Jumat, 07 Desember 2012

Maafkan aku sayang...

Ul...
maafkan aku untuk setiap kekecewaan yang engkau rasakan karenaku
maafkan aku untuk setiap janji yang belum juga mampu aku penuhi
maafkan aku untuk tiap titik luka yang engkau alami bersamaku
maafkan aku untuk segala kekurangan yang aku miliki
maafkan aku atas kebahagiaan yang baru seujung kuku
maafkan aku untuk setiap angan yang belum juga mewujud dalam kenyataan
maafkan aku atas ketakmampuanku menjaga raga dan jiwamu
maafkan aku, belum juga mampu ku bangun tempat belajar sebagaimana inginmu
maafkan aku, belum juga mampu ku hidupkan lagi apa yang telah engkau bangun bersamaku
maafkan aku, belum juga ku temukan jalan untuk menghebatkan Lana, putra kita, putramu dan putraku
maafkan aku, belum juga mampu ku buka jalan menuju tanah suci, berhaji bersamamu
maafkan aku, masih saja aku bocah gegabah yang belum mampu belajar dari waktu
maafkan aku, begitu banyak kekurangan dalam diriku dan hampir tak ada keistimewaan yang dapat dibanggakan di hadapmu
maafkan aku, masih jauh aku dari impian dan harapanmu

peluk cium selalu untukmu, dalam rindu yang tak pernah surut ataupun layu

Kamis, 06 Desember 2012

hanya rindu

Ul, apa lagi yang mesti ku ceritakan padamu? Kerinduan yang tanpa batas? Cinta yang terus bergelora? Atau segala cerita yang beredar dan berlangsung di sekitar kita?.
Ah Ul, sebenarnya apa yang terjadi adalah bahwa aku benar-benar ingin selalu bersamamu, dan cerita hanyalah salah satu cara agar aku tetap merasa bersamamu, berbagi denganmu.
Ul, apa yang saat ini benar-benar aku inginkan, harapkan, butuhkan adalah kebersamaan denganmu, kebersamaan jiwa, kebersamaan dalam rindu dan cinta.
Ul, hari-hari ini adalah hari-hari di mana segala keindahan begitu merasukiku, merasakan sebanyak mungkin kasih dan cinta menyebar dalam seluruh jiwa, mengalir bersama nadi ke seluruh pori.
Ul seperti butuhku pada makanan untuk raga, demikian juga butuhkan pada kebersamaan kita dalam jiwa. Cinta adalah tanaman yang mesti dirawat dan dijaga oleh dua jiwa yang menyatu dalam satu nafas cahaya. Cinta adalah keabadian selama kita meyakini dan meresapinya.
Ul merindumu adalah sebuah kenikmatan dan kegelisahan yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk bersamamu menjadi kita yang tak lagi membedakan aku dan kamu.
Ul, ah entahlah apa aku masih mampu bercerita padamu ketika rindu begitu menguasai kalbu, ketika rindu menjadi pemegang kendali seluruh desir dan denyut nadi yang menjalari seluruh tubuh dan diriku, raga dan jiwaku.
Ul, inilah hari-hari di mana cahaya begitu gemerlap, bintang begitu terang, indah memancar di langit semesta jiwa, hangat menyapa beku sukma.
Ul, inilah rindu sempurna ketika jawaban terbaiknya adalah sua.
Ul, rindu memeluknya raga dan jiwaku
rindu kebersamaan denganmu dalam ada dan tiadamu
rindu menikmati segala keindahan yang tak ternah berkurang kedahsyatan dan keluarbiasaan.
rindu menyatu jiwa bersamamu, arungi samudera kasih di atas sampan kecil cahaya di atas samudera hidup mengharu biru

Rabu, 05 Desember 2012

untukmu puisiku

sungguh ku nikmati seluruh hari-hariku bersamamu
dulu, kini, dan entah sampai kapan aku tak t ahu
karena keabadian ku harapkan dari semua itu

sungguh ku nikmati setiap detakku kala bersatu dengan detakmu
di tempat yang aku sendiri tak tahu
mengalir berkejaran kita di sepanjang waktu
tak ada jeda, tak ada bosan, tak ada jemu
hanya ada tawa, canda, dan seluruh kegembiraan kalbu
berguling kita di hamparan rumput lembut bagi beludru

sungguh ku nikmati saat-saat kebersamaan kita yang tak pernah sirna
dulu, kini, dan ku harap akan sepanjang masa
tiap getarku adalah getarmu, getar kita
tiap denyutku adalah denyutmu, denyut kita
nafasku adalah nafasmu, nafas kita
kebersatuan dalam jiwa, abadi sepanjang masa
karna hanya raga yang mampu sirna
sedang jiwa abadi bersama Asalnya

sungguh ku nikmati saat nafasku merindu nafasmu
sungguh ku nikmati saat desahku merindu desahmu
sungguh ku nikmati saat diriku menyatu dengan dirimu
dalam desah, dalam gairah, dalam gelombang rindu menderu kalbu

ah, entahlah sayang, kadang aku sendiri tak tahu mesti bagaimana keabadian jiwa kualirkan, ku ungkap dalam bentang kata yang seringkali menghilang makna
aku merindumu dalam hadir dan tiadamu
aku merindumu dalam kebersamaan jiwa maupun keterpisahan raga
aku merindumu dalam keramaian dan kesenyapan
aku merindumu dalam seiring tarik nafas yang keluar masuk paru
aku merindumu dalam seluruh dan segalaku...

Senin, 03 Desember 2012

Ul, it's about me and Jun

Hai Ul, tetep ae kangen awakmu, meski tiap hari ku sebut namamu sebagaimana kunikmati desah-desah berat mengalir bersama nafasku.

Ul, kayake Jun benar-benar marah, jengkel, kecewa, mangkel dan segala perasaan ga bersahabat bersatu dalam dirinya ketika harus bersinggungan denganku. Mungkin juga hari-hari ini ia tidak akan pernah mau bersinggungan denganku, bahkan mungkin apapun yang datang dariku akan langsung dihindari dan dibuang biar tidak membuat sesuatu yang tidak mengenakkan hati.
Aku tahu Ul, semua berasal dari salahku, sebuah kesalahan yang sebenarnya tak maksudkan sebagai sebuah candaan, tapi rupanya aku salah tempat dan waktu, so akhirnya menjadi rusak seluruh bangunan komunikasi yang baru saja mulai terhubung lagi.
Ul, kalau aku umpamakan kesalahan yang aku lakukan mungkin adalah nyala api yang menghanguskan seluruh rumah dan bangunan yang untuk membangunnya membutuhkan waktu sangat lama namun untuk menghanguskannya hanya membutuhkan satu percik nyala, dan kesalahan yang aku lakukan telah menjadi percik itu, sehingga bangunan komunikasiku dengan Jun hancur berantakan--tak tahu aku apakah telah menjadi arang atau abu--.
Ul, sungguh aku menyesal dan kecewa dengan diriku, tapi apa lacur semua sudah terjadi, ku coba untuk meminta maaf--meskipun aku juga tidak tahu apakah cara yang ku gunakan dapat diterima atau malah membuat Jun semakin memandangku tak berharga di hadapnya--. Aku tahu Ul, Jun memiliki arti tersendiri bagiku, ia bukan sekedar adik iparku, ia mulai memiliki tempat tersendiri dalam hatiku, tempat yang berada tepat di samping tempatmu, tempat di mana aku merasa nyaman untuk bercerita, untuk mengatakan apapun yang aku rasakan tanpa merasa harus menjaga kerahasiaan.
Ul, aku tidak pernah menyalahkan atau kecewa dengan apa yang ia lakukan, karena menurutku adalah haknya untuk bersikap apapun atas apa yang ia rasakan, atas apa yang ia dapatkan, atas apa yang aku lakukan padanya.
Ul, aku ga ngerti juga kadang aku benar-benar ingin berbicara, bercerita dengannya, berbagai segala beban dalam dada, dan berbagi berbagai rencana seperti dulu kita lakukan bersama.
Ul, aku juga merasakan detak berbeda ketika dalam dirinya--meskipun seringkali juga ku rasakan detakmu ada di dalamnya--ada sedetak kegelisahan, ada sedetak kekecewaan, ada sedetak kemarahan, ada sedetak kerinduan yang kadang menyelip tak terduga.
Ada kalanya juga aku mesti diam lama, mengingat segala peristiwa ketika beberapa kejadian serupa terjadi ketika aku bersama Jun hampir sama seperti beberapa peristiwa yang pernah kita lalui bersama--meski dalam waktu dan set yang berbeda--. Ada beberapa tanda-tanda yang kadang membuatku berpikir bahwa ia adalah perempuan yang engkau tunjukkan padaku untuk menjadi dirimu. 
Ul, mungkin itu juga yang kemudian membuatku melakukan beberapa hal yang membuat Jun merasa tidak nyaman, mungkin kecewa, bahkan marah atau memutuskan untuk tidak bersinggungan sama sekali denganku.
Ah, entahlah Ul, tak aku apa yang sebenarnya, jelas ku rasakan ada sesuatu yang istimewa dalam diri Jun bagiku, meski hingga kini belum bisa aku menetapkan apa sesuatu yang istimewa itu (dan seringkali tak pernah mampu ditetapkan karena seringkali cukup untuk dimengerti dan dinikmati, he he).
Ul, aku tak mungkin bohong padamu dengan mengatakan bahwa diamnya Jun tidak berpengaruh apapun bagiku, karena bagiku, siapapun ia, siapapun yang sudah memiliki tempat istimewa dalam jiwaku, tidak mungkin ia tidak menggelisahkanku ketika ia mulai 'mengabaikanku'.
Ul, kadang aku berpikir apakah aku harus mengatakan semuanya padanya, atau cukuplah ini menjadi sesuatu yang hanya kita yang tahu, aku dan kamu. Ah, entahlah Ul, lihat saja semoga segalanya kembali menjadi seperti sediakala.
Ul, hari ini aku tidak terlalu berharap bahwa Jun mau kembali berbicara, berkomunikasi denganku,--lewat apapun dan dua minggu ini aku merasa ia benar-benar tak mau bersinggungan denganku meski aku berusaha untuk menyapanya--, mungkin satu-satunya harapan yang paling masuk akal bagiku saat ini adalah bahwa ketika ia pulang kami bisa kembali ngobrol seperti biasa atau minimal kami bisa memperlihatkan sikap biasa di hadapan orang-orang yang ada di sekitar kami.
Ul, mungkin ini dulu ceritaku padamu, nanti kita sambung lagi.

I love you so much...
Aku merindumu sepanjang waktu....

Sabtu, 01 Desember 2012

luruh

ya Allah...
Ul....
aku hilang arah
tak tahu ke mana mesti melangkah
sendiri dipersimpangan beribu jalan
bingung mana nyata mana hayal

Ul...
aku hilang tujuan
tenggelam dalam pusaran selaksa keinginan
tak tahu mana yang mesti didahulukan
terpaksa ku duduk diam dalam tangisan

Ul...
aku butuh uluran tangan
benar-benar butuh uluran tangan
dalam bentuk lisan dan tindakan

Ul...
bantu aku memohon pada Tuhan
untuk hadirkan tangan-tangan pertolongan
melalui jalan yang Ia layakkan

Allah...
Engkau Sang Maha Pendengar
Maha Pemberi Terbaik bagi tiap insan
amin itu yang ku harapkan...

Jumat, 30 November 2012

the most difficult to handle...

It's true. For me, this is the most difficult to handle. Lana and all about him.
Sungguh Ul, saat engkau berpindah ke dimensi yang lebih tinggi aku benar-benar merasa bahwa akhir hidupku mungkin akan dimulai. Dan Lana adalah alasan terkuatku untuk tetap bertahan.
Aku tahu aku tak mungkin bisa hidup tanpamu, so jika aku tetap tanpa hadirmu tetap saja aku tak akan mampu. Maka, aku katakan kepada jiwa untuk tetap bersama, karna fana hanya dimiliki oleh raga, fana tidak menyentuh jiwa.
Pada awal-awal perpindahanmu ke dimensi lain, aku benar-benar belum menyadari hal ini Ul, aku mulai menyadari bahwa ada hal yang lebih sulit dan lebih berat dari perpisahan denganmu setelah aku beberapa bulan kemudian ketika aku mulai mampu menghadirkan kebersamaan jiwa bersamamu. Ketika aku mulai menyadari bahwa raga kita adalah wadah bagi jiwa kita dan jiwa kita tetap hidup dan hadir meski tidak dalam wadah raga.

Ul, aku tahu Lana berbeda dengan anak-anak lainnya, bahkan sebelum perpisahan denganmu pun ia sudah berbeda. Ia memiliki ukuran tersendiri atas apapun yang ia lakukan. Ia memiliki standar tersendiri atas tingkat resiko apapun yang akan ia lakukan. Jelas bagiku bahwa ia memang telah dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi hidupnya.
Namun, aku juga manusia biasa, sepandai apapun aku berusaha untuk meyakini bahwa Lana berbeda dengan anak-anak lainnya, tetap saja ada saat-saat tertentu mau tidak mau aku memperhatikan perkembangan psikologisnya dan memperbandingkannya dengan anak-anak seusianya, bahkan dengan anak-anak yang berusia di bawahnya.
Ul, terus terang hal yang paling menggelisahkanku dalam perkembangan psikologis Lana adalah tingkat ketergantungannya dengan orang lain (terutama mbak Nani). Hingga saat ini Lana tetap belum bisa ditinggal mbak Nani, di sekolah ia masih harus ditemani mbak Nani di dalam kelas, padahal teman-temannya sudah tidak ditunggu para pengantarnya, bahkan di TPQ mbak Nani malah harus ikut berada di sampingnya, ketika teman-temannya sudah tidak ditunggu siapa-siapa.
Aku bingung Ul, gimana cara melepaskan ketergantungan itu secara pelan-pelan. Setiap kali aku mencoba untuk menggantikan mbak Nani nganter sekolah yang terjadi adalah Lana malah nangis dan ga mau berangkat. Ah mbuhlah Ul, gak ngerti ku mesti bagaimana.
Ul, kadang aku juga tidak bisa menghindari untuk membandingkan perkembangan intelektual Lana dengan anak-anak sebayanya. Ketika anak-anak sebayanya bahkan anak-anak yang secara usia berada di bawahnya sudah mulai menghafal dan mengenal angka dan huruf, Lana tetap saja belum mampu untuk melakukannya. Benar memang bahwa itu bukan ukuran apakah seorang anak terbelakang atau tidak, namun kadang aku benar-benar ga bisa menghindarkan diri untuk tidak membandingkannya.
Dan kau tahu Ul, masalah terbesarku adalah bahwa ternyata aku benar-benar belum mampu untuk menjadi seorang pembelajar bagi Lana. Aku benar-benar tak mampu membuat Lana belajar dan senang belajar bersamaku. Aku benar-benar bingung Ul, kadang ga ngerti harus melakukan apa agar bisa memaksimalkan pembelajaran Lana sesuai dengan model dan karakternya.
Belum lagi ketika tiba-tiba Lana kehilangan seluruh kendali dirinya, ketika tiba-tiba ia menginginkan sesuatu dan ketika tiba-tiba ia seperti kehilangan apa yang ia inginkan. 
Kau tahu Ul, beberapa kali Lana tiba-tiba ndak mau berangkat sekolah, benar-benar ndak mau. Gak tahu aku mesti bagaimana mensikapinya, kadang juga tak biarkan ia ga berangkat sekolah. 
Ul, kadang aku juga berpikir jangan-jangan Lana terlalu terbebani dengan sekolahnya. Pagi ia mesti di TK dan sore di TPQ, tapi aku juga berpikir kalau tidak seperti itu trus gimana cara membelajarkan Lana. Sungguh Ul aku benar-benar ga tahu harus melakukan apa untuk memaksimalkan kemampuan dan potensi Lana, jangankan melakukan hal itu, ngajari Lana nulis ae aku ga bisa, bingung gimana carane.
Ul, aku tidak terlalu bingung ketika Lana sakit, karena bagiku itu jauh lebih mudah diatasi daripada hal-hal yang bersifat non-fisik. Mungkin hari-hari ini yang bisa ku berikan kepada Lana baru sebatas pemenuhan dalam persoalan-persoalan fisik--itupun aku yakin masih dalam batas yang jauh dari sempurna--
Dan kau tahu Ul, segala sesuatu yang berhubungan dengan Lana dan hal-hal yang terkait dengan cara menghebatkan Lana adalah hal yang sering membuatku berpikir bahwa aku tidak mungkin mampu menjalankan peran ini sendiri, aku butuh orang lain untuk membantuku menjalankan peran ini dan itu bukan mbak Nani. Mbak Nani ga bisa karena mbak Nani selalu memposisikan diri sebagai emban bagi Lana.
Aku butuh seseorang yang bisa tak ajak bicara, bertukar pikiran, dan memberi masukan bagaimana dan apa yang mesti aku lakukan agar mampu membuka jalan bagi Lana dalam proses perkembangan pribadi dan intelektualnya.
Ah, entahlah Ul, aku sendiri kadang sudah tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada diriku, dan Lana bukan aku, Lana adalah garis masa depan yang akan menghadirkan dan mengabadikan jiwa kita dalam lintas sejarah kehidupan. 
Ul, benar-benar kadang aku merasa tidak akan sanggup melakukan ini sendiri, aku butuh seseorang untuk bersama-sama denganku, denganmu, dalam usaha membelajarkan dan menghebatkan Lana untuk menjalani garis hidupnya. Dan aku tak terlalu peduli posisi apa yang mesti dimiliki seseorang itu, boleh saja ia memiliki posisi apapun asal ia mau bersama-sama denganku, bersama kita, membuka jalan kehebatan bagi Lana.

Ah, sudahlah Ul, kita lihat saja apa yang akan terjadi....

Aku merindumu Ul, rindu hadirmu, rindu segala yang ada di dirimu....


Senin, 26 November 2012