Jumat, 05 Juli 2013

It's about the Day

Ul, sebenarnya kemarin aku berencana bahwa hari ini aku akan mengajak Lana jalan-jalan ke Purwodadi, menyusuri tempat-tempat yang dulu biasa kita datangi, makan di tempat yang sangat kita sukai, namun meskipun akhirnya aku dan Lana ke Purwodadi, kami tidak jadi makan di Soto Bening Pak Di, aku hanya pergi untuk membeli USB Connector dan belanja di Luwes plus kemudian beli es tawon (kayake kita baru satu kali beli di sana, karena favorit kita Es Teler Pak Doyok).
Ul, kemarin aku berencana bahwa kami akan berangkat pukul 08.30 atau 09.00 kemudian muter-muter di beberapa tempat lalu pulang dan Jum'atan. Namun akhirnya kami baru berangkat pukul 13.30 karena waktu pagi aku masih belum benar-benar mampu mengendalikan diriku--rasane jek mangkel akibat apa yang terjadi kemarin--.
O ya Ul, belum tak critakan ya apa yang terjadi kemarin.
Gini, kemarin critane habis Ashar ada undangan untuk ke makam, biasanya Lana diam saja dan ga kepengin ikut, tapi ga tahu kenapa hari ini tiba-tiba pengin ikut. Awale pas tak bilang ga usah melu, ia mulai ngambek, tapi ketika tak suruh pulang ia pulang. Pas aku dan undangan yang lain mau berangkat, tiba-tiba Lana mendekat lagi dan kembali pengen ikut. Lana mulai mewak-mewek mau nangis, kemudian tak dekati--ia tahu bahwa aku tidak pengin ia ikut--ia malah lari dan mulai menangis. Aku terus mendekatinya kemudian ketika sudah dekat Lana malah nglesot, lalu tak gendong tak bawa pulang. Lana semakin keras nangise karena tahu bahwa ketika ia rewel dan tak gendong itu artinya aku akan memasukkannya ke kamar--beberapa kali memang aku memasukkan Lana ke kamar kemudian pintu tak tutup ketika aku tak lagi bisa mengendalikannya dan aku khawatir aku tidak dapat menahan marahku--. Kemudian Lana tak masukkan ke kamar lalu pintu tak tutup terus berangkat ikut ke makam.
Ul, biasanya ketika Lana tak masukkan ke kamar memang ia akan menangis keras minta keluar sampil kadang nendang pintu. Tapi kemarin yang dilakukan Lana berbeda dari biasanya. Ketika aku pulang dari kondangan, Lana sudah tidak menangis lagi, ia bersama mbak Nani di dapur. Aku tidak berpikir apa-apa karena biasanya ketika Lana tidak pernah ngrusak barang ketika 'tak kasih hukuman' agar berada di dalam kamar.
Ul, ketika kemudian aku masuk kamar aku kaget karena ada yang tidak beres di tampilan laptop, tampilannya seperti tampilan yang tidak memiliki VGA card. Tahu ga Ul yang membuat aku lebih kaget, ternyata posisi harddisk eksternal dan hp modem yang saat itu masuk terhubung dengan laptop tidak di tempat semula, keduanya ada di lantai, padahal asalnya berada di depan dan di atas speaker active, kemudian tak ambil dan ternyata mati. Tak cek lagi dengan cara menghubungkannya dengan arus listrik ternyata arusnya tidak masuk--brarti rusak, pikirku. Lalu aku lihat connector di mini usb hp modem, ternyata kondisinya seperti mau patah. Kemudian tak coba menghidupkan laptop, ternyata tidak bisa hidup, tampilan layarnya tetap sama. Aku curiga jangan-jangan laptop dibanting sehingga harddisk eksternal dan hp modem ikut kebanting dan jatuh ke lantai.
Aduh Ul, rasane kudu ngamuk aku tapi karena aku ga tahu peristiwanya langsung jadi aku masih bisa berpikir agak jernih untuk berpikir bahwa marah dan ngamuk ga ada gunanya. Lalu aku tanya ke Lana yang ada di dapur, Lana mau mbanting laptop ya, 'ya', jawab Lana. Rasane ga karuan, pengen ngamuk ga da gunanya, ga ngamuk mangkel bukan main. Tapi akhire tak biarkan saja, termasuk juga laptop dan modemnya.
Ul, baru setelah aku merasa tenang, aku mulai ngecek kembali kondisinya. Aku perhatikan baik-baik hp modem kemungkinan besar hanya rusak konektor usb ne (itu kesimpulan awalku) dan laptop kayake cuma rusak layar LED nya dan ternyata benar setelah tak coba dengan menggunakan monitor.
Tinggal memastikan apakah hp modem rusak atau hanya konektor usb nya. Akhire tadi pagi aku pinjam konektor usb milik Tolhah karena aku tahu ia punya konektor usb yang sama. Ketika tak coba ternyata arus listriknya bisa masuk, berarti benar dugaanku bahwa hp modem tidak apa-apa hanya konektor usb nya yang rusak.
Akhirnya tadi habis sholat Jum'at aku ngajak Lana ke Purwodadi untuk membeli konektor usb dan sekaligus belanja.
Ul, sungguh kadang aku benar-benar tidak mengerti bagaimana mesti menghadapi Lana. Beberapa hari ini memang Lana tidak seperti biasanya. Beberapa hari ini--terutama setelah sekolah libur.. O ya tahun ini Lana mau naik ke kelas 1 tapi belum sempat tak belikan seragam--Lana maunya ikut ke manapun aku pergi--apalagi kalau pas libur seperti ini mbak Nani kadang datangnya lebih dari jam 09.30 (kadang aku juga mulai agak jengah dengan kedatangan mbak Nani yang menurutku terlalu siang, tapi aku juga ga enak ngomong ke mbak Nani).
Ya Allah Ul, kadang aku ngerasa benar-benar tidak akan mampu untuk mengawal dan membimbing Lana sendirian, aku membutuhkan seseorang untuk bersamaku membimbing Lana, dan aku tahu bahwa seseorang itu awakmu Ul, ibunya. Lana hanya akan bisa berkembang secara maksimal menuju kehebatannya ketika ia kembali merasakan kehadiran ibu dan bapaknya secara lengkap, maka belakangan ini aku sering berharap dan memohon agar engkau kembali diijinkan untuk mewujud dalam nyataku dan Lana, agar engkau mewujud kembali dalam diri seseorang yang kemudian bersamaku kembali bersama-sama mengantarkan Lana menuju kehebatannya.
Sungguh Ul, aku mulai ragu dengan kemampuanku untuk mampu menahan segalanya sendiri--dan kau tahu kan meskipun aku bukan tipe orang yang senang bercerita kepada banyak orang, aku termasuk orang tak tidak pernah merasa mampu untuk menanggung semua sendiri. Makanya aku selalu bercerita kepada segala yang terjadi dan sungguh aku hanya butuh satu orang untuk mengatakan segala ceritaku--.
Ah Ul, aku merindumu, sungguh merindumu dalam segala wujud yang dipilihkan-Nya untuk bersemayam jiwamu.
Love you so much as always...

Selasa, 02 Juli 2013

Lagi pengen cerita ae

Ul, kadang aku ga ngerti apakah yang tak lakukan benar atau salah. Ada beberapa hal yang mungkin aku pun akan mengatakan salah dalam keadaan normal, dalam situasi sebagaimana mestinya, namun hanya karena aku berpikir mungkin inilah resiko paling kecil yang dapat aku tempuh, maka tetap saja itu aku lakukan.
Ul, kadang aku juga ga tahu apakah langkah yang tak ambil untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ku hadapi tepat atau tidak. Aku tahu bahwa beberapa langkah yang tak lakukan mungkin dianggap orang sebagai langkah salah--dalam dalam keadaan yang biasa mungkin aku juga akan mengatakan demikian--.
Ul, aku bangga dengan seluruh kerinduan yang tetap menyala di hatiku, rindu akan segala hal yang terkait dengannya. Aku yakin rindu ini adalah sebuah anugerah dari Allah untukku, sebuah jalan yang pada akhirnya akan membawaku pada jalan hidup dan takdirku. Aku yakin cinta yang kasih yang tertanam dalam hatiku untukmu adalah sebuah keabadian yang dianugerahkan, bukan sebuah pelanggaran yang dilarang. Aku yakin akan kesucian segala bentuk dan wujud cinta yang ada dalam hatiku.
Namun aku juga sadar Ul bahwa aku tetaplah manusia yang masih beraga, manusia yang masih berada dalam alam lahiri. Ada kebutuhan-kebutuhan lahiri dan badani yang tidak dapat ku ingkari. Ada kebutuhan-kebutuhan fisik dan ragawi yang tidak dapat dihilangkan sama sekali. Dan ada kebutuhan-kebutuhan fisik, ragawi, badani, lahiri yang tidak mungkin bisa ku penuhi sendiri, yang untuk memenuhinya aku membutuhkan orang lain--dan tetap saja aku hanya mampu berpikir bahwa orang lain itu adalah dirimu, engkau--.
Ul, ada saat-saat ketika kebutuhan-kebutuhan ini benar-benar menyita fokusku, menuntut pemenuhan yang--mungkin--tak lagi bisa kita lakukan. Namun mengingkari dan bersikap seakan-akan tidak ada kebutuhan ini adalah sebuah kebohongan dan membuatku lumpuh dan tak berdaya. Ada saat-saat di mana kebutuhan seperti ini harus mendapatkan haknya untuk dialirkan.
Dan kau tahu Ul, dalam hal ini--sampai saat ini--aku belum bisa menemukan cara untuk mengendalikannya, aku belum bisa menghilangkannya dengan begitu saja. Yang jelas, ada saat-saat di mana aku mesti mengalirkan hasrat kelelakianku dengan cara-cara yang tak biasa, dengan cara-cara yang dalam kondisi normal aku pun yang menganggapnya sebagai tidak tepat.
Ul, maafkan aku jika apa yang aku lakukan juga salah menurutmu. Aku sadar bahwa dalam beberapa hal apa yang aku lakukan kadang menumbuhkan segala bentuk pikiran tak terkendali. Pikiran yang dikendalikan oleh nafsu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperti itu.
Ul, terus terang hingga sekarang tak pernah terpikir olehku untuk mengalirkannya dengan orang lain selain dirimu--atau orang yang engkau pilihkan untukku sehingga aku merasakan hadirmu dalam dirinya--. Banyak hal yang terlintas dalam pikiran nafsuku, mulai dari yang paling liar sampai cara yang menurutku paling kecil resikonya--meskipun dalam beberapa kesempatan tetap saja mengganggu pikiran dan nalarku.
Ul, hingga saat ini mungkin yang aku lakukan--dalam bahasa syar'i--termasuk zina mata atau zina lisan. Tidak ada sedikit pun maksud untuk menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ringan, tetap ini ini merupakan kesalahan dalam kondisi normal--atau bahkan mungkin dalam kondisi apapun--. Aku juga tidak ingin membela diri atas apa yang selama ini aku lakukan mulai dari bermain imajinasi hingga membaca atau bahkan menonton video dan lainnya.
Ah Ul, kadang aku berpikir mungkin cara paling baik adalah memohon kepada Allah agar dihilangkan seluruh keinginan dan hasratku akan perempuan, biar cinta dan rinduku padamu abadi dalam jiwaku tanpa mesti disertai keinginan-keinginan yang bersifat badani dan ragawi.
Dan malam ini aku berharap kita bertemu dalam alam mimpi dan bawah sadarku.
Ul, mungkin cukup untuk kali ini ya, aku selalu merindumu dalam tiap desah nafasku, aku merindumu dalam aliran yang aku yakin ditetapkan oleh Ia yang Kasihnya melingkupi seluruh semesta raya.
Love you so much as always...

Kamis, 20 Juni 2013

it's about Lana 2


Hai Ul, aku yakin semakin berlimpah rahmat dan anugerah dalam istirahat panjangmu.
Aku harap aku tidak mengganggu seluruh kedamaian dan kenikmatan yang saat ini engkau nikmati.
Ul, tadi pagi ada acara perpisahan di TK, sangat ingin aku datang tapi ketika Lana tahu bahwa aku akan datang, ia malah bilang, 'nak karo bapak Lana ga mangkat'. Ya sebenarnya aku bisa saja datang setelah Lana berangkat bareng mbak Nani, tapi aku terlanjur bilang ke Lana, 'ya bapak ga ke TK, Lana berangkat karo bude' karena saat itu Lana sudah mulai menangis ketika aku bilang, 'aku tak ke TK ya'.
Ul, sungguh aku ngerasa bahwa aku benar-benar tidak mampu mendekati Lana, sehingga untuk hadir di acara perpisahan sekolahnya saja Lana ga mau. Sedih, pengen marah dan rasanya kecewa menekan dada, bukan kecewa dengan Lana, namun kecewa karena ternyata aku tidak mampu membuat Lana merasa nyaman bersamaku dalam hal-hal yang terkait dengan sekolah dan belajar.
Ul, aku ga tahu mesti bagaimana. Aku kadang merasa bahwa seringkali Lana memandangku sebagai seseorang yang benar-benar menakutkan, seseorang yang tidak boleh tahu persoalan apapun terkait dengan sekolah dan belajarnya. Kadang aku merasa bahwa Lana menganggap aku sebagai 'penghukum', seseorang yang tidak boleh mengetahui kesalahan dan kekurangannya dalam belajar, seseorang yang pasti akan menghukum dan memarahinya ketika ia tidak melakukan sesuatu sebagaimana yang dilakukan teman-temannya.
Ul, tampaknya apa yang kita sepakati dulu benar-benar telah mendarah daging dalam diri Lana, bahwa aku galak, akan marah jika ada kesalahan dan seterusnya. Semampuku aku berusaha untuk selalu bersikap lebih permisif terhadap beberapa kesalahan, namun tidak saja aku merasa Lana tidak pernah menganggapku sebagai seseorang yang bisa diberitahu hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya. Tetap saja Lana memandangku sebagai seorang bapak yang akan marah ketika ia melakukan kesalahan, ketika ia tidak mau melakukan rutinitas seperti ngaji fasolatan tiap habis magrib.
Benar memang beberapa kali aku marah dengan Lana—biasanya karena ia tidak mau ngaji beberapa hari atau tiba-tiba tidak mau berangkat sekolah—tapi, sungguh aku juga bingung, apakah aku mesti permisif terus terhadap apapun yang diinginkan Lana?
Ul, aku benar-benar bingung bagaimana cara mendidik dan membimbing Lana. Tak pikir saat ini memang Lana mendapat porsi pendidikan dan pendewasaan yang kurang berimbang. Aku menjadi seseorang yang bagi Lana dianggap sebagai seseorang yang menakutkan, seseorang yang ketika bertanya—selembut apapun aku coba—seakan-akan dianggapnya sebagai sebuah interogasi yang akan berakibat 'hukuman' jika ia menjawab. Akhirnya, terlalu sering ia diam ketika aku bertanya tentang segala sesuatu. Akhirnya ia menjadi tertutup untuk menceritakan apapun masalah yang dihadapi (biasanya Lana hanya bercerita padaku tentang hal-hal yang—menurutnya--akan membuatku senang dan tidak marah). Sementara mbak Nani menjadi segalanya bagi Lana, menjadi tempat pelarian Lana ketika mengalami masalah (meskipun tetap saja ia juga tidak bercerita apapun ke mbak Nani) namun biasanya selalu menangis dan lari ke mbak Nani, menjadi tempat bergantung untuk hal-hal yang sebenarnya sudah mulai bisa dilakukan sendiri oleh Lana, menjadi tempat bermanja yang tidak akan pernah menolak keinginan-keinginan Lana. Jelas aku tidak mungkin menyalahkan mbak Nani dalam hal ini, bahkan mungkin aku mesti berterima kasih kepada mbak Nani karena dalam beberapa hal ia melakukan sesuatu yang melebihi apa yang biasanya dilakukan seorang 'tukang momong'. Mungkin saja bagi mbak Nani, Lana lebih dari sekedar anak momongannya, namun tetap saja mbak Nani tidak bisa melepaskan kenyataan bahwa ia adalah 'emban' bagi Lana sehingga tidak mungkin mbak Nani menolak apapun permintaan Lana (apalagi ketika ia mulai merengek dan menangis) apalagi membentak Lana untuk menghentikan permintaannya.
Ah Ul, aku benar-benar tak tahu mesti bagaimana.
Dengan Anip Lana juga memiliki kedekatan yang lebih dibandingkan dengan yang lain. Sebuah bentuk kedekatan yang menurutku berbeda dengan kedekatannya dengan mbak Nani. Kedekatan Lana dengan Anip adalah sebuah kedekatan untuk bermanja, sebuah kedekatan yang digunakannya untuk menceritakan beberapa hal yang kadang tidak diceritakan padaku, sebuah kedekatan yang bagi Lana berfungsi untuk 'wadul'--untuk mengadukan sesuatu--, sebuah kedekatan yang kadang sangat tendensius bagi seorang anak, sebuah kedekatan yang mungkin saja ia gunakan untuk mengalirkan kerinduannya padamu.
Ul, sungguh kadang aku benar-benar meragukan diriku sendiri dalam hal ini. Aku kadang meragukan kemampuanku untuk memberi pendidikan yang tepat bagi Lana. Seringkali aku tidak mampu untuk tidak mengeluh dan berharap mendapati seorang teman untuk mendidik Lana.
Ada saat-saat tertentu ketika aku benar-benar butuh bercerita, butuh sharing dengan seorang teman terkait dengan perkembangan Lana. Ada saat-saat tertentu ketika aku benar-benar memerlukan suara lain untuk meyakinkan kembali apa yang aku lakukan dalam mendidik Lana, merasakan bahwa aku tidak benar-benar sendiri dalam membimbing dan mendidik Lana.
Ul, mungkin bagi orang lain mudah untuk melakukan hal itu, mungkin bagi orang lain akan cepat dan mudah untuk menemukan teman sharing terkait dengan bagaimana mendidik anak, dan apalagi jika ia sendiri seorang guru. Tapi Ul, aku tetaplah aku, teman bagiku bukan sekedar seseorang yang sering bertemu dan dapat ku ujak bicara, teman bagiku adalah seseorang yang benar-benar mengerti tentang diri kita, mengerti cara berpikir dan paradigma yang kita gunakan, mengerti dan memahami apa yang bergejolak di hati, mengerti dan memahami bahkan sebelum sesuatu saling dikatakan.
Dan hanya dengan teman dengan kualitas seperti itulah aku mampu menceritakan segalanya, menceritakan kegelisahan dan kekhawatiranku, menceritakan suka dan dukaku, menceritakan angan dan mimpiku.
Ah Ul, aku benar-benar membutuhkan kembali hadirmu di sisiku, kayaknya hanya dengan bersamamu aku akan mampu mendidik dan mendewasakan Lana sebagaimana mestinya.
Ul, beberapa waktu Lana aku merasakan kenyaman yang hampir sama dengan kenyamanan yang aku rasakan saat bersamamu dan bercerita apa saja kepadamu. Aku merasakan kenyamanan itu ketika aku bercerita pada Jun, sehingga aku mampu menceritakan hampir semua yang aku rasakan kepadanya, sampai kadang aku lupa bahwa ia adalah Junaidah Nur, adikmu, adik iparku, bukan dirimu.
Ul, jujur aku katakan bahwa dalam segala kebingunganku saat ini, sangat ingin aku bercerita banyak hal pada Jun, namun aku berusaha sedapat mungkin untuk tidak melakukannya sehingga kadang aku rasakan ada bentangan jarak di antara aku dan Jun (mungkin aku yang membuatnya begitu). Aku tahu bahwa tidak benar jika kemudian aku selalu menceritakan segalanya pada Jun, karena ia bukan kamu. Tidak mungkin aku memaksakan kenyamananku padanya.
Ah entahlah....
Ul, sungguh hari-hari ini aku merasa bahwa aku tak akan sanggup untuk membawa Lana menuju kedewasaannya sendiri. Hari-hari ini aku sungguh merasa tidak akan mampu menghebatkan Lana seorang diri. Aku butuh teman, aku butuh hadirmu kembali. Aku butuh hadirmu bukan hanya menyatu dalam jiwaku, aku butuh hadirmu juga dirasakan oleh Lana. Karena menurutku hanya ketika kita bersama, kita akan mampu mendidik Lana menuju kehebatannya. Karena untuk dapat berkembang menuju pencapaian potensi maksimalnya Lana perlu merasakan kehadiran ibu yang selalu menyentuh rasa dan kesadarannya, selain kehadiran bapak yang akan menjaganya berada dalam garis dan koridor semestinya.
Ul, jelas aku tidak akan pernah mampu menjadi seorang ibu bagi Lana, seorang laki-laki tidak akan pernah mampu menyentuh hati anaknya sebagaimana seorang ibu menyentuhnya. Mungkin seorang bapak adalah raga bagi seorang anak sedang seorang ibu adalah jiwa bagi anak-anaknya. Hanya ketika keduanya hadir maka seorang anak akan menjadi manusia sempurna.
Ul, aku tidak tahu bagaimana memohon kepada Allah untuk mengkabulkan harapanku dan mungkin aku memang tidak layak untuk memohon seperti itu. Terlalu banyak noda dan dosa yang mungkin akan menjadi hijab bagi pengkabulan doaku, maka aku mohon padamu, mohonlah perkenan pada Allah—karena aku yakin engkau jauh lebih layak untuk didengar dan dikabulkan doa dan harapan, karena aku yakin engkau jauh lebih dekat dengan-Nya daripada kami yang berada di alam fana—agar engkau diperkenankan kembali hadir di sisiku, agar aku dan Lana kembali mampu merasakan hadirmu, agar kita kembali bisa bersama-sama menghantarkan Lana menuju segala kehebatannya.
Ul, tak tahu lagi bagaimana aku mesti menceritakan rinduku padamu. Jangan khawatir ini bukan kesyirikan, ini hanyalah wujud syukurku atas anugerah rindu.

Peluk cium dariku untukmu, aku berharap malam ini aku terbang menuju istanamu....

Selasa, 11 Juni 2013

it's about Lana


Ul, kadang aku benar-benar khawatir dengan Lana. Kadang aku benar-benar takut tidak mampu memberi pendidikan dengan baik untuk Lana, sebuah pendidikan yang memberdayakan, sebuah pendidikan yang membuatnya benar-benar menjadi dirinya sendiri, sebuah pendidikan yang membuat perkembangan diri dan potensinya tumbuh dan berkembang secara maksimal. Kadang aku benar-benar takut karena hingga sekarang pun aku merasa belum mampu menemukan cara yang paling tepat untuk mendekati hatinya.
Ul, meski aku tahu bahwa Lana bukan aku, bukan kamu, bukan kita, namun beberapa bahkan seringkali aku melihat sifat-sifat kita ada dalam dirinya, sifat-sifat yang selama ini kita tahu dan mungkin membuat beberapa orang tidak mengerti dengan kita. Terlalu sering aku tidak mampu mengetahui apa yang sedang terjadi karena Lana juga terlalu sering tidak mau mengatakan masalah yang sedang dialami. Ia lebih memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri, tidak mengatakan pada siapapun apalagi padaku, namun kadang-kadang—mungkin ketika Lana merasa berat dengan apa yang terjadi—tiba-tiba ia marah tak jelas, diam atau bahkan menangis tanpa pernah mengatakan mengapa ia seperti itu.
Ul, sungguh aku juga ga ngerti mengapa demikian. Apakah yang selama ini aku ambil dalam pola komunikasiku dengan Lana salah atau bagaimana? Kadang aku merasa bahwa selembut apapun aku berusaha mendekati Lana agar ia mau berbicara denganku ketika terjadi masalah, tetap saja aku merasa gagal karena aku merasakan penolakan dari Lana untuk bercerita. Aku kadang merasa bahwa Lana memandangku sebagai seseorang yang tidak boleh tahu kalau ia punya masalah, seseorang yang hanya boleh mengetahui sesuatu tentang apa yang sudah ia lakukan dan berhasil. Bahkan ketika Lana bermain dengan teman-temannya kemudian ada salah satu temannya atau bahkan ia sendiri yang nangis pun, Lana selalu menjawab tak ada apa-apa ketika aku bertanya ada apa?.
Ul, apakah yang sekarang terjadi merupakan efek dari pembagian peran yang pernah kita bicarakan dulu? Efek dari pembagian peran bahwa dalam sebuah rumah harus ada seseorang yang ditakuti ketika anggota keluarga (baca; anak) melakukan kesalahan, melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hendak kita bangun di rumah kita, selain tentu saja harus ada seseorang lainnya yang akan menjadi tempat mengadu, tempat mengeluh, tempat berbicara ketika anak kita mengalami masalah, menghadapi persoalan. Dan dulu kita sepakat bahwa aku mengambil peran sebagai orang yang pertama dan engkau menjadi orang yang kedua. Ah, entahlah Ul, aku juga ga ngerti.
Ul, apa yang mestinya dapat aku lakukan agar aku bisa membuat Lana benar-benar nyaman untuk bersamaku. Merasa nyaman untuk berbicara dan menceritakan segala sesuatu yang terjadi, tidak merasa takut ketika ia melakukan kesalahan kemudian menceritakan kesalahannya. Merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang terjadi di sekolahnya, merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang tidak bisa ia lakukan di sekolah dan TPQ.
Ul, aku kadang juga merasa bingung bagaimana mengajarkan kemandirian pada Lana, mengingat ketergantungan Lana dengan mbak Nani luar biasa. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menyalahkan mbak Nani. Apa yang dilakukan mbak Nani kepada Lana tidak lebih dari apa yang mesti dilakukan oleh seorang ‘emban’ kepada momongannya. Aku tahu mbak Nani tidak akan pernah marah kepada Lana, mbak Nani tidak akan pernah membentak Lana, mbak Nani akan cenderung menuruti apa mau Lana selama menurut mbak Nani permintaan Lana bukan hal-hal yang buruk. Makanya sampai sekarang, jika bersama mbak Nani Lana tetap saja makan minta disuapin, jajan selalu diturutin (meskipun masih tetap dalam kategori wajar, menurutku), sekolah masih minta ditemenin (kalau tidak ada mbak Nani belum juga mau berangkat).
Ul, bukan berarti kemudian Lana tidak berkembang. Beberapa bulan ini meski mbak Nani belum datang, Lana sudah bisa tak tinggal berangkat ke sekolah (ya mbak Nani seperti itulah kadang datangnya agar terlambat, kadang jam 7 lebih mbak Nani belum datang padahal aku harus ngajar pagi, dan kamu tahu kan aku paling tidak bisa ngomong masalah ini ke mbak Nani, karena—seperti yang pernah kita bicarakan—kita yang butuh mbak Nani, kita yang butuh bantuannya maka kita akan coba mengerti posisinya—tentu saja dalam batas-batas yang masih dapat kita terima).
Kau tahu Ul, untuk urusan mandi dan makan, ketika Lana mesti mandi denganku saat pagi sebelum sekolah—meskipun tetap saja ia berusaha untuk mengulur waktu (kayake rasa malas mandi yang dulu pernah kita alami menurun pada Lana, sehingga cukup susah untuk nyuruh Lana mandi terutama pagi)—Lana bisa mandi dengan cepat, berbeda dengan mandi sore ketika mbak Nani yang mandiin Lana, ada saja alasan untuk mengulurnya, entah makan dulu, entah apa dulu, padahal sudah menjelang jam 4 dan ia mesti ke TPQ. Untuk urusan makan juga tidak jauh beda, ketika sarapan Lana akan makan sendiri dengan lahap—asal apa yang ia inginkan dituruti (misal jika pengen sarapan mie yang dikinkan mie, pengen nasi goreng dibuatkan nasi goreng, pengen lontong dibelikan lontong), sedang ketika mesti makan bareng mbak Nani, masih saja mbak Nani harus mengikutinya kemana –mana dan mesti disuapin.
Ul, terus terang kadang aku masih mempertanyakan benar apa salah ya aku memasukkan Lana ke TK di pagi hari kemudian pada sore hari mesti berangkat lagi ke TPQ. Kadang aku merasa Lana sendiri kadang ogah-ogahan untuk berangkat ke TK maupun TPQ. Tapi aku juga tidak tahu apa yang mesti aku lakukan jika aku tidak memasukkan Lana pada TK dan TPQ, Lana tidak mau belajar denganku (itu juga sering membuatku bingung, apakah Lana tidak mau belajar denganku karena aku tidak memiliki cara mengajar anak dengan menarik ataukah posisinya sebagai orang pertama seperti yang pernah kita sepakati dulu?).
Ya mbak Nani juga ngajari Lana membaca dan menulis, Cuma yang diajarkan mbak Nani membaca dan menulis latin, sedang arabnya tidak. Sampai sekarang pun sebenarnya aku masih meragukan efektifitas belajar Lana di TK dan TPQ. Mungkin di TK masih lebih baik karena sekarang Lana sudah mulai bisa menulis dan mengenal huruf, meskipun membacanya belum bisa (dan tak pikir itu tidak apa-apa, dulu saja kita baru diajari nulis dan membaca pada kelas 1 MI), namun yang kadang membuatku benar-benar sedih adalah sampai sekarang Lana belum pernah mau mengaji dengan gurunya di TPQ, jadi dalam satu tahun ini satu jilidpun belum ada yang ia selesaikan. Pernah sekali waktu yang menyusul ke TPQ dan meminta mbak Nani pulang dulu. Akibatnya malah Lana ngangis keras sekali di TPQ, setelah itu aku tidak lagi mencoba untuk melakukannya (sebenarnya aku juga ga enak dengan mbak Nani karena tiap hari ia mesti pulang menjelang magrib. TPQ kadang selesainya jam 5.20 sampai rumah jam 5.30 padahal sekarang magrib jam 5.35).
Ul, kadang aku berpikir bahwa aku tidak akan bisa mendidik Lana dengan baik kalo masih seperti ini. Dan jika seperti ini terus maka aku membutuhkan seseorang yang mau membantuku untuk mendidik Lana, seseorang yang akan mengambil peran sebagai orang kedua di rumah kita, dan itu jelas bukan mbak Nani, dan itu juga jelas bukan seorang guru sekolah, bukan seorang guru mata pelajaran, seseorang yang mau mengambil peranmu sebagai orang kedua di rumah kita. Seseorang yang dengannya Lana bisa tersentuh hatinya, seseorang yang dengannya Lana bisa bercerita apa saja, seseorang yang dengannya Lana mau merasa nyaman untuk berbagi personalan.
Ul, aku tidak hendak mengatakan bahwa aku akan menikah lagi, bagiku saat ini menikah atau tidak itu bukan masalah. Urusan pribadiku hari ini tidak terlalu penting lagi. Yang jelas mungkin jika aku tidak mampu menjadi orang pertama sekaligus orang kedua di rumah kita bagi Lana, maka jelas aku butuh seseorang untuk untuk mengambil peranmu sebagai orang kedua di rumah bagi Lana, seseorang yang dengan rela mau mengambil peran itu, tidak masalah laki-laki ataupun perempuan.
Dan kalaupun aku mesti menikah lagi, maka aku pasti akan menikahi perempuan yang di dalam dirinya aku merasakah kehadiranmu, aku pasti akan menikahi perempuan yang aku rasakan detakmu dalam denyutnya, aku pasti akan menikahi perempuan yang mampu menyentuh hatiku dengan sentuhanmu.
Ul, aku hanya berharap bahwa aku segera menemukan cara mendidik Lana dengan tepat. Mendidik bukan sekedar menyekolahkan, mendidik bukan sekedar mengajarkan. Lana adalah matahari bagi kelam jiwa kita, sinar bagi kedua mata kita, detak yang berasal dari denyut kita, dan ia mesti lebih hebat dari kita.
Ah Ul, mungkin yang mampu aku lakukan sekarang barulah mengalirkan doa-doa untuk Lana, mengalirkan harapan-harapan dalam setiap harap setiap habis shalat. Kadang aku juga merasa benar-benar seperti tak lagi mampu menahan beban ini sehingga kadang aku juga merasakan begitu butuh seseorang untuk sekedar bercerita, dan kau tahu aku masih saja seperti dulu, tidak bisa bercerita apapun tentang segala masalahku selain kepadamu…
Ah, wis disik ya, sudah subuh ini, kapan-kapan aku pasti aku menulis dan bercerita lagi...
Love you so much as always. Aku mencintaimu sebagaimana kayu mencintai api yang menjadikannya abu.
Aku merindumu dalam tiap jengkal langkahku, dalam tiap tarik nafasku, dalam tiap tetes darahku…
Aku mencintai dan merindumu, semoga menjadi wujud syukurku atas anugerah keabadian cinta rindu dalam jiwaku dari Tuhanku….

Kamis, 30 Mei 2013

dalam diam ku ceritakan semua

Ul, terlalu banyak yang ingin aku ceritakan padamu hingga akhirnya aku hanya mampu membisu....
atau ku tulis saja clue nya ya...
rindu padamu
lana dan perkembangannya
mts dan arahnya
jun dan diamnya
jumudku dan ketakutan-ketakutan baruku
mimpi-mimpi kita dan apa mesti untuk mewujudkannya

ah....
sudahlah biar dalam diam aku berbagi dan menceritakan segalanya kepadamu
dingin jiwaku merindu hangat pelukmu
sepi relungku menanti gempita hadirmu

love you as always
miss you so much

Kamis, 23 Mei 2013

rindu lagi...

Ul, ah belum juga mampu ku ubah cara merinduku. Masih saja seperti dulu. Semakin rindu semakin membeku. Semakin rindu semakin tumpul nalarku. Semakin rindu semakin akan memilih diam dan tidak melakukan apapun. Semakin rindu semakin abai aku akan segala yang terjadi di sekitarku. Semakin rindu semakin luruh seluruh daya dan kepekaanku.
Ul, ah masih saja tak mampu kutemukan cara agar rinduku menjadi sebuah picu. Masih saja seperti dulu. Rinduku menguasai seluruh jaring dan saraf hidupku. dan tiba-tiba banyak ketakutan menghampiriku. Membuatku semakin larut dan terpuruk dalam diam, tanpa tindakan, tanpa amalan.
Ul, semakin takut aku akan segala rindu yang menyelimutiku. Segala rindu yang tertuju padamu. Takut aku jika pada akhirnya rindu membunuhku dalam diamku, tanpa ada bekas kemanfaatan atas kehadiranku, tanpa ada kewajiban yang mampu aku lakukan karena diamku. Takut aku jika pada akhirnya rindu membelengguku, menjebakku dalam kebekuan tanpa aliran hangat yang mencairkanku.
Ul, semakin takut aku akan segala rinduku padamu. Semakin rindu semakin tak ku gunakan nalar pikirku, semakin tak ku pedulikan diriku, semakin abai aku akan segala yang ada di sekitarku, semakin abai aku akan semua kewajiban dan tanggung jawabku. Semakin rindu, semakin aku tak tahu. Hanya rindu yang aku tahu, hanya denyut menyengat yang aku rasa, hanya gelisah luar biasa yang mendera dada.
Maafkan aku Ul, dalam rindu aku tak mampu melakukan sesuatu, maafkan aku belum juga ku temukan cara agar semakin rindu semakin banyak kemanfaatan yang kulakukan bagi sekitarku, maafkan aku jika amanat dan tanggung jawab belum mampu aku lakukan dengan segenap raga jiwaku.
Maafkan aku....

Kamis, 02 Mei 2013

rinduku tak tertahan lagi...

Ul, tak tahu lagi apa yang mesti ku katakan padamu. Aku merindumu, sangat merindumu. Aku merindumu seperti kala itu. Aku begitu merindumu seakan engkau akan tinggalkan ku kembali.
Ul, dua minggu ini aku benar-benar merindumu, merindu seluruh apapun yang ada dalam dirimu, hanya tangis yang sering mewakiliku, habis kata, kelu lidah.
Ul, mungkin mestinya aku 'mengeluhkan' ini pada Allah, Tuhan sekalian alam, tapi aku tak sanggup melakukannya. Begitu banyak nikmat, anugerah dan segala kemurahan dicurahkan oleh-Nya padaku dan belum sedikitpun syukur ku lakukan, lalu bagaimana aku mampu kembali 'mengeluhkan' segala rinduku.
Aku hanya berani bercerita padamu, pada jiwaku karena aku yakin dengan bercerita padamu pun Ia pasti mendengarnya, atau sampaikan pada-Nya seluruh rinduku padamu, biar Ia tetapkan titah-Nya bagi cinta kita.
Ul, mana berani aku 'mengeluh' kepada Tuhanku karena segalanya pasti yang terbaik untuk kita, tapi aku merindumu Ul, benar-benar merindumu dan hanya air mata yang bisa mewakiliki. Ini bukan kesedihan sayang, hanya kerinduan yang saaangat dalam.
Entahlah Ul, dua minggu ini benar-benar seluruh hariku adalah kerinduan padamu, terserah orang mau bilang aku kafir dan mensyirikkan Tuhan. Tak pernah aku peduli Ul, tidak pernah. Aku yakin seluruh getar rinduku adalah atas kehendak-Nya. Jadi tidak mungkin rinduku akan menjauhkanku dari-Nya. Aku merindumu Ul, dalam tiap tetes air yang mengalir dari mataku. Aku merindumu, anugerah keabadian cinta yang Ia tanam dalam jiwaku.
Aku merindumu Ul hingga tak tahu lagi aku mesti berbuat apa, bahkan Lana pun tak mampu menyisihkan rinduku padamu. Bahkan Lana pun tak cukup mampu membuatku benar-benar kembali tertawa.
Ul, aku merindumu, begitu merindumu hingga seakan-akan engkau akan meninggalkanku kembali, di jiwa, di raga, aku merindumu...