Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Idul Fitri Ul...

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar
La ilaha illa Allah Allahu akbar
Allahu akbar wa lillahi al-hamd

Gema takbir berkumandang dari segala penjuru di sepanjang malam ini, gema takbir yang menandakan bahwa hari ini adalah 1 Syawwal, Idul Fitri bagi siapapun yang merasa dirinya muslim.
Ul, selamat Idul Fitri ya, terima kasih atas segala yang engkau lakukan selama ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari jiwaku selama ini. Terima kasih atas kerelaanmu untuk selalu hidup dalam hatiku. Terima kasih untuk keabadian cintamu yang selalu memegahkan jiwaku. Terima kasih untuk setip percikan cinta dan kasih yang mengalir terus menerus dalam nadiku. Terima kasih atas hadirmu untuk menyambangiku dan membiarkanku kembali memelukmu bulan ini. Terima kasih atas kerelaanmu untuk selalu hadir dalam segala wujud yang aku rasakan (kau tahu Ul, aku merasa semakin banyak percikan dirimu dalam diri Jun dan mulai kurasakan bahwa apa yang hilang bersama perpindahan dimensimu kutemukan kembali saat kehadirannya. Maafkan aku jika itu hanya perasaanku saja dan jika semua itu benar-benar wujud lain dari kehadiranmu, maka thanks you, terima kasih atas cinta dan kasihmu).
Ul, malam ini aku ingin engkau menjadi orang pertama yang bercengkerama denganku di hari Fitri ini, aku ingin di awal Syawwal ini engkau orang pertama yang ku ajak berbincang dan saling berucap Selamat Idul Fitri. 
Ul, maafkan aku atas segala kurang dan ketakmampuanku untuk memberi jawaban yang sesuai atas segala yang kau lakukan selama ini. Maafkan aku karena aku belum mampu menemukan format dan cara yang tepat agar dapat memberikan bimbingan dan menunjukkan kepada Lana segala kehebatan dan pentingnya rasa ingin tahu dan pengetahuan. Maafkan aku atas segala kegilaanku selama ini. Maafkan aku karena bulan ini aku benar-benar tak mampu mengendalikan hasrat dan gairah kelelakianku sehingga aku melakukan sesuatu yang selama ini tidak aku terima sebagai penyelasaikan atas masalah ini. Maafkan aku Ul atas setiap jengkal langkahku yang belum mampu memenuhi setiap titik tujuan yang pernah kita rencanakan. Maafkan aku....
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu dan selalu saja begitu. Terima kasih atas setiap wujud dan bentuk jawaban yang engkau berikan padaku melalui detak, melalui denyut, melalui mimpi, melalui pertemuan dua jiwa di alam yang kadang tak pernah aku sangka, melalui kelebatan-kelebatan yang memercik dari sudut mata Lana, melalui segala hal yang kurasakan hadirmu di sana.
Ul, malam ini aku ingin kembali memadu bersamamu, di malam pertama Syawwal yang terberkati. Aku tahu Ul, mungkin aku bukan termasuk salah satu pemilik 1 Syawwal tahun ini, karena Ramadlanku benar-benar gila tahun ini. Tak ada tadarrus, tak sempurna tarawih, tak mampu mengendalikan hasrat dan gairah kelelakianku di malam-malam yang semestinya berurai air mata untuk mengakui segala salah dan dosa. Tapi malam ini aku ingin kembali bercengkrama denganmu, bercerita tentang cinta kita, membincang kembali segala asa dan harapan yang hendak kita bangun di atas bahtera yang telah kita layarkan di samudera kehidupan, merenda kembali segala indah pertemuan dua jiwa yang disatukan dalam rindu dan cinta.
Ul, malam ini aku benar-benar ingin kembali memelukmu penuh rindu, mengecup keningmu untuk mengalirkan segala cinta. Malam ini aku ingin hanya bersamamu, dalam tunduk dan linangan air mata, di atas hamparan sajadah di sebelah peraduan kita.
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu dan  selalu seperti itu...
Selamat Idul Fitri kekasihku, mohonkan untukku agar Ia memperkenankan segala yang kita harapkan mewujud satu persatu di tahun-tahun depanku.
Selamat Idul Fitri puisiku, mohonkan untukku kepada Ia sang Maha Cinta agar keabadian mengalir dalam cinta yang menyatukan jiwa kita.
Selamat Idul Fitri isteriku, mohonkan perkenan-Nya untukku agar aku mampu menjadi segalanya demi keutuhan dan kepaduan kita.
Selamat Idul Fitri ibu dari anakku, mohonkan perkenan-Nya agar Ia menunjukkan dan memperkenankan Lana menikmati segala kehebatan dan kemanfaatan dalam hidup dan kehidupan buah mata kita.
Selamat Idul Fitri Syarifa Ulya, keindahan yang terukir megah di sudut-sudut jiwaku.
Selamat Idul Fitri....Sungguh aku selalu merindu sua kita entah di alam mana.
Selamat Idul Fitri...semoga do'a harapan kita terbang ke langit bersama takbir yang menggema di sepanjang malam ini.
Selamat  Idul Fitri....
Selamat  Idul Fitri

Minggu, 07 Juli 2013

Ketika Tak Lagi Mampu Ku Tahankan di Dada

Ul, entah kenapa aku merasa bahwa hari-hari ini aku begitu merindumu, entah mengapa hari-hari ini semakin aku tertekan dengan setiap masalah yang datang rinduku padamu semakin tak tertahankan. Aku benar-benar merasa sendiri saat ini, tak ada tempat untuk sekedar bercerita apalagi mengeluh. Benar bahwa sebaik tempat untuk mengeluh adalah kepada Allah, namun sayang berkali-kali aku mencobanya aku belum juga mampu.
Ul, hingga saat ini aku tetap saja merasa bahwa hanya denganmu aku bisa menumpahkan segala yang ada di diriku, menceritakan segala persoalan yang aku alami, mengurai segala beban yang menghampiriku. Dan dengan itu, aku yakin bahwa sebenarnya aku mengeluh pada Allah, jalanku untuk mengeluh adalah melalui dirimu, karena aku yakin bahwa Allah telah menetapkan engkau sebagai belahan jiwaku.
Ul, baru kali ini aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi segala rindu padamu, tekanannya begitu keras dan aku belum juga menemukan cara untuk mengalirkannya. Aku rindu padamu Ul, semakin malam semakin sunyi semakin keras denyut rinduku, semakin menekan dada dan hatiku, semakin mendesah nafasku mengucap namamu.
Ul, dulu—sebelum aku menceritakan hal-hal yang tak pernah terungakapkan kepada orang lain dan menceritakan pengandaianku kepada Jun—aku biasa bercerita apa saja dengan Jun, menceritakan peristiwa dan kejadian yang sedang aku alami, berbicara tentang berbagai keinginan kita yang belum terwujud, dan ia pun sering bercerita tentang keinginan dan harapan yang dibangunnya, bercerita berbagai hal menarik yang terjadi, berbagai pengalaman dan rencana-rencana. Itu dulu, sebelum segalanya menjadi sedikit kaku, sebelum bias meragukan setiap tindakanku.
Ul, perlahan namun pasti—meskipun itu tidak juga aku sadari hingga ketika Jun mulai mengubah pola komunikasi kami—aku merasakan kenyamanan dan kebebasan yang dulu ku rasakan. Kenyamanan dan kebebasan untuk saling bertukar cerita, saling percaya, saling menguatkan (awalnya aku menganggap ini bagian dari perasaan kami yang menjadi merasakan rasa kehilangan yang sama—kehilangan dirimu--), namun tanpa aku sadari ternyata tumbuh harapanku agar jiwaku kembali menyatu dengan jiwanya. Dan perlahan-lahan aku pun merasakan bahwa banyak hal dari dirimu yang kurasakan dan ku temukan dalam dirinya. Aku mulai meyakini bahwa dalam diri Jun engkau kembali hadir dan mewujud untuk kembali padaku.
Ul, sungguh aku sangat ingin menghilangkannya, tapi bagaimana aku dapat menghilangkannya ketika aku juga tidak pernah memunculkannya, semua berjalan begitu saja, sebagaimana cinta kita juga tumbuh begitu saja.
Ul, aku sadar bahwa saat ini aku benar-benar bias dalam hubunganku dengan Jun. Aku tahu aku menyayanginya sebagai adik iparku, namun tak dapat juga ku pungkiri bahwa aku juga merasakan kehadiranmu dalam dirinya, aku juga merasakan kedamaian saat berbincang biasa dengannya. Dan segalanya menjadi begitu menekan dada saat tak lagi mampu menjalin komunikasi dengannya. Rinduku padamu menjadi begitu menggila.
Ul, aku yakin bahwa dalam hubungan antara dua orang terjadi sebuah hubungan timbal balik. Artinya, ketika landasan komunikasi seseorang berubah maka secara otomatis berubah pula landasan orang kedua. Ketika aku merasakan bias dalam hubunganku dengan Jun, jelas ia pun akan merasakan efek dari ke-bias-anku, ia pun akan menggunakan pola hubungan baru yang—bagi kami mungkin—serasa kaku, tak sebiasa dulu.
Sungguh Ul, saat ini aku menjadi ketakutan sendiri. Takut bahwa apa yang aku lakukan akan membuat Jun semakin menjauhiku, semakin tak mau menjalin komunikasi denganku. Aku khawatir hubungan baik dan akrab yang dulu kami miliki menjadi semakin renggang dan kaku. Aku tidak mau hubungan persaudaraan di antara kami rusak dan berantakan. Dan semakin takut aku semakin biasnya pola hubungan kami.
Ul, sungguh kadang aku berpikir untuk mengatakan padanya bahwa aku merasakan hadirmu dalam dirinya (karena Jun tidak akan percaya kalau aku katakan aku mencintainya—atau bahkan sekedar suka antara laki-laki dan perempuan—karena aku sudah pernah bercerita padanya bahwa aku sangat mencintaimu dan jika aku mesti menikah lag maka aku akan menikah dengan perempuan yang dalam dirinya aku rasakan kehadiranmu. Meski kadang aku juga bertanya sendiri benarkah engkau benar-benar mewujud menyatu jiwa dengan Jun sehingga aku merasakan hadirmu dalam dirinya atau aku mulai menyukainya kemudian aku mengganggapnya sebagai kehadiran dirimu dalam dirinya? Ah entahlah…) dan kemudian mengajaknya untuk menikah denganku.
Ul, dalam prediksiku setidaknya mungkin akan terjadi salah satu dari tiga hal berikut:
Pertama, Jun mau menikah denganku tentunya dengan syarat-syarat yang mungkin akan diberikannya padaku (dulu ketika bercerita tentang kemungkinan itu, ia juga berkata ya bisa saja aku akan mengatakan ya namun tentunya tidak dengan begitu saja, aku akan memberikan syarat-syarat yang mungkin akan membuat sampeyan mundur teratur).
Kedua, Jun akan menolaknya entah karena aku tidak mau memenuhi syarat yang diajukannya atau karena hal lainnya namun kemudian hubungan kami menjadi seperti semula, sebuah hubungan akrab antara kakak dan adiknya.
Ketiga, Jun akan menolaknya dengan cara tidak memberikan jawaban dan memutuskan semua hal yang terkait denganku, tidak lagi mau berhubungan denganku, tidak lagi mau berbicara denganku, tidak lagi mau berbagi cerita denganku.
Ul, sungguh aku bisa terima dan tidak akan apa-apa jika yang terjadi adalah opsi pertama dan kedua, meskipun mungkin opsi pertama juga tidak akan berjalan semulus paha cherrybell (aku merasa jika memang aku akan menikah dengan Jun mungkin akan ada beberapa hal yang mesti diselesaikan sebelum dilaksanakan, beberapa hal yang aku yakin engkau pasti mengetahui dan sangat memahaminya, beberapa hal yang mungkin juga berakhir tidak sebagaimana mestinya). Aku jelas bisa menerima opsi pertama karena sejak aku meyakini bahwa engkau kini ada dalam dirinya tentu aku ingin menikah dengannya.
Untuk opsi kedua, ini merupakan opsi yang aku harapkan, Jun menolakku dan kami kembali menjadi kakak beradik yang saling mendukung, menjaga, dan akrab. Jadi opsi pertama kini menjadi salah satu keinginanku dan opsi kedua merupakan harapanku… (mungkin karena aku sangat tidak ingin hubungan baik yang selama ini terjadi di antara orang-orang tua menjadi sedikit meregang akibat opsi pertama).
Ul, untuk opsi ketiga terus terang hingga kini aku bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya. Bagaimana mungkin aku menjadi orang yang dibenci dan dijauhi oleh orang yang sangat dekat denganmu. Bagaimana mungkin aku sanggup menjadi orang yang dihindari oleh adik yang sangat engkau sayangi. Bagaimana mungkin aku bisa menanggung sakit yang pastinya engkau rasakan ketika ternyata aku sendiri yang menyebabkan adik yang paling engkau banggakan sakit hati akibat tindakanku.
Benar-benar tidak mampu aku membayangkan hal itu Ul, apalagi memikirkannya.
Ul, hingga saat ini—menurutku--itulah alasan paling mendasar mengapa aku tak juga melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan biaskua. Karena dalam pandanganku salah satu cara paling paling untu menyelesaikan biasku adalah dengan menggembalikan posisi dan pola hubungan kami menjadi pola hubungan yang dulu—pola hubungan kakak adik—atau membuat pola hubungan baru yang akan semakin mendekatkan kami.
Ul, selama aku masih merasa mampu untuk menahannya—meskipun akhir-akhir ini aku mulai merasa sangat berat dan sering merasa tak lag mampu untu menahannya lebih lama—aku tidak akan mengatakan ini kepada Jun, sungguh aku malah berharap tidak perlu mengatakannya pada Jun. Aku berharap ia menikah sebelum aku mengatakannya, sebelum aku benar-benar tidak mampu menahannya di dada.
Sungguh Ul aku merasa kekakuan hubungan di antara kami penyebab utamanya adalah ini, bias yang muncul setelah aku bercerita banyak hal terkait rahasia yang selama ini tersimpan (termasuk tentang cinta dan pernikahan). Aku yakin ketika Jun sudah menikah maka perlahan-lahan—kalau tidak segera setelah itu—hubungan kami akan kembali normal sebagaimana sebelumnya. Sungguh kayaknya akan benar-benar tidak akan pernah bisa siap untu menghadapi kemungkinkan ketiga, kemungkinkan untuk dijauhi dan dibenci oleh orang yang sangat dekat denganmu, adik yang sangat engkau sayangi dan banggakan.
Ul, kalau tak pikir-pikir mungkin salah satu yang paling tak butuhkan adalah teman bicara, teman yang dengannya aku bisa ngomong apa saja, teman yang aku tak canggung untuk menceritakan seluruh rahasiaku kepadanya. Dan aku masih saja tetap seperti dulu Ul, aku tidak bisa bercerita kepada semua orang, aku hanya bisa bicara pada satu orang saja, cukup satu orang saja. Satu orang yang bahkan aku rela jika ia menceritakan semua yang tak ceritakan kepadanya ke siapa saja. Satu orang yang menjadi bagian dari jiwa dan hatiku. Dan satu orang itu awakmu Ul.
Kemudian setelah perpindahanmu aku merasakan hal serupa pada Jun sehingga akhirnya ia menjadi the one, menjadi orang—setelahmu—yang aku tidak pernah merasa canggung untuk bercerita, untuk mengungkap apa yang selalu tersembunyi dari orang-orang di sekitarku. Satu orang yang dengannya aku bisa berbagi cerita tanpa merasa malu dan ragu. Aku tidak pernah memilihnya Ul, semua berjalan begitu saja.
Terlebih lagi jika terkait dengan bagaimana mendidik dan membimbing Lana, aku benar-benar butuh  teman—dan seringkali ku rasakan bukan sekedar teman bicara--.
Ul, dulu aku berpikir bahwa seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit aku akan mampu memahami dan membimbing Lana, namun kenyataannya berbeda Ul. Semakin lama aku semakin merasa kewalahan terkait dengan bagaimana mendidik dan membimbing Lana. Semakin hari semakin banyak hal-hal mengejutkan yang dilakukan Lana. Hal-hal yang seringkali membuatku merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa, hal-hal yang membuatkan semakin meragukan kemampuanku sendiri untuk mendidik dan membimbing Lana. Hal-hal yang membuatkan bergerak menuju yakin bahwa aku tidak akan mampu mendidik dan membimbing Lana seorang diri. Aku membutuhkan teman untuk menyempurnakan pendidikan dan bimbingan kepada Lana. Aku membutuhkan figurmu (figur ibu) bagi Lana karena aku tidak akan pernah sekalipun mampu menggantikan figurmu bagi Lana.
Ya jelas aku sering juga berpikir bahwa tidak fair untuk menempatkan Jun dalam posisi ini. Tidak fair untuk membebaninya menjadi ‘tempat sampah’ bagi seluruh ceritaku. Apalagi aku sadar bahwa yang punya masalah bukan aku saja, aku sadar Jun pun punya masalah yang mesti dipecahkannya, maka semakin biaslah pola hubungan di antara kami berdua.
Ah, entahlah Ul, yang jelas saat ini aku membutuhkan teman untuk berbagi cerita, berbagi angan dan cita. Sebuah kualitas yang hanya engkau miliki, kemudian aku rasakan juga dalam diri Jun.
Ul, I think I just need a friend—truly friend, truly you—to talk, maka mungkin karena itulah hari-hari ini aku begitu merindumu, bergetar suara dan seluruh tubuhku saat menyebut namamu, dan namamu kembali menyertai tiap penyebutan asma Tuhanku bahkan seringkali lebih banyak dari itu.
Dan semua ceritaku kali inipun adalah jalan bagiku untuk sedikit mengalirkan beban kerinduan yang semakin menekan dadaku,
Ah Ul, mungkin saja jika Jun atau Anip membaca cerita-cerita ini mereka akan kecewa atau bahkan marah kepadaku, tapi aku yakin bahwa seiring perjalanan waktu dan pengalaman hidup serta dengan kejernihan pikir, kecerdasan, dan kedewasaannya, suatu saat mereka akan memahami mengapa aku menjadi segila ini. Meskipun tidak pernah sama dengan memaklumi.

Ul, aku merindumu teman, aku merindumu kekasih, aku merindumu jiwa, aku merindumu isteriku… dan kali ini aku benar-benar merindu mewujudmu…(Semoga Ia memperkenankannya. Amin).
Ul, love you so much as always… see you, emmm..ah… (peluk cium untukmu, selalu)

Jumat, 05 Juli 2013

It's about the Day

Ul, sebenarnya kemarin aku berencana bahwa hari ini aku akan mengajak Lana jalan-jalan ke Purwodadi, menyusuri tempat-tempat yang dulu biasa kita datangi, makan di tempat yang sangat kita sukai, namun meskipun akhirnya aku dan Lana ke Purwodadi, kami tidak jadi makan di Soto Bening Pak Di, aku hanya pergi untuk membeli USB Connector dan belanja di Luwes plus kemudian beli es tawon (kayake kita baru satu kali beli di sana, karena favorit kita Es Teler Pak Doyok).
Ul, kemarin aku berencana bahwa kami akan berangkat pukul 08.30 atau 09.00 kemudian muter-muter di beberapa tempat lalu pulang dan Jum'atan. Namun akhirnya kami baru berangkat pukul 13.30 karena waktu pagi aku masih belum benar-benar mampu mengendalikan diriku--rasane jek mangkel akibat apa yang terjadi kemarin--.
O ya Ul, belum tak critakan ya apa yang terjadi kemarin.
Gini, kemarin critane habis Ashar ada undangan untuk ke makam, biasanya Lana diam saja dan ga kepengin ikut, tapi ga tahu kenapa hari ini tiba-tiba pengin ikut. Awale pas tak bilang ga usah melu, ia mulai ngambek, tapi ketika tak suruh pulang ia pulang. Pas aku dan undangan yang lain mau berangkat, tiba-tiba Lana mendekat lagi dan kembali pengen ikut. Lana mulai mewak-mewek mau nangis, kemudian tak dekati--ia tahu bahwa aku tidak pengin ia ikut--ia malah lari dan mulai menangis. Aku terus mendekatinya kemudian ketika sudah dekat Lana malah nglesot, lalu tak gendong tak bawa pulang. Lana semakin keras nangise karena tahu bahwa ketika ia rewel dan tak gendong itu artinya aku akan memasukkannya ke kamar--beberapa kali memang aku memasukkan Lana ke kamar kemudian pintu tak tutup ketika aku tak lagi bisa mengendalikannya dan aku khawatir aku tidak dapat menahan marahku--. Kemudian Lana tak masukkan ke kamar lalu pintu tak tutup terus berangkat ikut ke makam.
Ul, biasanya ketika Lana tak masukkan ke kamar memang ia akan menangis keras minta keluar sampil kadang nendang pintu. Tapi kemarin yang dilakukan Lana berbeda dari biasanya. Ketika aku pulang dari kondangan, Lana sudah tidak menangis lagi, ia bersama mbak Nani di dapur. Aku tidak berpikir apa-apa karena biasanya ketika Lana tidak pernah ngrusak barang ketika 'tak kasih hukuman' agar berada di dalam kamar.
Ul, ketika kemudian aku masuk kamar aku kaget karena ada yang tidak beres di tampilan laptop, tampilannya seperti tampilan yang tidak memiliki VGA card. Tahu ga Ul yang membuat aku lebih kaget, ternyata posisi harddisk eksternal dan hp modem yang saat itu masuk terhubung dengan laptop tidak di tempat semula, keduanya ada di lantai, padahal asalnya berada di depan dan di atas speaker active, kemudian tak ambil dan ternyata mati. Tak cek lagi dengan cara menghubungkannya dengan arus listrik ternyata arusnya tidak masuk--brarti rusak, pikirku. Lalu aku lihat connector di mini usb hp modem, ternyata kondisinya seperti mau patah. Kemudian tak coba menghidupkan laptop, ternyata tidak bisa hidup, tampilan layarnya tetap sama. Aku curiga jangan-jangan laptop dibanting sehingga harddisk eksternal dan hp modem ikut kebanting dan jatuh ke lantai.
Aduh Ul, rasane kudu ngamuk aku tapi karena aku ga tahu peristiwanya langsung jadi aku masih bisa berpikir agak jernih untuk berpikir bahwa marah dan ngamuk ga ada gunanya. Lalu aku tanya ke Lana yang ada di dapur, Lana mau mbanting laptop ya, 'ya', jawab Lana. Rasane ga karuan, pengen ngamuk ga da gunanya, ga ngamuk mangkel bukan main. Tapi akhire tak biarkan saja, termasuk juga laptop dan modemnya.
Ul, baru setelah aku merasa tenang, aku mulai ngecek kembali kondisinya. Aku perhatikan baik-baik hp modem kemungkinan besar hanya rusak konektor usb ne (itu kesimpulan awalku) dan laptop kayake cuma rusak layar LED nya dan ternyata benar setelah tak coba dengan menggunakan monitor.
Tinggal memastikan apakah hp modem rusak atau hanya konektor usb nya. Akhire tadi pagi aku pinjam konektor usb milik Tolhah karena aku tahu ia punya konektor usb yang sama. Ketika tak coba ternyata arus listriknya bisa masuk, berarti benar dugaanku bahwa hp modem tidak apa-apa hanya konektor usb nya yang rusak.
Akhirnya tadi habis sholat Jum'at aku ngajak Lana ke Purwodadi untuk membeli konektor usb dan sekaligus belanja.
Ul, sungguh kadang aku benar-benar tidak mengerti bagaimana mesti menghadapi Lana. Beberapa hari ini memang Lana tidak seperti biasanya. Beberapa hari ini--terutama setelah sekolah libur.. O ya tahun ini Lana mau naik ke kelas 1 tapi belum sempat tak belikan seragam--Lana maunya ikut ke manapun aku pergi--apalagi kalau pas libur seperti ini mbak Nani kadang datangnya lebih dari jam 09.30 (kadang aku juga mulai agak jengah dengan kedatangan mbak Nani yang menurutku terlalu siang, tapi aku juga ga enak ngomong ke mbak Nani).
Ya Allah Ul, kadang aku ngerasa benar-benar tidak akan mampu untuk mengawal dan membimbing Lana sendirian, aku membutuhkan seseorang untuk bersamaku membimbing Lana, dan aku tahu bahwa seseorang itu awakmu Ul, ibunya. Lana hanya akan bisa berkembang secara maksimal menuju kehebatannya ketika ia kembali merasakan kehadiran ibu dan bapaknya secara lengkap, maka belakangan ini aku sering berharap dan memohon agar engkau kembali diijinkan untuk mewujud dalam nyataku dan Lana, agar engkau mewujud kembali dalam diri seseorang yang kemudian bersamaku kembali bersama-sama mengantarkan Lana menuju kehebatannya.
Sungguh Ul, aku mulai ragu dengan kemampuanku untuk mampu menahan segalanya sendiri--dan kau tahu kan meskipun aku bukan tipe orang yang senang bercerita kepada banyak orang, aku termasuk orang tak tidak pernah merasa mampu untuk menanggung semua sendiri. Makanya aku selalu bercerita kepada segala yang terjadi dan sungguh aku hanya butuh satu orang untuk mengatakan segala ceritaku--.
Ah Ul, aku merindumu, sungguh merindumu dalam segala wujud yang dipilihkan-Nya untuk bersemayam jiwamu.
Love you so much as always...

Selasa, 02 Juli 2013

Lagi pengen cerita ae

Ul, kadang aku ga ngerti apakah yang tak lakukan benar atau salah. Ada beberapa hal yang mungkin aku pun akan mengatakan salah dalam keadaan normal, dalam situasi sebagaimana mestinya, namun hanya karena aku berpikir mungkin inilah resiko paling kecil yang dapat aku tempuh, maka tetap saja itu aku lakukan.
Ul, kadang aku juga ga tahu apakah langkah yang tak ambil untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ku hadapi tepat atau tidak. Aku tahu bahwa beberapa langkah yang tak lakukan mungkin dianggap orang sebagai langkah salah--dalam dalam keadaan yang biasa mungkin aku juga akan mengatakan demikian--.
Ul, aku bangga dengan seluruh kerinduan yang tetap menyala di hatiku, rindu akan segala hal yang terkait dengannya. Aku yakin rindu ini adalah sebuah anugerah dari Allah untukku, sebuah jalan yang pada akhirnya akan membawaku pada jalan hidup dan takdirku. Aku yakin cinta yang kasih yang tertanam dalam hatiku untukmu adalah sebuah keabadian yang dianugerahkan, bukan sebuah pelanggaran yang dilarang. Aku yakin akan kesucian segala bentuk dan wujud cinta yang ada dalam hatiku.
Namun aku juga sadar Ul bahwa aku tetaplah manusia yang masih beraga, manusia yang masih berada dalam alam lahiri. Ada kebutuhan-kebutuhan lahiri dan badani yang tidak dapat ku ingkari. Ada kebutuhan-kebutuhan fisik dan ragawi yang tidak dapat dihilangkan sama sekali. Dan ada kebutuhan-kebutuhan fisik, ragawi, badani, lahiri yang tidak mungkin bisa ku penuhi sendiri, yang untuk memenuhinya aku membutuhkan orang lain--dan tetap saja aku hanya mampu berpikir bahwa orang lain itu adalah dirimu, engkau--.
Ul, ada saat-saat ketika kebutuhan-kebutuhan ini benar-benar menyita fokusku, menuntut pemenuhan yang--mungkin--tak lagi bisa kita lakukan. Namun mengingkari dan bersikap seakan-akan tidak ada kebutuhan ini adalah sebuah kebohongan dan membuatku lumpuh dan tak berdaya. Ada saat-saat di mana kebutuhan seperti ini harus mendapatkan haknya untuk dialirkan.
Dan kau tahu Ul, dalam hal ini--sampai saat ini--aku belum bisa menemukan cara untuk mengendalikannya, aku belum bisa menghilangkannya dengan begitu saja. Yang jelas, ada saat-saat di mana aku mesti mengalirkan hasrat kelelakianku dengan cara-cara yang tak biasa, dengan cara-cara yang dalam kondisi normal aku pun yang menganggapnya sebagai tidak tepat.
Ul, maafkan aku jika apa yang aku lakukan juga salah menurutmu. Aku sadar bahwa dalam beberapa hal apa yang aku lakukan kadang menumbuhkan segala bentuk pikiran tak terkendali. Pikiran yang dikendalikan oleh nafsu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperti itu.
Ul, terus terang hingga sekarang tak pernah terpikir olehku untuk mengalirkannya dengan orang lain selain dirimu--atau orang yang engkau pilihkan untukku sehingga aku merasakan hadirmu dalam dirinya--. Banyak hal yang terlintas dalam pikiran nafsuku, mulai dari yang paling liar sampai cara yang menurutku paling kecil resikonya--meskipun dalam beberapa kesempatan tetap saja mengganggu pikiran dan nalarku.
Ul, hingga saat ini mungkin yang aku lakukan--dalam bahasa syar'i--termasuk zina mata atau zina lisan. Tidak ada sedikit pun maksud untuk menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ringan, tetap ini ini merupakan kesalahan dalam kondisi normal--atau bahkan mungkin dalam kondisi apapun--. Aku juga tidak ingin membela diri atas apa yang selama ini aku lakukan mulai dari bermain imajinasi hingga membaca atau bahkan menonton video dan lainnya.
Ah Ul, kadang aku berpikir mungkin cara paling baik adalah memohon kepada Allah agar dihilangkan seluruh keinginan dan hasratku akan perempuan, biar cinta dan rinduku padamu abadi dalam jiwaku tanpa mesti disertai keinginan-keinginan yang bersifat badani dan ragawi.
Dan malam ini aku berharap kita bertemu dalam alam mimpi dan bawah sadarku.
Ul, mungkin cukup untuk kali ini ya, aku selalu merindumu dalam tiap desah nafasku, aku merindumu dalam aliran yang aku yakin ditetapkan oleh Ia yang Kasihnya melingkupi seluruh semesta raya.
Love you so much as always...

Kamis, 20 Juni 2013

it's about Lana 2


Hai Ul, aku yakin semakin berlimpah rahmat dan anugerah dalam istirahat panjangmu.
Aku harap aku tidak mengganggu seluruh kedamaian dan kenikmatan yang saat ini engkau nikmati.
Ul, tadi pagi ada acara perpisahan di TK, sangat ingin aku datang tapi ketika Lana tahu bahwa aku akan datang, ia malah bilang, 'nak karo bapak Lana ga mangkat'. Ya sebenarnya aku bisa saja datang setelah Lana berangkat bareng mbak Nani, tapi aku terlanjur bilang ke Lana, 'ya bapak ga ke TK, Lana berangkat karo bude' karena saat itu Lana sudah mulai menangis ketika aku bilang, 'aku tak ke TK ya'.
Ul, sungguh aku ngerasa bahwa aku benar-benar tidak mampu mendekati Lana, sehingga untuk hadir di acara perpisahan sekolahnya saja Lana ga mau. Sedih, pengen marah dan rasanya kecewa menekan dada, bukan kecewa dengan Lana, namun kecewa karena ternyata aku tidak mampu membuat Lana merasa nyaman bersamaku dalam hal-hal yang terkait dengan sekolah dan belajar.
Ul, aku ga tahu mesti bagaimana. Aku kadang merasa bahwa seringkali Lana memandangku sebagai seseorang yang benar-benar menakutkan, seseorang yang tidak boleh tahu persoalan apapun terkait dengan sekolah dan belajarnya. Kadang aku merasa bahwa Lana menganggap aku sebagai 'penghukum', seseorang yang tidak boleh mengetahui kesalahan dan kekurangannya dalam belajar, seseorang yang pasti akan menghukum dan memarahinya ketika ia tidak melakukan sesuatu sebagaimana yang dilakukan teman-temannya.
Ul, tampaknya apa yang kita sepakati dulu benar-benar telah mendarah daging dalam diri Lana, bahwa aku galak, akan marah jika ada kesalahan dan seterusnya. Semampuku aku berusaha untuk selalu bersikap lebih permisif terhadap beberapa kesalahan, namun tidak saja aku merasa Lana tidak pernah menganggapku sebagai seseorang yang bisa diberitahu hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya. Tetap saja Lana memandangku sebagai seorang bapak yang akan marah ketika ia melakukan kesalahan, ketika ia tidak mau melakukan rutinitas seperti ngaji fasolatan tiap habis magrib.
Benar memang beberapa kali aku marah dengan Lana—biasanya karena ia tidak mau ngaji beberapa hari atau tiba-tiba tidak mau berangkat sekolah—tapi, sungguh aku juga bingung, apakah aku mesti permisif terus terhadap apapun yang diinginkan Lana?
Ul, aku benar-benar bingung bagaimana cara mendidik dan membimbing Lana. Tak pikir saat ini memang Lana mendapat porsi pendidikan dan pendewasaan yang kurang berimbang. Aku menjadi seseorang yang bagi Lana dianggap sebagai seseorang yang menakutkan, seseorang yang ketika bertanya—selembut apapun aku coba—seakan-akan dianggapnya sebagai sebuah interogasi yang akan berakibat 'hukuman' jika ia menjawab. Akhirnya, terlalu sering ia diam ketika aku bertanya tentang segala sesuatu. Akhirnya ia menjadi tertutup untuk menceritakan apapun masalah yang dihadapi (biasanya Lana hanya bercerita padaku tentang hal-hal yang—menurutnya--akan membuatku senang dan tidak marah). Sementara mbak Nani menjadi segalanya bagi Lana, menjadi tempat pelarian Lana ketika mengalami masalah (meskipun tetap saja ia juga tidak bercerita apapun ke mbak Nani) namun biasanya selalu menangis dan lari ke mbak Nani, menjadi tempat bergantung untuk hal-hal yang sebenarnya sudah mulai bisa dilakukan sendiri oleh Lana, menjadi tempat bermanja yang tidak akan pernah menolak keinginan-keinginan Lana. Jelas aku tidak mungkin menyalahkan mbak Nani dalam hal ini, bahkan mungkin aku mesti berterima kasih kepada mbak Nani karena dalam beberapa hal ia melakukan sesuatu yang melebihi apa yang biasanya dilakukan seorang 'tukang momong'. Mungkin saja bagi mbak Nani, Lana lebih dari sekedar anak momongannya, namun tetap saja mbak Nani tidak bisa melepaskan kenyataan bahwa ia adalah 'emban' bagi Lana sehingga tidak mungkin mbak Nani menolak apapun permintaan Lana (apalagi ketika ia mulai merengek dan menangis) apalagi membentak Lana untuk menghentikan permintaannya.
Ah Ul, aku benar-benar tak tahu mesti bagaimana.
Dengan Anip Lana juga memiliki kedekatan yang lebih dibandingkan dengan yang lain. Sebuah bentuk kedekatan yang menurutku berbeda dengan kedekatannya dengan mbak Nani. Kedekatan Lana dengan Anip adalah sebuah kedekatan untuk bermanja, sebuah kedekatan yang digunakannya untuk menceritakan beberapa hal yang kadang tidak diceritakan padaku, sebuah kedekatan yang bagi Lana berfungsi untuk 'wadul'--untuk mengadukan sesuatu--, sebuah kedekatan yang kadang sangat tendensius bagi seorang anak, sebuah kedekatan yang mungkin saja ia gunakan untuk mengalirkan kerinduannya padamu.
Ul, sungguh kadang aku benar-benar meragukan diriku sendiri dalam hal ini. Aku kadang meragukan kemampuanku untuk memberi pendidikan yang tepat bagi Lana. Seringkali aku tidak mampu untuk tidak mengeluh dan berharap mendapati seorang teman untuk mendidik Lana.
Ada saat-saat tertentu ketika aku benar-benar butuh bercerita, butuh sharing dengan seorang teman terkait dengan perkembangan Lana. Ada saat-saat tertentu ketika aku benar-benar memerlukan suara lain untuk meyakinkan kembali apa yang aku lakukan dalam mendidik Lana, merasakan bahwa aku tidak benar-benar sendiri dalam membimbing dan mendidik Lana.
Ul, mungkin bagi orang lain mudah untuk melakukan hal itu, mungkin bagi orang lain akan cepat dan mudah untuk menemukan teman sharing terkait dengan bagaimana mendidik anak, dan apalagi jika ia sendiri seorang guru. Tapi Ul, aku tetaplah aku, teman bagiku bukan sekedar seseorang yang sering bertemu dan dapat ku ujak bicara, teman bagiku adalah seseorang yang benar-benar mengerti tentang diri kita, mengerti cara berpikir dan paradigma yang kita gunakan, mengerti dan memahami apa yang bergejolak di hati, mengerti dan memahami bahkan sebelum sesuatu saling dikatakan.
Dan hanya dengan teman dengan kualitas seperti itulah aku mampu menceritakan segalanya, menceritakan kegelisahan dan kekhawatiranku, menceritakan suka dan dukaku, menceritakan angan dan mimpiku.
Ah Ul, aku benar-benar membutuhkan kembali hadirmu di sisiku, kayaknya hanya dengan bersamamu aku akan mampu mendidik dan mendewasakan Lana sebagaimana mestinya.
Ul, beberapa waktu Lana aku merasakan kenyaman yang hampir sama dengan kenyamanan yang aku rasakan saat bersamamu dan bercerita apa saja kepadamu. Aku merasakan kenyamanan itu ketika aku bercerita pada Jun, sehingga aku mampu menceritakan hampir semua yang aku rasakan kepadanya, sampai kadang aku lupa bahwa ia adalah Junaidah Nur, adikmu, adik iparku, bukan dirimu.
Ul, jujur aku katakan bahwa dalam segala kebingunganku saat ini, sangat ingin aku bercerita banyak hal pada Jun, namun aku berusaha sedapat mungkin untuk tidak melakukannya sehingga kadang aku rasakan ada bentangan jarak di antara aku dan Jun (mungkin aku yang membuatnya begitu). Aku tahu bahwa tidak benar jika kemudian aku selalu menceritakan segalanya pada Jun, karena ia bukan kamu. Tidak mungkin aku memaksakan kenyamananku padanya.
Ah entahlah....
Ul, sungguh hari-hari ini aku merasa bahwa aku tak akan sanggup untuk membawa Lana menuju kedewasaannya sendiri. Hari-hari ini aku sungguh merasa tidak akan mampu menghebatkan Lana seorang diri. Aku butuh teman, aku butuh hadirmu kembali. Aku butuh hadirmu bukan hanya menyatu dalam jiwaku, aku butuh hadirmu juga dirasakan oleh Lana. Karena menurutku hanya ketika kita bersama, kita akan mampu mendidik Lana menuju kehebatannya. Karena untuk dapat berkembang menuju pencapaian potensi maksimalnya Lana perlu merasakan kehadiran ibu yang selalu menyentuh rasa dan kesadarannya, selain kehadiran bapak yang akan menjaganya berada dalam garis dan koridor semestinya.
Ul, jelas aku tidak akan pernah mampu menjadi seorang ibu bagi Lana, seorang laki-laki tidak akan pernah mampu menyentuh hati anaknya sebagaimana seorang ibu menyentuhnya. Mungkin seorang bapak adalah raga bagi seorang anak sedang seorang ibu adalah jiwa bagi anak-anaknya. Hanya ketika keduanya hadir maka seorang anak akan menjadi manusia sempurna.
Ul, aku tidak tahu bagaimana memohon kepada Allah untuk mengkabulkan harapanku dan mungkin aku memang tidak layak untuk memohon seperti itu. Terlalu banyak noda dan dosa yang mungkin akan menjadi hijab bagi pengkabulan doaku, maka aku mohon padamu, mohonlah perkenan pada Allah—karena aku yakin engkau jauh lebih layak untuk didengar dan dikabulkan doa dan harapan, karena aku yakin engkau jauh lebih dekat dengan-Nya daripada kami yang berada di alam fana—agar engkau diperkenankan kembali hadir di sisiku, agar aku dan Lana kembali mampu merasakan hadirmu, agar kita kembali bisa bersama-sama menghantarkan Lana menuju segala kehebatannya.
Ul, tak tahu lagi bagaimana aku mesti menceritakan rinduku padamu. Jangan khawatir ini bukan kesyirikan, ini hanyalah wujud syukurku atas anugerah rindu.

Peluk cium dariku untukmu, aku berharap malam ini aku terbang menuju istanamu....

Selasa, 11 Juni 2013

it's about Lana


Ul, kadang aku benar-benar khawatir dengan Lana. Kadang aku benar-benar takut tidak mampu memberi pendidikan dengan baik untuk Lana, sebuah pendidikan yang memberdayakan, sebuah pendidikan yang membuatnya benar-benar menjadi dirinya sendiri, sebuah pendidikan yang membuat perkembangan diri dan potensinya tumbuh dan berkembang secara maksimal. Kadang aku benar-benar takut karena hingga sekarang pun aku merasa belum mampu menemukan cara yang paling tepat untuk mendekati hatinya.
Ul, meski aku tahu bahwa Lana bukan aku, bukan kamu, bukan kita, namun beberapa bahkan seringkali aku melihat sifat-sifat kita ada dalam dirinya, sifat-sifat yang selama ini kita tahu dan mungkin membuat beberapa orang tidak mengerti dengan kita. Terlalu sering aku tidak mampu mengetahui apa yang sedang terjadi karena Lana juga terlalu sering tidak mau mengatakan masalah yang sedang dialami. Ia lebih memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri, tidak mengatakan pada siapapun apalagi padaku, namun kadang-kadang—mungkin ketika Lana merasa berat dengan apa yang terjadi—tiba-tiba ia marah tak jelas, diam atau bahkan menangis tanpa pernah mengatakan mengapa ia seperti itu.
Ul, sungguh aku juga ga ngerti mengapa demikian. Apakah yang selama ini aku ambil dalam pola komunikasiku dengan Lana salah atau bagaimana? Kadang aku merasa bahwa selembut apapun aku berusaha mendekati Lana agar ia mau berbicara denganku ketika terjadi masalah, tetap saja aku merasa gagal karena aku merasakan penolakan dari Lana untuk bercerita. Aku kadang merasa bahwa Lana memandangku sebagai seseorang yang tidak boleh tahu kalau ia punya masalah, seseorang yang hanya boleh mengetahui sesuatu tentang apa yang sudah ia lakukan dan berhasil. Bahkan ketika Lana bermain dengan teman-temannya kemudian ada salah satu temannya atau bahkan ia sendiri yang nangis pun, Lana selalu menjawab tak ada apa-apa ketika aku bertanya ada apa?.
Ul, apakah yang sekarang terjadi merupakan efek dari pembagian peran yang pernah kita bicarakan dulu? Efek dari pembagian peran bahwa dalam sebuah rumah harus ada seseorang yang ditakuti ketika anggota keluarga (baca; anak) melakukan kesalahan, melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hendak kita bangun di rumah kita, selain tentu saja harus ada seseorang lainnya yang akan menjadi tempat mengadu, tempat mengeluh, tempat berbicara ketika anak kita mengalami masalah, menghadapi persoalan. Dan dulu kita sepakat bahwa aku mengambil peran sebagai orang yang pertama dan engkau menjadi orang yang kedua. Ah, entahlah Ul, aku juga ga ngerti.
Ul, apa yang mestinya dapat aku lakukan agar aku bisa membuat Lana benar-benar nyaman untuk bersamaku. Merasa nyaman untuk berbicara dan menceritakan segala sesuatu yang terjadi, tidak merasa takut ketika ia melakukan kesalahan kemudian menceritakan kesalahannya. Merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang terjadi di sekolahnya, merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang tidak bisa ia lakukan di sekolah dan TPQ.
Ul, aku kadang juga merasa bingung bagaimana mengajarkan kemandirian pada Lana, mengingat ketergantungan Lana dengan mbak Nani luar biasa. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menyalahkan mbak Nani. Apa yang dilakukan mbak Nani kepada Lana tidak lebih dari apa yang mesti dilakukan oleh seorang ‘emban’ kepada momongannya. Aku tahu mbak Nani tidak akan pernah marah kepada Lana, mbak Nani tidak akan pernah membentak Lana, mbak Nani akan cenderung menuruti apa mau Lana selama menurut mbak Nani permintaan Lana bukan hal-hal yang buruk. Makanya sampai sekarang, jika bersama mbak Nani Lana tetap saja makan minta disuapin, jajan selalu diturutin (meskipun masih tetap dalam kategori wajar, menurutku), sekolah masih minta ditemenin (kalau tidak ada mbak Nani belum juga mau berangkat).
Ul, bukan berarti kemudian Lana tidak berkembang. Beberapa bulan ini meski mbak Nani belum datang, Lana sudah bisa tak tinggal berangkat ke sekolah (ya mbak Nani seperti itulah kadang datangnya agar terlambat, kadang jam 7 lebih mbak Nani belum datang padahal aku harus ngajar pagi, dan kamu tahu kan aku paling tidak bisa ngomong masalah ini ke mbak Nani, karena—seperti yang pernah kita bicarakan—kita yang butuh mbak Nani, kita yang butuh bantuannya maka kita akan coba mengerti posisinya—tentu saja dalam batas-batas yang masih dapat kita terima).
Kau tahu Ul, untuk urusan mandi dan makan, ketika Lana mesti mandi denganku saat pagi sebelum sekolah—meskipun tetap saja ia berusaha untuk mengulur waktu (kayake rasa malas mandi yang dulu pernah kita alami menurun pada Lana, sehingga cukup susah untuk nyuruh Lana mandi terutama pagi)—Lana bisa mandi dengan cepat, berbeda dengan mandi sore ketika mbak Nani yang mandiin Lana, ada saja alasan untuk mengulurnya, entah makan dulu, entah apa dulu, padahal sudah menjelang jam 4 dan ia mesti ke TPQ. Untuk urusan makan juga tidak jauh beda, ketika sarapan Lana akan makan sendiri dengan lahap—asal apa yang ia inginkan dituruti (misal jika pengen sarapan mie yang dikinkan mie, pengen nasi goreng dibuatkan nasi goreng, pengen lontong dibelikan lontong), sedang ketika mesti makan bareng mbak Nani, masih saja mbak Nani harus mengikutinya kemana –mana dan mesti disuapin.
Ul, terus terang kadang aku masih mempertanyakan benar apa salah ya aku memasukkan Lana ke TK di pagi hari kemudian pada sore hari mesti berangkat lagi ke TPQ. Kadang aku merasa Lana sendiri kadang ogah-ogahan untuk berangkat ke TK maupun TPQ. Tapi aku juga tidak tahu apa yang mesti aku lakukan jika aku tidak memasukkan Lana pada TK dan TPQ, Lana tidak mau belajar denganku (itu juga sering membuatku bingung, apakah Lana tidak mau belajar denganku karena aku tidak memiliki cara mengajar anak dengan menarik ataukah posisinya sebagai orang pertama seperti yang pernah kita sepakati dulu?).
Ya mbak Nani juga ngajari Lana membaca dan menulis, Cuma yang diajarkan mbak Nani membaca dan menulis latin, sedang arabnya tidak. Sampai sekarang pun sebenarnya aku masih meragukan efektifitas belajar Lana di TK dan TPQ. Mungkin di TK masih lebih baik karena sekarang Lana sudah mulai bisa menulis dan mengenal huruf, meskipun membacanya belum bisa (dan tak pikir itu tidak apa-apa, dulu saja kita baru diajari nulis dan membaca pada kelas 1 MI), namun yang kadang membuatku benar-benar sedih adalah sampai sekarang Lana belum pernah mau mengaji dengan gurunya di TPQ, jadi dalam satu tahun ini satu jilidpun belum ada yang ia selesaikan. Pernah sekali waktu yang menyusul ke TPQ dan meminta mbak Nani pulang dulu. Akibatnya malah Lana ngangis keras sekali di TPQ, setelah itu aku tidak lagi mencoba untuk melakukannya (sebenarnya aku juga ga enak dengan mbak Nani karena tiap hari ia mesti pulang menjelang magrib. TPQ kadang selesainya jam 5.20 sampai rumah jam 5.30 padahal sekarang magrib jam 5.35).
Ul, kadang aku berpikir bahwa aku tidak akan bisa mendidik Lana dengan baik kalo masih seperti ini. Dan jika seperti ini terus maka aku membutuhkan seseorang yang mau membantuku untuk mendidik Lana, seseorang yang akan mengambil peran sebagai orang kedua di rumah kita, dan itu jelas bukan mbak Nani, dan itu juga jelas bukan seorang guru sekolah, bukan seorang guru mata pelajaran, seseorang yang mau mengambil peranmu sebagai orang kedua di rumah kita. Seseorang yang dengannya Lana bisa tersentuh hatinya, seseorang yang dengannya Lana bisa bercerita apa saja, seseorang yang dengannya Lana mau merasa nyaman untuk berbagi personalan.
Ul, aku tidak hendak mengatakan bahwa aku akan menikah lagi, bagiku saat ini menikah atau tidak itu bukan masalah. Urusan pribadiku hari ini tidak terlalu penting lagi. Yang jelas mungkin jika aku tidak mampu menjadi orang pertama sekaligus orang kedua di rumah kita bagi Lana, maka jelas aku butuh seseorang untuk untuk mengambil peranmu sebagai orang kedua di rumah bagi Lana, seseorang yang dengan rela mau mengambil peran itu, tidak masalah laki-laki ataupun perempuan.
Dan kalaupun aku mesti menikah lagi, maka aku pasti akan menikahi perempuan yang di dalam dirinya aku merasakah kehadiranmu, aku pasti akan menikahi perempuan yang aku rasakan detakmu dalam denyutnya, aku pasti akan menikahi perempuan yang mampu menyentuh hatiku dengan sentuhanmu.
Ul, aku hanya berharap bahwa aku segera menemukan cara mendidik Lana dengan tepat. Mendidik bukan sekedar menyekolahkan, mendidik bukan sekedar mengajarkan. Lana adalah matahari bagi kelam jiwa kita, sinar bagi kedua mata kita, detak yang berasal dari denyut kita, dan ia mesti lebih hebat dari kita.
Ah Ul, mungkin yang mampu aku lakukan sekarang barulah mengalirkan doa-doa untuk Lana, mengalirkan harapan-harapan dalam setiap harap setiap habis shalat. Kadang aku juga merasa benar-benar seperti tak lagi mampu menahan beban ini sehingga kadang aku juga merasakan begitu butuh seseorang untuk sekedar bercerita, dan kau tahu aku masih saja seperti dulu, tidak bisa bercerita apapun tentang segala masalahku selain kepadamu…
Ah, wis disik ya, sudah subuh ini, kapan-kapan aku pasti aku menulis dan bercerita lagi...
Love you so much as always. Aku mencintaimu sebagaimana kayu mencintai api yang menjadikannya abu.
Aku merindumu dalam tiap jengkal langkahku, dalam tiap tarik nafasku, dalam tiap tetes darahku…
Aku mencintai dan merindumu, semoga menjadi wujud syukurku atas anugerah keabadian cinta rindu dalam jiwaku dari Tuhanku….

Kamis, 30 Mei 2013

dalam diam ku ceritakan semua

Ul, terlalu banyak yang ingin aku ceritakan padamu hingga akhirnya aku hanya mampu membisu....
atau ku tulis saja clue nya ya...
rindu padamu
lana dan perkembangannya
mts dan arahnya
jun dan diamnya
jumudku dan ketakutan-ketakutan baruku
mimpi-mimpi kita dan apa mesti untuk mewujudkannya

ah....
sudahlah biar dalam diam aku berbagi dan menceritakan segalanya kepadamu
dingin jiwaku merindu hangat pelukmu
sepi relungku menanti gempita hadirmu

love you as always
miss you so much