Ul, ku merindumu luar biasa. Begitu hebat seperti saat kita belum bersama. Begitu mendesak dada, begitu menggelisahkan, begitu benar menekan dada.
Ul, ku merindumu luar biasa. Begitu hebat hingga hanyutkan semua. Begitu kuat menekan segala rasa.
Ul, ku merindumu luar biasa. Hingga tak ada kata tuk ungkapkan rasa.
Ul, ku merindumu luar biasa, tak ada tempat bagi lainnya.
Ul, ku merindumu luar biasa, hingga hari ini pun hatiku kacau seperti masa-masa ketika kebersamaan masih impian kita.
Ul, ku merindumu luar biasa. Biarlah kacau saja hariku, aku hanya ingin menikmatinya…
Ul, ……..
Sabtu, 06 Agustus 2011
Jumat, 29 Juli 2011
sayang
ul, kangen banget. semua kembali mengemuka tatkala kembali mengaduk-aduk video di harddisk. video drumband, display anak-anak, latihan drumband dan pentas terakhir drumband di lapangan. Semua mengingatkan jejak-jejakmu, memantulkan bayangan dirimu, bukti kerja keras bersama.
ul, kangen banget lagi. kangennnnnnn bangeeeeeeeeeeeeeet
ul, kangen banget lagi. kangennnnnnn bangeeeeeeeeeeeeeet
Label:
rindu berat
Minggu, 17 Juli 2011
kadang ragu
Hai Ul, nisfu sya'ban--biasanya Yaasin tiga kali setelah shalat magrib, iya kan? masih kulakukan kok.
Ul, kadang aku benar-benar takut tidak mampu memberi Lana apa yang mesti ia dapatkan. Mendidik, mengajar, membekali dengan segala kebutuhan menghadapi zamannya. Kadang aku ragu akan kemampuanku untuk melapangkan jalan bagi perkembangan Lana, perkembangan fisik maupun psikisnya.
Ul, tahun ini Lana mulai sekolah, meski masih belum kenal betul gunanya sekolah.
Lucu--mungkin kamu juga akan tertawa--hari pertama masuk ga sampai istirahat udah minta jajan dan langsung pulang, ga mau masuk lagi. Hari kedua sukses sampai akhir setelah istirahat beli kembang api.
Ul, ku rindu selalu bersamamu, sharing ide, bikin rencana, buat agenda, kejar mimpi, wujudkan angan.
Ul, semoga engkau sejahtera dan damai selalu, nyenyak dalam tidur panjangmu, di ranjang semerbang bunga mewangi, hingga bangkit di akhir penantianmu.
Rabu, 06 Juli 2011
isteriku,....
Ul, benar-benar sepi ku rasa hari ini. Tak ada perayaan, tak ada yang ribut merencanakan liburan, tak ada yang memilih tempat untuk sekedar makan. Benar-benar sunyi hari ini, tak ada belaian, pelukan, apalagi ciuman.
Ul, semakin terasa betapa perpisahan begitu menyakitkan, betapa kesendirian begitu menyeramkan, betapa kebersamaan begitu berharga dan tak terbayarkan.
Kadang masih saja air mata tak mampu ku tahan. Nyeri masih begitu terasa di hati. Sakit masih begitu terasa di jiwa. Sunyi hampa tanpa canda, sepi sendiri tanpa belahan diri.
Benar memang semua adalah takdir yang telah ditetapkan. Benar pula bahwa garis ketetapan tak ada yang mampu membelokkan. Tapi menerima semua takdir bukan berarti tidak lagi merasakan sakit dan pedih bukan?
Menerima bahwa segala peristiwa adalah hal terbaik yang mesti terjadi pada tiap diri bukan berarti tidak ada luluh lantak dalam diri ketika peristiwa begitu berbeda dengan yang diangan bukan?
Ul, semakin rindu ku padamu, semakin yakin akan maknamu bagiku. Semakin mengalir deras inginku bersamamu semakin yakin ku akan takdirmu bagiku.
Inilah anugerah terindah bagi jiwa. Anugerah yang mampu membuatku mengharu biru, anugerah yang mampu membuatku berkobar menyala, anugerah yang mampu membuatkan dingin membeku, anugerah yang mampu membuatku menangis darah, anugerah yang mampu membuatku bagai tersayat sembilu, anugerah yang selalu membuat hatiku begitu megah, anugerah yang kadang seakan mendorongku untuk tertuntuk menyerah, namun sekaligus juga tegak menantang.
Ul, rinduku padamu adalah bukti keagungan anugerah cinta bagiku. Anugerah yang mampu membuat manusia menjadi malaikat sekaligus iblis dalam kehidupannya..............
Sabtu, 25 Juni 2011
Ul, rinduku padamu
sungguh ku sangat rindu padamu
bahkan mungkin terlalu rindu padamu
rindu akan hangat tubuhmu
peluk eratmu
belai lembutmu
kecup bibirmu
senyum indahmu
suara merdumu
sungguh ku sangat merindu
dan semakin terlalu merindu
padamu
rindu akan kobar semangatmu
ide-ide cerdasmu
kritik pedasmu
sungguh ku sangat merindu
semakin bertambah sepanjang waktu
rindu akan hangat cintamu
sejuk kasihmu
gelora sayangmu
gelombang rindumu
damai bersamamu
sungguh ku sangat merindu
padamu selalu
puisiku
kekasihku
isteriku
raniku
Syarifa-ku
Ulya-ku
ku merindu segala
di dirimu
ragamu
jiwamu
sifatmu
caramu
bahkan mungkin terlalu rindu padamu
rindu akan hangat tubuhmu
peluk eratmu
belai lembutmu
kecup bibirmu
senyum indahmu
suara merdumu
sungguh ku sangat merindu
dan semakin terlalu merindu
padamu
rindu akan kobar semangatmu
ide-ide cerdasmu
kritik pedasmu
sungguh ku sangat merindu
semakin bertambah sepanjang waktu
rindu akan hangat cintamu
sejuk kasihmu
gelora sayangmu
gelombang rindumu
damai bersamamu
sungguh ku sangat merindu
padamu selalu
puisiku
kekasihku
isteriku
raniku
Syarifa-ku
Ulya-ku
ku merindu segala
di dirimu
ragamu
jiwamu
sifatmu
caramu
Minggu, 12 Juni 2011
rindu padamu
Ul, ku rindu padamu dalam setiap peran yang kau mainkan bagiku. Ku rindu padamu sebagai laki-laki yang merindu perempuan. Aku merindumu sebagai suami yang merindu isteri. Aku merindumu sebagai kekasih yang merindu belahan hati. Aku rindu padamu sebagai seorang sahabat yang merindu sahabat jiwa.
Ul, tak mungkin bagiku untuk menceritakan segala rinduku padamu. Tidak pada siapapun, karena rinduku padamu hanya mampu kubagi padamu. Rinduku padamu hanya mampu ku ungkap padamu. rinduku padamu hanya mampu ku urai denganmu.
Ul, kadang gemetar seluruh badan, bergetar di tiap titik aliran badan, ketika mencoba menahan rindu padamu.
Ul, tak mungkin bagiku untuk menceritakan segala rinduku padamu. Tidak pada siapapun, karena rinduku padamu hanya mampu kubagi padamu. Rinduku padamu hanya mampu ku ungkap padamu. rinduku padamu hanya mampu ku urai denganmu.
Ul, kadang gemetar seluruh badan, bergetar di tiap titik aliran badan, ketika mencoba menahan rindu padamu.
Langganan:
Postingan (Atom)