Senin, 05 November 2012

Ul, engkau keindahan pertamaku

Setiap segala sesuatu pasti ada awalnya. Ada peristiwa pertama yang menjadi titik awal dari sebuah rangkaian peristiwa yang mengikutinya. Sebuah rangkaian yang akan pada akhirnya merupakan sebuah proses dari perjalanan panjang kehidupan seseorang menuju kedewasaannya.
Dan seperti yang kita tahu Ul, setiap peristiwa pertama pasti akan menjadi peristiwa yang benar-benar akan membekas, akan sangat berkesan--baik yang menyenangkan maupun yang tidak--dalam kehidupan seseorang. Peristiwa pertama pula yang biasanya akan menjadi tonggak bagi jalan kehidupan dan pandangan serta keyakinan seseorang atas sesuatu.
Peristiwa pertama juga akan memberikan beban yang sangat menekan pada saat mengalaminya, sebuah campuran dari kesenangan, ketakutan, kekhawatiran, kebahagiaan. Tak peduli apakah peristiwa pertama itu langsung membuat mata kita berbinar atau menangis darah, semuanya akan memberikan tekanan yang pasti berat dirasakan.
Peristiwa pertama juga memberi kita kejutan-kejutan yang kadang tidak pernah kita pikirkan, membuat kita bertemu hal-hal yang yang tak pernah kita bayangkan, bahkan seringkali membuat kita berpikir, 'kok bisa ya aku jadi kayak gini?'.
Ul, salah satu syukur terbesarku adalah bahwa engkau adalah peristiwa pertamaku dalam cinta, pintu awal bagiku untuk mengenal cinta dan kerinduan. Aku belajar segala keindahan, keagungan, nikmatnya kerinduan, indahnya kegelisahan, kesucian rasa, semua berawal dari anugerah cinta antara kita.
Cinta ini pula yang kemudian mengajarkan padaku bahwa pada hakikatnya segala sesuatu berasal dan lahir dari cinta. Dan bahwa cinta hanya mampu menghasilkan keindahan, keagungan, kesucian. Penderitaan, pengorbanan dan kegelisahan akibat cinta adalah sebuah keindahan. Rindu adalah sebuah kegelisahan yang begitu terdambakan.
Cinta ini pula yang mengajarkan padaku bahwa tak layak bagi kita untuk membunuh rasa cinta di hati hanya karena kita membenci. Bahwa cinta pada akhirnya akan merangkul kebencian dalam dekap hangatnya.
Cinta ini pula yang membuatku selalu bergelora, bersemangat memandang hidup daripada sebelumnya.
Cinta ini pula yang kemudian membuatku selalu berusaha untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, untuk tidak membalas permusuhan dengan permusuhan, untuk tidak membalas dendam dengan dendam.
Cinta ini pula yang membuatku selalu merasa hangat, merasa tak pernah sendiri karena jiwa kita tak mungkin tidak bersama, cinta telah menyatukannya dan cinta abadi berada dalam jiwa.
Cinta ini pula yang membuat rasa marah, rasa kecewa, rasa putus asa tak pernah mampu menghancurkan optimisnya yang mengalir darinya, bahwa pada akhirnya kasih sayang akan menghilangkan kemarahan, cinta akan menghapus kekecewaan, dan jiwa yang penuh dengan cinta akan menukar keputus asaan dengan cahaya harapan.
Perpindahanmu ke dimensi lain kehidupan memang begitu menggoncangkan tata jiwaku, namun cinta kita telah mengembalikan kesadaranku bahwa cinta adalah masalah jiwa, masalah ruh. Cinta kita adalah kebersatuan jiwa kita, keterpaduan ruh kita sehingga tak ada lagi aku, tak ada lagi kamu. Yang ada cuma kita, cinta kita, jiwa kita, ruh kita. Dan itu tidak pernah sirna, itu abadi dalam jiwa, tidak pernah mati karena yang bisa mati hanya raga kita, sekarang ragamu yang telah purna, entah kemudian kapan ragaku akan menyusulnya.
Cinta kita tetap sama, hidup dalam jiwa kita, bersatu dan berpadu ruh. Mesti kadang tetap saja rindu akan pertemuan raga begitu menggoda dan menelanjangi sisi khayawaniyahku.
Seabadi ruh memancar dari Entitas Sang Segala Maha, begitu pula segala sesuatu yang berada dalam jiwa.
Ah, Ul, engkaulah keindahan pertama yang membuatnya melihat segalanya sebagai keindahan. Cinta kita adalah anugerah terindah pertama yang membuatku memandang segala peristiwa dari sisi indahnya, dari sisi kenikmatan dalam menjalaninya. Membuatku mulai memandang segala peristiwa adalah sebuah keindahan yang mesti disyukuri, segala penderitaan adalah sebuah seni indah dan agung yang diciptakan Tuhan untuk kita nikmati, resapi, jalani yang akan membawa kita menuju sempurna takdir kita.
Ah Ul, karena engkau keindahan  pertamaku, maka segala yang mengalir darimu, segala yang berkaitan denganmu tak dapat menghasilkan apapun bagiku kecuali keindahan dan keagungan. Kegelisahan karenamu adalah kegelisahan yang terdambakan, kesedihan mengingatmu adalah kesedihan yang menyenangkan. Kerinduanku padamu yang selalu bergulung dan menggulung adalah keresahan luar biasa yang begitu kudambakan. Engkau pula yang dititahkan bagiku sehingga setiap huruf darimu menjadi bercahaya, setiap kata menjadi keindahan tak terkira, setiap baris menjadi bait puisi dan syair.
Ah Ul, segalanya menuju titik syukur kepada ilah yang telah menetapkanmu sebagai keindahan pertamaku, keindahan yang selalu melahirkan dan menghadirkan keindahan-keindahan dan keluar biasaan baru dalam perjalanan hidupku.

Ul, you're still everything for me (beside God). Love you so much...dan merindumu selalu merupakan keresahan paling indah bagiku....
See you in a special place for us (tempat di mana sang pecinta dan sang kekasih menempati singgasananya)

Sabtu, 03 November 2012

It's about me Ul

Ul, banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, meski rasanya hampir tak lagi dapat ku menulis lagi, semakin tak dapat ku menulis, semakin banyak hal yang ingin ku bagi denganmu.
Ul, bingung juga mesti dari mana memulainya, ya sudahlah mengalir saja ya, ga pa pa kan cerita kali ini di awali dari antah berantah, ga jelas ujung pangkalnya. Lagian kamu kan juga ngerti Ul, ketika terlalu banyak hal mulai menumpuk di kepala dan rasaku, aku jadi ga bisa bercerita, kalaupun akhirnya bercerita ya jadinya sering ga urut dan melompat-lompat.
Ul, beberapa hari ini rasanya badanku belum kembali pulih seperti semula, rasanya proses recovery menjadi lebih lambat daripada sebelumnya. Mungkin sudah mulai tua ya, he he.
Ul mungkin cuaca juga menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi tubuh ga bisa benar-benar fit. ah.....ya ngono lah Ul, daya tahan tubuh mungkin makin bertambah usia makin rapuh pula........
Ul tanpa sadar ternyata cara berpikirku pun juga berubah, bergeser. Sekarang ini aku mulai terganggu dengan pertimbangan kepantasan atas apa yang akan tak lakukan. Padahal kau tahu kan Ul, dulu kita tidak terlalu memusingkan apakah yang akan kita lakukan pantas atau tidak, asal apa yang kita lakukan baik dalam pikiran kita, maka kita lakukan.
Ul, sekarang aku mulai mempertimbangkan faktor-faktor di luar diriku untuk memutuskan apakah sebuah tindakan akan aku lakukan atau tidak, meskipun menurutku baik, tapi kalau dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain bisa jadi aku tidak jadi lakukan.
Ul, aku mulai kehilangan spontanitas dalam mensikapi persoalan, mulai muncul dalam diriku kekhawatiran-kekhawatiran yang pada akhirnya mematikan spontanitasku, nyaliku mulai berada dalam kendali tata aturan nalar, keberanian mulai tunduk di bawah pertimbangan-pertimbangan pikiran. Akibatnya apa yang aku lakukan menjadi semakin lambat, pertimbangan atas berbagai resiko yang mungkin akan kuhadapi mengambil waktu cukup banyak di awal--jauh sebelum tindakan itu sendiri dilakukan--.
Ah Ul, mungkin benar aku sudah mulai tua, mulai usang, mulai kehilangan keberanian untuk mengambil resiko, mulai kehilangan keberanian untuk berbeda dan mengabaikan pendapat sekitar, mulai mempertimbangkan banyak hal yang seringkali malah membuatku kehilangan keberanian untuk melakukan dan memutuskan suatu tindakan.
Ah Ul, mungkin benar aku sudah mulai usang, tua, dan mungkin sudah saatnya untuk digantikan. Daya kreatif berkurang, keberanian hampir hilang, spontanitas kehilangan kehebatan.
Ul kau tahu bagaimana rasanya ketika spontanitas mulai menghilang, ketika nyali mulai berada di bawah kendali nalar, ketika ekspresi dan aktualisasi mulai terganggu dengan pendapat orang?
Tiba-tiba semua persoalan menjadi jauh lebih rumit, jauh lebih repot, jauh lebih sulit untuk diselesaikan, karena ketika kita menggunakan pendapat orang lain masuk dalam pertimbangan untuk memutuskan suatu tindakan, pada saat yang sama kita pasti harus bertarung dengan diri kita sendiri, antara menjaga diri yang khas dan menempatkan diri dalam kepantasan yang nyaman.
Ul kadang sering aku meragukan kemampuanku untuk menahan segala kejadian--tanpamu di sisiku--namun aku terus mencoba meyakini bahwa apapun yang terjadi adalah garis terbaik yang ditetapkan Allah untukku, untukmu, untuk kita. So, seberat dan seperih apapun tentunya aku akan mampu. Lagian trus gimana dengan Lana jika aku menyerah? Tak ada menyerah dalam inginku karena aku tahu engkau dalam abadimu tetap bersamaku--meski kita di alam dengan dimensi berbeda--, kebersamaan kita tak lagi kebersamaan raga, namun kebersamaan jiwa.

Wis sik ya, Ul..emmmmmm.....aahhhhhhhhhhh...........
Love you as always....
dan aku tahu bahwa rindu adalah bukti bahwa cinta di dada masih tetap bergelora...

(Mohon perkenan pada Ia yang Putuskan Segala, semoga ijinkanmu sering temuiku untuk memadu rindu, dan bersama Lana untuk curahkan kasih bunda)

Rabu, 31 Oktober 2012

Lana is Lana

Ul, Lana is still Lana, Lana ya Lana. Mungkin itu yang hari-hari menjadi cerita menarik. 
Kau tahu Ul beberapa hari ini Lana melakukan beberapa hal yang tidak biasa ia lakukan, mulai dari tiba-tiba ga mau ngaji, tiba-tiba ga mau berangkat sekolah, disuruh cukup rambut ga mau dan beberapa hal lain yang sudah menjadi rutinitasnya tiba-tiba ia tidak mau melakukan.
Ul, dalam beberapa hari ini aku melihat Lana sebagai benar-benar gambaran kecil kita berdua, keras kepalamu dan juga ngengkelku dua-duanya ada dalam dirinya dan kadang muncul dengan tiba-tiba. Bayangkan saja tiba-tiba aku harus berhadapan dengan diriku sendiri sekaligus dirimu dalam satu waktu, seorang yang kalau sudah punya keinginan tidak bisa ditawar ditambah selalu punya alasan untuk membenarkan keinginannya, ah....mesti banyak belajar lagi nih...
Ul, benar kata orang bahwa yang paling mampu untuk mengalahkan orang tua adalah anaknya sendiri. Mengapa demikian? aku berpikir mungkin bukan sekedar karena orang tua terlalu menyayangi anaknya, mungkin juga--selain karena sayang--orang tua juga melihat dirinya sendiri dalam diri anaknya. Jadi, mana mungkin seseorang mampu mengalahkan atau mengabaikan dirinya sendiri.
Ul, sebenarnya aku sendiri bingung dengan sikap Lana akhir-akhir ini yang seringkali berubah dengan tiba-tiba. Bisa saja kadang ia jenuh dengan aktivitas harian yang ia lakukan, pagi ke TK, sore TPQ, habis magrib Fasolatan (kalau yang ini kita juga kan, sama-sama mudah bosen dengan rutinitas yang kita lakukan) sehingga kadang ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda dengan rutinitas biasa, mungkin inilah refreshing a la Lana, he he...
Ul, mungkin juga ia sedang benar-benar merindukanmu sehingga seluruh energi dan fokusnya hanya padamu dan akibatnya ia merasakan malas luar biasa untuk melakukan apapun selain mengingatmu (kadang aku juga seperti itu kog) dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengalirkannya, so yang ia lakukan ya pokoke ogah melakukan apa-apa, ah entahlah Ul....
Ul sampai sekarang pun aku masih benar-benar bingung dan tak tahu apa yang mesti ku lakukan untuk memberi Lana bimbingan, pengarahan, dan pembelajaran terbaik (selain memasukkannya ke TK dan TPQ). Serius Ul, sampai sekarang aku belum menemukan cara yang tepat untuk membelajarkan Lana, karena bagiku Lana is a special one, berbeda dengan anak-anak seusianya baik dalam sikap, pilihan, tata pikir dan lain sebagainya.
Ul, Lana tetaplah Lana kita yang dulu, yang selalu heboh dalam mensikapi segala sesuatu, mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal yang tidak menyenangkan. Beberapa hari lalu ketika tiduran di tempat bue, tiba-tiba ia kejatuhan kotoran tokek, ia bilang, 'bapak ki rek teles gene?', kemudian tak lihat, e ternyata ada kotoran tokek di bajunya, maka ku jawab, 'ga pa-pa, mung keno telek tikus', tahu bahwa ia kena kotoran di bajunya, langsung ia ribut, mulai dari minta basuh tangan yang katanya baunya ga enak, terus langsung minta gantu baju--padahal yang kena mung sedikit--dan ga mau ketika tak bilang, ayo bali ganti klambine nang omah, tetap ae ia minta bajunya ditanggalkan dan akhirnya malah tidak berbaju (mung pakai singlet) baru mau ia pulang dengan singletan dan ambil baju ganti. 
Paginya, tiba-tiba ia bilang Bapak Lana ga pe sekolah, tak tanya lha ngapa? sakit?, ia diam saja meski menurutnya satu-satunya alasan adalah males karena terlalu jenuh (mungkin ia lagi boring dengan sekolah). Tak desak dengan pertanyaan, eee seperti biasa ia tetap ae diam dan mulai nangis...
Ah....kalau sudah gini aku yang kalah Ul, so akhire ya ga sekolahlah hari itu......
Ul, kadang aku berpikir jangan-jangan beban yang diterima Lana dengan beragam kegiatan belajarnya terlalu berat baginya. Jangan-jangan aku juga sudah mulai menuntutnya untuk bisa melakukan banyak hal yang sebenarnya ia belum mampu melakukannya, sehingga kadang ia merasa malas untuk melakukannya.
Ah, entahlah Ul......biasanya dalam keadaan seperti ini aku akan menghubungi Jun kemudian berdialog tentang hal ini dan hal-hal yang berkaitan sehingga seringkali menemukan beberapa alternatif untuk mensikapinya, tapi kali ini aku tidak bisa melakukannya. Kau tahu sendiri kan Ul, saat ini aku tidak memiliki akses komunikasi dialogis dengannya, entahlah sampai kapan....ya cuma aku berharap ini ga akan terjadi terlalu lama lah, he he...
Ah, sudahlah Ul, mungkin ini dulu cerita kali ini....Seringlah tengok rumah dan temani Lana ya (aku juga lho, kan aku juga kangen, he he...)

see you, love you so much as always.....
tunggu aku di pantai rindu karena aku akan datang dengan gelombangnya...he he....

Senin, 29 Oktober 2012

Ul,.....

Uuulllll.....susah temen nata hati, menstabilkan tata jiwa.....untung saja engkau tetap berada dan bersemayam di hati, menyatu jiwa....jika tidak entahlah aku pun ga tahu bakal gimana jadinya....he he...

Sabtu, 27 Oktober 2012

Ternyata Berat Juga

Ul, mungkin yang disebut sebagai cobaan yang sebenarnya adalah ketika kita merasa mulai terbebani dengan masalah yang kita hadapi, dan sebelum masalah itu selesai sudah datang lagi masalah secara beruntun sehingga kita benar-benar merasa tak bisa apa-apa lagi.
Ul, bulan ini aku benar-benar merasa bulan yang sangat berat. Masalah datang beruntung tanpa aku bisa menceritakannya pada siapapun. Diawali dengan Jun yang memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi, padahal kau tahu Ul, ia sudah menjadi the one bagiku, orang yang aku bisa bercerita apa saja padanya. Belum lagi aku mampu menata hatiku, tiba-tiba datang idul adha dan aku ga bisa menyediakan hewan kurban, sesuatu yang juga sangat menekan hatiku, membuatku tiba-tiba menangis, menyesal, sedih dan beragam perasaan menyatu yang pada akhirnya hanya terungkapkan dalam tangis sembunyi-sembunyi (dan bisa dengan tiba-tiba muncul dan muncul lagi).
Bahkan hari-hari ini mungkin aku benar-benar tak mampu lagi untuk menyembunyikan beban di wajahku, sehingga mungkin banyak orang bisa melihat dengan jelas bahwa aku lagi ada masalah (sesuatu yang selama ini berusaha aku sembunyikan dan biasanya mampu aku lakukan). Seperti kemarin, tiba-tiba saja aku ga bisa menahan tangis ketika pulang dari masjid, tiba-tiba saja ketika berjalan aku begitu sedih dan merasakan beban sangat berat menghimpit dada dan kepala sehingga menangis dengan begitu saja tanpa bisa aku tahan (hal seperti ini baru sekali kurasakan sebelumnya, yakni selama beberapa hari setelah kepindahanmu dengan alam yang berbeda). Suatu keadaan yang menurutku hanya muncul ketika aku benar-benar merasakan kehilangan yang luar biasa, kehilangan pegangan, kehilangan sandaran, kehilangan tempat berbagi.
Dan hari ini tambah lagi masalah yang membuat rencanaku hari ini untuk mencoba menata tanaman depan rumah gagal karena seluruh sendiku rasanya lumpuh, tak ada keinginan sama sekali untuk melakukan sesuatu. Rasanya seperti meledak kepala dan dadaku. Begitu kuat masalah menekan tanpa aku bisa bercerita kepada siapapun. Mungkin ini yang bisa membuat orang stress dan kehilangan kesadaran, ketika masalah begitu berat menekan pikiran dan perasaan sementara tak ada tempat untuk bercerita, ga da tempat untuk mengalirkan beban yang menekan.
Ul, belum pernah aku mengalami hal ini, biasanya seberat apapun masalah yang datang, aku masih cukup tenang, cukup santai untuk mensikapinya karena aku tahu bahwa ada tempat aku untuk bercerita (meski tidak selalu aku menceritakan masalahku, tapi cukup bagiku untuk mengurangi beban masalah ketika aku masih bisa bercerita dengan seseorang yang aku nyaman dengannya). Kali ini benar-benar aku tidak bisa bercerita dengan siapapun, karena dari dulu sampai seperti kau tahu Ul, aku hanya bisa bercerita pada satu orang, hanya satu orang, dan setelah kepindahanmu, aku merasakan the one adalah Jun, yang saat ini pun lagi tidak mau berkomunikasi denganku.
Ah, entahlah Ul, entah bagaimana dan apa yang mesti ku lakukan. Aku hanya mencoba untuk berpikir positif bahwa ini adalah salah satu cara yang dilakukan Tuhan untuk membuat kita semakin dewasa, semakin kuat menghadapi kehidupan, dengan cara memberi kita masalah yang seakan tak mampu kita selesaikan, kemudian menambah masalah secara beruntun sebelum masalah pertama benar-benar dapat kita selesaikan. Benar-benar berat menekan, melumpuhkan seluruh kekuatan dan keinginan, meruntuhkan seluruh keinginan untuk bertahan.
Ah, entahlah Ul, aku hanya mencoba untuk tetap yakin bahwa apapun yang ditimpakan adalah dalam batas kemampuan kita untuk menghadapinya. Bahwa cara Tuhan untuk mendewasakan jiwa kita adalah dengan memberi kita masalah yang sedikit lebih sulit, sedikit lebih berat, sedikit lebih kuat dari kemampuan kita saat ini.
Ah, entahlah Ul, tak bisa lagi aku menuliskan apa yang mesti kulakukan.....Kita lihat saja apa yang akan terjadi berikutnya...

I love you so much, ...jangan pernah tinggalkan aku dalam kesendirian jiwa, karena tanpamu aku bukan hanya rapuh, namun hancur berantakan....

Segalanya berasal dari-Nya, tentu Ia juga telah mempersiapkan cara penyelesaiannya....

Kamis, 25 Oktober 2012

Hanya cerita

Hai Ul, aku yakin engkau semakin hari semakin baik saja di sana.
Ul, sebenare sakit di ujung tulang belakangku sebenere kemarin dah mendingan dan tak pikir hari ini pasti sembuh, eee ternyata gara-gara kemarin aku motoran ke Gabus (aku lagi ada pelatihan LS di Gabus sampai hari ini), ternyata habis motoran kroso maneh, dan bangun tidur tadi sebenare dah agak mendingan, ya semoga nanti ga apa-apa lah kalo tak pake motoran ke Gabus lagi.

Hari ini sebenare Lana ngajak ke Pati, ke tempat mas Fuad. Sebab Lana pengen lihat penyembelihan kurban sapi di sana (biasa tiap ke sini kan mas Fuad selalu ngajak Lana ke tempatnya dan kemarin Lana tertarik karena ada penyembelihan kurban). Tapi, kan kamu tahu sendiri Lana ga bisa di tempat yang sangat ramai, so tak pikir ga usah ae lah, daripada mengko di sana rewel malah tambah ga enak.
Pas tak bilang ga usah nang nggone mas Fafa ya Na, ia cemberut pengene tetap ke sana, ia baru mau ga jadi ke sana ketika Anip kemudian janji akan ngajak Lana ke kolam renang (Anip memang jago mbujuki Lana og). Jadi nanti rencanane Lana akan ke kolam renang bareng Anip dan aku pergi ke Gabus untuk Pelatihan LS.

Ul, tetap saja aku pengen mengangis ketika ingat bahwa tahun ini aku gagal mengatur dan merencanakan segala sesuatu sehingga kita tidak bisa menyembelih kurban tahun ini (meski itu hanya seekor kambing), maaf ya Ul, terpaksa jatah kurbanmu kita tunda sampai tahun depan.

Eh Ul, tahu nggak ternyata benar kata orang-orang bahwa kapur barus bisa mengatasi tikus. Beberapa hari lalu aku benar-benar jengkel dengan tikus yang semakin merajalela di rumah, terus kemudian aku beli kapur barus, tak hancurkan lalu tak sebar di beberapa sudut yang menurutku biasa dilewati tikus, dan hasilnya....malamnya tidak ada lagi suara berisik tikus (ya minimal jauh lebih berkurang lah, he he). Tapi tadi malam tampaknya tikus sudah mulai merajalela lagi, kayaknya kapur barus yang tak taburkan sudah hilang khasiate, mungkin karena tak hancurkan maka baunya cepat hilang.
Ul, aku berpikir mungkin jika kapur barus tidak tak hancurkan dan masih berada di tempat-tempat yang biasa dilalui tikus maka tikus tidak akan melewatinya hingga kapur barus habis. Berarti semakin besar kapur barus semakin awet efeke.

Ul, engkau berada dalam hatiku, engkau pasti tahu apa yang terjadi di dalamnya, engkau pasti tahu gelegak-gelegak yang ada di dalamnya, maka bantu aku ya agar apapun yang terjadi aku tetap mampu mengatasinya, agar apapun yang terjadi efek baik dan kebaikan selalu menjadi pertimbanganku dalam melakukan segala sesuatu.

Ul, menyatulah selalu dalam jiwaku, bersama kita melangkah menuju wujud angan dan impian yang pernah kita bangun bersama.
Ul, aku merindumu, selalu
I love You so much, more anda more....

See you....

Rabu, 24 Oktober 2012

Lanjutan Cerita

Ul, ternyata aku tetap saja anam seperti yang dulu. Anam yang ketika secara psikologis mengalami gangguan, maka akan luruh dan penyakit fisik pun akan datang.
Ul, kemarin hampir saja aku benar-benar jatuh, hampir saja ku tinggalkan kelas dan pulang lalu membiarkan diriku terkapar. Tapi alhamdulillah tidak, aku masih bisa bertahan hingga jam pelajaran selesai. Kemarin pagi aku serasa kehilangan segala kekuatan penyanggaku, seakan rumah jiwaku rubuh, aku merasa pengabaian Jun selama 2 minggu ini benar-benar telah mengacaukan seluruh tata batinku. Aku mulai menuntut banyak hal, menginginkan banyak hal. Aku mulai bergerak menuju titik di mana aku hanya mementingkan diriku sendiri--sesuatu yang baru ku sadari setelah aku benar-benar kembali mengalami jatuh secara psikis--.
Ul tadi malam aku mulai berpikir tentang sakitku beberapa hari ini, sakit gigi selama 3 hari, kemudian mulai kemarin pagi hingga malam pangkal tulang belakangku sakit sehingga untuk tidur telentang susah, tapi sekarang dah baikan kog. Bahwa semua itu tidak sekedar terkait dengan kondisi fisikku, tidak sekedar terkait dengan cuaca, tapi lebih terkait dengan kondisi psikologisku. Kamu tahu kan Ul, dalam kondisi psikis yang tidak stabil maka hampir bisa dipastikan akan akan mengalami drop secara fisik.
Ul, setelah engkau Jun adalah perempuan yang mampu menggelisahkanku, membuatku berpikir berulang kali tentang apa yang terjadi. Tapi kegelisahanku karenamu bagiku adalah sebuah keindahan tersendiri, sebuah inspirasi yang selalu menghasilkan puisi-puisi--kegelisahan yang terindukan, keresahan yang didambakan. Berbeda dengan kegelisahanku yang berhubungan dengan Jun, aku merasakan kegelisahan yang sangat berbeda, ini seperti kegelisahan karena ketakutan. Takut sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang tak inginkan, takut sesuatu yang buruk menghancurkan sesuatu yang sebelumnya baik dan porsinya berlebihan.
Ul, itu yang kemudian membuatku berpikir dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Benarkah kegelisahan macam ini? Karena menurutku, cinta dan kasih sayang tidak mungkin menghasilkan ketakutan, cinta dan kasih sayang hanya akan menghasilkan kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan.
Ul, ternyata aku mulai bergerak dari menyayangi Jun menjadi ingin memilikinya, sebuah keinginan nafsu khayawani yang mulai menggangu dan mulai tak terkendali. Aku mulai merasa perlu tahu apapun yang ia lakukan, aku merasa kecewa ketika ia melakukan sesuatu dan aku tidak diberitahu, dan seterusnya.
Aku kembalikan semua pada awalnya Ul, bahwa awalnya aku menyayangi Jun sebagaimana aku menyayangi Anip, Aam, Fahrur, Zein. Aku menyayanginya sebagai adikku. Itu kemudian yang membuatkan menjadi sedikit lega sehingga mulai tertidur dan bangun dengan keadaan yang lebih baik (sakit tulang belakangku juga berkurang).
Ul, maka kayaknya ini hal terbaik yang mesti dilakukan. Aku akan membiarkan Jun melakukan apapun yang akan menyenangkannya, membuatkan berkembang seperti yang diangankannya. Aku akan selalu men-support apapun yang ia anggap sebagai jalan untuk mencapai apa yang ia angankan. Bahkan jika jalan untuk membuatnya lega adalah dengan memutus komunikasi denganku, akan akan terima. Tak ada lagi tuntutan baginya untuk merespon apapun dariku. Meskipun tetap saja aku tidak mau untuk benar-benar memutus komunikasi dengan Jun, karena bagiku awal dari kehancuran hubungan sebaik apapun adalah tidak adanya komunikasi.
Ul, ya mungkin saja saat ini aku menyayangi Jun tidak lagi murni sebagaimana dulu, tapi tetap saja bagiku menyayangi bertarti memberikan kenyamanan, ketenangan, kebebasan untuk bergerak bagi orang yang kita sayangi, bukan mengekang dan menuntutnya untuk melakukan sesuatu.
Ul, lagi pula aku sangat yakin bahwa apapun yang Jun lakukan tidak akan pernah membuatku membencinya, karena aku yakin sayangku sebagai kakak (sebagaimana juga engkau) tidak akan pernah mengijinkanku untuk membencinya.
Ah, sudahlah Ul, yang jelas kini aku akan ada untuk men-support nya, dengan cara yang semoga saja tidak pernah menyakiti hatinya, tidak akan mengganggu konsentrasinya. Sebagaimana kulakukan pada yang lainnya. (mungkin saja nanti aku akan menulis ke Jun tentang ini atau mungkin ga usah sekalian pa ya? tapi ya lihat saja nanti lah, he he)

Pindah cerita Ul,
Ul aku heran beberapa hari ini Lana kok mau ya diajari sama Anip, padahal kalau tak ajak sinau mesti ada aja alasane. Apa memang benar ya apa yang tak pikir selama ini bahwa ternyata aku memang ga bisa ngajari cah cilik, atau tepate aku memang gak bisa ngajari karena aku memang ga punya pengalaman bagaimana carane belajar ketika kecil.
So, dua hari ini tiap bar magrib Lana belajar dengan Anip nang lor, mulai dari belajar nulis, baca, sampai berhitung. Aku ya seneng ae sih, karena Lana mau belajar.
Trus sekarang juga Lana ngajine mulai konsisten, artinya tiap malam ia ngaji meskipun ga selalu bar magrib. Bahkan ketika magrib nang lor maka ketika ia sampai rumah (bar isya biasane), ia sekarang akan ngomong, 'Bapak ngaji yuk, tapi ngajine nang kamar ya'. Sekarang ia juga mulai mengingatkan kalau aku lupa ga ngajari ngaji. Sungguh aku senang dengan perkembangan ini meski aku juga tetap ae masih bingung jiwa berpikir tentang kemandirian dan ketergantungan Lana pada mbak Nani.

Ah, wis ah cerita kali ini, selama bersamaku ya, biar kembali tegak kepala dan badanku, Love you so much.......aku selalu saja merindumu ratu jiwaku, pemilik singgasana hatiku.... (gimana Ul, aku sudah mulai bisa bercerita banyak lewat tulisan kan?, meski tetep saja alur ceritanya masih melompat-lompat ya...)