Selasa, 11 Juni 2013

it's about Lana


Ul, kadang aku benar-benar khawatir dengan Lana. Kadang aku benar-benar takut tidak mampu memberi pendidikan dengan baik untuk Lana, sebuah pendidikan yang memberdayakan, sebuah pendidikan yang membuatnya benar-benar menjadi dirinya sendiri, sebuah pendidikan yang membuat perkembangan diri dan potensinya tumbuh dan berkembang secara maksimal. Kadang aku benar-benar takut karena hingga sekarang pun aku merasa belum mampu menemukan cara yang paling tepat untuk mendekati hatinya.
Ul, meski aku tahu bahwa Lana bukan aku, bukan kamu, bukan kita, namun beberapa bahkan seringkali aku melihat sifat-sifat kita ada dalam dirinya, sifat-sifat yang selama ini kita tahu dan mungkin membuat beberapa orang tidak mengerti dengan kita. Terlalu sering aku tidak mampu mengetahui apa yang sedang terjadi karena Lana juga terlalu sering tidak mau mengatakan masalah yang sedang dialami. Ia lebih memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri, tidak mengatakan pada siapapun apalagi padaku, namun kadang-kadang—mungkin ketika Lana merasa berat dengan apa yang terjadi—tiba-tiba ia marah tak jelas, diam atau bahkan menangis tanpa pernah mengatakan mengapa ia seperti itu.
Ul, sungguh aku juga ga ngerti mengapa demikian. Apakah yang selama ini aku ambil dalam pola komunikasiku dengan Lana salah atau bagaimana? Kadang aku merasa bahwa selembut apapun aku berusaha mendekati Lana agar ia mau berbicara denganku ketika terjadi masalah, tetap saja aku merasa gagal karena aku merasakan penolakan dari Lana untuk bercerita. Aku kadang merasa bahwa Lana memandangku sebagai seseorang yang tidak boleh tahu kalau ia punya masalah, seseorang yang hanya boleh mengetahui sesuatu tentang apa yang sudah ia lakukan dan berhasil. Bahkan ketika Lana bermain dengan teman-temannya kemudian ada salah satu temannya atau bahkan ia sendiri yang nangis pun, Lana selalu menjawab tak ada apa-apa ketika aku bertanya ada apa?.
Ul, apakah yang sekarang terjadi merupakan efek dari pembagian peran yang pernah kita bicarakan dulu? Efek dari pembagian peran bahwa dalam sebuah rumah harus ada seseorang yang ditakuti ketika anggota keluarga (baca; anak) melakukan kesalahan, melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hendak kita bangun di rumah kita, selain tentu saja harus ada seseorang lainnya yang akan menjadi tempat mengadu, tempat mengeluh, tempat berbicara ketika anak kita mengalami masalah, menghadapi persoalan. Dan dulu kita sepakat bahwa aku mengambil peran sebagai orang yang pertama dan engkau menjadi orang yang kedua. Ah, entahlah Ul, aku juga ga ngerti.
Ul, apa yang mestinya dapat aku lakukan agar aku bisa membuat Lana benar-benar nyaman untuk bersamaku. Merasa nyaman untuk berbicara dan menceritakan segala sesuatu yang terjadi, tidak merasa takut ketika ia melakukan kesalahan kemudian menceritakan kesalahannya. Merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang terjadi di sekolahnya, merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang tidak bisa ia lakukan di sekolah dan TPQ.
Ul, aku kadang juga merasa bingung bagaimana mengajarkan kemandirian pada Lana, mengingat ketergantungan Lana dengan mbak Nani luar biasa. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menyalahkan mbak Nani. Apa yang dilakukan mbak Nani kepada Lana tidak lebih dari apa yang mesti dilakukan oleh seorang ‘emban’ kepada momongannya. Aku tahu mbak Nani tidak akan pernah marah kepada Lana, mbak Nani tidak akan pernah membentak Lana, mbak Nani akan cenderung menuruti apa mau Lana selama menurut mbak Nani permintaan Lana bukan hal-hal yang buruk. Makanya sampai sekarang, jika bersama mbak Nani Lana tetap saja makan minta disuapin, jajan selalu diturutin (meskipun masih tetap dalam kategori wajar, menurutku), sekolah masih minta ditemenin (kalau tidak ada mbak Nani belum juga mau berangkat).
Ul, bukan berarti kemudian Lana tidak berkembang. Beberapa bulan ini meski mbak Nani belum datang, Lana sudah bisa tak tinggal berangkat ke sekolah (ya mbak Nani seperti itulah kadang datangnya agar terlambat, kadang jam 7 lebih mbak Nani belum datang padahal aku harus ngajar pagi, dan kamu tahu kan aku paling tidak bisa ngomong masalah ini ke mbak Nani, karena—seperti yang pernah kita bicarakan—kita yang butuh mbak Nani, kita yang butuh bantuannya maka kita akan coba mengerti posisinya—tentu saja dalam batas-batas yang masih dapat kita terima).
Kau tahu Ul, untuk urusan mandi dan makan, ketika Lana mesti mandi denganku saat pagi sebelum sekolah—meskipun tetap saja ia berusaha untuk mengulur waktu (kayake rasa malas mandi yang dulu pernah kita alami menurun pada Lana, sehingga cukup susah untuk nyuruh Lana mandi terutama pagi)—Lana bisa mandi dengan cepat, berbeda dengan mandi sore ketika mbak Nani yang mandiin Lana, ada saja alasan untuk mengulurnya, entah makan dulu, entah apa dulu, padahal sudah menjelang jam 4 dan ia mesti ke TPQ. Untuk urusan makan juga tidak jauh beda, ketika sarapan Lana akan makan sendiri dengan lahap—asal apa yang ia inginkan dituruti (misal jika pengen sarapan mie yang dikinkan mie, pengen nasi goreng dibuatkan nasi goreng, pengen lontong dibelikan lontong), sedang ketika mesti makan bareng mbak Nani, masih saja mbak Nani harus mengikutinya kemana –mana dan mesti disuapin.
Ul, terus terang kadang aku masih mempertanyakan benar apa salah ya aku memasukkan Lana ke TK di pagi hari kemudian pada sore hari mesti berangkat lagi ke TPQ. Kadang aku merasa Lana sendiri kadang ogah-ogahan untuk berangkat ke TK maupun TPQ. Tapi aku juga tidak tahu apa yang mesti aku lakukan jika aku tidak memasukkan Lana pada TK dan TPQ, Lana tidak mau belajar denganku (itu juga sering membuatku bingung, apakah Lana tidak mau belajar denganku karena aku tidak memiliki cara mengajar anak dengan menarik ataukah posisinya sebagai orang pertama seperti yang pernah kita sepakati dulu?).
Ya mbak Nani juga ngajari Lana membaca dan menulis, Cuma yang diajarkan mbak Nani membaca dan menulis latin, sedang arabnya tidak. Sampai sekarang pun sebenarnya aku masih meragukan efektifitas belajar Lana di TK dan TPQ. Mungkin di TK masih lebih baik karena sekarang Lana sudah mulai bisa menulis dan mengenal huruf, meskipun membacanya belum bisa (dan tak pikir itu tidak apa-apa, dulu saja kita baru diajari nulis dan membaca pada kelas 1 MI), namun yang kadang membuatku benar-benar sedih adalah sampai sekarang Lana belum pernah mau mengaji dengan gurunya di TPQ, jadi dalam satu tahun ini satu jilidpun belum ada yang ia selesaikan. Pernah sekali waktu yang menyusul ke TPQ dan meminta mbak Nani pulang dulu. Akibatnya malah Lana ngangis keras sekali di TPQ, setelah itu aku tidak lagi mencoba untuk melakukannya (sebenarnya aku juga ga enak dengan mbak Nani karena tiap hari ia mesti pulang menjelang magrib. TPQ kadang selesainya jam 5.20 sampai rumah jam 5.30 padahal sekarang magrib jam 5.35).
Ul, kadang aku berpikir bahwa aku tidak akan bisa mendidik Lana dengan baik kalo masih seperti ini. Dan jika seperti ini terus maka aku membutuhkan seseorang yang mau membantuku untuk mendidik Lana, seseorang yang akan mengambil peran sebagai orang kedua di rumah kita, dan itu jelas bukan mbak Nani, dan itu juga jelas bukan seorang guru sekolah, bukan seorang guru mata pelajaran, seseorang yang mau mengambil peranmu sebagai orang kedua di rumah kita. Seseorang yang dengannya Lana bisa tersentuh hatinya, seseorang yang dengannya Lana bisa bercerita apa saja, seseorang yang dengannya Lana mau merasa nyaman untuk berbagi personalan.
Ul, aku tidak hendak mengatakan bahwa aku akan menikah lagi, bagiku saat ini menikah atau tidak itu bukan masalah. Urusan pribadiku hari ini tidak terlalu penting lagi. Yang jelas mungkin jika aku tidak mampu menjadi orang pertama sekaligus orang kedua di rumah kita bagi Lana, maka jelas aku butuh seseorang untuk untuk mengambil peranmu sebagai orang kedua di rumah bagi Lana, seseorang yang dengan rela mau mengambil peran itu, tidak masalah laki-laki ataupun perempuan.
Dan kalaupun aku mesti menikah lagi, maka aku pasti akan menikahi perempuan yang di dalam dirinya aku merasakah kehadiranmu, aku pasti akan menikahi perempuan yang aku rasakan detakmu dalam denyutnya, aku pasti akan menikahi perempuan yang mampu menyentuh hatiku dengan sentuhanmu.
Ul, aku hanya berharap bahwa aku segera menemukan cara mendidik Lana dengan tepat. Mendidik bukan sekedar menyekolahkan, mendidik bukan sekedar mengajarkan. Lana adalah matahari bagi kelam jiwa kita, sinar bagi kedua mata kita, detak yang berasal dari denyut kita, dan ia mesti lebih hebat dari kita.
Ah Ul, mungkin yang mampu aku lakukan sekarang barulah mengalirkan doa-doa untuk Lana, mengalirkan harapan-harapan dalam setiap harap setiap habis shalat. Kadang aku juga merasa benar-benar seperti tak lagi mampu menahan beban ini sehingga kadang aku juga merasakan begitu butuh seseorang untuk sekedar bercerita, dan kau tahu aku masih saja seperti dulu, tidak bisa bercerita apapun tentang segala masalahku selain kepadamu…
Ah, wis disik ya, sudah subuh ini, kapan-kapan aku pasti aku menulis dan bercerita lagi...
Love you so much as always. Aku mencintaimu sebagaimana kayu mencintai api yang menjadikannya abu.
Aku merindumu dalam tiap jengkal langkahku, dalam tiap tarik nafasku, dalam tiap tetes darahku…
Aku mencintai dan merindumu, semoga menjadi wujud syukurku atas anugerah keabadian cinta rindu dalam jiwaku dari Tuhanku….

Kamis, 30 Mei 2013

dalam diam ku ceritakan semua

Ul, terlalu banyak yang ingin aku ceritakan padamu hingga akhirnya aku hanya mampu membisu....
atau ku tulis saja clue nya ya...
rindu padamu
lana dan perkembangannya
mts dan arahnya
jun dan diamnya
jumudku dan ketakutan-ketakutan baruku
mimpi-mimpi kita dan apa mesti untuk mewujudkannya

ah....
sudahlah biar dalam diam aku berbagi dan menceritakan segalanya kepadamu
dingin jiwaku merindu hangat pelukmu
sepi relungku menanti gempita hadirmu

love you as always
miss you so much

Kamis, 23 Mei 2013

rindu lagi...

Ul, ah belum juga mampu ku ubah cara merinduku. Masih saja seperti dulu. Semakin rindu semakin membeku. Semakin rindu semakin tumpul nalarku. Semakin rindu semakin akan memilih diam dan tidak melakukan apapun. Semakin rindu semakin abai aku akan segala yang terjadi di sekitarku. Semakin rindu semakin luruh seluruh daya dan kepekaanku.
Ul, ah masih saja tak mampu kutemukan cara agar rinduku menjadi sebuah picu. Masih saja seperti dulu. Rinduku menguasai seluruh jaring dan saraf hidupku. dan tiba-tiba banyak ketakutan menghampiriku. Membuatku semakin larut dan terpuruk dalam diam, tanpa tindakan, tanpa amalan.
Ul, semakin takut aku akan segala rindu yang menyelimutiku. Segala rindu yang tertuju padamu. Takut aku jika pada akhirnya rindu membunuhku dalam diamku, tanpa ada bekas kemanfaatan atas kehadiranku, tanpa ada kewajiban yang mampu aku lakukan karena diamku. Takut aku jika pada akhirnya rindu membelengguku, menjebakku dalam kebekuan tanpa aliran hangat yang mencairkanku.
Ul, semakin takut aku akan segala rinduku padamu. Semakin rindu semakin tak ku gunakan nalar pikirku, semakin tak ku pedulikan diriku, semakin abai aku akan segala yang ada di sekitarku, semakin abai aku akan semua kewajiban dan tanggung jawabku. Semakin rindu, semakin aku tak tahu. Hanya rindu yang aku tahu, hanya denyut menyengat yang aku rasa, hanya gelisah luar biasa yang mendera dada.
Maafkan aku Ul, dalam rindu aku tak mampu melakukan sesuatu, maafkan aku belum juga ku temukan cara agar semakin rindu semakin banyak kemanfaatan yang kulakukan bagi sekitarku, maafkan aku jika amanat dan tanggung jawab belum mampu aku lakukan dengan segenap raga jiwaku.
Maafkan aku....

Kamis, 02 Mei 2013

rinduku tak tertahan lagi...

Ul, tak tahu lagi apa yang mesti ku katakan padamu. Aku merindumu, sangat merindumu. Aku merindumu seperti kala itu. Aku begitu merindumu seakan engkau akan tinggalkan ku kembali.
Ul, dua minggu ini aku benar-benar merindumu, merindu seluruh apapun yang ada dalam dirimu, hanya tangis yang sering mewakiliku, habis kata, kelu lidah.
Ul, mungkin mestinya aku 'mengeluhkan' ini pada Allah, Tuhan sekalian alam, tapi aku tak sanggup melakukannya. Begitu banyak nikmat, anugerah dan segala kemurahan dicurahkan oleh-Nya padaku dan belum sedikitpun syukur ku lakukan, lalu bagaimana aku mampu kembali 'mengeluhkan' segala rinduku.
Aku hanya berani bercerita padamu, pada jiwaku karena aku yakin dengan bercerita padamu pun Ia pasti mendengarnya, atau sampaikan pada-Nya seluruh rinduku padamu, biar Ia tetapkan titah-Nya bagi cinta kita.
Ul, mana berani aku 'mengeluh' kepada Tuhanku karena segalanya pasti yang terbaik untuk kita, tapi aku merindumu Ul, benar-benar merindumu dan hanya air mata yang bisa mewakiliki. Ini bukan kesedihan sayang, hanya kerinduan yang saaangat dalam.
Entahlah Ul, dua minggu ini benar-benar seluruh hariku adalah kerinduan padamu, terserah orang mau bilang aku kafir dan mensyirikkan Tuhan. Tak pernah aku peduli Ul, tidak pernah. Aku yakin seluruh getar rinduku adalah atas kehendak-Nya. Jadi tidak mungkin rinduku akan menjauhkanku dari-Nya. Aku merindumu Ul, dalam tiap tetes air yang mengalir dari mataku. Aku merindumu, anugerah keabadian cinta yang Ia tanam dalam jiwaku.
Aku merindumu Ul hingga tak tahu lagi aku mesti berbuat apa, bahkan Lana pun tak mampu menyisihkan rinduku padamu. Bahkan Lana pun tak cukup mampu membuatku benar-benar kembali tertawa.
Ul, aku merindumu, begitu merindumu hingga seakan-akan engkau akan meninggalkanku kembali, di jiwa, di raga, aku merindumu...

Senin, 29 April 2013

merindumu (serindu-rindunya)

aku begitu merindumu..
hingga hilang seluruh kata dariku...
aku begitu merindumu...
sampai tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutku..
aku begitu merindumu...
hanya diam yang menjadi penandaku...
aku begitu merindumu...
detak menyengat seperti hendak mengakhiriku...
aku begitu merindumu...
hingga meleleh air mataku...
aku begitu merindumu...
hingga tangis mengisak di dadaku...
aku begitu merindumu...
tak ada sesal dalam resah gelisahku...
aku begitu merindumu...
tak peduli orang sirik memandangku...
aku begitu merindumu...
biar saja aku tenggelam dalam samudera cintamu...
aku begitu merindumu...
bukan syirik kepada Tuhanku...
aku begitu merindumu...
gemetarlah jemari menulis huruf-hurufmu...
aku begitu merindumu...
bergetarlah lisan mengucap lafadz-lafadzmu...
aku begitu merindumu...
mengalirlah dalam tarik nafasku...
aku begitu merindumu...
separuh jiwa yang sempurnakan takdirku...
aku begitu merindumu...
hingga kematian datang menjemputku...
aku begitu merindumu...
hingga perkenan mengijinkan kita bertemu memadu...

aku begitu merindumu...

Minggu, 28 April 2013

ENGKAU BAGIKU.... (edisi merindu)

lalu....
bagaimana mampu ku nikmati segala keindahan
tanpa engkau di depanku
engkaulah cahaya
sinar keindahan yang mencerahkan mataku
mengajariku akan seluruh keindahan pandangan

lalu....
bagaimana aku mampu mencerna seluruh wangi aroma
tanpa engkau di sisiku
engkaulah wangi
aroma yang menghidupkan indera penciumanku
mengajariku akan nikmat seluruh wangi bunga dan ratna

lalu...
bagaimana aku dapat mengucap syair sajakku
jika engkau tak lagi temaniku
engkaulah kata yang meluncur dari lisanku
tanpamu
hanya bisa yang mendesis dari lisankku

lalu...
bagaimana aku bisa pergi dan menjauh darimu
engkaulah aroma nafasku
mendetak jantung hidupku
tanpamu ketiadaan nafasku
lalu....
bagaimana aku hidup saat nafasku berhenti

lalu...
bagaimana aku mampu memisahkan hatiku dari hatimu
saat hati kita telah menyatu
engkau adalah aku
aku adalah kamu

lalu....
cinta kita adalah satu
utuh dan penuh
sempurna tanpa cela
putih tanpa noda

Minggu, 21 April 2013

Cerita tentang Ujian yang Menjengkelkan

Hai Ul, semoga engkau senantiasa berlimpah kerahmatan dan kedamaian. Maaf ya jika hari kehadiranmu tahun ini aku peringati dalam diam, dalam sunyi, dalam sendiri.
Ini April, bulan bahagiaku karena inilah bulan engkau hadir lalu menyentuh hatiku dan abadi dalam jiwaku. Ini April, bulan yang beberapa tahun ini menjengkelkanku karena Ujian bagi anak-anak sekolah hanya main-main dan menghancurkan segala sikap yang mestinya dibangun dengan mereka.
Kau tahu Ul, dari dulu aku memang tidak pernah suka dengan sistem Ujian Sekolah berstandard seperti sekarang ini. Selalu saja jalan pintas yang terpikir di kepala sebagian besar pengelola pendidikan (kepala sekolah dan guru). Aku ga tahu apakah sikapku ini hanya karena aku tidak bisa melihat segala resiko yang jauh lebih besar bagi anak sehingga mereka memutuskan untuk berlaku instan dalam mensikapi Ujian ataukah para pengelola pendidikan ini hanya memikirkan kebesaran nama tanpa makna.
Dulu aku sering bercerita padamu tentang betapa ngeri kondisi pendidikan dengan Ujiannya, betapa hampir semua melakukan segala hal hanya agar mampu meloloskan peserta didiknya dari prestasi semu bernama Ujian Nasional. Dulu aku juga sering meminta pendapatmu tentang bagaimana mensikapi hal ini, bagaimana strategi yang dapat dilakukan agar pada suatu titik akhirnya siswa benar-benar merasakan kembali ujian, benar-benar merasakan kembali kebahagiaan dan kebanggaan saat mereka mengetahui bahwa mereka berhasil melalui Ujian dan dinyatakan lulus dalam pembelajarannya.
Ah...Ul tiga tahun ini aku tak lagi bisa berpikir seperti itu, tiga tahun ini aku hanya mampu menghayalkan datangnya suatu masa ketika ada banyak keberanian untuk memberi ujian sebenarnya kepada siswa. Sistem memaksaku untuk tidak mengatakan apa-apa, karena meskipun aku katakan tetap saja tidak ada yang mau melaksanakannya.
Dan kau tahu Ul, gilanya lagi--menurutku--sebenarnya pemerintah (Departemen Pendidikan) mengetahui adanya penyimpangan pelaksanaan Ujian ini, maka setiap tahun selalu dibuat aturan dan juknis baru Ujian Nasional, mulai dari peningkatan nilai hingga jumlah naskah yang dibuat semakin beragam.
Dan tahun ini Ul, Ujian Nasional Senin besok, anak-anak akan mengerjakan Ujian sendiri-sendiri. Ada 21 paket soal di tiap ruang Ujian untuk peserta 20 dan 1 cadangan.
Sebulan lalu, aku dan beberapa orang masih benar-benar mengharapkan bahwa tahun ini kami bisa melaksanakan ujian sebagaimana mestinya--meskipun tetap saja aku tidak yakin dengan melihat sikap dan kekhawatiran pada sebagian besar kepala sekolah/madrasah--. Membayangkan siswa benar-benar kembali merasakan ujian yang sebenarnya, melihat siswa berjibaku dan bekerja keras untuk melalui proses ini dengan penuh perjuangan dan kebanggaan.
Dua minggu yang lalu, Pak Miftah mengatakan padaku bahwa kayaknya tahun ini kita benar-benar akan melepas siswa karena rasanya tidak mungkin bagi kita untuk membantu siswa dengan jumlah paket yang begitu besar (satu paket untuk satu siswa).
Ul, kami agak lega mendengarnya karena saat ini efek dari ujian dengan strategi instan benar-benar telah merusak mental dan kemauan belajar siswa. Kacaunya seminggu lalu ketika Ujian Nasional dilaksanakan untuk tingkat SMA/MA, ternyata pada tingkat ini tetap saja cara-cara instan bisa dilaksanakan, dan mulainya berkembang lagi keinginan untuk kembali melaksanakan cara-cara instan, cara-cara yang sebenarnya membunuh sikap mental siswa.
Ul, beberapa kali pak Miftah berbicara denganku, aku tidak menentangnya secara langsung (karena kalau itu aku lakukan pasti ia tidak akan lagi mau berbicara denganku mengenai masalah itu) tapi aku memberikan beberapa alternatif dan resiko yang akan terjadi ketika memutuskan untuk kembali menggunakan strategi instan atau tidak. Aku coba memberi uraian kepadanya tentang betapa strategi yang digunakan di tingkat SMA/MA cukup sulit untuk bisa dilakukan di tingkat SMP/MTs, dan ia pun membenarkan hal itu. Meskipun sudah agak goyah tapi ia masih berkata bahwa kita tidak akan melakukan cara-cara yang mencolok seperti itu, katanya.
Tapi dua hari lalu--ketika para pelaksana lapangan telah bersepakat untuk mengkondisikan siswa siap dalam ujian sebenarnya--tiba-tiba ada kesepakatan tak tertulis di antara para kepala bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk membuat siswa-siswa mereka lulus dalam ujian kali ini. Artinya mereka akan kembali melakukan cara-cara instan itu (langsung memberikan kunci kepada siswa).
Ul, aku kasihan dengan Tolhah karena dalam hal ini ia yang harus bertanggung jawab untuk mensosialisasikan kepada siswa, padahal ia salah satu yang menginginkan agar ujian tahun ini benar-benar plong, dilaksanakan sebagaimana mestinya--dengan resiko akan ada beberapa siswa yang tertinggal--.
Padahal kau tahu Ul, tahun ini--meskipun tampaknya sangat ketat--sebenarnya pada sisi lain Ujian Nasional kali ini hampir sama dengan sistem Danem pada masa lalu. Kenapa? karena hasil Ujian Nasional hanya merupakan salah satu nilai untuk menentukan apakah seorang siswa lulus atau tidak.
Gilanya lagi Ul, kali ini anak-anak MTs hanya butuh nilai rata-rata 3,6 di Ujian Nasional mereka (sebuah nilai yang tidak sulit untuk dicapai) bahkan dengan jawaban benar 3 - 4 di dua mata pelajaran saja, siswa masih bisa lulus jika rata-rata yang mereka miliki mencapai 3,6.
Ah...rasanya aku benar-benar ingin marah Ul, Tahun ini sebenarnya merupakan kesempatan yang baik bagi sekolah untuk kembali menempatkan Ujian sebagai benar-benar Ujian, ketika tuntutan pada siswa tidak lagi terlalu tinggi (tahun lalu nilai rata-rata UN harus 5,5 dengan nilai minimal mapel 4 hanya untuk 1 mata pelajaran, tahun ini nilai rata-rata Nilai Akhir 5,5 dengan nilai minimal mapel 4 yang ketika nilai raport dan ujian sekolah ditata dengan rapi maka siswa hanya membutuhkan nilai UN sekitar 0,75 untuk mendapat NA 4, dan sekitar 3,6 untuk mendapat NA 5,6)
Ah, mungkin ini adalah salah satu efek bertahun-tahun Ujian disikapi secara instan, ketika barometer kualitas pendidikan dicarikan jalan keluar instan, bahkan bukan haya siswa yang teracuni sikap mentalknya, pengelola pendidikan (guru dan tenaga kependidikan lainnya) mau tidak mau juga terpengaruh sehingga lebih mengedepankan ketakutan kegagalan dalam pelaksanaan Ujian daripada memperhatikan efek mental yang akan dialami siswa.
Ah...entahlah Ul, aku masih berharap semoga kali ini ada satu peristiwa yang membuat kami mampu kembali berpikir bahwa menjaga karakter siswa jauh lebih penting dari pada sekedar lulus ujian.
Wis ya, kali ini aku cuma pengen cerita tentang UN yang njengkelke, he he...lain kali tak ceritakan yang lain...
Selamat beristirahat...
Love you so much as always.....
...mengalirlah rindu dalam aliran darahku
...berdenyutlah bersama detakku
padamu, tentu padamu, hanya padamu....