Rabu, 24 Oktober 2012

Lanjutan Cerita

Ul, ternyata aku tetap saja anam seperti yang dulu. Anam yang ketika secara psikologis mengalami gangguan, maka akan luruh dan penyakit fisik pun akan datang.
Ul, kemarin hampir saja aku benar-benar jatuh, hampir saja ku tinggalkan kelas dan pulang lalu membiarkan diriku terkapar. Tapi alhamdulillah tidak, aku masih bisa bertahan hingga jam pelajaran selesai. Kemarin pagi aku serasa kehilangan segala kekuatan penyanggaku, seakan rumah jiwaku rubuh, aku merasa pengabaian Jun selama 2 minggu ini benar-benar telah mengacaukan seluruh tata batinku. Aku mulai menuntut banyak hal, menginginkan banyak hal. Aku mulai bergerak menuju titik di mana aku hanya mementingkan diriku sendiri--sesuatu yang baru ku sadari setelah aku benar-benar kembali mengalami jatuh secara psikis--.
Ul tadi malam aku mulai berpikir tentang sakitku beberapa hari ini, sakit gigi selama 3 hari, kemudian mulai kemarin pagi hingga malam pangkal tulang belakangku sakit sehingga untuk tidur telentang susah, tapi sekarang dah baikan kog. Bahwa semua itu tidak sekedar terkait dengan kondisi fisikku, tidak sekedar terkait dengan cuaca, tapi lebih terkait dengan kondisi psikologisku. Kamu tahu kan Ul, dalam kondisi psikis yang tidak stabil maka hampir bisa dipastikan akan akan mengalami drop secara fisik.
Ul, setelah engkau Jun adalah perempuan yang mampu menggelisahkanku, membuatku berpikir berulang kali tentang apa yang terjadi. Tapi kegelisahanku karenamu bagiku adalah sebuah keindahan tersendiri, sebuah inspirasi yang selalu menghasilkan puisi-puisi--kegelisahan yang terindukan, keresahan yang didambakan. Berbeda dengan kegelisahanku yang berhubungan dengan Jun, aku merasakan kegelisahan yang sangat berbeda, ini seperti kegelisahan karena ketakutan. Takut sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang tak inginkan, takut sesuatu yang buruk menghancurkan sesuatu yang sebelumnya baik dan porsinya berlebihan.
Ul, itu yang kemudian membuatku berpikir dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Benarkah kegelisahan macam ini? Karena menurutku, cinta dan kasih sayang tidak mungkin menghasilkan ketakutan, cinta dan kasih sayang hanya akan menghasilkan kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan.
Ul, ternyata aku mulai bergerak dari menyayangi Jun menjadi ingin memilikinya, sebuah keinginan nafsu khayawani yang mulai menggangu dan mulai tak terkendali. Aku mulai merasa perlu tahu apapun yang ia lakukan, aku merasa kecewa ketika ia melakukan sesuatu dan aku tidak diberitahu, dan seterusnya.
Aku kembalikan semua pada awalnya Ul, bahwa awalnya aku menyayangi Jun sebagaimana aku menyayangi Anip, Aam, Fahrur, Zein. Aku menyayanginya sebagai adikku. Itu kemudian yang membuatkan menjadi sedikit lega sehingga mulai tertidur dan bangun dengan keadaan yang lebih baik (sakit tulang belakangku juga berkurang).
Ul, maka kayaknya ini hal terbaik yang mesti dilakukan. Aku akan membiarkan Jun melakukan apapun yang akan menyenangkannya, membuatkan berkembang seperti yang diangankannya. Aku akan selalu men-support apapun yang ia anggap sebagai jalan untuk mencapai apa yang ia angankan. Bahkan jika jalan untuk membuatnya lega adalah dengan memutus komunikasi denganku, akan akan terima. Tak ada lagi tuntutan baginya untuk merespon apapun dariku. Meskipun tetap saja aku tidak mau untuk benar-benar memutus komunikasi dengan Jun, karena bagiku awal dari kehancuran hubungan sebaik apapun adalah tidak adanya komunikasi.
Ul, ya mungkin saja saat ini aku menyayangi Jun tidak lagi murni sebagaimana dulu, tapi tetap saja bagiku menyayangi bertarti memberikan kenyamanan, ketenangan, kebebasan untuk bergerak bagi orang yang kita sayangi, bukan mengekang dan menuntutnya untuk melakukan sesuatu.
Ul, lagi pula aku sangat yakin bahwa apapun yang Jun lakukan tidak akan pernah membuatku membencinya, karena aku yakin sayangku sebagai kakak (sebagaimana juga engkau) tidak akan pernah mengijinkanku untuk membencinya.
Ah, sudahlah Ul, yang jelas kini aku akan ada untuk men-support nya, dengan cara yang semoga saja tidak pernah menyakiti hatinya, tidak akan mengganggu konsentrasinya. Sebagaimana kulakukan pada yang lainnya. (mungkin saja nanti aku akan menulis ke Jun tentang ini atau mungkin ga usah sekalian pa ya? tapi ya lihat saja nanti lah, he he)

Pindah cerita Ul,
Ul aku heran beberapa hari ini Lana kok mau ya diajari sama Anip, padahal kalau tak ajak sinau mesti ada aja alasane. Apa memang benar ya apa yang tak pikir selama ini bahwa ternyata aku memang ga bisa ngajari cah cilik, atau tepate aku memang gak bisa ngajari karena aku memang ga punya pengalaman bagaimana carane belajar ketika kecil.
So, dua hari ini tiap bar magrib Lana belajar dengan Anip nang lor, mulai dari belajar nulis, baca, sampai berhitung. Aku ya seneng ae sih, karena Lana mau belajar.
Trus sekarang juga Lana ngajine mulai konsisten, artinya tiap malam ia ngaji meskipun ga selalu bar magrib. Bahkan ketika magrib nang lor maka ketika ia sampai rumah (bar isya biasane), ia sekarang akan ngomong, 'Bapak ngaji yuk, tapi ngajine nang kamar ya'. Sekarang ia juga mulai mengingatkan kalau aku lupa ga ngajari ngaji. Sungguh aku senang dengan perkembangan ini meski aku juga tetap ae masih bingung jiwa berpikir tentang kemandirian dan ketergantungan Lana pada mbak Nani.

Ah, wis ah cerita kali ini, selama bersamaku ya, biar kembali tegak kepala dan badanku, Love you so much.......aku selalu saja merindumu ratu jiwaku, pemilik singgasana hatiku.... (gimana Ul, aku sudah mulai bisa bercerita banyak lewat tulisan kan?, meski tetep saja alur ceritanya masih melompat-lompat ya...)

Selasa, 23 Oktober 2012

Ul, tak ceritani...

Ul, malam ini nyamuk banyak banget, sehingga Lana pun ga iso nyenyak tidure, hingga akhire terpaksa tak nyalakan obat nyamuk bakar, setelah lebih dari 2 bulan aku ga pakai. Tak pikir obat nyamuk bakar tetep saja ga baik untuk kesehatan, so aku berusaha untuk tidak lagi makai, atau minimal menguranginya, tapi malam ini benar-benar ga bisa--akeh banget nyamuke sehingga susah mengusirnya--.
Ul, hari ini Anip pulang. Lana seperti biasanya menyambutnya dengan cukup ribut--biasa jika Anip pulang Lana ya kayak gitu og--. Apalagi Lana juga ada acara nagih janji, ketika ia minta call Anip ia akan selalu bertanya kapan pulang, terus kemudian minta dibeliin ini itu.
Ul, ada sedikit cerita tentang Jun yang buat aku lega sekaligus membuatku kembali berpikir tentang apa yang sedang terjadi. Anip cerita, 'mas mas, mbak Jun ngebel aku esuk-esuk mung ape pamer nak ke grand canyon, wis crita sampean durung?' Tak jawab; 'beberapa hari ki aku ga komunikasi karo Jun, lagian 3 hari ini aku sakit gigi og' (dan bener aku memang sakit gigi mulai Jum'at kemarin, sampai saat inipun masih belum benar-benar pulih--kayake faktor cuaca sih karena beberapa penyandang sakit gigi yang kutemui katanya juga lagi kumat gigine). Lalu ia ngelanjutkan; 'katane mbak Jun ..............."
Ul, aku lega karena ia tak mungkin akan menjadi seperti nyai Ontosorah--masalahnya bukan benar-benar ingin melepaskan sesuatu dari dirinya. Dan yang lebih melegakan lagi bagiku Ul, Jun tidak akan sendiri, ia masih bisa dan mau bercerita pada Anip, dan juga Aam tak kira. Apapun masalah yang dihadapi asal masih ada seseorang yang menemani (setidaknya seseorang yang akan selalu ada) pasti masalah tersebut akan selesai pada akhirnya.
Ul, mau ga mau aku jadi kembali berpikir tentang apa yang terjadi antara aku dan Jun, mengapa ia menjadi seperti menghindariku, mengapa ia menjadi seperti sengaja memutus komunikasi denganku? Dan sederet pertanyaan yang tidak lagi mungkin ku tanyakan pada Jun karena ia sudah mengatakan bahwa "q plg males didesak-desak suruh ngomong. q lg pengen melarikan diri, gak mikir apapun terkait dgn masalah di indonesia. q pgn konsen menghadapi masalahq sendiri. boleh kan, tuk sementara q cuma mikiri diriku sendiri. q lg da masalah n gak ada hubunganx ma pean. q gak pernah cerita ke siapapun ttg masalahq saat q tengah menghadapix".
Ul, yang jelas aku jadi merasa bahwa apa yang ia hadapi kemungkinan besar sedikit banyak bersinggungan denganku atau minimal aku ketika ia berhubungan denganku akan membangkitkan kerunyaman dalam masalahnya. Atau jangan-jangan aku sendiri sebenarnya yang jadi masalahnya. Ah entahlah Ul, aku jadi bingung mikire....
Ul, bagaimana aku tidak berpikir dan merasa seperti itu, karena dalam 2 minggu ini Jun memang ga mau berkomunikasi denganku (kecuali mungkin dengan sangat terpaksa karena aku terus mengejarnya dua atau tiga hari lalu). Aku mencoba berkomunikasi dengannya, menyapa dan menanyakan hal-hal standar yang menurutku tidak berhubungan sama sekali dengan masalah yang mungkin sekarang dihadapinya, tapi tetap saja ia tidak memberi respon atau balasan. Ya memang sih Jun masih membiarkanku untk tetap menulis kepadanya (ga tahu juga kepaksa atau tidak, tpi sungguh aku sangat bersyukur masih boleh menulis kepadanya).
Ul, sungguh aku sebenarnya tidak biasa atau mungkin sudah mulai masuk wilayah tidak bisa menulis (entah itu sms, email, chart fb, komen atau apapun lah) kepada Jun kemudian ia tidak meresponnya. Ada sesuatu yang hilang dan satu pertanyaan muncul 'sampai kapan kayak gini?'.
Ul, aku sudah terlalu biasa berdialog, ngobrol, bertukar cerita dengan Jun. Mungkin semua berawal dari fakta bahwa kami adalah dua orang yang sedang hancur karena ketiadaan orang yang sama (awakmu Ul). Sama-sama dua orang yang benar-benar jatuh saat itu, kemudian saling membantu dan saling menguatkan, sehingga akhirnya aku merasa sangat nyaman untuk bercerita apapun kepadanya dan merasa memiliki kedekatan dengannya. Dan perlahan-lahan semakin jauh wilayah yang dibagi dengannya sehingga setelah engkau tiada, ia seperti mulai menjadi the one bagiku (kamu tahu kan, aku hanya bisa bicara dan berbagi kepada satu orang, ya bagiku cukup satu orang yang akan mendengar seluruh ceritaku). Dan sejak itu aku ga pernah putus komunikasi dengannya lebih dari seminggu (minimal kami berkomunikasi lewat sms), dan ini sudah 2 minggu Ul.
Ul, mungkin kesalahan terbesarku adalah aku merasa dekat dengan Jun, sehingga ketika ia tidak lagi ingin berbagi denganku, aku benar-benar merasa ada yang hilang, sebuah ruang hampa mulai tercipta. 
Memang benar Ul, aku tetap saja masih bisa kirim sms, email atau lainnya, tapi seperti pendapatmu dulu bahwa ketika kita menulis sesuatu, maka yang kita inginkan sebenarnya adalah mendapat respon atas sesuatu itu, sehingga sering engkau marah ke aku ketika aku ga balas surat atau sms, 'ngapa ga dibalas, wis ra gelem ya, marai emosi ae".
Ul, itu dulu kamu ke aku, dan sekarang mungkin aku mulai merasakan apa yang dulu engkau rasakan ketika aku tidak membalas surat atau sms (karena aku berpikir ga sah jawab pasti awakmu tahu jawabnya). Aku benar-benar merasa seperti menulis di ruang hampa, ruang yang membuat apapun yang aku tulis akan hilang tanpa bekas. Dan jelas aku tidak mungkin mengatakan kepada Jun apa yang kau katakan padaku dulu. Permasalahan jauh berbeda.
Ul, aku hanya berharap semoga bukan benar-benar tujuh bulan lagi aku baru bisa bicara dengan Jun, semoga benar apa yang ditulisnya 2/3 hari lalu (meskipun tetap saja aku agak meragukannya), semoga segalanya baik pada akhirnya.
Ul, kayaknya jika memang harus 7 bulan lagi aku baru bisa bicara dengan Jun, aku juga harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi kegelisahan luar biasa, akan muncul kerinduan penuh bias yang aku sendiri tak akan bisa menjelaskannya, maka aku sangat berharap engkau selalu menemaniku dalam jiwa, menjagaku tetap dalam kesadaran hingga tidak membuatkan melakukan terlalu banyak kegilaan.
Ah entahlah Ul, fakta yang terjadi sekarang adalah kenyataan bahwa Jun belum juga mau kembali bicara denganku, dan aku cukup bingung dan gelisah karena itu.

Ya udah Ul, love you so much.....O ya Ul, kalo habis ini aku bisa tidur, tlong hadir ya, aku rindu melihat wajah dan segala yang ada di dirimu....biar sedikit berkurang dahagaku akanmu....

Minggu, 21 Oktober 2012

Lana, Yasinan, dan Sekolah

Hai Ul, malam ini kayake aku ga kan bisa tidur nyenyak, masa baru jam 12 wis nglilir 3 kali, semua karena gigiku sakit. Benar memang bar tak kasih obat dah ga sakit lagi, tpi masa dalam semalam aku harus minum 3 obat (pertama tak kasih antangin karena kyke lagi masuk angin, kedua tak kasih asam mefenamat dan amox untuk menghilangkan rasa sakit, trus ketiga aku gak mau minum obat lagi so tak kumur sama air garam dan reda juga).
Ul, jane pengen tidur lagi, tapi aku khawatir nanti malah kumat lagi, so q pilih ga tidur karena pas ga tidur ga sakit ya, nyalain tv ga da yang bagus, akhire ya, tekan turn on notebook, lalu nulis cerita nang awakmu.
Ul, malam kamis lalu aku ambil jatah yasin tahlil, sebenere aku ga dapat sih, juga ga minta, cuma pas acara tahlil yasin sebelumne (ditempat mas Dikin), lupa ga ditentukan bulan depan di tempat siapa, trus mas Sentot bilang ke aku, 'piye nak sasi ngarep ngonmu', ya tak jawab 'ya wis'.
Ul, aku jawab 'ya' karena tak pikir Lana wis cukup besar dan kalau misale harus tidak tidur sampai jam 9.30 malam ga pa pa. Sebenarnya sih, acara berjalan lancar, cuma ternyata Lana tiba-tiba menjadi ribut, ia mulai ngantuk (siange ga tidur, dan memang dalam beberapa waktu terakhir ini Lana sangat susah disuruh tidur siang), tak suruh tidur di pangkuanku ga mau, malah mulai ngrengek dan hampir nangis. 
Ul, aku sendiri mulai jengkel, tak bilang ke Lana, 'ya ga kena ngono Na, acarane kan durung rampung'. Sebenare aku sendiri hampir nangis waktu itu  melihat Lana mulai nangis. Akhire ia ngajak keluar (sebenare ya ga enak juga, masa tuan rumah malah keluar rumah, tapi gimana lagi?). Aku keluar trus kemudian tak pangku di bangku depan rumah, tapi karena ga nyaman tetep ae lana ga bisa tidur. Tak suruh main dengan Salma, ia juga ga mau. Akhire--mungkin karena ga enak kabeh--ia ambil truk mainan terus main truk-trukan. Ya lumayanlah akhire acara bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Ul, tadi pagi juga, ternyata jika Lana ngambek memang ga pernah bisa dibilangin. Tadi pagi Lana minta dibuatkan mie untuk dimakan di sekolah (biasa tiap sabtu anak TK ada acara makan bersama di sekolah), tapi karena kesiangan akhirnya ga dibuatkan mbak Nani, alasane biasane Lana mau beli mie di sekolah. Tadi pagi entah kenapa, kok sudah sampai sekolah mbak Nani pulang lagi bareng Lana yang nangis, kata mbak Nani Lana nangis di sekolah karena ga dibikinkan mie dan ia tidak mau beli. Sudah dikasih nasehat guru-guru TK tetap ae ia ga mau malah nangis banter, so ya pulang ae.
Ul, aku ga tahu apakah ini kali pertama atau sudah beberapa kali seperti ini. Mbak Nani memang ga pernah cerita apa-apa tentang kenakalan Lana, kalaupun tak tanya paling cuma bilang 'ndek wau nangis', wis cuma gitu.
Tadi pagi memang aku pulang lagi setelah masuk kelas, gigiku sakit bukan main dan aku pulang untuk sekedar bikin kopi lalu minum obat. Pas baru mau masak air untuk bikin kopi dan mie, tiba-tiba Lana pulang dan nangis, ternyata seperti itu alasane, trus tak bikinke mie dan tak suruh berangkat lagi.
Ul, sampai saat ini salah satu hal yang aku terlalu sering berakhir dengan nangis tak berdaya, ya soal Lana, bagaimana dan apa yang mesti ku lakukan untuk mengajari kemandirian, keberanian, dan ketidak tergantungan pada orang lain (terutama mbak Nani).
Kau tahu sendiri kan Ul, aku tidak punya pengalaman belajar tekun waktu kecil sehingga aku sendiri bingung bagaimana cara mengajari Lana.
Aku cuma berharap mendapat  limpahan kesabaran sehingga secara perlahan mampu belajar bagaimana mendidik dan mengarahkan Lana dengan benar.
Dan kehadiranmu tentu merupakan sesuatu yang tak terelakkan bagiku, karena sampai sekarang hanya dengan bersamamu aku kembali merasa kuat dan memiliki alasan untuk tetap bertahan. Love you as always Ul....

O ya Ul, soal Jun, kayaknya masalah yang sedang dihadapi kok berat banget ya, dan aku kok ngerasa ia seperti ingin menghilangkan, melepaskan, atau minimal melupakan sesuatu yang merupakan bagian dari dirinya (mungkin masa lalu). Beberapa kali ia bilang bahwa kehilangan pak e dan awakmu membuatnya kehilangan seluruh semangat dan hidupnya dan ingatan akan pak e dan awakmu seringkali membuatnya semakin sakit dan terluka. Selain itu, ia juga pernah mengatakan bahwa ia tidak pengin pulang ke Selo, karena di Selo terlalu banyak luka dan kesedihan yang membuatnya berpikir untuk tidak kembali ke Selo karena hanya akan membuka luka lama. Dan bisa jadi ini yang ingin ia selesaikan.
Ul, bicara tentang melepaskan masa lalu, tiba-tiba aku kok ingat sama sosok Nyai Ontosorah (perempuan fiktif dalam Bumi Manusia-nya Pram). Seorang perempuan pribumi luar biasa yang berhasil keluar dari jamannya dan menjadi perempuan dengan berbagai prestasi yang sangat jarang dicapai perempuan pada zamannya namun ia kehilangan seluruh diri dan jiwanya akibat memutus mata rantai hubungan dengan seluruh masa lalunya. Meskipun berhasil pada akhirnya namun sayang keberhasilannya tetap saja penuh dengan dendam dan kemarahan atas masa lalu yang ia anggap telah membunuh kesejatian dirinya......
Ul, aku tidak bermaksud  untuk menyerupakan kasus Jun dengan perempuan fiktif ini, tapi kalau memang masalahnya adalah ingin melepaskan diri dari beberapa hal di masa lalu, maka itu benar-benar merupakan masalah yang sangat berat untuk dihadapi. Dan tak pikir akan lebih baik jika Jun mau berbagi dengan seseorang.
Jelas aku tidak masuk dalam kelompok ini, meski mau mau saja sebenarnya, selain mungkin bagi Jun cara terbaik untuk menghadapi masalah adalah dihadapi sendiri. Menurutku Ul, mungkin hanya kamu yang bisa melakukan ini (selain karena ia sangat mengagumimu juga karena saat ini awakmu bisa masuk langsung ke hatinya dan tidak memerlukan tatap muka), mungkin hanya kamu yang ia inginkan untuk berbagi, maka dengan caramu, temani ia ya, bantu ia, masuklah dalam jiwanya dan biarkan ia merasakan bahwa ia tidak sendiri, bahwa engkau selalu ada untuknya, bahwa mengingatmu tak lagi melukai hatinya, bahwa mengingatmu merupakan salah satu anugerah untuknya.
Ah, entahlah Ul, semoga saja apa yang tak pikir tak sesuai dengan kenyataan. 

Sudah dulu ya cerita kali ini, besok kita lanjutkan, he he....
Kalau aku masih bisa tidur malam ini, temui aku ya, aku lagi sangat ingin kembali menikmati seluruh keindahanmu ki.
merindumu adalah getar mendebarkan paling indah bagiku, sakit yang begitu ku harapkan, gelisah yang begitu ku dambakan....

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ul, selesai sudah

Ul, selesai sudah persoalan dengan Jun, yang benar tebakan ketiga, ia lagi ada masalah dan ia tidak ingin berbagi dengan siapapun. Ia ingin menyelesaikannya sendiri. 
It's OK, semua orang berhak memilih dan menentukan caranya sendiri dalam menghadapi masalah, dan aku memilih ga akan mencampurinya. 
Ul, mungkin hari-hari ini aku akan banyak bercerita padamu, menulis di sini karena tak pikir aku juga ga bisa lagi bercerita banyak pada Jun apalagi ia sendiri sedang dalam masalah. Alih-alih ceritaku bisa meringankan masalahnya, lha kalau malah menambah runyam kan bisa berabe, he he...
Ya mungkin kadang aku akan tetap akan berkomunikasi dengannya Ul, entah lewat email atau sms, tapi yang paling yang ingin tak ceritakan ya cerita biasa ae, tidak seperti beberapa waktu lalu. Cerita standar lah, he he..

Wis sik ya, ki Lana wis tangi dan biasa Lana sampai sekarang ga pernah bisa terima ketika ia bangun dan aku masih berkutat dengan keyboard.

Thanks for everything, Love you as always
..................

Maafkan aku Ul

Ul, ternyata Idul Adha tinggal seminggu lagi. Jum'at depan sudah Idul Adha. Dulu kita bersepakat bahwa kita akan berusaha agar setiap Idul Adha keluarga kita mampu menyembelih kurban meski hanya seekor kambing, dan selama ini kita berhasil melaksanakannya.
Ul, maafkan aku, mungkin kali ini aku gagal melaksanakan kesepakatan kita. Tinggal seminggu dan aku mulai yakin bahwa tahun ini keluarga kita tidak bisa menyembelih hewan kurban. Maafkan aku Ul, aku ga teliti dalam merencanakan sesuatu, aku masih berpikir bahwa Idul Adha jatuh di bulan November. Aku lupa bahwa tahun komariyah jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan tahun samsiyah, sehingga setiap tahun akan ada pergeseran waktu pelaksanaan Idul Adha.
Ul, saat ini uang yang ada hanya sekitar 500.000 itupun paling hanya 400.000 yang bisa digunakan, padahal harga kambing yang cukup layak untuk dijadikan hewan kurban saat ini sekitar 1,5 juta, dan aku tidak punya ide darimana akan mendapatkan 1 juta agar kita bisa menyembelih kurban tahun ini. Sebenarnya kalau mau hutang mungkin aku bisa mendapatkan uang 1 juta tapi aku tidak bisa menerima bahwa kita melaksanakan kurban dengan uang hutang. Itu bukan kurban bagiku, itu mungkin hanya salah satu keinginan nafsu untuk dianggap hebat. Bagiku kurban adalah sebuah jalan bagi kita untuk memberikan rejeki terbaik kita guna mendekatkan diri kepada Allah, bukan memaksakan diri kita dengan cara hutang.
Ul, dari dulu penyembelihan kurban selalu kita lakukan bergiliran, tahun ini kurban atas namaku, tahun depan atas namamu dan tahun berikutnya atas nama Lana. Tahun ini sebenarnya adalah giliranmu Ul, dan maaf tahun ini tampaknya aku gagal melaksanakannya, kecuali Allah menentukan lain.
Ul, aku hanya berharap semoga tahun ini adalah tahun terakhir keluarga kita tidak mampu melakukan penyembelihan kurban, aku hanya berharap bahwa tahun ini adalah tahun terakhir keluarga kita gagal melaksanakan kurban. Aku berharap tahun-tahun selanjutnya Allah akan memberi kemudahan sehingga keluarga kita selalu bisa melaksanakan penyembelihan kurban. Sungguh aku berharap itu ya Allah. Dan jika akhirnya tahun ini keluarga kita benar-benar tidak bisa melaksanakan kurban, maka giliranmu untuk berkurban kita undur sampai tahun depan. Ga pa pa ya...
Sekali lagi, maafkan aku Ul, sungguh tak ada maksudku untuk melalaikan apa yang sudah kita sepakati, aku sungguh menyesal dan insya Allah tak akan ku biarkan hal seperti ini terjadi pada tahun-tahun yang akan datang. Ul, aku berjanji bahwa ini adalah tahun terakhir keluarga kita tidak bisa melaksanakan penyembelihan kurban.
Tapi aku tetap berharap semoga Allah memberikan jalan bagiku agar mampu melaksanakan kurban tahun, meskipun secara nalar sudah tidak mungkin bagiku untuk melaksanakannya....

Ul, peluk cium dariku, dengan segenap rindu membuncah di kalbu
Love you as always.....

Jumat, 19 Oktober 2012

Ul, kalau lagi sakit kayak gini, benar-benar aku butuh hadirmu. Bukan untuk merawatku, bukan pula untuk melayaniku, tapi melihatmu akan mengurangi rasa sakitku, menikmati senyummu adalah obat paling manjur untuk mengobati sakitku, mendengar suaramu adalah hembusan paling nyaman yang akan menenangkan gelisahku. Bersamamu adalah keadaan paling nyaman  bagiku.

Ul, hari ini benar-benar ku merindumu,
..............................

Curhat hari ini

Hai Ul, hari ini sebenare q pengen coba nata kembang, tapi sejak subuh tadi untuku kumat. Ga seperti biasane, kali sampai sakit bukan main sampai kepala pusing, mata berkunang, terus badan lemes, padahal dah kumur pakai air garam (biasane manjur) terus tak kasih amox dan paracetamol (langkah berikute nak air garam ga manjur), dan tetapi saja masih sakit bukan main. Tapi kali ini dah agak mendingan so bisa mulai cerita ke kamu. Mungkin karena matahari wis panas (biasane jika sakit gigi memang kalau siang ga terlalu terasa tapi menjelang sore kambung lagi og).
Ul, tadi malam aku mimpi Jun ngecall aku tapi ketika tak angkat dia ga ngomong apa-apa cuma nangis. Aku ga tahu sebenarnya apa yang terjadi tapi setelah itu aku bangun dan sms ke Jun menanyakan kabar, ya....masih saja ga mau balas dia. Aku cuma berharap bahwa mimpi itu bukan apa-apa hanya sekedar bunga tidur akibat kepikiran karena ga pernah bisa berkomunikasi dengan Jun beberapa hari ini.
Ul, tetap saja aku ga bisa menghindari rasa penasaran dan kepikiran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku juga ga bisa memastikan apakah email yang tak kirim dibaca atau tidak oleh Jun, tapi kemarin sekitar jam 10 an tiba-tiba perasaanku ga enak. Perasaan yang biasanya terjadi ketika ada orang yang marah atau lagi ada sesuatu denganku, dan jika itu terkait emailku ke Jun maka ada kemungkinan ia sudah membacanya atau minimal ia sudah melihatnya.
Ah, entahlah Ul. Mungkin kesalahan terbesarku adalah karena tanpa sadar aku dalam beberapa hal aku telah menjadikan Jun sebagai penggantimu. Aku mulai merasakan kenyamanan ketika aku bercerita dengannya sebagaimana ketika aku bercerita kepadamu (ya tentu saja ada beberapa hal yang bisa kubagi denganmu namun tidak bisa kubagi dengan Jun).
Serius Ul, aku mulai menyadari hal itu ketika Jun mau berangkat ke Arizona, tiba-tiba aku ngerasa, wah kalau gini trus gimana aku bisa berbagi dengannya? Di awal-awal Jun di Arizona memang tidak ada kendala karena ia juga masih sering bercerita kepadaku dan komunikasi lancar, tapi beberapa waktu lalu keadaan mulai berubah dan aku harus mengakui bahwa apa yang tak perkirakan benar. Aku kehilangan tempat berbagi, kehilangan kenyamanan berbagi.
Ul, lihat saja tulisan di sini, baru beberapa hari saja sudah banyak posting yang tak lakukan, padahal sebelumnya sangat jarang aku ngepos di sini. Aku tidak bisa lagi bercerita padanya sehingga aku kembali menulis kepadamu di sini.
Ul, kadang terlintas juga dalam pikiranku bahwa Jun adalah perempuan yang engkau pilihkan untukku, makanya aku mulai merasakan bahwa rinduku padamu dapat ditawarkan ketika aku bisa berbicara dengannya. Aku mulai merasakan kebutuhan untuk selalu merasakan kehadirannya dalam sebuah komunikasi yang timbal balik sebagaimana aku membutuhkan kehadiranmu untuk melengkapi keutuhan jiwa. Maka ketiadaan komunikasi dengan Jun pun sekarang menjadi menggelisahkanku.
Tapi, sebenarnya masih ada satu lagi yang tak anggap jauh melampaui seluruh keinginanku untuk menjadikan Jun sebagai penggantimu, yaitu aku benar-benar tidak ingin hubungan baik yang terjadi selama ini (Jun yang mungkin menganggapku sebagai kakak dan aku yang memandangnya sebagai adik) rusak hanya karena keinginanku untuk menikahinya yang datang belakangan.
Ul, pernikahan bagiku menjadi tidak penting lagi jika kemudian mengungkapkannya saja sudah merusak hal-hal baik yang akan berusaha selalu aku pertahankan. Aku lebih memilih hubungan sebagai saudara yang sudah ada sejak lama daripada menginginkan hubungan suami isteri namun merusak hubungan persaudaraan yang ada.
Ul aku tetap tidak akan pernah rela jika keinginanku yang mulai muncul untuk menjadikan Jun isteriku merusak hubungan persaudaraan kami. Dan aku curiga hal ini sedikit banyak terkait dengan hal itu. Maka mungkin mestinya ku bunuh saja keinginanku agar hubungan kami kembali seperti sebelumnya.
Tapi bagaimana aku bisa membunuhnya Ul, karena sebenarnya saat ini belatinya ada di tangan Jun. Aku butuh bantuannya untuk membunuhnya. Cukup dengan mengatakan, 'Mas aku ga bisa nikah dengan pean', sudah selesai dan pandanganku kepadanya tidak akan lagi bias, aku akan melihatnya sebagai benar-benar hanya adikku, bukan bias seperti sekarang ini, pada satu sisi aku memandangnya sebagai adikku, tapi pada sisi lain aku juga melihatnya sebagai perempuan yang akan menjadi calon isteriku, karena dalam dirinya kurasakan hadirmu.
Atau kadang aku juga merasa jangan-jangan Jun juga memberi harapan padaku karena aku juga berpikir bahwa jika engkau ada dalam diri seorang perempuan maka tidak mungkin perempuan itu menolakku, karena tidak mungkin engkau menolakku. Namun sebagai perempuan, tentu ia tidak akan mampu dibandingkan atau diposisikan sebagai yang kedua, padahal ia sudah tahu bahwa jika ia mau menerimaku maka ia pasti akan berada dalam bayang-bayang perempuan lain yang ia gantikan (meskipun itu dirimu Ul, kakaknya sendiri yang sangat dikaguminya). Dan saat ini ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri untuk itu.
Ah entahlah Ul, aku juga ga ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Cuma semakin lama ia mendiamkanku semakin bingung dan gelisah aku. Meski tetap saja aku akan berusaha untuk berlaku sebagaimana biasa, menyapa lewat sms, fb, atau bahkan berkirim email.
Ah Ul, sungguh sebenarnya aku sangat ingin menceritakan semua ini pada Jun, cuma aku khawatir akan menjadi tambah runyam masalah karena saat ini cerita ini pasti penuh dengan bias.
Ul, aku hanya berharap ini cepat selesai sehingga hubunganku dengan Jun bisa kembali seperti sediakala.

Wis sik ya, I love so much as always 

Ul, tetap saja aku merindumu sepanjang waktu dalam tidur dan sadarku....