Jumat, 22 Februari 2013

Bagian dari gilaku


Ul, kayake aku benar-benar stres ki, sampai bingung mesti dari mana aku cerita. Hari-hari ini aku benar-benar butuh teman cerita, seseorang yang mau mendengar ceritaku dan aku bisa menerimanya sebagai orang yang mendengar ceritaku. Seseorang yang aku benar-benar nyaman untuk bercerita apapun kepadanya dan hatiku sedikit lega setelah selesai bercerita, seseorang yang aku tidak akan pernah malu menceritakan segala keluhnya, lemahku, gilaku, seseorang yang aku tidak pernah merasa takut ia akan membeberkan segala rahasiaku, seseorang yang meski ia membeberkan rahasiaku aku pun tidak akan marah karena itu. Seseorang yang itu adalah engkau di alam nyataku dan setelah itu Jun beberapa waktu yang lalu sebelum kemudian aku melakukan kesalahanku dan ia tak lagi mau mendengar cerita-ceritaku (meski aku tetap berharap ia masih mau membaca cerita-ceritaku).
Ah, entahlah Ul, hari-hari ini kayaknya hatiku penuh dengan kebencian, penuh dengan kemarahan, mudah terpancing oleh emosi, mudah menyalahkan segala sesuatu atas hal buruk yang terjadi. Tidak di rumah, tidak di sekolah, beberapa hari ini aku terlalu sering meletup-letup mengumbar kemarahan, menyingkirkan kepedulian.
Ul, kayaknya aku mulai benar-benar kehilangan kendali, mulai benar-benar kehilangan arah dan langkah. Semua seakan berjalan bertentangan dengan apa yang ku rencanakan, sehingga membuatku semakin gak karuan, semakin ga jelas, dan semakin kehilangan tumpuan.
Ul, aku benar-benar tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya yang terjadi, apa yang menjadi sebab sehingga aku mulai kehilangan kendali diri, mulai menyimpang--bahkan mulai jauh menyimpang--tanpa mampu lagi ku kendalikan, tanpa mampu lagi ku belokkan (meski pada titik-titik tertentu kadang muncul kesadaran bahwa apa yang aku lakukan telah menyimpang dari segala yang biasanya aku lakukan).
Ul, secara psikologis aku tahu aku tidak dalam keadaan yang cukup stabil, emosiku benar-benar susah ku tebak sendiri, kadang dengan tiba-tiba aku menjadi sangat marah tanpa sebab pasti. Entah apa sebenarnya yang tersembunyi dan tak mampu benar-benar ku lepaskan dari relung hati. Entah apa yang memicu semua kegilaan dan ketakwarasan ini. Aku benar-benar tak mengerti.
Ul, ibadahku pun kocar-kacir, morat-marit. Masa dalam dua minggu ini aku kehilangan isya' ku. Aku sendiri hampir tidak percaya kalau lingkaran ini menjadi semakin sempit, apalagi kebiasaan-kebiasaan lain yang coba ku bangun beberapa waktu lalu, kebiasaan-kebiasaan yang ku coba bangun untuk menjaga hatiku, menjaga kesadaranku, menjaga jiwaku aku tetap dalam garis yang mententramkan. Qur'an sudah tak lagi tersentuh tanganku lebih dari dua bulan, apalagi terlafadzkan lisanku, tahajjud tak lagi mengisi malam-malamku--mungkin sudah hampir dua bulan--meski tengah malam kadang aku terbangun dan tak lagi mampu pejamkan mataku.
Ul, aku bukan orang yang lagi melakukan perlawanan, aku bukan pula orang yang lagi ingin menarik perhatian Tuhan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah kebaikan, bukan orang yang mendekati Tuhan dengan jalan yang seakan berlawanan, aku bukan pengikut Tantra Kiri, aku bukan pula Juhala Hukama, aku hanya orang yang seakan tak lagi memiliki pegangan, terombang-ambing di tengah samudera kehidupan, terlempar ke atas ke bawah ke kiri ke kanan dalam badai kehidupan. Segalanya berjalan di luar kesadaran, berjalan begitu saja tanpa terencana--meski terlalu sering sesal menunggu di akhir sana. Dan menangis selalu mengiringinya (ah...tetap saja aku cengeng ya...biarlah...)
Ul, aku seperti kehilangan kembali seluruh nilaiku, aku kehilangan jiwa dan ruh yang menggerakkan raga dan inginku, aku seperti tubuh kosong yang melakukan kebiasaan-kebiasaan alamiyah hanya untuk penuhi tuntutan jasmaniyah, aku seperti robot yang digerakkan oleh kebiasaan, bukan oleh titah yang ditetapkan.
Ul, kadang aku berpikir bahwa aku memang sudah mati, hanya tersisa nafas dalam raga yang tak lagi berjiwa, menunggu kematian untuk melepaskan ikatan dengan ruang waktu, lalu kembali bersatu denganmu. Kadang aku berpikir bahwa aku memang tak lagi punya impian, harapan, dan angan, segalanya telah selesai bersama dengan saat engkau melintas ruang waktu. Yang ku lakukan selama waktu tungguku hanyalah mencoba memenuhi segala inginmu, mimpimu, harapanmu yang kadang saat ku capai aku malah merasa menjadi semakin kehilangan segalanya, karena tujuanku hilang satu, sisa jiwaku perlahan meninggalkan hari-hariku. Aku kadang berpikir bahwa tak perlu lagi aku mempertahankan sisa nafas ini, semakin lama semakin perih tiap tarikan nafasku, semakin pedih tiap hembusan nafasku.
Namun Ul, ketika aku teringat Lana, ketika aku melihat Lana dalam segala kewajarannya, muncul keinginan untuk kembali mempertahankan sisa-sisa nafas kehidupan. Aku mesti membawanya menuju segala kehebatan, menunjukkan jalan menuju pemenuhan takdir kehidupannya di masa depan.
Tapi, Lana bukan impian kita yang tak punya impian, Lana bukan tanah yang engkau inginkan yang dengan mudah bisa aku dapatkan saat segalanya memungkinkan, bukan perjalanan suci yang kita rencanakan untuk menyempurnakan keimanan. Lana adalah impian terbesar kita. Impian yang punya impian, impian yang memiliki angan dan harapannya sendiri. Lana adalah pribadi, hasil cinta suci kita, yang hanya bisa dihebatkan oleh jiwa sabar tegar untuk menjadikannya luar biasa.
Aku tahu Ul, dalam sakitku ini, dalam remuk redam dan kegilaan tanpa kendali ini, dalam segala ketakwarasanku ini, tak mungkin aku mampu menghebatkannya, tak mungkin aku mampu membawanya pada segala keluarbiasaannya. 
Ul, aku hancur Ul, benar-benar hancur, tak ada lagi kualitas kebaikan dalam diriku yang tersisa. Runtuh kembali runtuh. Entah bagaimana aku bisa bangkit kembali. Entah bagaimana aku bisa tegak kembali. Entah bagaimana aku bisa menjadi kembali.
Ul, I need you, benar-benar membutuhkannya, aku membutuhkan uluran tanganmu untuk menarikku dari jurang kejatuhanku, aku membutuhkan seulas senyummu untuk membakar kembali jiwaku yang semakin beku, aku membutuhkan dekapanmu untuk kembali mengikat dan menyatukan puing-puing jiwaku, aku membutuhkan suaramu untuk kembali merangsang telinga jiwaku, aku membutuhkan apapun darimu untuk kembali menghidupkan jiwa dan ruhku. Aku membutuhkan hadirmu untuk kembali menghadirkan diriku, aku membutuhkanmu dalam wujud apapun yang diperkenankan Ia Sang Segala Maha untukku.
Ul, aku mulai ketakutan, aku mulai tak lagi mengenal siapa dan bagaimana diriku, aku mulai kehilangan jati diriku dan aku sangat ketakutan karena itu.
Ul, kadang aku benar-benar ingin mematikan seluruh rasaku, mematikan seluruh ingin dan anganku, biar saja aku tak punya apa-apa lagi, biar saja aku tak hidup lagi, biar saja aku hanya raga tanpa jiwa, biar saja langkahku bukan aku yang menentukannya, biar saja.
Ul, hanya saja Lana tak membiarkanku melakukannya, semakin aku larut dalam gilaku, semakin aku lebur dalam pengabaianku, semakin aku merasa bersalah padanya, semakin aku menangis darah saat memandang wajah tenang dalam tidurnya. Serasa tak ada guna lagi aku, serasa tak ada perlu lagi aku di dunia, dan semakin ada yang layak aku tempati selain neraka.
Tidakkah demikian Ul? Adakah tempat di surga bagi ia yang tak mampu bertanggung jawab atas apa yang menjadi kewajibannya, adakah tempat di surga bagi ia yang tak mampu menjalankan amanat yang dititipkan kepadanya, adakah tempat di surga bagi ia yang tak mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya? Tidak ada kan?...
Ah, entahlah Ul, terlalu banyak wajibku yang telah ku tinggalkan, terlalu banyak wajibku yang ku tunda dan belum ku laksanakan, terlalu banyak wajibku yang mungkin tak akan pernah mampu aku jalankan.
Ah, entahlah.....sudahlah....
yang jelas aku merindumu, menanti hadirmu dalam wujud apapun yang diperkenankan bagiku, atau sebaiknyakah aku segera menyusulmu?


Senin, 18 Februari 2013

padamu dan bersamamu

padamu aku gantungkan seluruh mimpi dan harapan
padamu aku sandarkan segala angan dan capaian
bersamamu aku inginkan akhir perjalanan

sisa nafas ini adalah sebuah persembahan
untuk wujudkan yang kita impikan
sisa nafas ini adalah sebuah keyakinan
akan purna segala yang kita angankan

mungkin hilang sudah mimpi anganku
mungkin sirna pula hasrat hidupku
bersamamu melintas waktu
tinggal menunggu tiba ajalku
seraya tunaikan akhir tugasku
dewasakan dan hebatkan buah cinta rindu

mungkin kita aku tinggal menunggu waktu
menanti saat tepat bagi kita untuk bertemu
dan sambil menunggu aku akan melakukan sesuatu
biar tak hanya duduk termangu

mencoba beri manfaat yang aku mampu
mencoba tebar guna seluas jangkauanku
tak akan ku hirau segala suara ragu
tak akan ku peduli cemooh mengitari
tak akan ku pikirkan segala cela nista

sungguh aku tak ingin membuktikan sesuatu
aku hanya menunggu waktu
mengerjakan sesuatu daripada hanya duduk termangu

Jumat, 15 Februari 2013

malam ini....

entahlah Ul, malam ini aku ingat semuanya, semua yang telah kita alami, segala kata yang pernah kita ucapkan, ingat segalanya tentangmu, tentang kita.
Ga tahu juga Ul, malam ini aku juga ingat semua yang pernah dikatakan pae--guru sekaligus mertuaku--, segala yang telah dinasehatkan kepadaku tentang hidup, tentang tujuan, tentang apa yang mesti dipertahankan dalam hidup.
Dan setiap kali aku ingat semuanya, aku hanya bisa menangis, menangis, benar-benar menangis.
Dan kau tahu Ul, aku senang, benar-benar bahagia karena aku masih bisa menangis, menangis bukan karena sedih, menangis karena bahagia karena dengan menangis aku masih yakin bahwa hatiku belumlah sekaku yang itu, hatiku masih peka, masih mau mendengar detaknya, masih mau mendengar denyutnya, masih mau mengikuti getar tanpa pernah merasa malu untuk mengakui kurang, mengakui salah, mengakui bahwa orang lain bisa lebih baik, tidak pernah merasa malu untuk belajar menjadi lebih baik, belajar dari siapapun, tak peduli orang tua, orang muda, bahkan anak-anak sekalipun.
Terima kasih ya Allah, masih engkau perkenankan aku menangis, menangis yang benar-benar menangis, menangis yang muncul begitu saja, menangis yang bukan karena sekedar kesedihan dan kekecewaan....
Syukron 'alaika ya rabb.....

Sabtu, 09 Februari 2013

coretan pagi

Aku tahu dan percaya Ul bahwa apa yang sering kau katakan adalah benar. Bahwa pada akhirnya setiap orang mesti sendiri. Pada akhirnya hanya diri kita sendiri yang akan menanggung dan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Tapi sungguh Ul, benar-benar sendiri adalah sesuatu yang sangat berat, sangat menekan dada, sangat menggelisahkan jiwa.
Sungguh Ul, merasa tidak sendiri adalah kekuatan luar biasa untuk bertahan dari segala badai dan cobaan hidup. Sungguh Ul, ada seseorang yang selalu menemani perjalanan merupakan sesuatu yang akan membuat seseorang mampu bangkit berjuta kali hingga mencapai tujuan kehidupan. Sungguh Ul, memiliki seseorang yang senantiasa bersedia mendengar setiap kisah perjalanan adalah sesuatu yang akan membangkitkan semangat untuk terus melakukan perjalanan, memiliki seseorang yang selalu bersedia untuk mengulurkan tangan saat kerikil tajam memaksa kita menunduk dan terjatuh adalah anugerah yang tak terkatakan.
Sungguh Ul meski pada akhirnya setiap orang akan sendiri, namun teman perjalanan sungguh sangat meringankan beban dan mengurangi tekanan berat rintangan perjalanan.
Aku berharap dan menengadahkan tangan kepada Ia yang Memiliki Sempurna Kekuasaan, semoga engkau abadi mengalir dalam nadi, mendetak bersama jantung, semoga lampu ruang hatiku senantiasa engkau nyalakan dengan cintamu, biar terang seluruh relungku, biar hangat dinding hatiku, biar aku tak pernah merasa sendiri.
Selalu engkau adalah anugerah terbesar hidupku, jalan bagiku untuk lebih mengenal cinta, pengorbanan, keyakinan, iman, kebaikan, dan kemanfaatan.
Terima kasih untuk seluruh waktumu bersamaku, terima kasih untuk kerelaanmu menghuni sempit ruang hatiku, terima kasih untuk setiap keindahan yang selalu kau alirkan dalam getarku. Terima kasih untuk seluruh curahan cinta dan rindu.
Ah....aku benar-benar merindumu, rindu mengurai cerita kepadamu, rindu menyandarkan kepala di dadamu, rindu.....
Love you so much Ul.....ku harap sebelum matiku ku sudah mampu lupakan ragaku hingga mampu kita bertemu dalam sempurna jiwa, melintas batas ruang waktu, memadu di angkasa biru....
Ah.....entahlah...

Jumat, 08 Februari 2013

Lana dan Kesehatannya

Hai Ul, hari ini aku mulai lega karena Lana sudah kembali menemukan keceriaannya setelah empat hari uring-uringan karena kondisi badannya yang lagi tidak fit, meskipun masih menyisakan manja (biasa kan Ul jika ia habis sakit biasanya emang seperti itu kan?).

Ya Ul, malam Sabtu lalu Lana badannya panas bukan main. Meskipun masih mengikuti pola yang sama (habis Isya masih normal namun mulai sore wis mulai nglendot dan terkesan males-malesan kemudian ketika tidur mulai panas dan ketika menjelang jam 12 malam menjadi sangat panas hingga ia tidak bisa tidur lagi dan badannya menggigil serta bergetar karena menahan panas), tetap saja selalu memunculkan kekhawatiran dan ketakutan tersendiri bagiku, dan selalu saja menghadirkan hal-hal baru yang belum pernah muncul pada kondisi sebelumnya.

Ul, biasanne kan kalau Lana panas tengah malam, kemudian tak ajak keluar maka menjelang subuh panasnya mulai turun sehingga ia akan bisa istirahat (tidur) hingga pagi, wingi iku panasnya ga mau turun-turun hingga pagi sehingga langsung aku periksakan ke bidan desa. (meski di hadapan siapapun aku berusaha tenang dan mensikapi sakit Lana secara biasa tetap saja aku tidak bisa menghilangkan rasa takut dan khawatirku kalau terjadi apa-apa dengan penyakit kali ini. lagian sekarang ini kan masih musim demam berdarah, he he).

Selain itu Ul, biasanya kalau panas model kayak gitu, biasanya hanya satu malam dan ketika siang akan turun panasnya, lha kali ini bahkan sampai siang panasnya ga turun-turun bahkan obat dari bidan desa tak pikir ga ada efeknya sehingga aku berpikir untuk membelikannya obat malaria, tapi ga jadi karena mbahe sudah membelikannya sirup turun panas. Obat dari bidan tak tinggalkan dan aku beralih ke sirup itu yang meksipun tidak terlalu mengurangi panas tapi membuat Lana mulai mau bermain.

Tapi Ul, malam berikutnya kembali Lana ga bisa tidur mulai jam 12 hingga pagi hari. Aku semakin tambah khawatir jangan-jangan Lana kena gejala demam berdarah, tapi ketika ta teliti ciri-cirinya, kayake ga da ciri-ciri kena demam berdarah, ia masih mau makan dan tidak muntah, tidak ada bintik-bintik merah di kulit yang mencurigakan (kecuali bintik-bintik yang seperti orang 'dabagen', bintik-bintik yang muncul akibat suhu badan yang sangat panas).

Aku mulai berpikir jika sampai 3 hari suhu badan Lana tidak turun-turun dan jika ia mulai ga mau makan atau muntah, maka ya mau tidak mau aku akan membawanya ke rumah sakit (dan pikiran membawa Lana ke rumah sakit semakin menggelisahkanku, meskipun tetap saja aku berusaha untuk tenang di hadapan orang-orang di sekitarku).

Ul, masih ada dua hal yang akan aku lakukan sebelum hari ketiga, pertama aku akan kasih Lana paracetamol dan amoxilin (obat yang biasa aku berikan saat ia mengalami panas seperti ini namun waktu itu aku lagi kehabisan) dan jika tidak turun juga maka aku akan periksakan ke pak Wanto. Kemudian aku cari amox dan paracetamol, lalu ku minumkan ke Lana sore hari (aku berpikir jika nanti malam masih panas maka aku akan perikasakan ke pak Wanto).

Alhamdulillah Ul, suhu badan Lana mulai turun sehingga ia mulai bisa tidur tapi belum bisa senyenyak biasane. Ia ikut bangun ketika aku bangun dan maunya selalu ditemani dan dipeluk saat tidur sehingga nyaris aku tidak bisa melakukan apa-apa, but it's OK).

Senin, meskipun suhu badannya sudah turun namun Lana malah menjadi susah makan (mungkin karena pahit lidahnya sehingga ia males makan), Muncul lagi kekhawatiranku, jangan-jangan ini bagian dari model pelana kuda demam berdarah, kemudian aku periksa lagi kondisi badannya dan tidak ku temukan ciri-ciri yang menunjukkan gejala demam berdarah, aku lega. Dan sorenya aku meminta mbak Nani agar besoknya membawa Lana untuk dipijit ke mbah Warsi (tak pikir jangan-jangan Lana kelelahan dan perlu peregangan otot dan badan).

Ul, habis dipijit kondisi Lana semakin baik meskipun masih agak sudah untuk makan dan menjadi manja. Ia menjadi sangat peka ketika tidur tak tinggal (misalnya ke kamar mandi). Ia juga sangat peka ketika aku bangun untuk nyalakan laptop (tak pikir aku bisa nyambi mengerjakan beberapa hal yang terkait dengan administrasi madrasah, sehingga pekerjaan yang sudah kadung numpuk bisa mulai tak kerjakan
). Ia selalu bilang, 'Bapak ojo nyekel laptop terus tah', dan ya sudahlah akhirnya dalam seminggu ini aku ga melakukan apapun.

Dan sungguh Ul aku sangat bersyukur karena malam ini kayaknya Lana mulai kembali ke kondisi tidur nyenyaknya, meskipun tadi beberapa kali bangun pas aku bangun sehingga aku bisa menulis dan bercerita padamu, tapi kayake kini giliranku yang mesti mengambil jatahku Ul (mulai kemarin badanku terasa pegel, mata agak panas, dan pas di kelas rasane ngantuk banget). Tadi malam sudah tak kasih antangin, dan semoga hari ini aku bisa cukup beristirahat karena besok Sabtu aku ada agenda ke MTs N Wirosari untuk mengikuti acara dialog dengan dewan pendidikan.

So, dalam minggu ini pun akhirnya Lana ga berangkat sekolah dan ngajipun masih tak liburkan (kemarin aku tanya ke Lana sudah mau berangkat sekolah durung?, ia mung klesat-kleset yang berarti bahwa ia masih belum mau berangkat. (Ul, tak pikir ga pa-pa lah, sekalian ae libure seminggu, ben digunaka untuk istirahat dulu, he he).

O ya Ul, sekarang memakamkan jenazah di makam utara masjid kayake akan menjadi boleh lagi. Pada Kamis sore kemarin ada warga Jimatan yang meninggal dunia, kemudian warga bersepakat untuk memakamkan jenazahnya di makam utara masjid. Pihak keluarga ga pa-pa asal diurusi sampai akhir. Kemudian orang-orang mengambil strategi untuk mengumpulkan banyak warga di makam utara masjid saat melakukan penggalian. Ternyata juru kunci juga tidak melakukan apa-apa (mungkin ia langsung menghubungi kepolisian karena kemudian datang anggota kepolisian namun tidak mencegah atau melarang aktivitas warga tapi katanya bersama dengan pak lurah mendatangi juru kunci di ruangannya dan ga ngerti apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas tidak ada yang mencegah proses penggalian makam tersebut). Cerita yang berkembang (entah benar entah tidak) katanya waktu pak lurah dan kapolsek Tawangharjo bertemu dengan juru kunci terjadi dialog yang menanyakan kepada pak lurah apakah beliau berani bertanggung jawab jika pemakaman di utara masjid dilakukan? kemudian di jawab pak lurah 'ya, saya bertanggung jawab', dan akhirnya pemakaman di utara masjid diperbolehkan (dalam arti tidak dicegah) tapi katanya juga memakamkan jenazah di utara masjid kembali diperbolehkan khusus untuk warga Jimatan.

Ul, tak pikir ga pa-pa lah, jika warga Jimatan sudah diperbolehkan untuk kembali memakamkan jenazah di utara masjid, maka sebentar lagi semua pasti juga akan diperbolehkan (he he)...

Ul, wis disik ya...wis subuh ki...rindu akan hadirmu semakin menjadi saat aku mulai merasakan kondisi fisik dan psikisku menurun, saat dada serasa sangat sesak untuk bernafas, kala beban pikiran begitu menekan perasaan....

Love you so much....eeemm....ah...



Kamis, 31 Januari 2013

unthinkable story

Hi Ul, aku yakin engkau selalu dalam keadaan yang baik dan penuh dengan kebahagiaan.
Ul, dua hari lalu aku mengalami peristiwa yang gimana ya, mungkin unik kata yang agak mewakilinya, sesuatu yang membuatku tampak bodoh, gak peka, dan tak terpikirkan sama sekali kalau intinya ternyata soal rasa, he he...
Sebenarnya aku ingin langsung cerita ke kamu, tapi malamnya aku tidur sore, seperti juga tadi malam. Kayake sekarang les membuatku menjadi sangat lelah sehingga jam 8-an aku sudah ngantuk banget--meskipun seringkali jam 12-an nglilir.
Gini ceritane Ul, hari itu sekitar jam 5 kurang 15 menit, aku baru saja ambil air wudlu untuk shalat Ashar, tak lihat di depan rumah ada motor, tak pikir Tolhah karena motore sekilas sama, ternyata bukan.
Aku persilahkan ia masuk kemudian aku tanya ada perlu apa?, ia menjawab: 'pak wingi pak Fuad njaluk no sampeyan kan? iki maksude piye?'. Ul, sungguh aku benar-benar bingung, ada masalah apa ini? kok tiba-tiba pertanyaane kayak gitu. Ya aku mengenalnya karena sekolah pernah punya hubungan kerja dengannya dan mas Fuad juga, tapi aku ga merasa lagi masalah dengannya tapi kok tiba-tiba ia bertanya seperti itu? apa da hubungannya dengan sekolah atau mas Fuad ki.
"Sik-sik pak, jane ki da apa? coba njenengan critakan dari awal, serius aku ga paham maksud e njenengan?" kataku.
"Wingi pak Fuad njaluk nomor njenengan kan?" tanyanya. "Ya", jawabku "wingi mas Fuad memang sms aku njaluk no, tapi no sing dijaluk nomore Jun, adine" (Hari Minggu memang mas Fuad sms aku, tanya punya nomore Jun ga, kemudian mas Fuad tak kirim nomor yang aku punya, dan saat itu aku benar-benar ga nggeh kalo ini berhubungan dengan Jun, bukan dengan persoalan pekerjaan atau persoalan kesalahan yang aku lakukan).
Ul, aku benar-benar bingung, ia kemudian malah bercerita kalau ia dikata-katane di sms, kemudian bercerita dengan facebook yang aku ga paham, kemudian bercerita tentang berita yang aku juga ga ngerti maksude. Lagian biasane Ul, jika aku lagi ada masalah aku deg-degan, ada kekhawatiran yang menyelinap di hatiku sehingga detak jantungnya berpacu lebih cepat. Kali ini aku tidak merasakan apa-apa, kok aku kedatangan tamu yang kelihatan sangat khawatir (tahu ga Ul, saat ini bercerita keringatnya bercucuran--sepertinya keringat dingin, keringat orang yang lagi takut dan sangat khawatir--dan ia juga sering menunduk--menangis).
Ul, aku benar-benar bingung, beberapa kali tak minta ia menceritakan apa yang terjadi dari awal, dan tetap saja aku ga ngerti ujung pangkalnya, akhirnya aku meminta maaf jika telah melakukan kesalahan padanya, baik kesalahan pribadi atau jika terkait dengan sekolah, "tapi ya kayake ga mungkin pak  kalau secara pribadi aku melakukan semacam teror ke njenengan, karena aku ga punya nomor njenengan dan aku juga ga tahu akun facebook njenengan" kataku,
Ul, ia kembali mengulang ceritane (yang tetap saja aku ga ngerti ujung pangkale), sampai akhire aku tanya: "Pak Fuad tahu cerita iku pak?" Ia menjawab: "Ya", "ya wis coba tak hubungane pak Fuad, sebab aku bener-benar ga faham maksud njenengan", kataku.
Kemudian aku mencoba menghubungi mas Fuad, beberapa kali dan ga da yang njawab, ia tetap ae ngulang cerita yang bagiku semakin kabur dan ga dapat ku mengerti apalagi ia ngomongnya lirih. ah....semakin bingung ae aku Ul.
Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5.10 dan aku belum shalat Ashar, lalu aku bilang: "Pak tulung aku dicritane saka awal sing jelas, tapi aku tak salat disik ya, sebab aku durung Ashar". 
Ul, aku meninggalkannya untuk shalat Ashar, dan tahu ga baru dua rakaat ia sudah meminta ijin padaku untuk pulang "Wis mas aku tak bali disik ya", katanya.
Ul, aku benar-benar semakin bingung dengan apa yang terjadi, kemudian habis shalat aku kirim sms ke mas Fuad untuk menanyakan apa  sebenarnya yang terjadi, setelah itu aku jalan-jalan dengan Lana kemudian mampir di rumah lor untuk mengambil buku yang tak pinjam dari mas Fuad. Pas di lor--hampir magrib--mas Fuad balas smsku, ini sms e:
"wah...cak...ngelu sirahku..dadi **** ki tau ngomong kr aku nek dw e seneng kr jun...iku wis ga neng goku...tak jawab nek aku tdk dlm kpstas menolak ato mnrma...aku cuma blg nek pncn dia wis rmbkn dw kr jun...dan jun tu mau...iku ursne gmpg...iku rak yo jwbn proporsional jane...dd dia moro ng mah wgi...aku mlh bgg..."
Ah...ini masalahe ternyata, pastes kok aku ga bs nyambung blas, ah...jangan-jangan wingi pas mas Fuad minta nomor e jun sebab orang itu tanya mas Fuad nomor e Jun? aku juga ga tahu apakah kemudian mas Fuad kasih nomor itu kepadanya atau berpura-pura ga tahu, ah mbuhlah....
Kemudian mas Fuad ngebel aku dan menjelaskan cerita sebenarnya, dan dari mas Fuad aku tahu ternyata orang itu sudah nemui bue hari itu karena aam juga baru sms mas Fuad untuk nelpon bue terkait hal itu, dan bue jadi bingung juga apa yang terjadi, lalu mas Fuad minta aku untuk ngomongi bue apa yang terjadi.
Dari aam aku tahu bahwa orang itu datang ke rumah pada pagi hari dan kemudian sore hari--yang aam ikuti--karena ia menemui bue pas di dapur dan pas asah-asah. Kata aam ia minta nomor tlepon Jun dan bue maupun aam kan ga punya. Jare aam bue semakin bingung dengan apa yang terjadi. 
Ul, ternyata ia ke rumah kita itu setelah dari rumah bue, dan mungkin ingin tanya nomor e Jun atau mungkin ia sudah dikasih nomor oleh mas Fuad kemudian ia coba ngebel ke nomor itu tpi ga bisa. 
Ah entahlah Ul, Kemudian aku temui bue dan menceritakan apa yang terjadi secara singkat yang intinya seperti yang diceritakan mas Fuad. Ya memang belum lengkap juga ceritaku karena yang paling tahu tentang hal ini memang mas Fuad, tapi minimal bue tahu garis besar apa yang terjadi sehingga jika misale orang itu datang lagi tidak lagi bingung dan bisa mensikapinya dengan biasa.
Aam khawatir jika orang itu besok datang lagi, lalu aku bilang jika ia datang lagi maka sms aku, aku tak sms mas Fuad agar ia ngubungi orang itu dan ngomong agar ia ga usah ke rumah lor lagi.
Ul, tak pikir sudah selesai masalah karena paginya aam ga sms aku, eee ternyata masih ada lanjutannya (meskipun ya merupakan hal yang wajar). Pas lagi di sekolah aku dicari oleh kakak orang itu, aku langsung nggeh kalo ini pasti masalah itu, lalu aku ajak ia ke kantor dan menceritakan apa yang terjadi seperti yang tak ketahui, kemudian dia bilang akan menghubungi mas Fuad, lalu aku sms mas Fuad dan beberapa saat kemudian mas Fuad bilang bahwa ia sudah ditelpon.
Ya...kalo dilihat dari sudut orang yang lagi jatuh cinta, mungkin hal-hal yang tidak masuk akal dan unik ini menjadi wajar, tapi aku malah kepikiran bagaimana kalo orang itu bilang ke Jun kalo ia dapat nomor dariku, bahhhhhhhh bisa tambah kaco ni, bisa-bisa Jun malah benar-benar ga mau lagi bicara maupun membaca ceritaku, ah..semoga saja tidak lah...
Mungkin itu dulu cerita kali ini Ul, sebuah cerita yang benar-benar membuatku tampak bodoh, sebuah peristiwa yang benar-benar tak perpikirkan olehnya bahwa ujungnya di sana, ah...ternyata nalarku masihlah nalar bocah yang belum benar-benar memiliki kepekaan sama sekali...
See you....love you so much as always...
seperti juga rinduku yang selalu menggulung berusaha menyentuh dan mencium bibir pantai sua....

Jumat, 25 Januari 2013

Lana is Still Lana

Ya Ul, ku ingin kembali bercerita tentang Lana, putera kita, cahaya mata kita, detak yang berasal dari penyatuan detak kita.
Ul, senyum dulu lah, ku rindu senyum itu. he he. dan ku harap engkau banyak senyum juga ketika membaca ini (menurutku banyak yang lucu lho...).
Ul, beberapa hari lalu Lana minta agar dua roda kecil sepedanya dicopot dan kemudian langsung minta dipasang lagi, tapi kemudian tak pasang dengan posisi agak ke atas sehingga memungkinkannya untuk belajar sepeda tanpa jatuh (masih ingat kan cerita tentang Lana sebelumnya?). Awalnya, Lana mau-mau saja, tapi beberapa kali ia sempat jatuh karena ia memang belum benar-benar mampu mengendalikan keseimbangan badannya. Ga nangis sih, karena jatuhnya tidak keras dan ia sudah mulai bisa mengendalikan jatuhnya sehingga tidak sakit dan luka.
Tahu ga Ul, dua hari lalu Lana kembali meminta agar dua rodanya agar dibikin tegak lagi sehingga posisi sepeda tidak miring lagi, katanya: "Bapak rodane diluruske, soale Lana dawah terus nak pit e miring, Sok nak prei di luruske ya, sok Jum'at bapak prei kan sekolahe, sok Jum'at ya?".
Dan tahu kan Ul, Lana selalu ingat dengan permintaannya, sehingga tadi baru bangun tidur langsung tanya lagi: "Bapak, saiki kan jum'at to, sok kapan pit e Lana didandani?". Tak jawab ae: "Ngko awan nak Lana wis mantuk seko sekolah". Dan benar saja, baru masuk rumah ia sudah menagih janji, ya, jadinya tak kembalikan lagi deh rodane sehingga sepeda bisa tegak kembali.
Lana is still Lana Ul, ia dianugerahi dengan kewaspadaan jauh melebihi teman-temannya jika terkait dengan keamanan dan resiko luka yang akan dialaminya.
Terus hari Rabu kemarin kan TPQ ada acara maulid Nabi, acaranya jalan-jalan kemudian dilanjutkan maulidan di TPQ, so masuknya jam 2 siang bukan habis Ashar seperti biasanya. Kebetulan Lana tidur siang (padahal biasanya disuruh tidur siang angel pol) dan bangunnya sekitar jam 2.30-an, bisa-bisane ia bilang: "Bapak sekolah TPQ mangkat jam 2 ki wis jarum cilik wis angka 3, Lana keri Bapak". Kau tahu Ul, lanjutan dari itu, Lana ga mau berangkat karena terlambat. Tak pikir ya sudah lah ga pa pa.
Lucune, ketika teman-teman TPQ nya lewat depan rumah, Lana segera lari ke belakang bersembunyi (kayake ia malu, he he) padahal sebelumnya ketika belum sampai depan rumah ia lari ke pinggir jalan untuk melihatnya. Dan ketika tak suruh untuk ikut ae, segera ganti baju kemudian ikut teman-temannya tetap ae ia ga mau, padahal biasanya jika Salma mau ia juga mau tapi kali ini tetap ae Lana tidak mau. He's still him, he he he...
Ul, sudah semingguan ini Lana mulai mau mengaji bareng teman-temannya di langgar. Ya jelas seneng lah aku karena ia mulai mau ngaji bareng teman-temannya, meskipun karena ngajine di langgar sering ia langsung main hingga habis isya'. Dan baru habis isya ia ngaji fashalatan denganku di rumah.
Ah...banyak lagi Ul hal-hal lucu yang akan membuat kita selalu tersenyum ketika melihat dan mengingat apa yang dilakukan Lana. Ia tetap dan selalu menjadi Lana kita yang senyumnya akan melunturkan keletihan kita, yang suaranya menghilangkan seluruh kesal dan marah, dan tangisnya meluluh lantakkan setiap keangkungan dalam diri kita.
Ul, mungkin itu dulu ya ceritane, kapan-kapan disambung lagi seperti biasane, he he he.
See you....dalam sadar dan mimpiku, dalam jiwa dan ragaku, engkau mengalir dalam seluruh kisah hidupku, engkau mengalir dalam nadi darah dan nafasku. rautmu tetap melekat di mataku, suaramu tetap mengiang di telingaku, aromamu tetaplah aroma terharum bagi hidungku...
Love you as always.....