariku, mengapa ia menjadi seperti sengaja memutus komunikasi denganku? Dan sederet pertanyaan yang tidak lagi mungkin ku tanyakan pada Jun karena ia sudah mengatakan bahwa "q plg males didesak-desak suruh ngomong. q lg pengen melarikan diri, gak mikir apapun terkait dgn masalah di indonesia. q pgn konsen menghadapi masalahq sendiri. boleh kan, tuk sementara q cuma mikiri diriku sendiri. q lg da masalah n gak ada hubunganx ma pean. q gak pernah cerita ke siapapun ttg masalahq saat q tengah menghadapix".
Ul, yang jelas aku jadi merasa bahwa apa yang ia hadapi kemungkinan besar sedikit banyak bersinggungan denganku atau minimal aku ketika ia berhubungan denganku akan membangkitkan kerunyaman dalam masalahnya. Atau jangan-jangan aku sendiri sebenarnya yang jadi masalahnya. Ah entahlah Ul, aku jadi bingung mikire....
Ul, bagaimana aku tidak berpikir dan merasa seperti itu, karena dalam 2 minggu ini Jun memang ga mau berkomunikasi denganku (kecuali mungkin dengan sangat terpaksa karena aku terus mengejarnya dua atau tiga hari lalu). Aku mencoba berkomunikasi dengannya, menyapa dan menanyakan hal-hal standar yang menurutku tidak berhubungan sama sekali dengan masalah yang mungkin sekarang dihadapinya, tapi tetap saja ia tidak memberi respon atau balasan. Ya memang sih Jun masih membiarkanku untk tetap menulis kepadanya (ga tahu juga kepaksa atau tidak, tpi sungguh aku sangat bersyukur masih boleh menulis kepadanya).
Ul, sungguh aku sebenarnya tidak biasa atau mungkin sudah mulai masuk wilayah tidak bisa menulis (entah itu sms, email, chart fb, komen atau apapun lah) kepada Jun kemudian ia tidak meresponnya. Ada sesuatu yang hilang dan satu pertanyaan muncul 'sampai kapan kayak gini?'.
Ul, aku sudah terlalu biasa berdialog, ngobrol, bertukar cerita dengan Jun. Mungkin semua berawal dari fakta bahwa kami adalah dua orang yang sedang hancur karena ketiadaan orang yang sama (awakmu Ul). Sama-sama dua orang yang benar-benar jatuh saat itu, kemudian saling membantu dan saling menguatkan, sehingga akhirnya aku merasa sangat nyaman untuk bercerita apapun kepadanya dan merasa memiliki kedekatan dengannya. Dan perlahan-lahan semakin jauh wilayah yang dibagi dengannya sehingga setelah engkau tiada, ia seperti mulai menjadi the one bagiku (kamu tahu kan, aku hanya bisa bicara dan berbagi kepada satu orang, ya bagiku cukup satu orang yang akan mendengar seluruh ceritaku). Dan sejak itu aku ga pernah putus komunikasi dengannya lebih dari seminggu (minimal kami berkomunikasi lewat sms), dan ini sudah 2 minggu Ul.
Ul, mungkin kesalahan terbesarku adalah aku merasa dekat dengan Jun, sehingga ketika ia tidak lagi ingin berbagi denganku, aku benar-benar merasa ada yang hilang, sebuah ruang hampa mulai tercipta. 
Memang benar Ul, aku tetap saja masih bisa kirim sms, email atau lainnya, tapi seperti pendapatmu dulu bahwa ketika kita menulis sesuatu, maka yang kita inginkan sebenarnya adalah mendapat respon atas sesuatu itu, sehingga sering engkau marah ke aku ketika aku ga balas surat atau sms, 'ngapa ga dibalas, wis ra gelem ya, marai emosi ae".
Ul, itu dulu kamu ke aku, dan sekarang mungkin aku mulai merasakan apa yang dulu engkau rasakan ketika aku tidak membalas surat atau sms (karena aku berpikir ga sah jawab pasti awakmu tahu jawabnya). Aku benar-benar merasa seperti menulis di ruang hampa, ruang yang membuat apapun yang aku tulis akan hilang tanpa bekas. Dan jelas aku tidak mungkin mengatakan kepada Jun apa yang kau katakan padaku dulu. Permasalahan jauh berbeda.
Ul, aku hanya berharap semoga bukan benar-benar tujuh bulan lagi aku baru bisa bicara dengan Jun, semoga benar apa yang ditulisnya 2/3 hari lalu (meskipun tetap saja aku agak meragukannya), semoga segalanya baik pada akhirnya.
Ul, kayaknya jika memang harus 7 bulan lagi aku baru bisa bicara dengan Jun, aku juga harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi kegelisahan luar biasa, akan muncul kerinduan penuh bias yang aku sendiri tak akan bisa menjelaskannya, maka aku sangat berharap engkau selalu menemaniku dalam jiwa, menjagaku tetap dalam kesadaran hingga tidak membuatkan melakukan terlalu banyak kegilaan.
Ah entahlah Ul, fakta yang terjadi sekarang adalah kenyataan bahwa Jun belum juga mau kembali bicara denganku, dan aku cukup bingung dan gelisah karena itu.

Ya udah Ul, love you so much.....O ya Ul, kalo habis ini aku bisa tidur, tlong hadir ya, aku rindu melihat wajah dan segala yang ada di dirimu....biar sedikit berkurang dahagaku akanmu....

Minggu, 21 Oktober 2012

Lana, Yasinan, dan Sekolah

Hai Ul, malam ini kayake aku ga kan bisa tidur nyenyak, masa baru jam 12 wis nglilir 3 kali, semua karena gigiku sakit. Benar memang bar tak kasih obat dah ga sakit lagi, tpi masa dalam semalam aku harus minum 3 obat (pertama tak kasih antangin karena kyke lagi masuk angin, kedua tak kasih asam mefenamat dan amox untuk menghilangkan rasa sakit, trus ketiga aku gak mau minum obat lagi so tak kumur sama air garam dan reda juga).
Ul, jane pengen tidur lagi, tapi aku khawatir nanti malah kumat lagi, so q pilih ga tidur karena pas ga tidur ga sakit ya, nyalain tv ga da yang bagus, akhire ya, tekan turn on notebook, lalu nulis cerita nang awakmu.
Ul, malam kamis lalu aku ambil jatah yasin tahlil, sebenere aku ga dapat sih, juga ga minta, cuma pas acara tahlil yasin sebelumne (ditempat mas Dikin), lupa ga ditentukan bulan depan di tempat siapa, trus mas Sentot bilang ke aku, 'piye nak sasi ngarep ngonmu', ya tak jawab 'ya wis'.
Ul, aku jawab 'ya' karena tak pikir Lana wis cukup besar dan kalau misale harus tidak tidur sampai jam 9.30 malam ga pa pa. Sebenarnya sih, acara berjalan lancar, cuma ternyata Lana tiba-tiba menjadi ribut, ia mulai ngantuk (siange ga tidur, dan memang dalam beberapa waktu terakhir ini Lana sangat susah disuruh tidur siang), tak suruh tidur di pangkuanku ga mau, malah mulai ngrengek dan hampir nangis. 
Ul, aku sendiri mulai jengkel, tak bilang ke Lana, 'ya ga kena ngono Na, acarane kan durung rampung'. Sebenare aku sendiri hampir nangis waktu itu  melihat Lana mulai nangis. Akhire ia ngajak keluar (sebenare ya ga enak juga, masa tuan rumah malah keluar rumah, tapi gimana lagi?). Aku keluar trus kemudian tak pangku di bangku depan rumah, tapi karena ga nyaman tetep ae lana ga bisa tidur. Tak suruh main dengan Salma, ia juga ga mau. Akhire--mungkin karena ga enak kabeh--ia ambil truk mainan terus main truk-trukan. Ya lumayanlah akhire acara bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Ul, tadi pagi juga, ternyata jika Lana ngambek memang ga pernah bisa dibilangin. Tadi pagi Lana minta dibuatkan mie untuk dimakan di sekolah (biasa tiap sabtu anak TK ada acara makan bersama di sekolah), tapi karena kesiangan akhirnya ga dibuatkan mbak Nani, alasane biasane Lana mau beli mie di sekolah. Tadi pagi entah kenapa, kok sudah sampai sekolah mbak Nani pulang lagi bareng Lana yang nangis, kata mbak Nani Lana nangis di sekolah karena ga dibikinkan mie dan ia tidak mau beli. Sudah dikasih nasehat guru-guru TK tetap ae ia ga mau malah nangis banter, so ya pulang ae.
Ul, aku ga tahu apakah ini kali pertama atau sudah beberapa kali seperti ini. Mbak Nani memang ga pernah cerita apa-apa tentang kenakalan Lana, kalaupun tak tanya paling cuma bilang 'ndek wau nangis', wis cuma gitu.
Tadi pagi memang aku pulang lagi setelah masuk kelas, gigiku sakit bukan main dan aku pulang untuk sekedar bikin kopi lalu minum obat. Pas baru mau masak air untuk bikin kopi dan mie, tiba-tiba Lana pulang dan nangis, ternyata seperti itu alasane, trus tak bikinke mie dan tak suruh berangkat lagi.
Ul, sampai saat ini salah satu hal yang aku terlalu sering berakhir dengan nangis tak berdaya, ya soal Lana, bagaimana dan apa yang mesti ku lakukan untuk mengajari kemandirian, keberanian, dan ketidak tergantungan pada orang lain (terutama mbak Nani).
Kau tahu sendiri kan Ul, aku tidak punya pengalaman belajar tekun waktu kecil sehingga aku sendiri bingung bagaimana cara mengajari Lana.
Aku cuma berharap mendapat  limpahan kesabaran sehingga secara perlahan mampu belajar bagaimana mendidik dan mengarahkan Lana dengan benar.
Dan kehadiranmu tentu merupakan sesuatu yang tak terelakkan bagiku, karena sampai sekarang hanya dengan bersamamu aku kembali merasa kuat dan memiliki alasan untuk tetap bertahan. Love you as always Ul....

O ya Ul, soal Jun, kayaknya masalah yang sedang dihadapi kok berat banget ya, dan aku kok ngerasa ia seperti ingin menghilangkan, melepaskan, atau minimal melupakan sesuatu yang merupakan bagian dari dirinya (mungkin masa lalu). Beberapa kali ia bilang bahwa kehilangan pak e dan awakmu membuatnya kehilangan seluruh semangat dan hidupnya dan ingatan akan pak e dan awakmu seringkali membuatnya semakin sakit dan terluka. Selain itu, ia juga pernah mengatakan bahwa ia tidak pengin pulang ke Selo, karena di Selo terlalu banyak luka dan kesedihan yang membuatnya berpikir untuk tidak kembali ke Selo karena hanya akan membuka luka lama. Dan bisa jadi ini yang ingin ia selesaikan.
Ul, bicara tentang melepaskan masa lalu, tiba-tiba aku kok ingat sama sosok Nyai Ontosorah (perempuan fiktif dalam Bumi Manusia-nya Pram). Seorang perempuan pribumi luar biasa yang berhasil keluar dari jamannya dan menjadi perempuan dengan berbagai prestasi yang sangat jarang dicapai perempuan pada zamannya namun ia kehilangan seluruh diri dan jiwanya akibat memutus mata rantai hubungan dengan seluruh masa lalunya. Meskipun berhasil pada akhirnya namun sayang keberhasilannya tetap saja penuh dengan dendam dan kemarahan atas masa lalu yang ia anggap telah membunuh kesejatian dirinya......
Ul, aku tidak bermaksud  untuk menyerupakan kasus Jun dengan perempuan fiktif ini, tapi kalau memang masalahnya adalah ingin melepaskan diri dari beberapa hal di masa lalu, maka itu benar-benar merupakan masalah yang sangat berat untuk dihadapi. Dan tak pikir akan lebih baik jika Jun mau berbagi dengan seseorang.
Jelas aku tidak masuk dalam kelompok ini, meski mau mau saja sebenarnya, selain mungkin bagi Jun cara terbaik untuk menghadapi masalah adalah dihadapi sendiri. Menurutku Ul, mungkin hanya kamu yang bisa melakukan ini (selain karena ia sangat mengagumimu juga karena saat ini awakmu bisa masuk langsung ke hatinya dan tidak memerlukan tatap muka), mungkin hanya kamu yang ia inginkan untuk berbagi, maka dengan caramu, temani ia ya, bantu ia, masuklah dalam jiwanya dan biarkan ia merasakan bahwa ia tidak sendiri, bahwa engkau selalu ada untuknya, bahwa mengingatmu tak lagi melukai hatinya, bahwa mengingatmu merupakan salah satu anugerah untuknya.
Ah, entahlah Ul, semoga saja apa yang tak pikir tak sesuai dengan kenyataan. 

Sudah dulu ya cerita kali ini, besok kita lanjutkan, he he....
Kalau aku masih bisa tidur malam ini, temui aku ya, aku lagi sangat ingin kembali menikmati seluruh keindahanmu ki.
merindumu adalah getar mendebarkan paling indah bagiku, sakit yang begitu ku harapkan, gelisah yang begitu ku dambakan....