Ul, semakin banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, meski kadang juga bingung mesti dari mana memulai.
Semakin banyak hal yang tak ku mengerti, banyak peristiwa tak mampu ku cerna dengan hati, hingga akhirnya berakhir dengan kekecewaan diri.
Ul, rasanya tetap saja aneh ketika ku mesti bercerita kepada selainmu, cerita yang tidak pernah tuntas, cerita yang mesti tetap saja kupilah pilih bagian mana yang mesti diceritakan dan bagian mana yang mesti tak boleh diketahui orang.
Ul, sekarang aku hanya ingin bercerita padamu, tentang segala hal yang kadang membuatku tersenyum, tentang banyak hal yang membuatku terpaksa merenung, tentang beberapa hal yang membuatku menjadi benar-benar linglung.
Ul, sekarang dengarkanlah ceritaku, dengarkan melalui desah nafasku, dengarkan dengan telinga jiwamu, dengarkan untaian kisah-kisah yang kualami lewat desir, lewat hembusan, lewat belai semilir jiwaku yang menyentuh jiwamu.
Ul, tolong diam sebentar jiwaku, biar tuntas seluruh ceritaku, biar puas ku bercerita padamu, biar lega segala yang menekan rasa.
Ul, sudah kau dengar semua ceritaku. Kita bercerita bukan lewat kata, karna kata menghilangkan begitu banyak makna dalam cerita kita.
Ul, kita berbincang bukan dengan lisan, karna lisan tersekat dalam batas waktu dan ruang. Kita berbincang dengan sentuhan-sentuhan jiwa, bahasa cinta, desan rindu.
Ul, terima kasih asal segalanya...atas cinta, atas rindu, atas rasa.....
Rabu, 22 Agustus 2012
Senin, 13 Agustus 2012
cerita malam ini
Ul, kembali ku sampaikan rindu padamu, mungkin bukan hanya aku, tapi juga Lana.
Kau tahu Ul, beberapa hari ini Lana sering bertanya tentangmu, tentang apa yang biasa kau lakukan, tentang bagaimana kejadian kecelakaan yang menimpa kita, tentang bagaimana proses pemakaman, tentang bagaimana dulu ia memperlakukannya.
Ul, kadang sangat sulit bagiku untuk menjawab seluruh pertanyaan dan keingin tahuan Lana, meski aku tahu ia berhak tahu segalanya tentangmu, tentang ibunya. Kadang aku khawatir ketika menjawabnya aku kembali menangis, padahal engkau tahu Ul, aku tak ingin sama sekali bercerita tentangmu kepada Lana dengan menangis. Aku tak ingin bercerita kepada Lana tentangmu dengan wajah penuh duka. Aku ingin bercerita tentangmu dengan senyum mengembang. Menceritakan dirimu dengan penuh kebahagiaan. Karena engkau bukanlah dukaku, engkau bahagiaku. Engkau yang membuat hidup bagiku menjadi begitu berwarna, penuh gairah dan gelora.
Aku ingin Lana tahu betapa besar semangat yang mesti ia terima dari kita, dariku dan darimu. Biarlah ia mendengar betapa ibunya sangat memiliki tekad kuat, betapa engkau selalu memegang prinsip, dan hal-hal baik lainnya yang aku ketahui tentangmu.
Ul, sungguh akupun merindumu, rindu pelukmu, rindu belaimu, rindu suaramu, rindu segala yang ada di dirimu.
Kapan engkau kembali menjumpaku dalam hadir maya atau nyata jiwamu.....
Ul,......semoga amin menjadi jawab atas do'a dan harapanku,--kembali bersamamu---
Label:
masih tentang rindu padamu
Jumat, 10 Agustus 2012
ketika rindu
Ul, entahlah, kadang aku merasa hampir merindunya seperti aku merindumu.
kadang sangat terasa bagiku engkau benar-benar kembali hadir dalam dirinya.
kadang benar-benar kutemukan dirimu dalam dirinya....
Ul, kadang rindu benar-benar menyiksaku, menumpulkan segala pikir dan otakku, membekukan semangat dan gairahku, menggigilkan seluruh sendi-sendiku.
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu, dan selalu saja begitu....
kadang sangat terasa bagiku engkau benar-benar kembali hadir dalam dirinya.
kadang benar-benar kutemukan dirimu dalam dirinya....
Ul, kadang rindu benar-benar menyiksaku, menumpulkan segala pikir dan otakku, membekukan semangat dan gairahku, menggigilkan seluruh sendi-sendiku.
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu, dan selalu saja begitu....
Label:
rindu padamu
Kamis, 09 Agustus 2012
hai,
Ul, kembali merindumu di tiap detikku. Dingin merambar sekujur badan, alirkan rindu akan kehangatan.
Ul, kembali merindumu untuk hadir di dekatku. Menggigil jiwa dan pikiran, membeku dalam penantian.
Ul, kembali merindumu di ujung hari. Menunduk dalam iri yang kadang tak terkendali
Ul, kembali merindumu dalam tiap jengkal langkahku. Sepi sunyi hingga seluruh sendi menjadi kaku
Ul, kembali merindumu di hati, pikir, dan nafasku.
Ul, semoga akhirnya aku mampu.....
Ul, kembali merindumu untuk hadir di dekatku. Menggigil jiwa dan pikiran, membeku dalam penantian.
Ul, kembali merindumu di ujung hari. Menunduk dalam iri yang kadang tak terkendali
Ul, kembali merindumu dalam tiap jengkal langkahku. Sepi sunyi hingga seluruh sendi menjadi kaku
Ul, kembali merindumu di hati, pikir, dan nafasku.
Ul, semoga akhirnya aku mampu.....
Label:
kangen....,
ul
Senin, 06 Agustus 2012
Ul, kembali kata tak lagi berdaya
Ul, selalu saja ada hal baru dalam setiap hadirmu. Kembali semua menjadi tak lagi terkatakan, hanya mampu untuk dirasakan. hanya bisa untuk diresapi.
Ada saja hal-hal indah yang engkau taburkan dalam tiap perjumpaan, hias asa dan harapan akan wujud dari segala yang pernah kita angankan.
Ul, ah................tak ada kata yang mampu mencerna, tak ada kalimat yang mampu mengungkap, tak ada bait yang mampu melukiskan. Ketika rasa begitu menyatu, membaur antara rindu, cinta, bahagia, sekaligus luka, duka.
Ul, ah.....sebenarnya ini sudah bukan lagi sekedar tentang kita, bukan lagi sekedar tentang rindu dan cinta kita, karna kini ini sudah menjadi tentang keagungan yang diabadikan dalam kita. Alasan penciptaan semesta. Alasan segala yang wujud ada...
Ada saja hal-hal indah yang engkau taburkan dalam tiap perjumpaan, hias asa dan harapan akan wujud dari segala yang pernah kita angankan.
Ul, ah................tak ada kata yang mampu mencerna, tak ada kalimat yang mampu mengungkap, tak ada bait yang mampu melukiskan. Ketika rasa begitu menyatu, membaur antara rindu, cinta, bahagia, sekaligus luka, duka.
Ul, ah.....sebenarnya ini sudah bukan lagi sekedar tentang kita, bukan lagi sekedar tentang rindu dan cinta kita, karna kini ini sudah menjadi tentang keagungan yang diabadikan dalam kita. Alasan penciptaan semesta. Alasan segala yang wujud ada...
Selasa, 31 Juli 2012
cinta dan rindu padamu
sepanjang waktu ku merindumu,
ku yakini sebagai anugerah Tuhanku
mencintamu di hari-hari sunyiku
ku yakini bagian dari nikmat Tuhanku
Segalanya berawal dari kehendak-Nya
segalanya berjalan berdasar iradah-Nya
dan
segalanya tentu berakhir atas kuasa-Nya
aku merindumu
mencintamu
menghias relungku dengan namamu
semoga bukan memujamu
semoga bukan menuhankanmu
semoga bukan mengagungkanmu
semoga semua hanya bentuk pantulan cinta
dari Sang Maha Cinta
ku yakini sebagai anugerah Tuhanku
mencintamu di hari-hari sunyiku
ku yakini bagian dari nikmat Tuhanku
Segalanya berawal dari kehendak-Nya
segalanya berjalan berdasar iradah-Nya
dan
segalanya tentu berakhir atas kuasa-Nya
aku merindumu
mencintamu
menghias relungku dengan namamu
semoga bukan memujamu
semoga bukan menuhankanmu
semoga bukan mengagungkanmu
semoga semua hanya bentuk pantulan cinta
dari Sang Maha Cinta
Label:
ketika merindumu
Jumat, 29 Juni 2012
bagaimana mesti
bagaimana mesti aku tidak menangis Ul, tak ada lagi bahu tempatku bersandar ketika beban pikiran begitu menekan, tak lagi dada untuk menyembunyikan kepala yang sesenggukan.
bagaimana aku mesti tidak menangis lagi Ul, tak ada lagi sahabat yang setiap saat mendengarkan keluh resah dan gelisah, tak ada lagi suara-suara yang mententramkan jiwa saat keputus asaan mulai menjelma
bagaimana mesti aku tidal menangis Ul, engkau tahu mengapa aku masih saja menangis...
bagaimana aku mesti tidak menangis lagi Ul, tak ada lagi sahabat yang setiap saat mendengarkan keluh resah dan gelisah, tak ada lagi suara-suara yang mententramkan jiwa saat keputus asaan mulai menjelma
bagaimana mesti aku tidal menangis Ul, engkau tahu mengapa aku masih saja menangis...
Langganan:
Postingan (Atom)