ya Allah...
Ul....
aku hilang arah
tak tahu ke mana mesti melangkah
sendiri dipersimpangan beribu jalan
bingung mana nyata mana hayal
Ul...
aku hilang tujuan
tenggelam dalam pusaran selaksa keinginan
tak tahu mana yang mesti didahulukan
terpaksa ku duduk diam dalam tangisan
Ul...
aku butuh uluran tangan
benar-benar butuh uluran tangan
dalam bentuk lisan dan tindakan
Ul...
bantu aku memohon pada Tuhan
untuk hadirkan tangan-tangan pertolongan
melalui jalan yang Ia layakkan
Allah...
Engkau Sang Maha Pendengar
Maha Pemberi Terbaik bagi tiap insan
amin itu yang ku harapkan...
Sabtu, 01 Desember 2012
Jumat, 30 November 2012
the most difficult to handle...
It's true. For me, this is the most difficult to handle. Lana and all about him.
Sungguh Ul, saat engkau berpindah ke dimensi yang lebih tinggi aku benar-benar merasa bahwa akhir hidupku mungkin akan dimulai. Dan Lana adalah alasan terkuatku untuk tetap bertahan.
Aku tahu aku tak mungkin bisa hidup tanpamu, so jika aku tetap tanpa hadirmu tetap saja aku tak akan mampu. Maka, aku katakan kepada jiwa untuk tetap bersama, karna fana hanya dimiliki oleh raga, fana tidak menyentuh jiwa.
Pada awal-awal perpindahanmu ke dimensi lain, aku benar-benar belum menyadari hal ini Ul, aku mulai menyadari bahwa ada hal yang lebih sulit dan lebih berat dari perpisahan denganmu setelah aku beberapa bulan kemudian ketika aku mulai mampu menghadirkan kebersamaan jiwa bersamamu. Ketika aku mulai menyadari bahwa raga kita adalah wadah bagi jiwa kita dan jiwa kita tetap hidup dan hadir meski tidak dalam wadah raga.
Ul, aku tahu Lana berbeda dengan anak-anak lainnya, bahkan sebelum perpisahan denganmu pun ia sudah berbeda. Ia memiliki ukuran tersendiri atas apapun yang ia lakukan. Ia memiliki standar tersendiri atas tingkat resiko apapun yang akan ia lakukan. Jelas bagiku bahwa ia memang telah dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi hidupnya.
Namun, aku juga manusia biasa, sepandai apapun aku berusaha untuk meyakini bahwa Lana berbeda dengan anak-anak lainnya, tetap saja ada saat-saat tertentu mau tidak mau aku memperhatikan perkembangan psikologisnya dan memperbandingkannya dengan anak-anak seusianya, bahkan dengan anak-anak yang berusia di bawahnya.
Ul, terus terang hal yang paling menggelisahkanku dalam perkembangan psikologis Lana adalah tingkat ketergantungannya dengan orang lain (terutama mbak Nani). Hingga saat ini Lana tetap belum bisa ditinggal mbak Nani, di sekolah ia masih harus ditemani mbak Nani di dalam kelas, padahal teman-temannya sudah tidak ditunggu para pengantarnya, bahkan di TPQ mbak Nani malah harus ikut berada di sampingnya, ketika teman-temannya sudah tidak ditunggu siapa-siapa.
Aku bingung Ul, gimana cara melepaskan ketergantungan itu secara pelan-pelan. Setiap kali aku mencoba untuk menggantikan mbak Nani nganter sekolah yang terjadi adalah Lana malah nangis dan ga mau berangkat. Ah mbuhlah Ul, gak ngerti ku mesti bagaimana.
Ul, kadang aku juga tidak bisa menghindari untuk membandingkan perkembangan intelektual Lana dengan anak-anak sebayanya. Ketika anak-anak sebayanya bahkan anak-anak yang secara usia berada di bawahnya sudah mulai menghafal dan mengenal angka dan huruf, Lana tetap saja belum mampu untuk melakukannya. Benar memang bahwa itu bukan ukuran apakah seorang anak terbelakang atau tidak, namun kadang aku benar-benar ga bisa menghindarkan diri untuk tidak membandingkannya.
Dan kau tahu Ul, masalah terbesarku adalah bahwa ternyata aku benar-benar belum mampu untuk menjadi seorang pembelajar bagi Lana. Aku benar-benar tak mampu membuat Lana belajar dan senang belajar bersamaku. Aku benar-benar bingung Ul, kadang ga ngerti harus melakukan apa agar bisa memaksimalkan pembelajaran Lana sesuai dengan model dan karakternya.
Belum lagi ketika tiba-tiba Lana kehilangan seluruh kendali dirinya, ketika tiba-tiba ia menginginkan sesuatu dan ketika tiba-tiba ia seperti kehilangan apa yang ia inginkan.
Kau tahu Ul, beberapa kali Lana tiba-tiba ndak mau berangkat sekolah, benar-benar ndak mau. Gak tahu aku mesti bagaimana mensikapinya, kadang juga tak biarkan ia ga berangkat sekolah.
Ul, kadang aku juga berpikir jangan-jangan Lana terlalu terbebani dengan sekolahnya. Pagi ia mesti di TK dan sore di TPQ, tapi aku juga berpikir kalau tidak seperti itu trus gimana cara membelajarkan Lana. Sungguh Ul aku benar-benar ga tahu harus melakukan apa untuk memaksimalkan kemampuan dan potensi Lana, jangankan melakukan hal itu, ngajari Lana nulis ae aku ga bisa, bingung gimana carane.
Ul, aku tidak terlalu bingung ketika Lana sakit, karena bagiku itu jauh lebih mudah diatasi daripada hal-hal yang bersifat non-fisik. Mungkin hari-hari ini yang bisa ku berikan kepada Lana baru sebatas pemenuhan dalam persoalan-persoalan fisik--itupun aku yakin masih dalam batas yang jauh dari sempurna--
Dan kau tahu Ul, segala sesuatu yang berhubungan dengan Lana dan hal-hal yang terkait dengan cara menghebatkan Lana adalah hal yang sering membuatku berpikir bahwa aku tidak mungkin mampu menjalankan peran ini sendiri, aku butuh orang lain untuk membantuku menjalankan peran ini dan itu bukan mbak Nani. Mbak Nani ga bisa karena mbak Nani selalu memposisikan diri sebagai emban bagi Lana.
Aku butuh seseorang yang bisa tak ajak bicara, bertukar pikiran, dan memberi masukan bagaimana dan apa yang mesti aku lakukan agar mampu membuka jalan bagi Lana dalam proses perkembangan pribadi dan intelektualnya.
Ah, entahlah Ul, aku sendiri kadang sudah tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada diriku, dan Lana bukan aku, Lana adalah garis masa depan yang akan menghadirkan dan mengabadikan jiwa kita dalam lintas sejarah kehidupan.
Ul, benar-benar kadang aku merasa tidak akan sanggup melakukan ini sendiri, aku butuh seseorang untuk bersama-sama denganku, denganmu, dalam usaha membelajarkan dan menghebatkan Lana untuk menjalani garis hidupnya. Dan aku tak terlalu peduli posisi apa yang mesti dimiliki seseorang itu, boleh saja ia memiliki posisi apapun asal ia mau bersama-sama denganku, bersama kita, membuka jalan kehebatan bagi Lana.
Ah, sudahlah Ul, kita lihat saja apa yang akan terjadi....
Aku merindumu Ul, rindu hadirmu, rindu segala yang ada di dirimu....
Label:
dan Lana
Senin, 26 November 2012
Sabtu, 24 November 2012
ceritaku kali ini
Ul, aku mulai khawatir bahwa rinduku padamu yang terlalu menggebu padamu hari-hari ini akan kembali membawaku dalam balut keresahan keindahan yang melingkupi seluruh diriku, nalar dan hatiku, seperti pada masa-masa dulu.
Aku kembali terlalu merindumu hingga seluruh nalar pikirku dikuasai oleh aliran rindu, hanya ada resah indah pada tiap tarikan nafasku, akalku tak lagi sehat karena seluruh isi kepalaku penuh dengan kerinduan padamu. Tak ada sesuatu pun yang mampu menggerakkanku untuk melakukan segala wajib yang mesti aku jalankan kecuali secuil kesadaran nalar yang tersisa yang menyuruhku untuk tetap melaksanakan wajibku, meski hanya raga tanpa jiwa.
Ul, ternyata aku tetaplah anam seperti ketika itu, yang ketika rindu begitu meliputi diriku tak ada yang bisa ku lakukan selain menikmati seluruh rindu dalam kegelisahan dan keresahan. Tak ada hasrat untuk melakukan apapun, tak ada dorongan untuk bertindak apapun.
Meski sekarang mungkin ada sedikit hal yang membedakan, kalau dulu mungkin aku benar-benar tidak akan melakukan apapun dalam kungkungan rindu, cukup dengan menutup kamar dan merebahkan badan seharian atau pergi ke suatu tempat yang bisa mengalirkan setiap tetes kerinduan. Sekarang aku tak bisa lakukan itu lagi, tak mungkin ku tinggalkan kelasku dengan alasan ini, tak mungkin ku pergi begitu saja tanpa mengajak Lana, meski akibatnya semua meski ku lakukan tanpa jiwa, hanya gerakan raga tanpa makna (ah, semakin tua memang semakin kehilangan spontanitasnya).
Dan kau tahun Ul, yang lebih aku khawatirkan adalah ketika aku pada akhirnya benar-benar tak mampu menanggung rindu ini, aku khawatir malah merusakkan segalanya, karena yang aku tahu hingga saat ini adalah bahwa dalam keadaan sangat merindumu aku biasanya menjadi seseorang yang benar-benar tak mau diganggu, menjadi seseorang yang seakan berada di dimensi lain kehidupan, menjadi seseorang yang sangat mudah untuk menjadi berang. Aku takut sensitifitasku menjadi-jadi, hingga semua berujung pada kemarahan-kemarahan yang tak semestinya.
Ah entahlah Ul, banyak hal yang memaksaku untuk memikirkan kembali segala langkahku, banyak hal yang membuatku berpikir ulang tentang segala tindakanku, banyak hal yang membuatku mempertanyakan kembali motif-motif yang berada di balik tiap perilakuku. Kebaikan atau keburukan. Ketulusan dan pamrih yang terbungkus. Kelapangan dada atau kemarahan yang tak tertahankan. Pasrah atau menyerah.
Ah entahlah Ul, hingga saat ini belum juga kutemukan cara untuk menghadapi semua.........
Aku benar-benar merasa sendiri kali ini Ul, tak ada teman bicara, tak ada tempat bercerita, tak ada kerindangan dan kesejukan yang bisa kugunakan untuk sekedar beristirahat dan menyandarkan kepala.
Kadang aku ingin marah, benar-benar marah, tapi marah dengan siapa? kepada siapa? karena apa?
Semua kadang serasa benar-benar hampa, tanpa makna, tak ada nilai dan harga.
Ul, ah.....
Ul, ku merindumu, semoga aku selalu mampu menahankan itu......
Label:
curhat lagi
Jumat, 23 November 2012
terkapar........
menggigil dingin menembus tulang sumsum, berlapis selimut pun tak kan mampu usir dingin, dan aku tahu apa sebabnya sebagaimana engkau pasti juga memahaminya.
raga kelelakianku membutuhkan raga keperempuanmu, tubuh biologisku butuh kehadiran hangat tubuhmu. gigil tubuh ini hanya bisa diobati dengan desah nafas memburu, bersama nafasku dan nafasmu. bergumul di atas ranjang, saling merapatkan badan, dan menyatukan gairahku dan gairahmu, mengalirkan hasrat dalam tubuhku menemui hasrat dalam tubuhmu, menggelinjang dalam puncak pencapaian, kemudian terkapar bersama dalam senyum kepuasan, dan hangatpun menyebar ke seluruh badan.
tak ingin aku berapologi mengapa seperti ini, karena tak ada apologi ataupun argumentasi,
peluk cium selalu untukmu
dalam dingin malam-malamku
raga kelelakianku membutuhkan raga keperempuanmu, tubuh biologisku butuh kehadiran hangat tubuhmu. gigil tubuh ini hanya bisa diobati dengan desah nafas memburu, bersama nafasku dan nafasmu. bergumul di atas ranjang, saling merapatkan badan, dan menyatukan gairahku dan gairahmu, mengalirkan hasrat dalam tubuhku menemui hasrat dalam tubuhmu, menggelinjang dalam puncak pencapaian, kemudian terkapar bersama dalam senyum kepuasan, dan hangatpun menyebar ke seluruh badan.
tak ingin aku berapologi mengapa seperti ini, karena tak ada apologi ataupun argumentasi,
peluk cium selalu untukmu
dalam dingin malam-malamku
Rabu, 21 November 2012
Aduh Ul, aku ngaco lagi...
ah Ul, kayake aku ngaco lagi nih.
Baru dua hari ini Jun mulai kembali mau berkomunikasi, dan hari ini aku ngaco lagi ketika ngasih comment di status fb.
Ul, ga tahu juga tiba-tiba ingin kasih comment, aku hanya ngerasa bahwa Jun lagi menanggung sesuatu yang berat sehingga seringkali dalam nulis di wall sesuatu yang membuatku kadang kaget, dan hari ini aku ga bisa menahan diri untuk tidak kasih comment, dan ternyata aku kembali menyentuh wilayah psikologis yang sangat sensitif sehingga menurutku Jun kembali jengkel dan efeke mungkin ia tidak akan mau lagi berkomunikasi denganku, entah untuk berapa waktu (seperti apa yang ia lakukan dalam waktu hampir dua bulan ini).
Ul, hari-hari ini aku begitu merindumu, dan sebenarnya juga aku butuh ngobrol dengan Jun. Bukan untuk apa-apa, hanya sekedar ngobrol yang biasanya bisa membantuku mengatasi rasa rinduku.
Ah, ga ngerti lah Ul, entah berapa lama Jun akan kembali tidak mau berkomunikasi denganku, meski tetep ae aku berharap tidak terjadi.
Ul, ga ngerti juga kenapa hari-hari ini aku rasakan rindu begitu melimpah di hati, rindu akan kebersamaan bersamamu, rindu untuk kembali berbagi cerita denganmu , rindu segala yang ada dalam dirimu.
Ul, ga tahu juga mengapa getarku begitu menekan dalam beberapa hari ini. Dan engkau tahu Ul, dalam keadaan seperti ini sebenarnya aku tidak lagi mampu melakukan apapun, karena hati dan jiwaku tak lagi bersama dengan ragaku. Aku menjadi raga tanpa jiwa, raga yang melangkah hanya mengikuti tata nalar akan sebuah kebiasaan. Jiwa dan hatiku membumbung tinggi dalam rindu, rindu bersamamu.
Ah, ga ngerti lah Ul, apa lagi yang mesti ku ceritakan padamu. Yang jelas hari ini mungkin aku telah melakukan ketidak sengajaan yang telah merusak sesuatu yang baru mulai kembali baik. Hari ini aku telah melakukan sebuah ketidak sengajaan yang mungkin saja akan mengembalikanku dalam sebuah kegelapan dalam sebuah pola hubungan, yang aku sendiri tak pernah tahu sampai kapan.
Jelas aku tak ingin demikian Ul, dan sungguh tak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk menambah beban, menggores luka, ataupun mendalamkan pedih yang dirasakan Jun, aku hanya ingin sebenarnya mencoba untuk ikut berbagi dengan harapan dapat membuat sesuatu menjadi lebih mudah dan lebih ringan, beban menjadi tak lagi begitu menekan, meski kadang antara keinginan dan kenyataan seperti bertolak belakang.
Ah Ul, aku lagi benar-benar merindumu dan sebenarnya aku perlu dan butuh Jun untuk sekedar ngobrol agar rindu padamu tak terlalu menggebu dan menguasai hati dan pikirku.
Sudahlah Ul, semoga semua berakhir pada kebaikan.
Ul, aku merindumu, selalu merindumu, hingga dalam hati dan pikirku tertutup oleh segala sesuatu tentangmu.
Ul I love you more and more.....
Label:
curhat,
tentang Jun
Senin, 19 November 2012
Kembali Merayumu
Ul, terus saja kangen menggelayut manja di lengan jiwaku, dalam dingin malam saat musim mulai berganti. Ah, kelelakianku kadang begitu menggebu akan hadir keperempuanmu, bersama desir mengalir, bersama dingin merambat dari dada ke sekujur raga.
Ul kau tahu aku tak bisa membunuh apapun yang muncul dalam hatiku. Bagiku semua adalah karunia, semua punya masa, semua ada saat hadir dan sirnanya. Jadi, apapun yang hadir coba ku nikmati, coba ku resapi, meski kadang membuatku jatuh kembali dan kembali.
Ul, aku tahu aku hanya setengah bahkan mungkin tak ada lagi. Engkau penggenggam hatiku, pengisi jiwaku. Cintamu mengalir dalam nadiku, menggerahkan langkah dan arah hidupku.
Ini bukan pemujaan sayang, ini adalah caraku menikmati apa yang hidup di hati, caraku meresapi apa yang mengalir di jiwa, caraku mensyukuri apa yang dianugerahkan Sang Pemilik Segala.
Ul aku tak peduli orang bilang aku terjebak dalam masa lalu. Aku tak peduli orang mengatakan bahwa jika terjebak di masa lalu orang tak akan mampu melihat masa depan dengan benar.
Ul sebenarnya juga aku tidak pernah benar-benar tahu, apakah tetap merasakan cintamu mengalir dalam nadiku adalah sebuah keterjebakan di masa lalu? Apakah mengabadikan apa yang tumbuh di jiwa adalah sebuah kesalahan yang akan merusak masa depan?
Sungguh aku tak tahu, aku hanya menuruti apa yang ku pikir sebagai kata hatiku. Aku hanya mengikuti aliran yang berasal dari rasaku, tanpa perlu penentangan, tanpa perlu bertanya pada pendapat nalar.
Ul, yang aku tahu cinta adalah persoalan jiwa, bukan wilayah nalar. Cinta jauh berada di atas tata nalar dan nalar tak diperlukan kala kita berada dalam dekap cinta. Hanya nalar yang mengenal dan membedakan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Cinta berada di atas semua itu. Cinta dalam jiwa mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa datang dalam satu kali pandangan.
Ul, selama ini dan hingga saat ini aku sangat percaya dengan rasa yang mengalir di hatiku. Aku percaya bahwa apapun yang ada dalam desir jiwaku adalah kebenaran yang mesti aku ikuti. Sebuah kenyataan yang harus aku terima dan jalani.
Aku percaya cinta adalah matahari yang tak akan pernah kehilangan keutuhannya dan rindu adalah rembulan yang senantiasa menanti dan mendamba pancarannya.
Ul, tak akan pernah habis kata untuk mengurai cinta dan rindu padamu, meski pada akhirnya kata kembali kehilangan makna dalam hadirmu.
Ul, seperti yang sering ku katakan padamu, setiap orang dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi dan menjalani garis hidupnya. Apapun yang terjadi pada kita, apapun yang aku lewati, apapun yang aku rasakan, semua pada akhirnya akan berujung pada usaha Tuhan untuk mempersiapkan jiwaku dalam menjalani garis hidupku.
Namun satu hal yang menurutku pasti Ul, bahwa engkau adalah penyempurna jiwa hingga kita menjadi sebuah keutuhan. Bahwa cinta kita adalah sebuah keabadian, bahwa rinduku adalah sebuah kenyataan yang membahagiakan, mesti tentu saja dalam kegelisahan yang kadang hampir tak tertahankan.
Ul, ku coba terima apapun dengan hati lega, meski tetap saja tak bisa ku sirnakan sebuah harapan 'SUATU SAAT ENGKAU AKAN KEMBALI MENJAWAB RINDUKU DALAM WUJUD PEREMPUAN PILIHANMU'. Karena sungguh aku membutuhkanmu dalam wujud lahir untuk bersama menghebatkan Lana.
Ul sungguh aku berharap hingga saat itu tiba--jika memang saat itu ada--tetaplah bersama kita dalam jiwa, kita bertemu di alam khusus bagi pecinta dan sang kekasih untuk sekedar mengurangi dahaga rindu, temani Lana dalam malam-malam saat mimpi mulai merenda.
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu, dalam jiwa dan ragaku, lagi dan lagi.
Ul, I love You as always. more and more...
Label:
jiwa
Langganan:
Postingan (Atom)