aku merindumu sepanjang waktuku
mengalir dalam alir darahku
berhembus bersama nafasku
bergerak bersama langkah kakiku
merengkuh dalam tiap gerak tanganku
aku merindumu dalam seluruh waktuku
menuju sua yang tak pernah tahu kapan jua
aku menyebutmu dalam tiap kata yang keluar dari jiwa
bersama detak yang mendenyut di jantungku
dalam denyut yang mengalir di nadiku
aku menyebutmu sepanjang waktu
dalam sadar dan tidurku
aku merindumu dalam selurung ruang waktu
melintas batas alam, melampauinya daya nalar
merasuk jiwa abaikan keterbatasan raga
aku merindumu sepanjang sisa nafasku
sebagai syukur atas anugerah cinta kasihmu
dari Ia Sang Segala Tahu
aku menyebutmu bahkan dalam ruku sujudku
bersama Asma dan salam sang Rasul penutup waktu
aku menyebutmu dalam untaian doa harapku
iringi puja pada Sang Pemilik Waktu
setelah salawat pada sang kekasih Tuhanku
aku merindumu
menunggu suamu
menanti turun wujudmu
dalam bentuk apapun yang diperkenankan Sang Penguasa Rindu
aku merindumu belahan jiwaku
separuh sukmaku
setengah nafasku
aku melihatmu dalam tiap percik jiwa yang kau tebar di sekitarku
dalam hembus semilir kirimkan wangimu
dalam tiap desah yang tiba-tiba menyambangiku
aku merindumu
sepenuh
seluruh
seutuh
Allah, Tuhan Penggenggam Segala yang tersimpan di kalbu
mohon perkenan-Mu
aku sungguh mohon perkenan-Mu
perkenankan wujud kembali dalam nyataku
perkenankan rindu abadi menghias relungku
perkenankan aku mampu ridlo atas segala tetap-Mu (amin)
Senin, 02 September 2013
Senin, 12 Agustus 2013
Ceritaku kali ini (it's about me)
Hai Ul, semoga rahmah Allah senantiasa bertambah melimpah mengalir padamu.
Ul, kali ini aku cuma pengen cerita tentang kegilaanku pada Ramadlan dan Syawal ini. Aku ga tahu apakah yang akan ku ceritakan ini nanti akan membuatmu tertawa, kecewa, atau malah bahkan bersedih, tapi aku berharap ceritaku kali ini hanya akan membuatmu tertawa dan menertawakan kekonyolan dan kegilaanku (sesuatu yang sebelumnya juga tidak pernah aku perkirakan sama sekali, sesuatu yang sebelumnya juga tidak pernah ku sangka akan terjadi padaku...).
Ul, mungkin Ramadlan dan puasanya kali ini merupakan salah satu Ramadlan dan puasa terburuk bagiku (kalau aku menggunakan sudut pandang religiusitas dan psikologis penghambaan) dan Syawal serta idul fitrinya pun tampaknya juga merupakan salah satu yang buruk kali ini.
Ah..Ul, aku kadang tertawa sendiri, mentertawakan kegilaan dan kekonyolanku kali ini tapi sekaligus kadang aku menangis tersedu, menyadari betapa kacau dan gila apa yang aku lakukan kali ini.
Ok, kita mulai aja cerita kali ini...
Ul, tidak ada yang istimewa ku rasakan menjelang puasa tahun ini, semua tiba-tiba menjadi hambar, tiba-tiba semua menjadi seperti di ruang hampa, tanpa hasrat tanpa makna. Sepi, sunyi, sendiri. Aku merindumu Ul, benar-benar merindumu, sebagaimana biasanya, tapi kali ini hasrat untuk kembali menghadirkan jauh melebihi tahun-tahun lalu, ah...mungkin benar kata orang Ul, bahwa satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa akrabi dan kita biasakan meskipun telah lama kita bersamanya adalah kesendirian--sendiri--.
Ul, sudah tiga setengah tahun kita tidak berada dalam dimensi yang sama, sudah tiga setengah tahun aku mencoba untuk menjadi biasa tanpamu, sendiri melakukan segala sesuatu, sudah tiga setengah tahun aku berulang kali mencari dan menggunakan banyak hal yang berhubungan denganmu untuk kembali merasakan hadirmu, sudah tiga setengah tahun dan tetap saja aku tak pernah mampu merasa wajar dan biasa dalam kesendirianku tanpamu, sudah tiga setengah tahun tetap saja tak pernah cukup kurasakan kebersamaan denganmu dalam kesatuan jiwa, sudah tiga setengah dan aku semakin merasa asing dengan kesendirianku tanpamu. Dan tahun ini Ul, aku semakin berharap engkau kembali hadir dalam nyataku--tentunya dalam wujud lain yang padanya ku rasakan hadirmu--.
Ul, aku tidak hendak mengatakan bahwa ramadlan kali ini tidak ada satupun hal menyenangkan yang terjadi, ada dan mungkin banyak banyak, tapi secara umum ramadlan kali ini aku benar-benar kacau, tak ada semangat berpuasa, sahur, maupun berbuka, tak ada keinginan besar untuk tadarus (kau tahu Ul, kali ini bahwa satu juz pun aku tak selesai--kayake aku cuma bisa bertadarus 2 surat yang tidak terlalu panjang di juz 18 kalo ga salah), tarawih juga tak sempurna ku jalankan. Ah, entahlah Ul...
Dan ini yang menurutku paling 'gila' Ul--sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, sesuatu yang sebelumnya aku pikir akan mampu akan lewati pelan-pelan tanpa harus mengalami hal-hal yang cenderung 'gila' dan konyol--aku benar-benar tak mampu mengendalikan hasrat kelelakianku, aku benar-benar tak mampu untuk menahan diri dari keinginan untuk memenuhi hasrat akan seks. Aku bertemu dengan batasku untuk menahan diri dari sebuah kebutuhan biologis seorang laki-laki.
Ul, kita pernah mendengar cerita tentang khalifah Umar yang melakukan inspeksi malam kemudian mendengar rintihan perempuan yang merindu 'kehangatan' suaminya yang sedang bertugas untuk berperang, kemudian ia bertanya kepada puterinya, Khafsah--isteri Nabi--tentang batas umum seorang perempuan yang telah bersuami untuk menahan gairah seksualnya, dan Khafsah menjawab empat bulan, maka kali ini aku menemukan kenyataan bahwa ternyata aku benar-benar tak lagi kuasa untuk menahan hasrat ini ketika mencapai tiga tahun setengah.
Sebenarnya sudah sejak dulu aku sadar bahwa aku belum mampu--atau mungkin tidak pernah benar-benar akan mampu--menghilangkan hasrat seksualitas yang ada dalam diriku. Aku sadar bahwa aku masihlah seorang laki-laki dengan usia yang masih cukup panas untuk menggelorakan keinginan dan memiliki kebutuhan atas hasrat seksual, namun selama ini aku berhasil mengatasinya dengan berbagai cara--meskipun aku tahu beberapa cara yang aku lakukan mungkin tidak akan bisa diterima oleh beberapa orang--mulai dari wudlu, shalat 2 rakaat, membaca qur'an, membaca, melihat, atau bahkan menonton video-video porno maupun hal-hal lain yang bisa aku lakukan untuk menahan diri dari melakukan hal-hal yang tak pikir akan menyeretku pelan-pelan menuju tindakan-tindakan seksualitas yang menyimpang.
Ul, entahlah aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi Ramadlan kali ini aku benar-benar tidak mampu menahan diri untuk 'memuaskan' hasrat itu, dan aku pun tak kuasa untuk menahan diriku dari melakukan hal-hal yang selama ini ku anggap sebagai bagian dari perilaku seksual yang 'menyimpan'--meskipun aku juga tahu beberapa orang mengatakan bahwa hal ini tidak termasuk penyimpangan seksual--. Aku melakukan masturbasi Ul dan parahnya bukan sekali namun lebih dari tiga kali (please jangan tertawakan ketak mampuanku Ul...)
Ah Ul, aku benar-benar kembali merindumu kali ini, merindu hadirnya dalam wujud nyatamu, merindu kebersamaan denganmu untuk memadu rindu, bergumul dalam gairah yang terus memburu.
Ul, mungkin salah satu hal terbaik yang terjadi pada Ramadlan kali ini adalah bahwa hubunganku dengan Jun sudah kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya, tampaknya segala bias yang ada perlahan-lahan bisa kami kendalikan (aku percaya bahwa kerenggangan atau keakraban hubungan di antara dua orang ditentukan oleh dua perasaan yang saling mempengaruhi dari dua orang itu--tidak peduli siapa yang memulai kerenggangan ataupun keakraban, yang jelas jika salah satu di antara dua orang tersebut berubah sudut pandangnya maka secara otomatis akan terjadi juga perubahan dalam pola hubungan di antara keduanya). Aku sangat bersyukur dengan hal itu Ul, sungguh aku sangat mensyukurinya...
Tapi Ul, aku juga kaget setengah mati ketika aku menemukan fakta baru bahwa aku melihat sangat banyak--bahkan mungkin terlalu banyak menurutku--percikan dirimu dalam diri Jun, aku merasakan sesuatu yang hilang saat perpindahanmu ke dimensi lain hadir kembali dalam dirinya.
Ul, tidak dapat ku pungkiri bahwa aku senang dengan kenyataan itu, aku senang karena aku kembali merasakan hadirmu dalam wujud nyata, tapi jujur aku juga harus mengatakan bahwa aku senang sekaligus juga mengalami ketakutan. Aku takut--jika semakin banyak percikan dirimu ku lihat pada diri Jun--aku tidak mampu mengendalikan diriku lagi, aku bisa benar-benar menganggap Jun sebagai dirimu dan jika itu terjadi bisa saja aku akan melakukan hal-hal yang akan menghancurkan hubungan baik yang ada di antara kami, bisa saja aku tiba-tiba memeluknya atau bahkan menciumnya ketika tak lagi mampu ku tahan seluruh hasratku akan dirimu.
Ul, terbersit keinginan untuk mengatakan semua pada Jun agar ia mulai berhati-hati denganku karena hal ini, tapi aku lebih khawatir lagi jika aku mengatakan padanya apa yang ku rasakan saat ini, maka hubungan kami yang mulai berjalan seperti dulu akhirnya kembali renggang dan penuh kecanggungan--atau bahkan bisa saja malah Jun menjadi benar-benar marah dan tak lagi mau bertegur sapa denganku--(sesuatu yang tidak pernah bisa aku terima jika aku menjadi sebab rusaknya hubunganku dengan seseorang yang sangat engkau banggakan dan sayangi). Tapi jika suatu saat aku benar-benar tak lagi mampu menahannya maka mau tidak mau aku juga akan mengatakan padanya, dan aku berharap saat itu Jun dalam keadaan baik secara psikologis sehingga ia mampu memandang hal ini sebagai sesuatu yang terpisah dari hubungan kami sebagai kakak dan adik (ipar). (Aku berharap suatu saat aku akan menceritakan seluruh fakta ini kepadanya dalam keadaan yang benar-benar netral dan tidak akan mempengaruhi hubungan baik yang ada di antara kami--atau bahkan kalau boleh aku berharap--malah akan mempererat hubungan kami).
Ul, aku hanya berharap bahwa apapun yang terjadi hari ini ataupun apa yang akan terjadi di masa depan tidak akan merubah apapun yang ada di antara kami, di antara aku dan Jun, di antara aku dan Anip, di antara aku dan Aam, di antara aku dan bue, di antara aku dan mbak Rima, di antara aku dan Mas Fuad, di antara aku dan Mas Ib, di antara aku dan orang-orang yang mengenal dan menyayangimu. (atau bahkan membuat kami menjadi semakin dekat dan akrab).
O ya Ul, ada sedikit cerita di lebaran kali ini. Cerita yang dibuat oleh angkatan terakhir yang pernah engkau ajar, anak-anak MI era Susilo, Milachun, Mia, Nia, dan kawan-kawannya. Ul, angkatan ini ku anggap sebagai salah satu angkatan terbaik MI dalam hal menjalin silaturrahmi dengan guru-gurunya. Setiap lebaran anak-anak ini masih mau berkumpul kemudian mengunjungi guru-gurunya, termasuk ke rumah kita. Dan tahun ini mereka mengungkapkan sesuatu yang benar-benar membuatku terharu, membuatku benar-benar menahan air mata agar tidak tertumpah, membuatku ingin 'memukul' mereka karena mereka hampir saja membuatku menangis di hadapannya, membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.
Kau tahu Ul apa yang dikatakan Susilo untuk mewakili kawan-kawannya setelah meminta maaf kepadaku?. Ia berkata: "kalah titip kagem bu Ul nggih pak". "Titip apa?", kataku. "Titip mintakan maaf kami kepada bu Ulya". Sungguh Ul, hampir saja aku menangis kalau saja tak ku ingat bahwa anak-anak itu masih berada di rumah kita, masih ada di depanku. Memang benar Ul, bahwa setiap hari aku sendiri selalu menyebutmu, bukan sekali atau dua kali bahkan mungkin ratusan kali, namun sampai sekarang setiap kali ada orang yang menyebut namamu aku tak bisa menghindarkan diri dari rasa haru dan akibatnya seringkali aku menangis sendiri (makanya Ul aku tidak terlalu suka jika ada orang menyebut namamu di hadapanku karena aku tidak terbiasa dan tidak suka menangis di hadapan orang lain, aku terbiasa dan lebih suka menangis sendiri atau bersamamu di malam-malamku).
Ul, itu dulu ya cerita kali ini, tolong jangan tertawakan aku atas kegilaan, kekonyolan dan ketidakmampuanku kali ini, tapi jika engkau ingin tertawa, ya tertawalah, tersenyumlah karena aku tidak akan pernah bosan untuk melihat dan mendengar senyum ataupun tawamu...
I love you so much as always...
Semoga rindu kembali mempertemukan kita di salah satu malam dingin di musim kemarau ini agar kerontang jiwaku segera tersirnakan dengan siraman kesejukan dalam hadirmu.
Aku merindumu dan selalu menantimu di ujung malam sebelum pagi mengganti hari.
Label:
ceritaku
Kamis, 08 Agustus 2013
Selamat Idul Fitri Ul...
Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar
La ilaha illa Allah Allahu akbar
Allahu akbar wa lillahi al-hamd
Gema takbir berkumandang dari segala penjuru di sepanjang
malam ini, gema takbir yang menandakan bahwa hari ini adalah 1 Syawwal, Idul
Fitri bagi siapapun yang merasa dirinya muslim.
Ul, selamat Idul Fitri ya, terima kasih atas segala yang
engkau lakukan selama ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari jiwaku selama
ini. Terima kasih atas kerelaanmu untuk selalu hidup dalam hatiku. Terima kasih
untuk keabadian cintamu yang selalu memegahkan jiwaku. Terima kasih untuk setip
percikan cinta dan kasih yang mengalir terus menerus dalam nadiku. Terima kasih atas hadirmu untuk menyambangiku dan membiarkanku kembali memelukmu bulan ini. Terima kasih atas kerelaanmu untuk selalu hadir dalam segala wujud yang aku rasakan (kau tahu Ul, aku merasa semakin banyak percikan dirimu dalam diri Jun dan mulai kurasakan bahwa apa yang hilang bersama perpindahan dimensimu kutemukan kembali saat kehadirannya. Maafkan aku jika itu hanya perasaanku saja dan jika semua itu benar-benar wujud lain dari kehadiranmu, maka thanks you, terima kasih atas cinta dan kasihmu).
Ul, malam ini aku ingin engkau menjadi orang pertama yang bercengkerama denganku di hari Fitri ini, aku ingin di awal Syawwal ini engkau orang pertama yang ku ajak berbincang dan saling berucap Selamat Idul Fitri.
Ul, maafkan aku atas segala kurang dan ketakmampuanku untuk memberi jawaban yang sesuai atas segala yang kau lakukan selama ini. Maafkan aku karena aku belum mampu menemukan format dan cara yang tepat agar dapat memberikan bimbingan dan menunjukkan kepada Lana segala kehebatan dan pentingnya rasa ingin tahu dan pengetahuan. Maafkan aku atas segala kegilaanku selama ini. Maafkan aku karena bulan ini aku benar-benar tak mampu mengendalikan hasrat dan gairah kelelakianku sehingga aku melakukan sesuatu yang selama ini tidak aku terima sebagai penyelasaikan atas masalah ini. Maafkan aku Ul atas setiap jengkal langkahku yang belum mampu memenuhi setiap titik tujuan yang pernah kita rencanakan. Maafkan aku....
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu dan selalu saja begitu. Terima kasih atas setiap wujud dan bentuk jawaban yang engkau berikan padaku melalui detak, melalui denyut, melalui mimpi, melalui pertemuan dua jiwa di alam yang kadang tak pernah aku sangka, melalui kelebatan-kelebatan yang memercik dari sudut mata Lana, melalui segala hal yang kurasakan hadirmu di sana.
Ul, malam ini aku ingin kembali memadu bersamamu, di malam pertama Syawwal yang terberkati. Aku tahu Ul, mungkin aku bukan termasuk salah satu pemilik 1 Syawwal tahun ini, karena Ramadlanku benar-benar gila tahun ini. Tak ada tadarrus, tak sempurna tarawih, tak mampu mengendalikan hasrat dan gairah kelelakianku di malam-malam yang semestinya berurai air mata untuk mengakui segala salah dan dosa. Tapi malam ini aku ingin kembali bercengkrama denganmu, bercerita tentang cinta kita, membincang kembali segala asa dan harapan yang hendak kita bangun di atas bahtera yang telah kita layarkan di samudera kehidupan, merenda kembali segala indah pertemuan dua jiwa yang disatukan dalam rindu dan cinta.
Ul, malam ini aku benar-benar ingin kembali memelukmu penuh rindu, mengecup keningmu untuk mengalirkan segala cinta. Malam ini aku ingin hanya bersamamu, dalam tunduk dan linangan air mata, di atas hamparan sajadah di sebelah peraduan kita.
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu dan selalu seperti itu...
Selamat Idul Fitri kekasihku, mohonkan untukku agar Ia memperkenankan segala yang kita harapkan mewujud satu persatu di tahun-tahun depanku.
Selamat Idul Fitri puisiku, mohonkan untukku kepada Ia sang Maha Cinta agar keabadian mengalir dalam cinta yang menyatukan jiwa kita.
Selamat Idul Fitri isteriku, mohonkan perkenan-Nya untukku agar aku mampu menjadi segalanya demi keutuhan dan kepaduan kita.
Selamat Idul Fitri ibu dari anakku, mohonkan perkenan-Nya agar Ia menunjukkan dan memperkenankan Lana menikmati segala kehebatan dan kemanfaatan dalam hidup dan kehidupan buah mata kita.
Selamat Idul Fitri Syarifa Ulya, keindahan yang terukir megah di sudut-sudut jiwaku.
Selamat Idul Fitri....Sungguh aku selalu merindu sua kita entah di alam mana.
Selamat Idul Fitri...semoga do'a harapan kita terbang ke langit bersama takbir yang menggema di sepanjang malam ini.
Selamat Idul Fitri....
Selamat Idul Fitri
Label:
selamat Idul Fitri,
ul
Minggu, 07 Juli 2013
Ketika Tak Lagi Mampu Ku Tahankan di Dada
Ul, entah kenapa aku merasa bahwa hari-hari ini aku begitu
merindumu, entah mengapa hari-hari ini semakin aku tertekan dengan setiap
masalah yang datang rinduku padamu semakin tak tertahankan. Aku benar-benar
merasa sendiri saat ini, tak ada tempat untuk sekedar bercerita apalagi
mengeluh. Benar bahwa sebaik tempat untuk mengeluh adalah kepada Allah, namun
sayang berkali-kali aku mencobanya aku belum juga mampu.
Ul, hingga saat ini aku tetap saja merasa bahwa hanya
denganmu aku bisa menumpahkan segala yang ada di diriku, menceritakan segala
persoalan yang aku alami, mengurai segala beban yang menghampiriku. Dan dengan
itu, aku yakin bahwa sebenarnya aku mengeluh pada Allah, jalanku untuk mengeluh
adalah melalui dirimu, karena aku yakin bahwa Allah telah menetapkan engkau
sebagai belahan jiwaku.
Ul, baru kali ini aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa
untuk mengatasi segala rindu padamu, tekanannya begitu keras dan aku belum juga
menemukan cara untuk mengalirkannya. Aku rindu padamu Ul, semakin malam semakin
sunyi semakin keras denyut rinduku, semakin menekan dada dan hatiku, semakin
mendesah nafasku mengucap namamu.
Ul, dulu—sebelum aku menceritakan
hal-hal yang tak pernah terungakapkan kepada orang lain dan menceritakan
pengandaianku kepada Jun—aku biasa bercerita apa saja dengan Jun, menceritakan
peristiwa dan kejadian yang sedang aku alami, berbicara tentang berbagai
keinginan kita yang belum terwujud, dan ia pun sering bercerita tentang
keinginan dan harapan yang dibangunnya, bercerita berbagai hal menarik yang
terjadi, berbagai pengalaman dan rencana-rencana. Itu dulu, sebelum segalanya
menjadi sedikit kaku, sebelum bias meragukan setiap tindakanku.
Ul, perlahan namun pasti—meskipun
itu tidak juga aku sadari hingga ketika Jun mulai mengubah pola komunikasi kami—aku
merasakan kenyamanan dan kebebasan yang dulu ku rasakan. Kenyamanan dan
kebebasan untuk saling bertukar cerita, saling percaya, saling menguatkan
(awalnya aku menganggap ini bagian dari perasaan kami yang menjadi merasakan
rasa kehilangan yang sama—kehilangan dirimu--), namun tanpa aku sadari ternyata
tumbuh harapanku agar jiwaku kembali menyatu dengan jiwanya. Dan perlahan-lahan
aku pun merasakan bahwa banyak hal dari dirimu yang kurasakan dan ku temukan
dalam dirinya. Aku mulai meyakini bahwa dalam diri Jun engkau kembali hadir dan
mewujud untuk kembali padaku.
Ul, sungguh aku sangat ingin
menghilangkannya, tapi bagaimana aku dapat menghilangkannya ketika aku juga
tidak pernah memunculkannya, semua berjalan begitu saja, sebagaimana cinta kita
juga tumbuh begitu saja.
Ul, aku sadar bahwa saat ini aku
benar-benar bias dalam hubunganku dengan Jun. Aku tahu aku menyayanginya
sebagai adik iparku, namun tak dapat juga ku pungkiri bahwa aku juga merasakan
kehadiranmu dalam dirinya, aku juga merasakan kedamaian saat berbincang biasa
dengannya. Dan segalanya menjadi begitu menekan dada saat tak lagi mampu
menjalin komunikasi dengannya. Rinduku padamu menjadi begitu menggila.
Ul, aku yakin bahwa dalam
hubungan antara dua orang terjadi sebuah hubungan timbal balik. Artinya, ketika
landasan komunikasi seseorang berubah maka secara otomatis berubah pula
landasan orang kedua. Ketika aku merasakan bias dalam hubunganku dengan Jun,
jelas ia pun akan merasakan efek dari ke-bias-anku, ia pun akan menggunakan
pola hubungan baru yang—bagi kami mungkin—serasa kaku, tak sebiasa dulu.
Sungguh Ul, saat ini aku
menjadi ketakutan sendiri. Takut bahwa apa yang aku lakukan akan membuat Jun
semakin menjauhiku, semakin tak mau menjalin komunikasi denganku. Aku khawatir
hubungan baik dan akrab yang dulu kami miliki menjadi semakin renggang dan
kaku. Aku tidak mau hubungan persaudaraan di antara kami rusak dan berantakan.
Dan semakin takut aku semakin biasnya pola hubungan kami.
Ul, sungguh kadang aku
berpikir untuk mengatakan padanya bahwa aku merasakan hadirmu dalam dirinya
(karena Jun tidak akan percaya kalau aku katakan aku mencintainya—atau bahkan
sekedar suka antara laki-laki dan perempuan—karena aku sudah pernah bercerita
padanya bahwa aku sangat mencintaimu dan jika aku mesti menikah lag maka aku
akan menikah dengan perempuan yang dalam dirinya aku rasakan kehadiranmu. Meski
kadang aku juga bertanya sendiri benarkah engkau benar-benar mewujud menyatu
jiwa dengan Jun sehingga aku merasakan hadirmu dalam dirinya atau aku mulai
menyukainya kemudian aku mengganggapnya sebagai kehadiran dirimu dalam dirinya?
Ah entahlah…) dan kemudian mengajaknya untuk menikah denganku.
Ul, dalam prediksiku
setidaknya mungkin akan terjadi salah satu dari tiga hal berikut:
Pertama, Jun mau menikah denganku
tentunya dengan syarat-syarat yang mungkin akan diberikannya padaku (dulu
ketika bercerita tentang kemungkinan itu, ia juga berkata ya bisa saja aku akan
mengatakan ya namun tentunya tidak dengan begitu saja, aku akan memberikan
syarat-syarat yang mungkin akan membuat sampeyan mundur teratur).
Kedua, Jun akan menolaknya
entah karena aku tidak mau memenuhi syarat yang diajukannya atau karena hal
lainnya namun kemudian hubungan kami menjadi seperti semula, sebuah hubungan
akrab antara kakak dan adiknya.
Ketiga, Jun akan menolaknya
dengan cara tidak memberikan jawaban dan memutuskan semua hal yang terkait
denganku, tidak lagi mau berhubungan denganku, tidak lagi mau berbicara
denganku, tidak lagi mau berbagi cerita denganku.
Ul, sungguh aku bisa terima
dan tidak akan apa-apa jika yang terjadi adalah opsi pertama dan kedua,
meskipun mungkin opsi pertama juga tidak akan berjalan semulus paha cherrybell
(aku merasa jika memang aku akan menikah dengan Jun mungkin akan ada beberapa
hal yang mesti diselesaikan sebelum dilaksanakan, beberapa hal yang aku yakin
engkau pasti mengetahui dan sangat memahaminya, beberapa hal yang mungkin juga
berakhir tidak sebagaimana mestinya). Aku jelas bisa menerima opsi pertama
karena sejak aku meyakini bahwa engkau kini ada dalam dirinya tentu aku ingin
menikah dengannya.
Untuk opsi kedua, ini
merupakan opsi yang aku harapkan, Jun menolakku dan kami kembali menjadi kakak
beradik yang saling mendukung, menjaga, dan akrab. Jadi opsi pertama kini
menjadi salah satu keinginanku dan opsi kedua merupakan harapanku… (mungkin
karena aku sangat tidak ingin hubungan baik yang selama ini terjadi di antara
orang-orang tua menjadi sedikit meregang akibat opsi pertama).
Ul, untuk opsi ketiga terus
terang hingga kini aku bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya. Bagaimana
mungkin aku menjadi orang yang dibenci dan dijauhi oleh orang yang sangat dekat
denganmu. Bagaimana mungkin aku sanggup menjadi orang yang dihindari oleh adik
yang sangat engkau sayangi. Bagaimana mungkin aku bisa menanggung sakit yang
pastinya engkau rasakan ketika ternyata aku sendiri yang menyebabkan adik yang
paling engkau banggakan sakit hati akibat tindakanku.
Benar-benar tidak mampu aku
membayangkan hal itu Ul, apalagi memikirkannya.
Ul, hingga saat
ini—menurutku--itulah alasan paling mendasar mengapa aku tak juga melakukan
langkah-langkah untuk menyelesaikan biaskua. Karena dalam pandanganku salah
satu cara paling paling untu menyelesaikan biasku adalah dengan menggembalikan
posisi dan pola hubungan kami menjadi pola hubungan yang dulu—pola hubungan
kakak adik—atau membuat pola hubungan baru yang akan semakin mendekatkan kami.
Ul, selama aku masih merasa mampu
untuk menahannya—meskipun akhir-akhir ini aku mulai merasa sangat berat dan
sering merasa tak lag mampu untu menahannya lebih lama—aku tidak akan
mengatakan ini kepada Jun, sungguh aku malah berharap tidak perlu mengatakannya
pada Jun. Aku berharap ia menikah sebelum aku mengatakannya, sebelum aku
benar-benar tidak mampu menahannya di dada.
Sungguh Ul aku merasa kekakuan
hubungan di antara kami penyebab utamanya adalah ini, bias yang muncul setelah
aku bercerita banyak hal terkait rahasia yang selama ini tersimpan (termasuk
tentang cinta dan pernikahan). Aku yakin ketika Jun sudah menikah maka
perlahan-lahan—kalau tidak segera setelah itu—hubungan kami akan kembali normal
sebagaimana sebelumnya. Sungguh kayaknya akan benar-benar tidak akan pernah
bisa siap untu menghadapi kemungkinkan ketiga, kemungkinkan untuk dijauhi dan
dibenci oleh orang yang sangat dekat denganmu, adik yang sangat engkau sayangi
dan banggakan.
Ul, kalau tak pikir-pikir mungkin
salah satu yang paling tak butuhkan adalah teman bicara, teman yang dengannya
aku bisa ngomong apa saja, teman yang aku tak canggung untuk menceritakan
seluruh rahasiaku kepadanya. Dan aku masih saja tetap seperti dulu Ul, aku
tidak bisa bercerita kepada semua orang, aku hanya bisa bicara pada satu orang
saja, cukup satu orang saja. Satu orang yang bahkan aku rela jika ia
menceritakan semua yang tak ceritakan kepadanya ke siapa saja. Satu orang yang
menjadi bagian dari jiwa dan hatiku. Dan satu orang itu awakmu Ul.
Kemudian setelah perpindahanmu
aku merasakan hal serupa pada Jun sehingga akhirnya ia menjadi the one, menjadi
orang—setelahmu—yang aku tidak pernah merasa canggung untuk bercerita, untuk
mengungkap apa yang selalu tersembunyi dari orang-orang di sekitarku. Satu
orang yang dengannya aku bisa berbagi cerita tanpa merasa malu dan ragu. Aku
tidak pernah memilihnya Ul, semua berjalan begitu saja.
Terlebih lagi jika terkait dengan
bagaimana mendidik dan membimbing Lana, aku benar-benar butuh teman—dan seringkali ku rasakan bukan sekedar
teman bicara--.
Ul, dulu aku berpikir bahwa
seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit aku akan mampu memahami dan
membimbing Lana, namun kenyataannya berbeda Ul. Semakin lama aku semakin merasa
kewalahan terkait dengan bagaimana mendidik dan membimbing Lana. Semakin hari
semakin banyak hal-hal mengejutkan yang dilakukan Lana. Hal-hal yang seringkali
membuatku merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa, hal-hal yang membuatkan
semakin meragukan kemampuanku sendiri untuk mendidik dan membimbing Lana.
Hal-hal yang membuatkan bergerak menuju yakin bahwa aku tidak akan mampu
mendidik dan membimbing Lana seorang diri. Aku membutuhkan teman untuk
menyempurnakan pendidikan dan bimbingan kepada Lana. Aku membutuhkan figurmu (figur
ibu) bagi Lana karena aku tidak akan pernah sekalipun mampu menggantikan figurmu bagi Lana.
Ya jelas aku sering juga berpikir
bahwa tidak fair untuk menempatkan Jun dalam posisi ini. Tidak fair untuk
membebaninya menjadi ‘tempat sampah’ bagi seluruh ceritaku. Apalagi aku sadar
bahwa yang punya masalah bukan aku saja, aku sadar Jun pun punya masalah yang
mesti dipecahkannya, maka semakin biaslah pola hubungan di antara kami berdua.
Ah, entahlah Ul, yang jelas saat
ini aku membutuhkan teman untuk berbagi cerita, berbagi angan dan cita. Sebuah
kualitas yang hanya engkau miliki, kemudian aku rasakan juga dalam diri Jun.
Ul, I think I just need a friend—truly
friend, truly you—to talk, maka mungkin karena itulah hari-hari ini aku begitu
merindumu, bergetar suara dan seluruh tubuhku saat menyebut namamu, dan namamu
kembali menyertai tiap penyebutan asma Tuhanku bahkan seringkali lebih banyak
dari itu.
Dan semua ceritaku kali inipun
adalah jalan bagiku untuk sedikit mengalirkan beban kerinduan yang semakin
menekan dadaku,
Ah Ul, mungkin saja jika Jun atau Anip membaca cerita-cerita ini mereka akan kecewa atau bahkan marah kepadaku, tapi aku yakin bahwa seiring perjalanan waktu dan pengalaman hidup serta dengan kejernihan pikir, kecerdasan, dan kedewasaannya, suatu saat mereka akan memahami mengapa aku menjadi segila ini. Meskipun tidak pernah sama dengan memaklumi.
Ah Ul, mungkin saja jika Jun atau Anip membaca cerita-cerita ini mereka akan kecewa atau bahkan marah kepadaku, tapi aku yakin bahwa seiring perjalanan waktu dan pengalaman hidup serta dengan kejernihan pikir, kecerdasan, dan kedewasaannya, suatu saat mereka akan memahami mengapa aku menjadi segila ini. Meskipun tidak pernah sama dengan memaklumi.
Ul, aku merindumu teman, aku
merindumu kekasih, aku merindumu jiwa, aku merindumu isteriku… dan kali ini aku
benar-benar merindu mewujudmu…(Semoga Ia memperkenankannya. Amin).
Ul, love you so much as always…
see you, emmm..ah… (peluk cium untukmu, selalu)
Label:
curhat lagi,
kangen
Jumat, 05 Juli 2013
It's about the Day
Ul, sebenarnya kemarin aku berencana bahwa hari ini aku akan mengajak Lana jalan-jalan ke Purwodadi, menyusuri tempat-tempat yang dulu biasa kita datangi, makan di tempat yang sangat kita sukai, namun meskipun akhirnya aku dan Lana ke Purwodadi, kami tidak jadi makan di Soto Bening Pak Di, aku hanya pergi untuk membeli USB Connector dan belanja di Luwes plus kemudian beli es tawon (kayake kita baru satu kali beli di sana, karena favorit kita Es Teler Pak Doyok).
Ul, kemarin aku berencana bahwa kami akan berangkat pukul 08.30 atau 09.00 kemudian muter-muter di beberapa tempat lalu pulang dan Jum'atan. Namun akhirnya kami baru berangkat pukul 13.30 karena waktu pagi aku masih belum benar-benar mampu mengendalikan diriku--rasane jek mangkel akibat apa yang terjadi kemarin--.
O ya Ul, belum tak critakan ya apa yang terjadi kemarin.
Gini, kemarin critane habis Ashar ada undangan untuk ke makam, biasanya Lana diam saja dan ga kepengin ikut, tapi ga tahu kenapa hari ini tiba-tiba pengin ikut. Awale pas tak bilang ga usah melu, ia mulai ngambek, tapi ketika tak suruh pulang ia pulang. Pas aku dan undangan yang lain mau berangkat, tiba-tiba Lana mendekat lagi dan kembali pengen ikut. Lana mulai mewak-mewek mau nangis, kemudian tak dekati--ia tahu bahwa aku tidak pengin ia ikut--ia malah lari dan mulai menangis. Aku terus mendekatinya kemudian ketika sudah dekat Lana malah nglesot, lalu tak gendong tak bawa pulang. Lana semakin keras nangise karena tahu bahwa ketika ia rewel dan tak gendong itu artinya aku akan memasukkannya ke kamar--beberapa kali memang aku memasukkan Lana ke kamar kemudian pintu tak tutup ketika aku tak lagi bisa mengendalikannya dan aku khawatir aku tidak dapat menahan marahku--. Kemudian Lana tak masukkan ke kamar lalu pintu tak tutup terus berangkat ikut ke makam.
Ul, biasanya ketika Lana tak masukkan ke kamar memang ia akan menangis keras minta keluar sampil kadang nendang pintu. Tapi kemarin yang dilakukan Lana berbeda dari biasanya. Ketika aku pulang dari kondangan, Lana sudah tidak menangis lagi, ia bersama mbak Nani di dapur. Aku tidak berpikir apa-apa karena biasanya ketika Lana tidak pernah ngrusak barang ketika 'tak kasih hukuman' agar berada di dalam kamar.
Ul, ketika kemudian aku masuk kamar aku kaget karena ada yang tidak beres di tampilan laptop, tampilannya seperti tampilan yang tidak memiliki VGA card. Tahu ga Ul yang membuat aku lebih kaget, ternyata posisi harddisk eksternal dan hp modem yang saat itu masuk terhubung dengan laptop tidak di tempat semula, keduanya ada di lantai, padahal asalnya berada di depan dan di atas speaker active, kemudian tak ambil dan ternyata mati. Tak cek lagi dengan cara menghubungkannya dengan arus listrik ternyata arusnya tidak masuk--brarti rusak, pikirku. Lalu aku lihat connector di mini usb hp modem, ternyata kondisinya seperti mau patah. Kemudian tak coba menghidupkan laptop, ternyata tidak bisa hidup, tampilan layarnya tetap sama. Aku curiga jangan-jangan laptop dibanting sehingga harddisk eksternal dan hp modem ikut kebanting dan jatuh ke lantai.
Aduh Ul, rasane kudu ngamuk aku tapi karena aku ga tahu peristiwanya langsung jadi aku masih bisa berpikir agak jernih untuk berpikir bahwa marah dan ngamuk ga ada gunanya. Lalu aku tanya ke Lana yang ada di dapur, Lana mau mbanting laptop ya, 'ya', jawab Lana. Rasane ga karuan, pengen ngamuk ga da gunanya, ga ngamuk mangkel bukan main. Tapi akhire tak biarkan saja, termasuk juga laptop dan modemnya.
Ul, baru setelah aku merasa tenang, aku mulai ngecek kembali kondisinya. Aku perhatikan baik-baik hp modem kemungkinan besar hanya rusak konektor usb ne (itu kesimpulan awalku) dan laptop kayake cuma rusak layar LED nya dan ternyata benar setelah tak coba dengan menggunakan monitor.
Tinggal memastikan apakah hp modem rusak atau hanya konektor usb nya. Akhire tadi pagi aku pinjam konektor usb milik Tolhah karena aku tahu ia punya konektor usb yang sama. Ketika tak coba ternyata arus listriknya bisa masuk, berarti benar dugaanku bahwa hp modem tidak apa-apa hanya konektor usb nya yang rusak.
Akhirnya tadi habis sholat Jum'at aku ngajak Lana ke Purwodadi untuk membeli konektor usb dan sekaligus belanja.
Ul, sungguh kadang aku benar-benar tidak mengerti bagaimana mesti menghadapi Lana. Beberapa hari ini memang Lana tidak seperti biasanya. Beberapa hari ini--terutama setelah sekolah libur.. O ya tahun ini Lana mau naik ke kelas 1 tapi belum sempat tak belikan seragam--Lana maunya ikut ke manapun aku pergi--apalagi kalau pas libur seperti ini mbak Nani kadang datangnya lebih dari jam 09.30 (kadang aku juga mulai agak jengah dengan kedatangan mbak Nani yang menurutku terlalu siang, tapi aku juga ga enak ngomong ke mbak Nani).
Ya Allah Ul, kadang aku ngerasa benar-benar tidak akan mampu untuk mengawal dan membimbing Lana sendirian, aku membutuhkan seseorang untuk bersamaku membimbing Lana, dan aku tahu bahwa seseorang itu awakmu Ul, ibunya. Lana hanya akan bisa berkembang secara maksimal menuju kehebatannya ketika ia kembali merasakan kehadiran ibu dan bapaknya secara lengkap, maka belakangan ini aku sering berharap dan memohon agar engkau kembali diijinkan untuk mewujud dalam nyataku dan Lana, agar engkau mewujud kembali dalam diri seseorang yang kemudian bersamaku kembali bersama-sama mengantarkan Lana menuju kehebatannya.
Sungguh Ul, aku mulai ragu dengan kemampuanku untuk mampu menahan segalanya sendiri--dan kau tahu kan meskipun aku bukan tipe orang yang senang bercerita kepada banyak orang, aku termasuk orang tak tidak pernah merasa mampu untuk menanggung semua sendiri. Makanya aku selalu bercerita kepada segala yang terjadi dan sungguh aku hanya butuh satu orang untuk mengatakan segala ceritaku--.
Ah Ul, aku merindumu, sungguh merindumu dalam segala wujud yang dipilihkan-Nya untuk bersemayam jiwamu.
Love you so much as always...
Label:
curhat lagi
Langganan:
Postingan (Atom)