Kamis, 07 Oktober 2010

Selalu untukmu

Ul, tak mungkin ku melangkah kecuali kau menjadi salah satu alasan bagi langkah-langkahku.

Senin, 05 Juli 2010

persembahan di hariku tanpamu

perkenankan aku
memberi persembahan untukmu
persembahan dari sisa umurku
dengan menjadi wujud dari segala mimpi dan anganmu

perkenankan aku
memberi persembahan untukmu
dengan sisa usia yang terus berkurang
melalui hadir segala cita yang pernah ada

Senin, 28 Juni 2010

begitu merindu

kadang,
terlalu ku merindumu
hingga lidah serasa kelu
              pikir menjadi beku
                yang tersisa hanya pilu
              raut berubah sendu
lalu ke mana ku mesti mengadu
jika bukan Sang Maha Guru
Rabb-ku yang Maha Tahu

6

ul, kadang aku bingung dengan apa yang mesti kulakukan.

Minggu, 06 Juni 2010

Ul, kadang aku ragu akan kuatku. aku tahu ada Ia sang Maha Segala di atas sana.

Rabu, 02 Juni 2010

dalam Gelapku

ya Allah, kadang aku benar-benar merasa luruh. Kadang aku benanr-benar merasa tidak bisa berpikir apa-apa. semua seakan tinggal gelap, gulita, hitam, pekat. Tiada lagi cahaya di mataku.
ya Allah, inginku selalu berpasrah, berserah kepada-Mu. Tapi bagaimana ku dapat merasa berpasrah, berserah pada-Mu ketika setiap waktu, setiap saat, setiap detik, langkahku seakan selalu menjauhi-Mu?. bagaimana ku dapat merasa berserah, berpasrah ketika dalam tiap detakku seakan tidak terima atas semua tetap-Mu.
Kadang aku juga masih harus bersusah payah untuk senantiasa meyakinkan diriku sendiri bahwa apapun kehendak-Mu pasti terpenuhi. Bahwa apapun garis yang Engkau tetapkan bagi setiap hamba pasti sudah dalam kadar yang Engkau tetapkan bagi hamba itu untuk menanggung dan menyelesaikannya.
ya Allah, kadang aku benar-benar merasa tidak tahu harus berbuat apa, harus bagaimana, harus kemana? Ingin ku serahkan semua pada garis-Mu, tapi aku mesti sadar diri bahwa terlalu lekat lumpur menempal di badanku, terlalu banyak debu menutupi mukaku, terlalu banyak noda bergelantungan di badanku hingga kadang ku merasa belum lagi pantas di hadap-Mu, belum lagi layak untuk meminta sesuatu kepada-Mu, belum pada tempatnya untuk memohon kepada-Mu.
ya Allah, tunjukilah aku jalan menuju-Mu. tunjukilah aku jalan membersihkan diriku. tunjukilah aku jalan menuju ridlo-Mu

Senin, 26 April 2010

Bingung aku...

Ul, tadi sore kang Lih ke sini. Ia tanya tentang keseriusanku berkaitan dengan tanahnya. Tanah yang kita rencanakan untuk kita beli. Spontan tadi aku jawab ya, aku serius. Kemudian Kang Lih menceritakan rencananya bagaimana agar tanah itu jatuh ke kita. Ia akan pura-pura membeli tanah itu, dan untuk beberapa lama baru kemudian kita yang berpura-pura membeli tanah itu dari Kang Lih. Tadi aku mengiyakannya Ul. Resikonya, paling nanti aku akan berhadapan dengan Lek Nasir, tapi itu tak jadi soal. Aku bisa minta tolong Mas Fuad untuk ngomong ke Lek Nasir. Kemungkinan kedua, Mas Syamsul akan ndak enak hati jika sampai tahu bahwa ternyata ia telah dipermainkan dalam permainan ini.
Ul, setelah Kang Lih pulang, aku jadi ragu, haruskah ku ambil tanah itu sekarang? Adilkah aku dengan orang-orang yang sudah menawar tanah itu? Lalu, Kang Lih, apakah ini tidak akan menjadi beban baginya? Bukankah terbuka kemungkinan akan terjadi perselisihan antara Kang Lih dengan saudara-saudaranya jika mereka tahu bahwa Kang Lih hanya pura-pura membelinya?
Jika demikian Ul, haruskah ku beli tanah itu jika ternyata membawa banyak ketidak baikan di dalamnya? Haruskah ku beli tanah itu sekarang jika ternyata malah membuat repot dan menyulitkan Kang Lih? Haruskah ku beli tanah itu sekarang jika pada akhirnya aku akan merasa ndak enak hati dengan Mas Syamsul karena aku telah menelikungnya?
Ul, hampir aku putuskan aku mundur saja. Bukan masalah uang Ul, tapi masalah hubungan dengan orang-orang yang telah tertipu dengan permainan ini. Bagaimana jika kemudian mereka tahu bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah? Tidak mustahilkan jika mereka kemudian menghujatkan, menyumpaiku bahkan ingin menghancurkanku?
Maafkan aku Ul jika apa yang akan aku putuskan tidak sesuai dengan keinginanmu. Maafkan aku Ul jika pertimbangan yang aku gunakan tidak pas dengan pertimbanganmu.
Tapi Ul jika engkau memang menghendaki tanah itu sekarang, tolong beritahu aku, tolong beri isyarat kepadaku.
Ul. aku tetap berharap meskipun kali ini kita tidak jadi membelinya, suatu saat akhirnya tanah itu menjadi milik kita. Suatu saat akhirnya kita mampu membelinya dari siapapun yang kemudian menjualnya,
Ul, maafkan aku sayang, Sungguh Ul aku sangat menginginkan tanah itu, bahkan aku menganggap memiliki tanah itu bagian dari janjiku padamu Ul.
Tapi, aku juga menginginkan membeli tanah itu dengan cara enak, dengan cara yang tidak menyakitkan siapapun, dengan cara yang dapat diterima oleh siapapun yang juga menginginkan tanah itu. Sungguh Ul aku takut jika ku beli tanah itu dengan cara yang tidak benar akan membawa petaka bagi kita, bagi Lana. Aku takut tidak adanya berkah dari pembelian tanah itu.
Maafkan aku Ul, sekali lagi jika engkau menghendaki aku membeli tanah itu sekarang, beri isyarat kepadaku, tolong beritahu aku. 
Sungguh Ul, aku sayang kepadamu, bahkan mungkin terlalu sayang kepadamu.
kutitipkan rinduku padamu Ul