Sabtu, 21 November 2020

Lama tak Jumpa

Semoga keselamtan dan kesejahteraan senantiasa dilimpahkan oleh Is Sang Maha Segala kepadamu dalam masa penantianmu menuju pertemuan dengan Sang Sejati.

Hai Ul, entah sudah berapa lama aku tak lagi menulis, bercerita, berbagi kisah. Bahkan mungkin kemampuanku untuk bercerita entah masih runtut atau malah sudah meloncat-loncat tak karuan karena terlalu lama tak digunakan dan tak difungsikan.

Ul, banyak hal terjadi dan berjalan dalam garis yang telah ditentukan oleh Sang Maha Kasih, karena tak ada satupun yang dapat berjalan tanpa seizin Ia yang Maha Segala. Aku yakin engkau lebih memahami dan menggerti itu daripada aku, karena engkau telah berada di tempat yang lebih dekat dengan-Nya.

Ul, sungguh aku berusaha untuk senantiasa menjalani garis yang ditentukan-Nya dengan penuh syukur dan rela, memandang segala yang terjadi sebagai sebuah proses niscaya menjalani takdir dan peran yang digariskan-Nya.

Ul, alhamdulillah perkembangan Lana--dengan segala kelebihan dan kekurangannya (menurut anggapanku)--berjalan dengan baik, dengan senantiasa berharap dan memanjat doa, semoga nama yang kita sematkan kepadanya menjadi do'a yang akhirnya dikabulkan oleh Ia Sang Maha Pengkabul Doa.

Ul, aku yakin engkau senantiasa memanjat doa dan harapan agar segala kebaikan dan keberkahan tercurah kepada Lana--tentu saja atas perkenan dan Ridlo Ia Maha Kasih dan Penuh Cinta--. 

Ul, kadang terlintas pikir untuk mencoba memastikan segala keberhasilan akan dicapai Lana pada akhirnya, namun aku sadar bahwa pada hakikatnya hanya Ia yang mampu memastikan segala/ Semoga Sang Maha Pengkabul Doa menghamparkan perkenannya untuk mengkabulkan doa-doa kita untuk Lana, putra kita, amanah yang dianugerahkan kepada kita.

Ul, aku yakin dan percaya bahwa amanah hanya diberikan pada siapa saja yang dipandang dan dianugerahi kemampuan untuk melaksanakannya. Maka ku panjat doa senantiasa, semoga perkenan dan ridlo senantiasi mengiringi langkah-langkah kita.

Ah, mungkin ini yang bisa aku tuliskan untukmu kali ini. Rinduku tetap membuncah kepadamu, cinta tetap bergelora--semoga benar-benar atas perkenan dan ridlo-Nya, semoga bukan hanya letupan-letupan nafsu dan ego diri.

Ul, mohon panjatkan doa juga untukku kepada Ia Sang Maha  Segala agar perkenan senantiasa mengiringi langkah-langkah kecilku menuju pemenuhan amanah juga menuju pencapaian peran dan takdir yang telah digariskan oleh-Nya. Amin

lalu, apa lagi yang mesti ku lakukan selain berusaha senantiasa bersyukur dan memuji atas segala nikmat dan karunia. 

Semoga kita senantiasa berada dalam naungan kasih dan perlindungan-Nya


Senin, 13 Januari 2020

...dan menangislah Lana dalam kerinduannya...

Hai Ul, tiga tahun lebih tidak menulis dan bercita padamu. Tetap saja rindu sebagaimana dahulu,
ah....hari ini Lana menagis dalam kerinduan kepadamu, kepada ibunya. dan ....tidak tahu kenapa vidio di youtube tiba-tiba sirna.....padahal biasanya itu yang jadi penawar rindunya....

Jumat, 03 November 2017

Sayang....

adalah rindu yang mendetak selalu
dalam hati sepanjang waktu
adalah cinta yang tetap terpelihara
sebagai anugerah dari Sang Kuasa
tak ada waktu yang mampu
mengubah ataupun mengganggu
saat rindu telah ditaman
oleh Sang Pemilik Kehidupan
tak ada aral yang mampu melintang
saat cinta masih diperkenankan bersarang
dalam jiwa oleh Sang Penggenggam
kita hanya sekedar
sekedar jalani yang telah ditebar
dalam hamparan takdir kehidupan
kita hanya sebatas menerima
terima seluruh garis sebagai keindahan anugerah-Nya
terima setiap jalan yang dihamparkan-Nya

ah... aku rindu padamu
sepenuh hati dan jiwaku
ah...aku cinta padamu
sepenuh seluruh sebanding
anugerah dari Sang Pemegang Tangan

Senin, 02 Oktober 2017

Tanggung

Segala puji bagi Dzat yang di tangan-Nya ketetapan setiap makhluk yang ada. Shalawat dan salam senantiasa kita sanjungkan kepada ia yang kehadirannya merupakan rahmah bagi semesta raya.
Hai Ul, sayangku, cintaku, rinduku. Kadang memang aku ingin kembali memanggilmu dengan beragam panggilan yang seringkali engkau tolak namun sering dari sudut matamu engkau juga senang dengan panggilan-panggilan seperti itu.
Aku tahu, insya Allah engkau senantiasa berada dalam lindungan dan kehangatan kasih Sang Maha Segala, aku berharap engkau selalu menemani Lana dalam perkembangan dan perjalanannya.
Ul, aku tidak tahu bagaimana memulai cerita kali ini. Sungguh ada banyak hal yang ingin ku ceritakan kepadamu. Begitu banyak hal yang sangat ingin aku bagian kisahnya denganmu, bahkan saking banyaknya mungkin sampai aku tidak tahu lagi darimana dan bagaimana aku harus bercerita kepadamu.
Ul, ada saat ketika aku benar-benar merasa sendirian, merasa membutuhkan seseorang untuk sekedar bercerita, ada saat ketika aku benar-benar merasa membutuhkan kehadiran seseorang yang mau mendengar keluh kesah dan kisah, meski sering aku bilang bahwa idealnya keluh kesah hanya kepada Ia Sang Pemilik Segala.
Ah, sudahlah Ul, peluk cium dariku untukmu, 

Senin, 04 September 2017

Cerita tentang Lana

Hai Ul, semoga senantiasa engkau berada dalam naungan kasih sayang Sang Maha Penyayang, semoga senantiasa engkau dilimpahi dengan limpahan rahmat dari Sang Maha Pemberi Rahmat, semoga segala kebaikan senantiasa melingkupimu, amin.
Ul, bagaimana kabar? aku yakin--Isya Allah--engkau selalu dalam keadaan baik, aku yakin hari-harimu penuh dengan keindahan dan rahmat. 
Ul, beberapa hari ini--mungkin malah sudah hampir dua minggu--Lana kena borok di kepala. Awalnya hanya beberapa yang tak pikir akibat ketombe. Tak pikir setelah dikasih obat dalam beberapa hari akan sembuh dan masalah ketombe dapat diselesaikan dengan mengganti shampoo dan memberi minyak rambut. Urusan ketombe alhamdulillah sudah dapat teratasi, namun urusan borok ternyata tidak semudah itu. Memang setelah dikasih obat alhamdulillah borok menunjukkan seperti akan sembuh, sudah tidak lagi berair dan tidak lagi menyebar lebih banyak, namun yang jadi masalah ternyata Lana susah untuk menahan diri untuk tidak menggaruknya, apalagi saat tidur. Jadi ketika pagi hari setelah mandi tak kasih salep luka, sore hari mulai kelihatan hasilnya, namun pagi hari berikutnya--alih-alih semakin baik dan mengering--kembali borok menjadi luka baru, bahkan beberapa titik yang sebelumnya hampir sembuh menjadi terbuka akibat kena garuk waktu tidur. 
Ul, kadang aku agak bingung bagaimana mengatasinya. Benar memang bahwa segala kesembuhan berasal dari Allah, namun tidak salah juga bahwa proses kesembuhan juga mengikuti hukum alam (sunnatullah) bahwa sebuah luka mesti diupayakan agar cepat sembut dengan memberinya ramuan atau obat.
Ul, sudah dua kali tak minta Lana untuk mencukur rambut agar memudahkan untuk mengoleskan salep. Namun dua kali pula Lana tidak mau rambutnya dicukup plontos, jadi bisa jadi kulit kepala yang ada lukanya tidak teroles salep akibat terhalang rambut.
Ul, baru saja tadi aku agak kesal, bingung, jengkel atau apapun lah namanya. Sebelum tidur--untuk menjaga agar Lana tidak menggaruk kepala, aku bungkus tangannya dengan kaos, namun ketika aku 'nglilir' ternyata kain pembungkus tangannya sudah lepas semua, dan ketika aku menyentuh kepala Lana, ternyata luka borok yang kemarin sudah mulai kering kembali basah, dan ketika tak lihat ternyata banyak luka baru muncul akibat kena garukan tangan.
Ul, mungkin aku memang sering tidak sabaran, meski aku tahu bahwa ini adalah salah satu tanda bahwa memang belum saatnya borok Lana sembuh, bahwa ketika tiba waktunya--tentu semua merupakan kehendak Allah--maka borok di kepala Lana pasti sembuh. Namun, mengetahui bahwa semua terjadi atas kehendak Allah tidak lah sama dengan benar-benar meyakini bahwa semua adalah kehendak-Nya.
Ul, aku berharap semoga diberi kesabaran dan ketelatenan untuk merawat luka Lana. Dan juga berharap semoga engkau tidak bosan-bosan untuk selalu mendampingiku dalam membimbing dan menjaga Lana. Aku yakin engkau melihat semua yang terjadi bahkan penglihatanmu jauh lebih dalam dibandingkan apa yang bisa aku lakukan, karena engkau berada di tempat yang lebih dekat dengan Sang Pemilik Segala Penglihatan.
Ul, semoga senantiasa kita diperkenankan untuk selalu bersama, berjalan seiring untuk membimbing apa yang menjadi amanah bagi kita sebagai orang tua.
Oh ya Ul, sudah lama aku tak melihatmu di alam  yang memungkinkan kita bertemu, jelas aku rindu padamu, semoga engkau mendapat perkenan untuk bertemu denganku, agar dahaga rindu merasakan kesegaran mata air cinta yang mengalir bersama dengan hadirmu.
Sudah dulu ya, semoga Ia senantiasa melimpahkan segala kebaikanNya kepada kita, kepadamu, semoga kita senantiasa berada dalam naungan kasih dan sayangNya, semoga segala keburukan dihindarkan dari kita.
Love you so much....

Senin, 07 Agustus 2017

Ceritaku kali ini

Hai Ul, aku yakin insya Allah keadaanmu baik-baik saja bahkan mungkin jauh lebih baik lagi.
Ul, mulai tahun pelajaran ini aku sudah tidak lagi menjadi kepala MTs Putera Sunniyyah Selo. Memang aku sendiri yang merencanakan ini, tapi ternyata memang susah untuk menghilangkan kebiasaan memberi instruksi, memang susah untuk diam ketika ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, memang susah untuk tiba-tiba menunggu instruksi atas sesuatu yang biasanya memberi instruksi.
Dan tampaknya Tholhah juga masih dalam proses adaptasi, ada beberapa kali ia agak canggung ketika memutuskan sesuatu, ada kesan ada rasa ewuh pakewuh ketika ingin melangkah, tapi sekarang tampaknya ia mulai mengerti dan memahami posisi barunya.
Ul, tak pikir ketika aku sudah lagi menjadi kepala madrasah, aku bisa lebih banyak waktu untuk bersama Lana, berusaha memberikan bimbingan sebaik-baiknya sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua, tapi ternyata tidak semudah itu. Meskipun benar bahwa aku memiliki lebih banyak waktu bersama Lana--tentunya dibandingkan ketika masih jadi kepala madrasah--ternyata aku juga masih bingung mesti bagaimana mendampingi Lana. Kayaknya aku juga mesti kembali belajar bagaimana bisa bicara dengan baik, bagaimana bisa mendampingi proses belajar Lana, dan seterusnya. Kau tahu kan Ul bahwa aku dulu tidak termasuk orang yang tekun belajar, bahwa aku juga bukan termasuk orang yang tahu bagaimana cara belajar yang baik, sehingga akibatnya aku juga belum bisa mengajari Lana dengan baik, masih saja bingung bagaimana melakukan pendekatan kepada Lana sehingga ia benar-benar merasa nyaman ketika belajar bersama aku (ingat kan Ul, dulu kita pernah bersepakat bahwa kamu yang akan menjadi tempat akhir bagi Lana untuk mengadu dengan seluruh kelembutanmu sebagai ibu, sedang aku mendapat peran untuk menjadi pengawas dengan seluruh ketegasan sebagai bapak).
Belum lagi, Tholhah memintaku untuk tetap berada dalam sistem, ia memintaku untuk menjadi Wakabid Kurikulum (jabatan yang dulu dipegangnya), aku jelas tidak bisa menolak karena ketika aku mohon ijin pak Niam untuk berhenti, aku berjanji tetap akan membantu dan ikut menjaga perkembangan MTs Pa. Ternyata pekerjaan yang menjadi bagian bidang Kurikulum cukup banyak juga, dan membutuhkan waktu maupun pikiran yang cukup menyita, untungnya aku diberi staff, sehingga pekerjaan yang sifatnya administratif bisa tak minta staff mengerjakan. Selain itu, jam mengajarku juga membengkak, dari 8 jam pelajaran menjadi 36 jam pelajaran. Ternyata masuk kelas mulai jam 07.00 - 13.15 terus menerus melelahkan juga. Begitu sampai rumah paling hanya bisa bertanya ke Lana, shalat belum. Itupun jika Lana belum berangkat diniyyah.
Ul, memang benar tetap saja laki-laki selembut apapun tidak akan pernah menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, karena menurutku seorang ibu, sesibuk apapun ia tak pikir hati dan pikirannya akan senantiasa bersama dengan anak-anaknya, seorang ibu akan senantiasa menciptakan tali psikologis yang mengikat dirinya dengan anak-anaknya.
ah, entahlah Ul, selalu saja ketika menulis untukmu antara apa yang ingin aku ceritakan dan apa yang aku tuliskan selalu tidak pernah berimbang, begitu banyak yang ingin aku ceritakan, begitu banyak yang ingin aku bagikan, namun pada akhirnya begitu sedikit yang bisa aku tuliskan, begitu sedikit yang bisa aku kisahkan.
Semoga lain kali aku bisa bercerita lebih banyak lagi (dulu pun aku juga seperti ini kan Ul, saat bersamamu engkau yang selalu lebih banyak mampu menceritakan segala hal kepadaku, sedang aku--meskipun sebenarnya juga ingin bercerita banyak hal--pada akhirnya hanya mampu menceritakan beberapa hal saja, meskipun kata orang-orang aku ini banyak bicara).
Selamat kembali menikmati istirahatmu, jangan lupa dengan caramu ingatkan aku ketika apa yang aku lakukan keluar dari yang semestinya, mohonkan juga pada Ia Sang Maha Segala, semoga Ia berkenan menganugerahkan kepadaku kemampuan untuk menjalankan dan melaksanakan segala peran dan amanah yang ditetapkan untukku, semoga Ia senantiasa menghadirkanmu padaku. Amin
love you so much.....

Minggu, 02 Juli 2017

Rinduku kepadamu

rinduku kepadamu
tak tahu bagaimana aku mesti mengungkapkannya
rinduku kepadamu
entah bagaimana aku mampu menjelaskannya
rinduku kepadamu
tak mampu aku menjabarkannya dengan kata
rinduku kepadamu
adalah denyut yang mengalir dalam jiwa
rinduku kepadamu
adalah nafas yang menandai hidupnya sukma
rinduku kepadamu
.............

Kamis, 04 Mei 2017

ya, begitulah...

hai Ul, rindu padamu? ya mestilah.
banyak hal yang sangat ingin aku ceritakan, namun entah mengapa aku seperti kehilangan kemampuan untuk bercerita, entah mengapa aku seperti kehilangan kemampuan untuk merangkai kata, entah mengapa aku seperti kehilangan kemampuan untuk kembali membariskan huruf, menyusunnya menjadi kata, membariskannya menjadi kalimat dan akhirnya merangkainya menjadi sebuah cerita.
Ul, mungkin sebagaimana sebuah perjalanan, saat ini aku seperti mengalami proses putaran ke bawah sebuah roda, ada hal-hal yang tak rasakan sebagai sebuah kemunduran, baik dalam pengetahuan, pemahaman, semangat, maupun amalan-amalan. Banyak hal yang muncul di depannya seakan menunjukkan bahwa putaran roda memang telah melalui titik klimaksnya sehingga ini sudah mulai putaran turunnya. 
Ul, aku tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, seberapa kuat putaran naik yang bisa aku lakukan setelah roda sampai pada titik nadirnya, tapi rasanya memang perlu untuk mempersiapkan diri, untuk menata diri, untuk mencadangkan kekuatan yang lebih besar agar setelah sampai titik nadir roda kehidupan mampu melakukan putaran naik dan membuat lingkaran kehidupan menjadi lebih besar daripada lingkaran sebelumnya.
Ada beberapa hal yang kayaknya mesti aku lakukan, ada beberapa hal yang mesti aku lepaskan, ada beberapa hal yang mesti aku tinggalkan meskipun mungkin pada satu sisi aku masih sangat ingin untuk mengabaikan, untuk mempertahankan, untuk tetap memegang.
Jelas ada rasa khawatir, rasa takut, rasa eman ketika mencoba memutuskan untuk memulai sesuatu yang baru, untuk meninggalkan dan menanggalkan sesuatu yang saat ini telah berada dalam genggaman, tapi bukankah seperti pernah engkau katakan bahwa ketakutan bukan untuk dihindari, ketakutan hadir untuk kita hadapi.
Aku juga tahu Ul bahwa sebenarnya tingkat keberanianku untuk menghadapi kekhawatiran dan ketakutan jauh lebih rendah dibanding dengan keberanianmu untuk menghadapi keduanya. Aku tidak ingin beralasan kenapa seperti itu karena engkau juga tahu kadangkala alasan hanya sebuah topeng yang kita gunakan untuk menutupi kelemahan dan kekurangan kita, untuk membenarkan tindakan dan langkah yang sebenarnya kita ketahui kurang pas, kurang tepat, kurang benar.
Ah, entahlah Ul, mungkin itu yang bisa aku katakan, entahlah, mbuhlah...
peluk cium untukmu dalam segenap rindu...

Minggu, 15 Januari 2017

Kembali tentang Lana

Hai Ul, semoga senantiasa berlimpah dengan rahmah dan anugerah dari Dzat yang kasih sayang-Nya melampaui kemurkaan-Nya.
Ul, kali ini aku ingin bercerita tentang cahaya mata kita, Lana. Atas perkenan Ia yang seluruh takdir berada di tangan-Nya, aku yakin engkau juga tahu dan merasakan bahwa dalam beberapa hari ini selalu saja ada hal yang berkaitan dengan Lana yang membuat aku cenderung susah untuk mengendalikan diri.
Tadi saja aku habis nyubit Lana karena aku kembali tak mampu mengendalikan diri. Sebenarnya mungkin bukan sepenuhnya salah Lana, mungkin karena harapanku saja yang terlalu berlebih atas ia sementara aku belum melakukan apapun untuk mematutkan diri atas harapan yang aku sandarkan padanya.
Mungkin sebenarnya aku sendiri yang salah. Salah karena mungkin aku belum mampu memaksimalkan perhatianku kepadanya.
Sebenarnya mungkin masalahnya sederhana, selama ini aku merasa bahwa Lana sudah mampu membaca dengan cukup baik, meskipun aku tahu belum cukup lancar dan belum mampu dengan mudah memahami isi apa yang ia baca.
Ul, mungkin sekitar dua minggu lalu, aku menyuruh Lana untuk langsung belajar setelah mengaji. O ya, Lana kembali mengaji di rumah. Jadi setelah shalat magrib, Lana mengaji denganku di rumah. Sebelumnya ia ngaji di Thoha, karena guru ngaji di langgar sedang hamil tua dan sekarang baru melahirkan. Tapi karena yang ngaji di Thoha sering tidak ada teman, maka Lana tidak mau lagi dan memilih ngaji di rumah. Biasanya Lana mengaji Juz Amma kemudian lanjut denga fasholatan, dan kemudian diakhiri dengan hafalan surat-surat pendek. 
Pada hari-hari pertama Lana cukup bersemangat untuk belajar, apalagi ketika aku belikan ia lampu belajar. Ia membaca buku-buku ringan yang ia sukai namun bukan buku pelajaran. Setelah beberapa hari ia mulai agar malas dan cenderung ngeles ketika tak suruh belajar. Ketika aku minta ia membaca buku-buku pelajarannya, selalu saja ia cari-cari alasan.
Tadi, ketika aku memintanya belajar, dengan ogah-ogahan ia akhirnya belajar, namun tidak sampai lima menit katanya sudah selesai, lalu aku minta Lana untuk membaca keras denganku, ia menolak. 
Ketika aku memaksanya, Ul, aku kaget ketika aku tulis kata Sastra, kemudian minta Lana membaca satu suku kata pertama Sas, ia membacanya Sa dengan menyertakan huruf s, ku coba mengejakan suku kata 'bas' ia membacanya ba tanpa huruf s.
Aduh Ul, kamu tahu rasanya hampir meledak aku, campuran antara marah, kecewa, dan merasa bahwa aku belum melakukan hal terbaik untuk mendidik Lana. Apalagi ketika Lana mulai menangis--biasaya Lana ketika merasa tidak mampu melakukan sesuatu atau tidak mau maka ia akan mulai menangis meskipun tidak aku marahi--dan kau juga tahu Ul, ketika Lana mulai menangis maka seluruh fokusku pun akan hilang, bercampur antara perasaan marah, kasihan, dan entah rasa apalagi yang jika diterus-teruskan aku pun akan menangis pada akhirnya.
Ul, ketika itu aku mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri, aku dekati Lana kemudian aku cubit pahanya, ia menjerit dan menangis--sebenarnya hatiku juga menangis tapi aku juga ingin Lana mulai belajar untuk menyelesaikan masalahnya tidak dengan menangis tapi dengan berusaha keras menghadapinya--.
Setelah itu aku katakan kepadaya, Na sekalian ae tak ciwel genah larane nak nangis nangiso, ra usah nangis nak ra iso, tapi belajar ben iso, ra sah nangis nang angel, ngko nak wis iso mesti gak angel maneh.
Ul, kadang aku merasa seakan-akan tidak mampu untuk mendidik Lana dengan baik, kadang aku merasa bahwa hadirmu merupakan jawaban atas ketidakmampuanku ini, tapi bagaimana mungkin aku meragukan setiap ketetapan-Nya, bukankah segala yang terjadi adalah anugerah-Nya, jalan dan proses yang sudah ditata sedemikian rupa bagi kita untuk menuju takdir terbaik kita?
Ul, aku hanya berharap semoga Sang Maha Kasih mempenankan engkau sering hadir mengunjungiku, dalam tidur maupun sadarku, dalam kebersamaan wujud mimpi maupun kebersamaa rasa bersamamu.
O ya Ul, sekitar tiga bulan lalu Lana bilang bahwa ia mau khitan pas liburan sekolah bahkan sudah meminta tanggal 20 Desember untuk khitan. Banyak orang yang sudah ia beritahu, bahkan mas Fuad sempat bertanya kapan Lana khitan, tak jawab saja, lha lihat ae mas, aku ngerti Lana kok.
Ketika Anip mengajak Lana ke Pare saat liburan, ia sangat senang. Namun ketika mendekati waktunya, ia mengubah rencana dengan mengatakan bahwa ia akan khitan jadi ga bisa ke Pare (rencana ke Pare tanggal 19 Desember).
Kau tahu Ul, tanggal 18 Desember aku kembali bertanya ke Lana apakah ia jadi khitan atau tidak? Tahu apa jawabannya, 'sik bapak tak pikir-pikir sik'. Aku langsung kepikiran, ah....kayake ki ga sido.
Ternyata benar ketika pada tanggal 20 aku tanya lagi, ia bilang 'ga sah saiki bapak sok ae..'. Akhire ya gak jadi ke Pare sekaligus juga ga jadi khitan. he he he
Mungkin itu ceritaku kali ini, selamat menikmati kembali istiharatmu, maaf jika aku masih sering mengganggumu.
Kau tahu dan merasakan betapa cinta dan rinduku padamu merupakan salah satu anugerah terindah yang senantiasa akan berusaha aku syukuri.
Love you so much.....see you...

Rabu, 11 Januari 2017

Cerita Lagi

Hai Ul, semoga kelimpahan nikmat dan karunia selalu tercurah untukmu dalam naungan dan lindungan Sang Pemberi Segala.
Ul, tak rasa-rasake aku kok tambah kacau ya, kesombongan kayake mulai menguasai. Kesombongan yang dibungkus dengan kepura-puraan rendah hati.
Ah....mbuhlah Ul, pada satu sisi aku merasa bahwa aku memang tidak layak lagi untuk menjadi kepada. Ada banyak hal yang menurutku menjadi alasan ketidak layakanku. Mulai dari bahwa aku kehabisan waktu bersama Lana, padahal semakin hari Lana semakin membutuhkan kehadiranku, semakin hari Lana semakin perlu untuk didampingi. Ada orang yang bilang dan mengatakan padaku bahwa aku mestinya melakukan pendekatan dan memberi pengertian kepada Lana, tapi bukankah mestinya aku yang mengerti Lana, bukan sebaliknya? Bukankah mestinya orang tua yang mengerti anaknya, bukan sebaliknya anak yang harus mengerti orang tua?.
Lalu, pikiran-pikiranku tentang seks, tentang belaian perempuan kadang terlalu kuat membelitku. Aku gak ngerti ini wajar atau tidak, ini karena sebagai laki-laki aku membutuhkan belaian perempuan atau hanya sekedar nafsu yang tak terkendali, sehingga bahkan aku melakukan hal-hal yang dulu sama sekali tak pernah terpikirkan. Padahal menurutku seorang pemimpin, sekecil apapun bentuknya, bukan saja seorang yang menjadi titik akhir bagi berputarnya roda organisasi, lebih dari itu seorang pemimpin adalah ruh, jantung bagi organisasi atau kelompok yang dipimpinnya. Kamu tahu kan Ul, bagaimana fungsi jantung bagi tubuh dalam sebuah hadits, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan apabila dia rusak rusaklah seluruh tubuh.
Dalam kondisi seperti ini, bagiku jelas bahwa aku menjadi jantung yang tidak baik sehingga aku tidak berani untuk tetap menjadi jantung, mungkin kalau sekedar otak, ga pa pa lah, lagian dulu aku pernah bilang bahwa aku hanya bisa mengajar di dua tempat, di Sunniyyah dan di sekolah yang aku dirikan.
Selain itu Ul, menurutku ada beberapa orang yang lebih baik dari aku, terutama dalam kondisi psikisnya. Ada beberapa guru yang lebih stabil secara psikologis, ada yang lebih memiliki pengalaman dalam memimpin, ada yang ibadahnya jauh lebih baik dari yang mampu aku lakukan, ada yang lebih ikhlas dan loyal terhadap madrasah daripada yang bisa aku berikan.
Tapi Ul, pada sisi lain, aku mudah menceritakan hal itu kepada beberapa orang, Bu Sihah, Pak Niam, Kang Lih, Pak Muklis, mengenai hal-hal itu--terutama poin satu dan tiga--aku masih belum berani cerita ke orang lain mengenai poin kedua. Kembali hanya padamu aku bisa menceritaka semua.
Bukan masalah cerita yang membuat aku takut dan khawatir, tapi di balik cerita itu, tak rasakan semakin muncul keinginan untuk dipuji, untuk menunjukkan betapa baik aku, merasakan kebanggaan diri atas kehebatan yang sebenarnya tidak pernah aku miliki. Aku mulai benar-benar ingin disanjung, dikatakan sebagai orang yang aneh dalam arti baik, ikhlas, memperhatikan orang lain, mampu menghormati orang lain, dan serentetan pujian-pujian lainnya.
Aku takut Ul, aku takut kesombongan dan keangkuhan akan menggilasku, aku membakarku menjadi abu.
Ul, pada sisi lainnya--mungkin kau sudah tahu juga karena mungkin dari alammu kau bisa melihat da mendengar semua yang aku lakukan dan apa yang tersembunyi dari pandangan mata lahir orang-orang di sekitarku--aku juga merasakan kekhawatiran bagaimana jika benar aku sudah tidak lagi jadi kepala, bagaimana dengan penghasilan material, bagaimana dengan sikapku, apakah aku masih tetap biasa sebagaimana apa adanya, atau aku akan bersikap sebagaimana orang yang lagi mengalami post power sindrome.
Ah, entahlah Ul....thanks telah hadir kembali dan meluangkan waktu untuk menemuiku kembali di dunia antara yang memungkinkan pertemuan kita. Terima kasih atas segalanya. Sebenarnya ada banyak cerita lagi yang ingin aku tuliskan untukmu, meski mungkin tanpa tak kasih tahu engkaupun sudah tahu--dengan perkenan-Nya apa sih yang tidak mungkin--entah itu tentang Lana ataupun tentang aku, tentang kita. Tapi kali ini mungkin cukup ini saja dulu ya, miss you so much....

Ul, sungguh aku merindumu, betapa setiap denyutku selalu mengeluarkan fibrasi kuat dan indah setiap kali namamu membelai telingaku....dan aku yakin kau pun pasti tahu serta merasakannya.
Peluk cium dariku.............see you

Senin, 09 Januari 2017

...dan aku lupa....

...dan aku seperti lupa bagaimana cara menulis sayang, padahal ada banyak hal yang ingin aku goreskan.....

Selasa, 15 November 2016

ah....

hai Ul.....
seringkali hari-hari ini aku merasa seperti tak lagi berpegangan, limbung dalam melangkah.
aku rindu padamu.....dan kau tahu itu....entahlah benar atau salah, aku gak ngerti....
Ul, saat ragu mulai menyusup dalam relungku, ingatanku kembali padamu, dengan segala pengandaian jika...maka...
Aku ga ngerti Ul, ini mengeluh, memprotes, atau apa atas segala yang telah digariskan-Nya...
Semoga aku tidak melampaui batasku...semoga masih diperkenankan dalam saat-saat tertentu bagi kita untuk bersua, semoga....

Senin, 22 Agustus 2016

kembali engkau hadir

Hai Ul, semoga karunia senantiasa terlimpah kepadamu dari Ia yang dalam genggaman-Nya segala yang mewujud di semesta.
Terima kasih atas hadirmu di fajar ini, aku senang karena kali ini engkau hadir dengan segala senyuman dan keceriaan. Pengobat rindu, penyejuk kalbu yang sekaligus juga pembangkit rindu menggebu setelah bangunku.
Memang benar betapa mendalam cinta dan betapa menggebu rindu baru benar-benar kita rasakan saat kita berada dalam ketidak bersamaan. Sebagaimana saat kita tidak begitu menyadari ketergantungan kita pada udara sebelum udara mulai hilang dari sekitar kita.
Begitu pula dengan rindu dan cinta, saat kebersamaan masih kita nikmati, semua seakan berjalan biasa saja bahkan anugerah terbesar cinta yang berwujud kebersamaanpun seringkali tidak kita sadari sebagai sebuah anugerah.
Ul, engkau tetaplah jiwaku, penyempurna ruh sejati kemanusianku, pasangan bagi kelelakianku. Dulu, kini, dan entah sampai kapan di masa depan yang bukan wilayah kemampuanku untuk menentukan arahnya. Mungkin juga selamanya akan begitu, entah dengan cara apa dan bagaimana aku juga tak tahu.
Ul, cahaya mataku, suara bagi telingaku, keindahan jiwaku, udara nafasku, kekasih, isteri, teman, sekaligus 'musuh'ku. Segala bagiku, tak perlu kau tertawa seperti itu, engkau sudah mengenalku kan? Dan tak usah khawatir aku mensyirikkanmu dengan-Nya, kau juga tahu ini tidak seperti itu.
Ul, mencoba senantiasa aku menikmati dan mensyukuri cinta dan rindu yang ditanamkan dalam hatiku kepadamu, menikmati kebersamaan dan keterpisahan denganmu, menikmati setiap denyut menggetarkan saat detak kita bertemu atau berpisah menunggu sua entah kapan waktu.
Ul, sudah sejak lama aku tak lagi memiliki kata untuk mengungkap apa yang ada, kata hilang makna.
Ul, dalam kedekatanmu dengan Rabb, mohonkan agar perkenan mengalir untuk kita. Amin

Senin, 25 Juli 2016

Ternyata memang kami saling memberi harapan

Hai Ul, hampir saja aku berpikir bahwa mungkin aku tidak lagi akan menulis dan bercerita kepadamu. Maaf ya, ini kali pertama setelah lebih dari setahun atau dua tahun aku tidak menulis dan bercerita kepadamu.
Aku berharap dan selalu memohon kepada Ia yang seluruh kehidupan berada di tangan-Nya agar selalu berkenan menganugerahkan segala kebaikan dan kedamaian kepadamu dalam istirahat panjangmu.
Ul, hari ini aku baru menyadari satu hal bahwa ternyata aku dan Jun--entah sejak awal kami sadari atau tidak--memang saling memberi harapan, meskipun itu baru benar-benar aku sadari setelah harapan itu tidak kami ambil.
Ul, lebaran hari  8 kemarin Jun berkirim sms dan mengatakan ada yang pengin diomong. Sedikit banyak aku memang menduga bahwa apa akan diomong Jun akan terkait dengan awakmu, aku, dan Jun sendiri--yang kemudian aku sadari bahwa itu merupakan salah satu indikasi bahwa aku memang memiliki harapan untuk dapat bersama Jun--.
Dan kamu tahun kan Ul bahwa tebakanku  tidak meleset jauh, Jun memang ingin bicara tentang itu, berbicara tentang apa yang kami pikir merupakan keinginanmu bahwa kami mesti bersama dalam sebuah ikatan pernikahan untuk kemudian bersama membesarkan Lana, bahwa awakmu menginginkan Jun sebagai penggantimu sebagai isteriku dan juga sebagai ibu bagi Lana.
Ul, aku  yakin engkau tahu bahkan meski tidak aku ceritakan, dengan izin Sang Segala Maha aku yakin engkau melihat dan menyaksikan apa yang terjadi pada hari itu. Betapa Jun sangat berhati-hati untuk memulai mengatakan bahwa ia merasa menikah denganku merupakan sebuah ketidakmungkinan karena banyak yang jika dilakukan akan melukai banyak orang bahkan akan melukai diri kami sendiri.
Betapa Jun selama ini merasa sangat terbebani dengan pemahaman bahwa ia--suatu saat--mesti menikah denganku sebagai bentuk pelaksanaan dari apa yang ia anggap engkau inginkan dari kami.
Ul, kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama merasa bahwa pernikahan di antara kami mungkin merupakan sesuatu yang diharapkan oleh beberapa orang, namun juga merupakan hal yang tidak baik karena beberapa hal pula.
Ul, saat itu aku katakan kepada Jun bahwa ketika kami memutuskan untuk tidak menikah merupakan sebuah kesalahan, namun tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Pernikahan memang mesti dilaksanakan atas sebagai jalan untuk menemukan kebahagiaan bukan menatap penderitaan. 
Ul, aku menerima keputusan Jun dengan lapang dada saat itu, karena menurutku itu juga merupakan keputusan terbaik bagi kami saat ini. Aku katakan kepadanya bahwa setidaknya satu masalah yang cukup mengganggu dan membebaninya sudah terselesaikan. Setidaknya pula aku juga sudah dapat memastikan bahwa saat ini harapan untuk menikah dengannya hendaknya dihilangkan, dan semoga ini menjadi awal lagi bagi kami untuk kembali berhubungan sebagai kakak dan adik, bukan lagi saling memberi harapan yang belum juga mampu kami terima secara lapang.
Ul, tak pikir setelah itu masalah selesai, tak pikir setelah itu aku akan benar-benar bisa bersikap sebagaimana sikap seorang kakak kepada adiknya, demikian pula sebaliknya. Namun Ul, sehari kemudian aku menyadari bahwa ternyata ada  sesuatu yang hilang dalam diriku.
Kau tahu Ul, bahkan dalam beberapa hari ini aku mulai merasa bahwa sebenarnya--entah dengan rela atau karena satu dan lain hal--ternyata kami telah saling memberi harapan, sehingga ketika harapan itu hilan, maka kami--dalam bentuk yang tidak sama persis--merasakan ada sesuatu yang hilang dari diri kami (aku berharap bahwa hanya aku yang merasakannya, aku berharap Jun tidak mengalami ini).
Ul, satu hal lagi yang kemudian aku sadari bahwa ternyata aku belum benar-benar melepaskanmu. Ternyata aku telah menganggapmu telah larut dan menyatu dalam diri Jun, sehingga aku mulai tidak merasakan getarmu dan berganti getar Jun. Namun ketika Jun telah memutuskan bahwa tidak mungkin kami menikah, kembali getarmu mendetak keras dalam diriku. Ternyata kembali aku temukan bahwa dalam banyak hal aku masih berharap selalu bersamamu, Maafkan aku ya.
Ul, selalu banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, dan mungkin hanya padamu aku bisa bercerita. Semoga Allah senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk tetap saling bercerita. Maafkan aku jika mengusik ketenangan istirahatmu.
Ul, untuk Lana, tolong bantu aku membesarkan dan mendidiknya, tolong mohon perkenan Allah agar senantiasa ia memperkenankanmu untuk mendampingi Lana, biar ia pun selalu merasakan kehadiran kedua orang tuanya dalam setiap moment penting kehidupannya. Amin.

Biarlah rindu selalu menyatu dalam nafasku
biarlah kita senantiasa bersama dalam jiwa
peluk cium selalu dariku
untukmu jiwa yang dianugerahkan sebagai penyempurna jiwaku

Senin, 13 Oktober 2014

Ul....

Ul, ada saat-saat tertentu aku begitu merindukan kehadiranmu. Ada saat-saat tertentu kesendirian merupakan hal yang paling menyiksaku, sebagai jiwa maupun sebagai raga.
Ul, ada saat-saat tertentu ketika ingin kembali ku rasakan bahwa ada seseorang yang begitu memperhatikanku, mengkhawatirkan saat aku hendak melakukan sesuatu, mendoakan keselamatan dan kebaikan sepanjang waktu.
Ada saat-saat ketika lelakiku merindu dan membutuhkan perempuanmu, tubuh meranggas menantikan belai dan usapan tanganmu. Ada saat-saat ketika aliran nafas mesti berpacu dalam kebersamaan, bukan kesendirian.
Ah...entahlah....

Jumat, 05 September 2014

rindu

kadang rindu tak memberi kesempatan untuk menghindar diri
menghentak dada, menekan hati
kadang pun rindu tak mau tahu
pada siapa ia mesti dimaksudkan
bahkan aku pun terlalu sering tak tahu
ini rindumu atau rindu pada seseorang yang ku anggap sebagai dirimu
atau rindu pada hati yang menjadi bagian dari hatiku
ah, entahlah....
kan ku coba untuk menikmati setiap rindu yang mengalir di kalbu
kan ku coba syukuri setiap denyut yang menderu
kan ku coba untuk menyerahkan segala pada Ia Sang Segala

Senin, 11 Agustus 2014

Cerita, Lana dan Jun

Ul, semoga kesejahteraan dan kedamaian senantiasa tercurah untukmu, semoga senyum senantiasa menghias wajahmu, semoga Ia sang Maha Segala senantiasa menganugerahkan kebahagiaan dalam masa penantianmu.


Ul, mungkin hari-hari ini Lana kembali benar-benar merindumu dan mungkin saja beberapa hari ini ia mendapat ‘pelampiasan rindunya padamu’ dengan kehadiran Jun. Tahu ga Ul, beberapa hari ini Lana tampak sangat dekat dengan Jun—padahal biasanya tidak seperti itu, apalagi kalau ada Anip--.


Tadi malam, gara-gara Jun ingin memotong kuku Lana, tiba-tiba Lana diam, ngambek—biasa lah memang Lana agak susah kalau akan dipotong kukunya--. Awalnya memang tak anggap biasa, tapi kemudian Lana diam, ga ngrespon ketika diajak bicara, Cuma cemberut dan wajahnya mulai kelihatan pengen nangis. Akhirnya tak ajak pulang, dan sampai rumah pun ia masih seperti itu, meskipun sudah mulai mau bicara, itu pun bicara tentang hal-hal yang tidak terkait dengan kejadian di omah lor. 


Sekitar setengah jam kemudian, tiba-tiba Lana nangis tanpa sebab, dan seperti biasa Lana ga ngejawab apapun ketika tak tanya, ia cuma nangis dan memelukku (beberapa kali memang Lana seperti itu, menangis tiba-tiba tanpa aku tahu sebabnya). Setelah diam, Lana bilang ia ga bisa tidur, ga ngantuk, padahal siangnya ga tidur dan saat itu sudah lebih dari pukul sembilan (biasanya kalau siang ga tidur, jam 8 Lana sudah mulai ngantuk).


Ul, aku jadi berpikir bahwa mungkin Lana merasa lagi benar-benar merindumu dan apa yang dilakukan beberapa hari ini dengan Jun sedikit banyak merupakan bentuk pelampiasan dari rindunya, ia ingin bermanja-manja (sesuatu yang tidak ia dapatkan setelah engkau melintas alam), dan tiba-tiba tadi malam saat Lana juga bermanja-manja dengan Jun, tiba-tiba Jun ingin melakukan sesuatu yang tidak ia sukai sehingga membuat Lana menjadi kehilangan mood nya, lalu ngambek, ga mau ngomong, ga mau mendengar (mungkin Lana juga memprotes).


Ul, sebenarnya aku kepingin menceritakan hal-hal yang beberapa kali dilakukan Lana pada saat-saat—mungkin—ia lagi benar-benar merindumu kepada Jun, tapi aku merasa mungkin tidak tepat lagi untuk menceritakan hal-hal itu kepadanya. Aku ga enak, karena mungkin itu akan membebani pikirannya.


Ul, beberapa hari lalu—mungkin semingguan—Jun bercerita tentang beberapa hal yang hingga saat ini masih membebani pikirannya terkait dengan kita (aku, awakmu, dan Lana). Sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri, dan mungkin ada saat-saat ketika hal itu meledak dalam dirinya. O ya Ul, saat itu aku berkata kepada Jun bahwa aku mulai terpikir tentang pernikahan dan saat terpikir tentang hal itu maka yang muncul adalah dirinya.

Ul, Jun terdiam beberapa saat, kemudian mulai bercerita tentang hal-hal yang selama ini begitu membebani dan menekan pikirannya—terutama tentangmu, bebannya, keluhanmu, kegagalanku untuk membahagiakanmu, dan mungkin banyak hal lagi yang masih belum mampu ia ceritakan kepadaku terkait denganmu, dengan kehidupan rumah tangga kita yang engkau ceritakan kepadanya, terkait dengan Lana, terkait dengan segala keluhanku kepadanya.


Sungguh Ul, saat itu aku seperti kembali tersadar bahwa aku masih sangat banyak berhutang janji padamu, janji untuk mengejar mimpi-mimpi kita, janji untuk ikut menjadi dan membantu adik-adikmu, janji untuk menebus segala salahku atas setiap keputusan yang ku ambil—yang dulu ku anggap akan menjadi awal bagi kebahagiaan kita dan ternyata hanya membuatmu menderita--.


Ul, pengin juga aku ngomong ke Jun agar ia mau menceritakan segala hal yang mengganjal di hatinya kepadaku, siapa tahu dengan bercerita maka segala beban dan ganjalan di hati akan menjadi lebih ringan, lebih tidak membebani, tak perlu ia merasa ewuh pakewuh atas apa yang akan diceritakan, bahwa tidak mungkin bagiku untuk marah kepadanya—meskipun cerita itu terkait dengan kegagalanku untuk mensurgakan rumah kita--. Aku tahu Ul, bahwa aku mungkin yang paling bersalah atas semua yang terjadi, dan mungkin salah satu jalan yang bisa aku lakukan untuk menebusnya adalah dengan mendengarkan kembali segala kesalahanku yang kembali diceritakan Jun kepadaku, kesalahan-kesalahan yang beberapa mungkin sudah aku ketahui, dan beberapa mungkin belum aku sadari.


Ul, setelah aku bicara dengan Jun tentang itu, memang ada sedikit lega di hatiku karena satu hal menjadi lebih jelas bagiku, bahwa Jun sekarang menjadi tahu tentang ‘keinginan untuk menjadikannya isteriku’. Aku tahu Ul, ada beberapa hal yang mungkin akan membuat hal itu menjadi sekedar hayalan—dan yang paling jelas mungkin adalah bahwa Jun berusaha untuk tidak lagi tinggal dan menetap di Selo dan bahwa ia tidak pernah mau menjadi bayangan siapapun (termasuk menjadi bayanganmu—seseorang yang aku yakin sangat dikagumi dan sangat dicintainya).


Ul, sebenarnya aku sendiri juga tidak benar-benar bisa mengerti dan memahami apa yang ku rasakan. Saat kerinduanku padamu menggejolak, kurasakan juga kerinduan yang sama pada Jun, demikian juga sebaliknya, saat aku teringat dengan Jun maka sepertinya aku benar-benar kembali merasakan kerinduan yang menggelombang padamu. 


Ul, kembali aku bertanya pada diriku, benarkah pada akhirnya engkau benar-benar diperkenankan untuk kembali hadir bagiku dengan mewujud dalam diri Jun, atau aku sebenarnya mulai mencintai Jun sebagai laki-laki kepada seorang perempuan lalu mencari pembenaran dengan menganggap bahwa engkau telah mewujud dalam dirinya?


Ul, kembali ke Lana, ada cerita—entah ini menurutmu lucu atau tidak yang jelas saat hal ini terjadi aku ketawa--. Sekitar tiga atau empat hari lalu, ada undangan untuk srokalan (hajatan karena kelahiran bayi yang waktunya aga panjang sehingga selesainya sekitar jam 9 an), setelah pulang dari srokalan, sambil tiduran Lana berkata padaku; “Bapak golek ibu yuk?”, sebenarnya aku kaget darimana ide itu berasal, aku tetap diam dan Lana meneruskan; “Ngko ben nak bapak hajatan aku ono sing ngancani, ga dewean”. Aku bertanya, “Golek nang ngendi?”, Lana jawab; “ya sembarang, opo golek nang luwes?”. Aku ketawa sambil menjawal; “emang ibu kayak sabun golek nang Luwes” (mungkin pikiran anak-anak itu masih seperti itu, ia tahu bahwa di Luwes ada benda dan barang apapun yang dibutuhkan, karena itu mungkin dalam pikirannya ibu pun bisa dicari di sana, he he he). Tak pikir sudah selesai masalahnya, ternyata tanpa terduga Lana kembali bertanya; “lha bapak ndek kae golek ibu nang ngendi?”. Agak tersentak aku dengan pertanyaan itu, dan Lana mengulang pertanyaannya, tetap saja aku kelabakan dan bingung bagaimana mesti menjawabnya. Akhirnya aku berkata kepadanya; “wis wengi, ndang turu disik, sesok ga iso tangi esuk lho”.


Ul, ini cerita tanpa tendensi ya, aku juga tidak bermaksud meminta ijin kepadamu untuk menikah lagi, karena hari ini Ul, kalau pun aku mesti menikah lagi maka aku hanya bisa menikah dengan Jun, karena darinya aku mendapat kenyamanan sebagaimana yang ku rasakan kepada bersamamu. Dan saat ini kemungkinkan terwujud jauh lebih kecil daripada sebaliknya. Dan mungkin merupakan bagian dari rasa hormat dan mungkin juga rasa bersalahku padamu atau mungkin juga karena aku memang mencintai Jun sebagai seorang lak-laki kepada serang perempuan, jika pada akhirnya aku menikah dan bukan dengan Jun, maka aku ingin itu terjadi setelah Jun menikah.


Entahlah Ul, kadang memang aku juga tidak mengerti sebenarnya apa yang ku cari, yang jelas aku hanya ingin berusaha untuk menebus segala salahku padamu, aku hanya ingin engkau menjadi lebih bahagian, lebih damai dalam peristirahatanmu.


Mungkin sampai hari ini akan ada banyak amalanku yang tak akan mendapat balasan dari Allah karena alasan aku melakukannya adalah sebagai bentuk rasa hormat dan rasa cintaku padamu, bukan ikhlas karena Allah. Ah biarlah, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengungkapkan segala cinta dan sayangku padamu, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menceritakan rinduku padamu.


Ul, mungkin ini dulu cerita kali ini. I love you so much…aku sangat mencintamu dan semoga aku tetap menyadari bahwa besarnya cintaku tak lebih dari anugerah yang diberikan Allah kepadaku, sehingga semakin aku mencintaimu dan merindumu semakin aku menyadari betapa syukur kepada Allah mesti aku lakukan dengan semakin menyuburkan cintaku padamu, dengan semakin mendalamkan rinduku padamu.


Peluk cium dariku, semoga jiwa kita tak pernah terpisah hanya karena batasan alam dan waktu. Amin