Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 September 2017

Cerita tentang Lana

Hai Ul, semoga senantiasa engkau berada dalam naungan kasih sayang Sang Maha Penyayang, semoga senantiasa engkau dilimpahi dengan limpahan rahmat dari Sang Maha Pemberi Rahmat, semoga segala kebaikan senantiasa melingkupimu, amin.
Ul, bagaimana kabar? aku yakin--Isya Allah--engkau selalu dalam keadaan baik, aku yakin hari-harimu penuh dengan keindahan dan rahmat. 
Ul, beberapa hari ini--mungkin malah sudah hampir dua minggu--Lana kena borok di kepala. Awalnya hanya beberapa yang tak pikir akibat ketombe. Tak pikir setelah dikasih obat dalam beberapa hari akan sembuh dan masalah ketombe dapat diselesaikan dengan mengganti shampoo dan memberi minyak rambut. Urusan ketombe alhamdulillah sudah dapat teratasi, namun urusan borok ternyata tidak semudah itu. Memang setelah dikasih obat alhamdulillah borok menunjukkan seperti akan sembuh, sudah tidak lagi berair dan tidak lagi menyebar lebih banyak, namun yang jadi masalah ternyata Lana susah untuk menahan diri untuk tidak menggaruknya, apalagi saat tidur. Jadi ketika pagi hari setelah mandi tak kasih salep luka, sore hari mulai kelihatan hasilnya, namun pagi hari berikutnya--alih-alih semakin baik dan mengering--kembali borok menjadi luka baru, bahkan beberapa titik yang sebelumnya hampir sembuh menjadi terbuka akibat kena garuk waktu tidur. 
Ul, kadang aku agak bingung bagaimana mengatasinya. Benar memang bahwa segala kesembuhan berasal dari Allah, namun tidak salah juga bahwa proses kesembuhan juga mengikuti hukum alam (sunnatullah) bahwa sebuah luka mesti diupayakan agar cepat sembut dengan memberinya ramuan atau obat.
Ul, sudah dua kali tak minta Lana untuk mencukur rambut agar memudahkan untuk mengoleskan salep. Namun dua kali pula Lana tidak mau rambutnya dicukup plontos, jadi bisa jadi kulit kepala yang ada lukanya tidak teroles salep akibat terhalang rambut.
Ul, baru saja tadi aku agak kesal, bingung, jengkel atau apapun lah namanya. Sebelum tidur--untuk menjaga agar Lana tidak menggaruk kepala, aku bungkus tangannya dengan kaos, namun ketika aku 'nglilir' ternyata kain pembungkus tangannya sudah lepas semua, dan ketika aku menyentuh kepala Lana, ternyata luka borok yang kemarin sudah mulai kering kembali basah, dan ketika tak lihat ternyata banyak luka baru muncul akibat kena garukan tangan.
Ul, mungkin aku memang sering tidak sabaran, meski aku tahu bahwa ini adalah salah satu tanda bahwa memang belum saatnya borok Lana sembuh, bahwa ketika tiba waktunya--tentu semua merupakan kehendak Allah--maka borok di kepala Lana pasti sembuh. Namun, mengetahui bahwa semua terjadi atas kehendak Allah tidak lah sama dengan benar-benar meyakini bahwa semua adalah kehendak-Nya.
Ul, aku berharap semoga diberi kesabaran dan ketelatenan untuk merawat luka Lana. Dan juga berharap semoga engkau tidak bosan-bosan untuk selalu mendampingiku dalam membimbing dan menjaga Lana. Aku yakin engkau melihat semua yang terjadi bahkan penglihatanmu jauh lebih dalam dibandingkan apa yang bisa aku lakukan, karena engkau berada di tempat yang lebih dekat dengan Sang Pemilik Segala Penglihatan.
Ul, semoga senantiasa kita diperkenankan untuk selalu bersama, berjalan seiring untuk membimbing apa yang menjadi amanah bagi kita sebagai orang tua.
Oh ya Ul, sudah lama aku tak melihatmu di alam  yang memungkinkan kita bertemu, jelas aku rindu padamu, semoga engkau mendapat perkenan untuk bertemu denganku, agar dahaga rindu merasakan kesegaran mata air cinta yang mengalir bersama dengan hadirmu.
Sudah dulu ya, semoga Ia senantiasa melimpahkan segala kebaikanNya kepada kita, kepadamu, semoga kita senantiasa berada dalam naungan kasih dan sayangNya, semoga segala keburukan dihindarkan dari kita.
Love you so much....

Senin, 07 Agustus 2017

Ceritaku kali ini

Hai Ul, aku yakin insya Allah keadaanmu baik-baik saja bahkan mungkin jauh lebih baik lagi.
Ul, mulai tahun pelajaran ini aku sudah tidak lagi menjadi kepala MTs Putera Sunniyyah Selo. Memang aku sendiri yang merencanakan ini, tapi ternyata memang susah untuk menghilangkan kebiasaan memberi instruksi, memang susah untuk diam ketika ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, memang susah untuk tiba-tiba menunggu instruksi atas sesuatu yang biasanya memberi instruksi.
Dan tampaknya Tholhah juga masih dalam proses adaptasi, ada beberapa kali ia agak canggung ketika memutuskan sesuatu, ada kesan ada rasa ewuh pakewuh ketika ingin melangkah, tapi sekarang tampaknya ia mulai mengerti dan memahami posisi barunya.
Ul, tak pikir ketika aku sudah lagi menjadi kepala madrasah, aku bisa lebih banyak waktu untuk bersama Lana, berusaha memberikan bimbingan sebaik-baiknya sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua, tapi ternyata tidak semudah itu. Meskipun benar bahwa aku memiliki lebih banyak waktu bersama Lana--tentunya dibandingkan ketika masih jadi kepala madrasah--ternyata aku juga masih bingung mesti bagaimana mendampingi Lana. Kayaknya aku juga mesti kembali belajar bagaimana bisa bicara dengan baik, bagaimana bisa mendampingi proses belajar Lana, dan seterusnya. Kau tahu kan Ul bahwa aku dulu tidak termasuk orang yang tekun belajar, bahwa aku juga bukan termasuk orang yang tahu bagaimana cara belajar yang baik, sehingga akibatnya aku juga belum bisa mengajari Lana dengan baik, masih saja bingung bagaimana melakukan pendekatan kepada Lana sehingga ia benar-benar merasa nyaman ketika belajar bersama aku (ingat kan Ul, dulu kita pernah bersepakat bahwa kamu yang akan menjadi tempat akhir bagi Lana untuk mengadu dengan seluruh kelembutanmu sebagai ibu, sedang aku mendapat peran untuk menjadi pengawas dengan seluruh ketegasan sebagai bapak).
Belum lagi, Tholhah memintaku untuk tetap berada dalam sistem, ia memintaku untuk menjadi Wakabid Kurikulum (jabatan yang dulu dipegangnya), aku jelas tidak bisa menolak karena ketika aku mohon ijin pak Niam untuk berhenti, aku berjanji tetap akan membantu dan ikut menjaga perkembangan MTs Pa. Ternyata pekerjaan yang menjadi bagian bidang Kurikulum cukup banyak juga, dan membutuhkan waktu maupun pikiran yang cukup menyita, untungnya aku diberi staff, sehingga pekerjaan yang sifatnya administratif bisa tak minta staff mengerjakan. Selain itu, jam mengajarku juga membengkak, dari 8 jam pelajaran menjadi 36 jam pelajaran. Ternyata masuk kelas mulai jam 07.00 - 13.15 terus menerus melelahkan juga. Begitu sampai rumah paling hanya bisa bertanya ke Lana, shalat belum. Itupun jika Lana belum berangkat diniyyah.
Ul, memang benar tetap saja laki-laki selembut apapun tidak akan pernah menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, karena menurutku seorang ibu, sesibuk apapun ia tak pikir hati dan pikirannya akan senantiasa bersama dengan anak-anaknya, seorang ibu akan senantiasa menciptakan tali psikologis yang mengikat dirinya dengan anak-anaknya.
ah, entahlah Ul, selalu saja ketika menulis untukmu antara apa yang ingin aku ceritakan dan apa yang aku tuliskan selalu tidak pernah berimbang, begitu banyak yang ingin aku ceritakan, begitu banyak yang ingin aku bagikan, namun pada akhirnya begitu sedikit yang bisa aku tuliskan, begitu sedikit yang bisa aku kisahkan.
Semoga lain kali aku bisa bercerita lebih banyak lagi (dulu pun aku juga seperti ini kan Ul, saat bersamamu engkau yang selalu lebih banyak mampu menceritakan segala hal kepadaku, sedang aku--meskipun sebenarnya juga ingin bercerita banyak hal--pada akhirnya hanya mampu menceritakan beberapa hal saja, meskipun kata orang-orang aku ini banyak bicara).
Selamat kembali menikmati istirahatmu, jangan lupa dengan caramu ingatkan aku ketika apa yang aku lakukan keluar dari yang semestinya, mohonkan juga pada Ia Sang Maha Segala, semoga Ia berkenan menganugerahkan kepadaku kemampuan untuk menjalankan dan melaksanakan segala peran dan amanah yang ditetapkan untukku, semoga Ia senantiasa menghadirkanmu padaku. Amin
love you so much.....

Senin, 25 Juli 2016

Ternyata memang kami saling memberi harapan

Hai Ul, hampir saja aku berpikir bahwa mungkin aku tidak lagi akan menulis dan bercerita kepadamu. Maaf ya, ini kali pertama setelah lebih dari setahun atau dua tahun aku tidak menulis dan bercerita kepadamu.
Aku berharap dan selalu memohon kepada Ia yang seluruh kehidupan berada di tangan-Nya agar selalu berkenan menganugerahkan segala kebaikan dan kedamaian kepadamu dalam istirahat panjangmu.
Ul, hari ini aku baru menyadari satu hal bahwa ternyata aku dan Jun--entah sejak awal kami sadari atau tidak--memang saling memberi harapan, meskipun itu baru benar-benar aku sadari setelah harapan itu tidak kami ambil.
Ul, lebaran hari  8 kemarin Jun berkirim sms dan mengatakan ada yang pengin diomong. Sedikit banyak aku memang menduga bahwa apa akan diomong Jun akan terkait dengan awakmu, aku, dan Jun sendiri--yang kemudian aku sadari bahwa itu merupakan salah satu indikasi bahwa aku memang memiliki harapan untuk dapat bersama Jun--.
Dan kamu tahun kan Ul bahwa tebakanku  tidak meleset jauh, Jun memang ingin bicara tentang itu, berbicara tentang apa yang kami pikir merupakan keinginanmu bahwa kami mesti bersama dalam sebuah ikatan pernikahan untuk kemudian bersama membesarkan Lana, bahwa awakmu menginginkan Jun sebagai penggantimu sebagai isteriku dan juga sebagai ibu bagi Lana.
Ul, aku  yakin engkau tahu bahkan meski tidak aku ceritakan, dengan izin Sang Segala Maha aku yakin engkau melihat dan menyaksikan apa yang terjadi pada hari itu. Betapa Jun sangat berhati-hati untuk memulai mengatakan bahwa ia merasa menikah denganku merupakan sebuah ketidakmungkinan karena banyak yang jika dilakukan akan melukai banyak orang bahkan akan melukai diri kami sendiri.
Betapa Jun selama ini merasa sangat terbebani dengan pemahaman bahwa ia--suatu saat--mesti menikah denganku sebagai bentuk pelaksanaan dari apa yang ia anggap engkau inginkan dari kami.
Ul, kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama merasa bahwa pernikahan di antara kami mungkin merupakan sesuatu yang diharapkan oleh beberapa orang, namun juga merupakan hal yang tidak baik karena beberapa hal pula.
Ul, saat itu aku katakan kepada Jun bahwa ketika kami memutuskan untuk tidak menikah merupakan sebuah kesalahan, namun tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Pernikahan memang mesti dilaksanakan atas sebagai jalan untuk menemukan kebahagiaan bukan menatap penderitaan. 
Ul, aku menerima keputusan Jun dengan lapang dada saat itu, karena menurutku itu juga merupakan keputusan terbaik bagi kami saat ini. Aku katakan kepadanya bahwa setidaknya satu masalah yang cukup mengganggu dan membebaninya sudah terselesaikan. Setidaknya pula aku juga sudah dapat memastikan bahwa saat ini harapan untuk menikah dengannya hendaknya dihilangkan, dan semoga ini menjadi awal lagi bagi kami untuk kembali berhubungan sebagai kakak dan adik, bukan lagi saling memberi harapan yang belum juga mampu kami terima secara lapang.
Ul, tak pikir setelah itu masalah selesai, tak pikir setelah itu aku akan benar-benar bisa bersikap sebagaimana sikap seorang kakak kepada adiknya, demikian pula sebaliknya. Namun Ul, sehari kemudian aku menyadari bahwa ternyata ada  sesuatu yang hilang dalam diriku.
Kau tahu Ul, bahkan dalam beberapa hari ini aku mulai merasa bahwa sebenarnya--entah dengan rela atau karena satu dan lain hal--ternyata kami telah saling memberi harapan, sehingga ketika harapan itu hilan, maka kami--dalam bentuk yang tidak sama persis--merasakan ada sesuatu yang hilang dari diri kami (aku berharap bahwa hanya aku yang merasakannya, aku berharap Jun tidak mengalami ini).
Ul, satu hal lagi yang kemudian aku sadari bahwa ternyata aku belum benar-benar melepaskanmu. Ternyata aku telah menganggapmu telah larut dan menyatu dalam diri Jun, sehingga aku mulai tidak merasakan getarmu dan berganti getar Jun. Namun ketika Jun telah memutuskan bahwa tidak mungkin kami menikah, kembali getarmu mendetak keras dalam diriku. Ternyata kembali aku temukan bahwa dalam banyak hal aku masih berharap selalu bersamamu, Maafkan aku ya.
Ul, selalu banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, dan mungkin hanya padamu aku bisa bercerita. Semoga Allah senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk tetap saling bercerita. Maafkan aku jika mengusik ketenangan istirahatmu.
Ul, untuk Lana, tolong bantu aku membesarkan dan mendidiknya, tolong mohon perkenan Allah agar senantiasa ia memperkenankanmu untuk mendampingi Lana, biar ia pun selalu merasakan kehadiran kedua orang tuanya dalam setiap moment penting kehidupannya. Amin.

Biarlah rindu selalu menyatu dalam nafasku
biarlah kita senantiasa bersama dalam jiwa
peluk cium selalu dariku
untukmu jiwa yang dianugerahkan sebagai penyempurna jiwaku

Minggu, 08 September 2013

it's about me (sekolah)

Hai Ul, semoga keberlimpahan anugerah senantiasa menaungimu.
Ul, kemarin menjelang magrib Hilmi datang ke rumah, katanya aku ditunggu Pak Bukhari di rumahnya, kemudian aku ke sana untuk menemuinya. Aku berpikir bahwa mungkin pak Bukhari akan bertanya kepadaku tentang MTs Putera, tapi apa yang terjadi tidak seperti yang tak pikir. Pak Bukhari 'memerintahkanku' (tanpa minta kesediaan) untuk menjadi Kepala MTs Putera Sunniyyah. (sesuatu yang beberapa hari ini sedikit banyak mengkhawatirkanku. Karena beberapa hari ini aku melihat indikasi itu, dan aku salah satu yang membuatku takut adalah bahwa aku mulai menginginkan jadi kepala--sesuatu yang mungkin akan mengacaukan jika aku benar-benar menjadi kepala MTs Pa).
Ul, Aku gak tahu apakah aku senang, gembira, kecewa atau sedih. Yang jelas sampai rumah aku langsung ngebel Pak Mukhlis dan ngomong ke Pak Mukhlis bahwa aku diperintahkan pak Bukhari untuk menggantikan Pak Miftah. Aku ga bisa menanggung ini sendiri--itu yang ku tahu--dan tak terpikir sama sekali olehku bahwa apa yang tak lakukan karena aku gembira. I just do what i want to do. Setelah itu aku menangis--benar-benar menangis--tanpa pernah tahu apakah aku menangis bahagia atau menangis sedih.
Ul, tiba-tiba aku ingat--Anip atau Jun aku lupa--pernah berkata kepadaku, 'Mas tahu ga bahwa mbak Ul tahu ngomong bahwa suatu saat Anam akan jadi kepala sekolah'. Saat itu aku hanya bilang 'ya toh'.
Ul, sungguh Ul hari-hari ini aku takut bahwa apa yang mungkin nanti aku lakukan tidak benar-benar tulus. Aku khawatir bahwa apa yang akan aku lakukan nanti tidak lebih dari sekedar 'balas dendam', tidak lebih dari sekedar ingin membuktikan bahwa aku lebih baik dari Miftah. Aku takut Ul karena beberapa waktu ini (mungkin sekitar 3 bulan belakangan ini) aku benar-benar jengkel dan kecewa dengan setiap kebijakan yang diambil Pak Miftah--kebijakan yang menurutku seringkali tidak memperhatikan orang lain--. Aku takut jika pada satu titik ternyata aku tidak lebih kethok-kethok kayu pilaran, poyok-poyok akhire ketularan. (Ah semoga saja itu terjadi Ul).
Lagian Ul, secara tak langsung ketika aku lagi jengkel dengan Pak Miftah, mau tidak mau aku merasa lebih baik darinya dan merasa jika aku menjadi kepala aku akan berbuat lebih baik darinya (mungkin kayake apa yang tak lakukan benar, cuma ketika tak renungkan tampaknya itu tak lebih dari sekedar rasa jengkel dan keinginan untuk menunjukkan bahwa aku lebih baik dan dia lebih buruk, sesuatu yang juga buruk kan?).
Ul, tadi siang aku ke tempat pak Mukhlis, kemudian bicara banyak hal yang intinya aku mengatakan apa yang khawatirkan terkait dengan menjaga niat dan tujuan. Pak Mukhlis menasehatiku banyak hal termasuk bahwa aku mesti menerima ini sebagai sebuah amanah, bahwa akan ada banyak teman yang akan membantu. Akhirnya aku minta tolong ke Pak Mukhlis untuk selalu mengawalku, untuk selalu mengingatkanku ketika apa yang aku lakukan mulai melenceng, mulai menyimpang dari tujuan awalnya. Dan Pak Mukhlis menyanggupinya. Aku percaya dengan ketulusan Pak Mukhlis bahkan sangat percaya.
Ul, aku juga ngasih tahu Jun tentang hal ini karena saat ini aku memang hanya bisa bercerita apa saja kepada Jun. Ga tahu lah Ul, yang jelas aku akan merasa lebih nyaman ketika sudah bercerita kepada Jun (sebagaimana kepadamu). dan I need that.
Ul, aku ga tahu apa yang akan aku hadapi nanti, yang jelas akan ada banyak hal baru dan mungkin gila yang akan terhampar di hadapanku, dan mungkin juga akan banyak suara yang akan menggulungku, aku tak tahu, benar-benar tahu tahu Ul.
Tapi yang jelas aku tahu Ul, saat ini aku benar-benar mengharap hadirmu, untuk kembali berbagi, untuk kembali menemaniku dalam setiap angin badai yang mungkin akan menghadangku, aku akan selalu membutuhkan hadirmu dalam setiap tekanan yang mungkin akan menekanku, untuk menyandarkan sebentar kepalaku di dada bidangku, untuk merasakan belaimu yang akan mengusir setiap resah gelisahku, untuk mendengarkan ide-ide segarmu dalam memberikan solusi atas tiap persoalan yang mungkin aku aku temui.
Ul, aku tahu aku benar-benar akan membutuhkanmu, membutuhkan hadirmu, membutuhkan senyummu, membutuhkan belaimu, membutuhkan hangatmu, membutuhkan ide segarmu, agar tak lagi aku merasa sendiri, agar tak merasakan dingin kegelisahan, agar tak merasakan gersang buntu tanpa jalan keluar.
Maka aku berharap dan mengharap kerelaanmu Ul untuk kembali mewujud dalam nyataku, untuk kembali membelai kesendirianku, untuk kembali menghangatkan kebekuanku, untuk kembali menyirnakan kesendirianku.
Ul, aku membutuhkanmu temanku, aku merindukan hadirmu isteriku, aku mengharapkanmu sahabatku, aku....ah....
Ul, bantu aku ya agar aku selalu berada di jalanku, bantu aku dengan mengontrol setiap tindakanku, bantu aku untuk selalu mengingatkanku, bantu aku ya...
Ul, ini dulu ya yang aku ceritakan padamu, lain kali kita akan kembali bercerita banyak tentang berbagai hal, tentang berbagai mimpi, tentang capaian-capaian yang hendak kita raih.

Ul, sudah ya...I love you as always....I miss you so much...aku selalu menunggumu di suatu tempat yang memungkinkan kita untuk selalu bersamamu, memelukmu, menciummu, memadu bersamamu....

Senin, 12 Agustus 2013

Ceritaku kali ini (it's about me)

Hai Ul, semoga rahmah Allah senantiasa bertambah melimpah mengalir padamu.
Ul, kali ini aku cuma pengen cerita tentang kegilaanku pada Ramadlan dan Syawal ini. Aku ga tahu apakah yang akan ku ceritakan ini nanti akan membuatmu tertawa, kecewa, atau malah bahkan bersedih, tapi aku berharap ceritaku kali ini hanya akan membuatmu tertawa dan menertawakan kekonyolan dan kegilaanku (sesuatu yang sebelumnya juga tidak pernah aku perkirakan sama sekali, sesuatu yang sebelumnya juga tidak pernah ku sangka akan terjadi padaku...).
Ul, mungkin Ramadlan dan puasanya kali ini merupakan salah satu Ramadlan dan puasa terburuk bagiku (kalau aku menggunakan sudut pandang religiusitas dan psikologis penghambaan) dan Syawal serta idul fitrinya pun tampaknya juga merupakan salah satu yang buruk kali ini.
Ah..Ul, aku kadang tertawa sendiri, mentertawakan kegilaan dan kekonyolanku kali ini tapi sekaligus kadang aku menangis tersedu, menyadari betapa kacau dan gila apa yang aku lakukan kali ini.
Ok, kita mulai aja cerita kali ini...
Ul, tidak ada yang istimewa ku rasakan menjelang puasa tahun ini, semua tiba-tiba menjadi hambar, tiba-tiba semua menjadi seperti di ruang hampa, tanpa hasrat tanpa makna. Sepi, sunyi, sendiri. Aku merindumu Ul, benar-benar merindumu, sebagaimana biasanya, tapi kali ini hasrat untuk kembali menghadirkan jauh melebihi tahun-tahun lalu, ah...mungkin benar kata orang Ul, bahwa satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa akrabi dan kita biasakan meskipun telah lama kita bersamanya adalah kesendirian--sendiri--.
Ul, sudah tiga setengah tahun kita tidak berada dalam dimensi yang sama, sudah tiga setengah tahun aku mencoba untuk menjadi biasa tanpamu, sendiri melakukan segala sesuatu, sudah tiga setengah tahun aku berulang kali mencari dan menggunakan banyak hal yang berhubungan denganmu untuk kembali merasakan hadirmu, sudah tiga setengah tahun dan tetap saja aku tak pernah mampu merasa wajar dan biasa dalam kesendirianku tanpamu, sudah tiga setengah tahun tetap saja tak pernah cukup kurasakan kebersamaan denganmu dalam kesatuan jiwa, sudah tiga setengah dan aku semakin merasa asing dengan kesendirianku tanpamu. Dan tahun ini Ul, aku semakin berharap engkau kembali hadir dalam nyataku--tentunya dalam wujud lain yang padanya ku rasakan hadirmu--.
Ul, aku tidak hendak mengatakan bahwa ramadlan kali ini tidak ada satupun hal menyenangkan yang terjadi, ada dan mungkin banyak banyak, tapi secara umum ramadlan kali ini aku benar-benar kacau, tak ada semangat berpuasa, sahur, maupun berbuka, tak ada keinginan besar untuk tadarus (kau tahu Ul, kali ini bahwa satu juz pun aku tak selesai--kayake aku cuma bisa bertadarus 2 surat yang tidak terlalu panjang di juz 18 kalo ga salah), tarawih juga tak sempurna ku jalankan. Ah, entahlah Ul...
Dan ini yang menurutku paling 'gila' Ul--sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, sesuatu yang sebelumnya aku pikir akan mampu akan lewati pelan-pelan tanpa harus mengalami hal-hal yang cenderung 'gila' dan konyol--aku benar-benar tak mampu mengendalikan hasrat kelelakianku, aku benar-benar tak mampu untuk menahan diri dari keinginan untuk memenuhi hasrat akan seks. Aku bertemu dengan batasku untuk menahan diri dari sebuah kebutuhan biologis seorang laki-laki. 
Ul, kita pernah mendengar cerita tentang khalifah Umar yang melakukan inspeksi malam kemudian mendengar rintihan perempuan yang merindu 'kehangatan' suaminya yang sedang bertugas untuk berperang, kemudian ia bertanya kepada puterinya, Khafsah--isteri Nabi--tentang batas umum seorang perempuan yang telah bersuami untuk menahan gairah seksualnya, dan Khafsah menjawab empat bulan, maka kali ini aku menemukan kenyataan bahwa ternyata aku benar-benar tak lagi kuasa untuk menahan hasrat ini ketika mencapai tiga tahun setengah.
Sebenarnya sudah sejak dulu aku sadar bahwa aku belum mampu--atau mungkin tidak pernah benar-benar akan mampu--menghilangkan hasrat seksualitas yang ada dalam diriku. Aku sadar bahwa aku masihlah seorang laki-laki dengan usia yang masih cukup panas untuk menggelorakan keinginan dan memiliki kebutuhan atas hasrat seksual, namun selama ini aku berhasil mengatasinya dengan berbagai cara--meskipun aku tahu beberapa cara yang aku lakukan mungkin tidak akan bisa diterima oleh beberapa orang--mulai dari wudlu, shalat 2 rakaat, membaca qur'an, membaca, melihat, atau bahkan menonton video-video porno maupun hal-hal lain yang bisa aku lakukan untuk menahan diri dari melakukan hal-hal yang tak pikir akan menyeretku pelan-pelan menuju tindakan-tindakan seksualitas yang menyimpang.
Ul, entahlah aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi Ramadlan kali ini aku benar-benar tidak mampu menahan diri untuk 'memuaskan' hasrat itu, dan aku pun tak kuasa untuk menahan diriku dari melakukan hal-hal yang selama ini ku anggap sebagai bagian dari perilaku seksual yang 'menyimpan'--meskipun aku juga tahu beberapa orang mengatakan bahwa hal ini tidak termasuk penyimpangan seksual--. Aku melakukan masturbasi Ul dan parahnya bukan sekali namun lebih dari tiga kali (please jangan tertawakan ketak mampuanku Ul...)
Ah Ul, aku benar-benar kembali merindumu kali ini, merindu hadirnya dalam wujud nyatamu, merindu kebersamaan denganmu untuk memadu rindu, bergumul dalam gairah yang terus memburu.
Ul, mungkin salah satu hal terbaik yang terjadi pada Ramadlan kali ini adalah bahwa hubunganku dengan Jun sudah kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya, tampaknya segala bias yang ada perlahan-lahan bisa kami kendalikan (aku percaya bahwa kerenggangan atau keakraban hubungan di antara dua orang ditentukan oleh dua perasaan yang saling mempengaruhi dari dua orang itu--tidak peduli siapa yang memulai kerenggangan ataupun keakraban, yang jelas jika salah satu di antara dua orang tersebut berubah sudut pandangnya maka secara otomatis akan terjadi juga perubahan dalam pola hubungan di antara keduanya). Aku sangat bersyukur dengan hal itu Ul, sungguh aku sangat mensyukurinya...
Tapi Ul, aku juga kaget setengah mati ketika aku menemukan fakta baru bahwa aku melihat sangat banyak--bahkan mungkin terlalu banyak menurutku--percikan dirimu dalam diri Jun, aku merasakan sesuatu yang hilang saat perpindahanmu ke dimensi lain hadir kembali dalam dirinya. 
Ul, tidak dapat ku pungkiri bahwa aku senang dengan kenyataan itu, aku senang karena aku kembali merasakan hadirmu dalam wujud nyata, tapi jujur aku juga harus mengatakan bahwa aku senang sekaligus juga mengalami ketakutan. Aku takut--jika semakin banyak percikan dirimu ku lihat pada diri Jun--aku tidak mampu mengendalikan diriku lagi, aku bisa benar-benar menganggap Jun sebagai dirimu dan jika itu terjadi bisa saja aku akan melakukan hal-hal yang akan menghancurkan hubungan baik yang ada di antara kami, bisa saja aku tiba-tiba memeluknya atau bahkan menciumnya ketika tak lagi mampu ku tahan seluruh hasratku akan dirimu.
Ul, terbersit keinginan untuk mengatakan semua pada Jun agar ia mulai berhati-hati denganku karena hal ini, tapi aku lebih khawatir lagi jika aku mengatakan padanya apa yang ku rasakan saat ini, maka hubungan kami yang mulai berjalan seperti dulu akhirnya kembali renggang dan penuh kecanggungan--atau bahkan bisa saja malah Jun menjadi benar-benar marah dan tak lagi mau bertegur sapa denganku--(sesuatu yang tidak pernah bisa aku terima jika aku menjadi sebab rusaknya hubunganku dengan seseorang yang sangat engkau banggakan dan sayangi). Tapi jika suatu saat aku benar-benar tak lagi mampu menahannya maka mau tidak mau aku juga akan mengatakan padanya, dan aku berharap saat itu Jun dalam keadaan baik secara psikologis sehingga ia mampu memandang hal ini sebagai sesuatu yang terpisah dari hubungan kami sebagai kakak dan adik (ipar). (Aku berharap suatu saat aku akan menceritakan seluruh fakta ini kepadanya dalam keadaan yang benar-benar netral dan tidak akan mempengaruhi hubungan baik yang ada di antara kami--atau bahkan kalau boleh aku berharap--malah akan mempererat hubungan kami).
Ul, aku hanya berharap bahwa apapun yang terjadi hari ini ataupun apa yang akan terjadi di masa depan tidak akan merubah apapun yang ada di antara kami, di antara aku dan Jun, di antara aku dan Anip, di antara aku dan Aam, di antara aku dan bue, di antara aku dan mbak Rima, di antara aku dan Mas Fuad, di antara aku dan Mas Ib, di antara aku dan orang-orang yang mengenal dan menyayangimu. (atau bahkan membuat kami menjadi semakin dekat dan akrab).
O ya Ul, ada sedikit cerita di lebaran kali ini. Cerita yang dibuat oleh angkatan terakhir yang pernah engkau ajar, anak-anak MI era Susilo, Milachun, Mia, Nia, dan kawan-kawannya. Ul, angkatan ini ku anggap sebagai salah satu angkatan terbaik MI dalam hal menjalin silaturrahmi dengan guru-gurunya. Setiap lebaran anak-anak ini masih mau berkumpul kemudian mengunjungi guru-gurunya, termasuk ke rumah kita. Dan tahun ini mereka mengungkapkan sesuatu yang benar-benar membuatku terharu, membuatku benar-benar menahan air mata agar tidak tertumpah, membuatku ingin 'memukul' mereka karena mereka hampir saja membuatku menangis di hadapannya, membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.
Kau tahu Ul apa yang dikatakan Susilo untuk mewakili kawan-kawannya setelah meminta maaf kepadaku?. Ia berkata: "kalah titip kagem bu Ul nggih pak". "Titip apa?", kataku. "Titip mintakan maaf kami kepada bu Ulya". Sungguh Ul, hampir saja aku menangis kalau saja tak ku ingat bahwa anak-anak itu masih berada di rumah kita, masih ada di depanku. Memang benar Ul, bahwa setiap hari aku sendiri selalu menyebutmu, bukan sekali atau dua kali bahkan mungkin ratusan kali, namun sampai sekarang setiap kali ada orang yang menyebut namamu aku tak bisa menghindarkan diri dari rasa haru dan akibatnya seringkali aku menangis sendiri (makanya Ul aku tidak terlalu suka jika ada orang menyebut namamu di hadapanku karena aku tidak terbiasa dan tidak suka menangis di hadapan orang lain, aku terbiasa dan lebih suka menangis sendiri atau bersamamu di malam-malamku).
Ul, itu dulu ya cerita kali ini, tolong jangan tertawakan aku atas kegilaan, kekonyolan dan ketidakmampuanku kali ini, tapi jika engkau ingin tertawa, ya tertawalah, tersenyumlah karena aku tidak akan pernah bosan untuk melihat dan mendengar senyum ataupun tawamu...
I love you so much as always...
Semoga rindu kembali mempertemukan kita di salah satu malam dingin di musim kemarau ini agar kerontang jiwaku segera tersirnakan dengan siraman kesejukan dalam hadirmu.
Aku merindumu dan selalu menantimu di ujung malam sebelum pagi mengganti hari.

Jumat, 08 Februari 2013

Lana dan Kesehatannya

Hai Ul, hari ini aku mulai lega karena Lana sudah kembali menemukan keceriaannya setelah empat hari uring-uringan karena kondisi badannya yang lagi tidak fit, meskipun masih menyisakan manja (biasa kan Ul jika ia habis sakit biasanya emang seperti itu kan?).

Ya Ul, malam Sabtu lalu Lana badannya panas bukan main. Meskipun masih mengikuti pola yang sama (habis Isya masih normal namun mulai sore wis mulai nglendot dan terkesan males-malesan kemudian ketika tidur mulai panas dan ketika menjelang jam 12 malam menjadi sangat panas hingga ia tidak bisa tidur lagi dan badannya menggigil serta bergetar karena menahan panas), tetap saja selalu memunculkan kekhawatiran dan ketakutan tersendiri bagiku, dan selalu saja menghadirkan hal-hal baru yang belum pernah muncul pada kondisi sebelumnya.

Ul, biasanne kan kalau Lana panas tengah malam, kemudian tak ajak keluar maka menjelang subuh panasnya mulai turun sehingga ia akan bisa istirahat (tidur) hingga pagi, wingi iku panasnya ga mau turun-turun hingga pagi sehingga langsung aku periksakan ke bidan desa. (meski di hadapan siapapun aku berusaha tenang dan mensikapi sakit Lana secara biasa tetap saja aku tidak bisa menghilangkan rasa takut dan khawatirku kalau terjadi apa-apa dengan penyakit kali ini. lagian sekarang ini kan masih musim demam berdarah, he he).

Selain itu Ul, biasanya kalau panas model kayak gitu, biasanya hanya satu malam dan ketika siang akan turun panasnya, lha kali ini bahkan sampai siang panasnya ga turun-turun bahkan obat dari bidan desa tak pikir ga ada efeknya sehingga aku berpikir untuk membelikannya obat malaria, tapi ga jadi karena mbahe sudah membelikannya sirup turun panas. Obat dari bidan tak tinggalkan dan aku beralih ke sirup itu yang meksipun tidak terlalu mengurangi panas tapi membuat Lana mulai mau bermain.

Tapi Ul, malam berikutnya kembali Lana ga bisa tidur mulai jam 12 hingga pagi hari. Aku semakin tambah khawatir jangan-jangan Lana kena gejala demam berdarah, tapi ketika ta teliti ciri-cirinya, kayake ga da ciri-ciri kena demam berdarah, ia masih mau makan dan tidak muntah, tidak ada bintik-bintik merah di kulit yang mencurigakan (kecuali bintik-bintik yang seperti orang 'dabagen', bintik-bintik yang muncul akibat suhu badan yang sangat panas).

Aku mulai berpikir jika sampai 3 hari suhu badan Lana tidak turun-turun dan jika ia mulai ga mau makan atau muntah, maka ya mau tidak mau aku akan membawanya ke rumah sakit (dan pikiran membawa Lana ke rumah sakit semakin menggelisahkanku, meskipun tetap saja aku berusaha untuk tenang di hadapan orang-orang di sekitarku).

Ul, masih ada dua hal yang akan aku lakukan sebelum hari ketiga, pertama aku akan kasih Lana paracetamol dan amoxilin (obat yang biasa aku berikan saat ia mengalami panas seperti ini namun waktu itu aku lagi kehabisan) dan jika tidak turun juga maka aku akan periksakan ke pak Wanto. Kemudian aku cari amox dan paracetamol, lalu ku minumkan ke Lana sore hari (aku berpikir jika nanti malam masih panas maka aku akan perikasakan ke pak Wanto).

Alhamdulillah Ul, suhu badan Lana mulai turun sehingga ia mulai bisa tidur tapi belum bisa senyenyak biasane. Ia ikut bangun ketika aku bangun dan maunya selalu ditemani dan dipeluk saat tidur sehingga nyaris aku tidak bisa melakukan apa-apa, but it's OK).

Senin, meskipun suhu badannya sudah turun namun Lana malah menjadi susah makan (mungkin karena pahit lidahnya sehingga ia males makan), Muncul lagi kekhawatiranku, jangan-jangan ini bagian dari model pelana kuda demam berdarah, kemudian aku periksa lagi kondisi badannya dan tidak ku temukan ciri-ciri yang menunjukkan gejala demam berdarah, aku lega. Dan sorenya aku meminta mbak Nani agar besoknya membawa Lana untuk dipijit ke mbah Warsi (tak pikir jangan-jangan Lana kelelahan dan perlu peregangan otot dan badan).

Ul, habis dipijit kondisi Lana semakin baik meskipun masih agak sudah untuk makan dan menjadi manja. Ia menjadi sangat peka ketika tidur tak tinggal (misalnya ke kamar mandi). Ia juga sangat peka ketika aku bangun untuk nyalakan laptop (tak pikir aku bisa nyambi mengerjakan beberapa hal yang terkait dengan administrasi madrasah, sehingga pekerjaan yang sudah kadung numpuk bisa mulai tak kerjakan
). Ia selalu bilang, 'Bapak ojo nyekel laptop terus tah', dan ya sudahlah akhirnya dalam seminggu ini aku ga melakukan apapun.

Dan sungguh Ul aku sangat bersyukur karena malam ini kayaknya Lana mulai kembali ke kondisi tidur nyenyaknya, meskipun tadi beberapa kali bangun pas aku bangun sehingga aku bisa menulis dan bercerita padamu, tapi kayake kini giliranku yang mesti mengambil jatahku Ul (mulai kemarin badanku terasa pegel, mata agak panas, dan pas di kelas rasane ngantuk banget). Tadi malam sudah tak kasih antangin, dan semoga hari ini aku bisa cukup beristirahat karena besok Sabtu aku ada agenda ke MTs N Wirosari untuk mengikuti acara dialog dengan dewan pendidikan.

So, dalam minggu ini pun akhirnya Lana ga berangkat sekolah dan ngajipun masih tak liburkan (kemarin aku tanya ke Lana sudah mau berangkat sekolah durung?, ia mung klesat-kleset yang berarti bahwa ia masih belum mau berangkat. (Ul, tak pikir ga pa-pa lah, sekalian ae libure seminggu, ben digunaka untuk istirahat dulu, he he).

O ya Ul, sekarang memakamkan jenazah di makam utara masjid kayake akan menjadi boleh lagi. Pada Kamis sore kemarin ada warga Jimatan yang meninggal dunia, kemudian warga bersepakat untuk memakamkan jenazahnya di makam utara masjid. Pihak keluarga ga pa-pa asal diurusi sampai akhir. Kemudian orang-orang mengambil strategi untuk mengumpulkan banyak warga di makam utara masjid saat melakukan penggalian. Ternyata juru kunci juga tidak melakukan apa-apa (mungkin ia langsung menghubungi kepolisian karena kemudian datang anggota kepolisian namun tidak mencegah atau melarang aktivitas warga tapi katanya bersama dengan pak lurah mendatangi juru kunci di ruangannya dan ga ngerti apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas tidak ada yang mencegah proses penggalian makam tersebut). Cerita yang berkembang (entah benar entah tidak) katanya waktu pak lurah dan kapolsek Tawangharjo bertemu dengan juru kunci terjadi dialog yang menanyakan kepada pak lurah apakah beliau berani bertanggung jawab jika pemakaman di utara masjid dilakukan? kemudian di jawab pak lurah 'ya, saya bertanggung jawab', dan akhirnya pemakaman di utara masjid diperbolehkan (dalam arti tidak dicegah) tapi katanya juga memakamkan jenazah di utara masjid kembali diperbolehkan khusus untuk warga Jimatan.

Ul, tak pikir ga pa-pa lah, jika warga Jimatan sudah diperbolehkan untuk kembali memakamkan jenazah di utara masjid, maka sebentar lagi semua pasti juga akan diperbolehkan (he he)...

Ul, wis disik ya...wis subuh ki...rindu akan hadirmu semakin menjadi saat aku mulai merasakan kondisi fisik dan psikisku menurun, saat dada serasa sangat sesak untuk bernafas, kala beban pikiran begitu menekan perasaan....

Love you so much....eeemm....ah...



Minggu, 16 Desember 2012

pengen cerita tapi belum bisa

Ul, sekolah mulai libur. Kembali aku bingung mesti ngapain. Kemarin aku ada rencana untuk belajar membuat database, tapi ga ngerti apakah jadi tak lakukan atau tidak. Notebook belum normal so bikin kerja dengan jaringan tidak maksimal, lola dan bikin emosi ae, belum lagi rasa malasku yang masih saja bergelayut manja, semangat yang belum kutemukan kembali sejak hari perpindahanmu ke dimensi lain, ah entahlah Ul........
Banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu Ul. Ga kuat aku jika mesti menanggung semua sendiri. Aku rapuh...
Ul.....bingung aku untuk mulai bercerita dari mana, dari diriku, dari Lana, dari sekolah, dari Jun, dari kita, ah....mungkin lain kali saja Ul aku bercerita, mungkin lain kali aku akan membuat tema untuk setiap ceritaku sehingga bisa lebih enak, bisa lebih runtut, bisa lebih memiliki alur.
Lagi kali aja ya Ul....hari ini ternyata aku belum mampu bercerita, masih terlalu penat aku untuk mulai bercerita, masih terlalu sempit hati untuk mulai mengurai kisah.
I love you so much....
peluk cium dan belaiku untukmu.....

Minggu, 04 September 2011

Ul, I need U

Ul, betapa berartimu bagiku. bukan sekedar untuk menemaniku, bukan sekedar untuk mengisi hari-hariku, bukan sekedar untuk menyempurnakan kemanusianku, bukan sekedar untuk mengindahkan perjalanan hidupku.
Ul, betapa bermaknanya engkau bagiku. untuk mendampingi langkah-langkahku, untuk mengingatkan kecerobohanku, untuk mencerdaskan kebodohanku, untuk meluruskan penyimpanganku, untuk menguatkan ketakberdayaanku.
Ul, betapa aku merindumu. sebagai teman, sebagai kekasih, sebagai suami, sebagai laki-laki.
Ul, pasti engkau kini jauh lebih mampu mengerti aku. Di alammu kini, kau pasti lebih mampu menembus sekat-sekat hati untuk mengetahui apa yang tersimpan, tersembunyi, terahasiakan bagi tiap jiwa yang masih terkungkung raga.
Ul, betapa aku mencintamu, bukan hanya karena tubuh perempuanmu, namun lebih pada jiwa yang menggerakkan ragamu.
Ul, bukan aku hendak merayumu. Aku tahu kini engkau sudah tak perlu. Aku hanya mencoba menguatkan diriku agar tetap mampu melangkah maju.

Minggu, 14 Agustus 2011

....................

..............................................................................................................................................................................................
........................................................
ya begitulah. hanya padamu kuceritakan semuanya. semoga engkau mengerti.
terima kasih asal setiap keindahan yang telah terukir bersamamu