Minggu, 03 Agustus 2014

Gimana nih....

Ul, semoga engkau senantiasa berada dalam perlindungan dan kasih sayang Ia yang menetapkan segala.
Ul, aku ga ngerti aku terlalu merindumu atau engkau memang telah menyatu dalam diri adikmu, sehingga kembali detak begitu menekan dan menyiksaku, detak rindu, detak cinta, detak yang sejak lama tak lagi kurasakan sejak engkau berpindah ke dimensi beda.
Ul, kembali aku merasa hampir tak tertahankan untuk mengatakan segala yang ku rasakan pada Jun, bahwa ada getar sama yang kurasakan sebagaimana saat bersamamu ketika bersamanya bahkan ketika sekedar menyebut namanya, ada detak-detak yang menentu yang sekarang terlalu sering hadir ketika terpikir tentang dirinya, bahwa kadang aku merasa bahwa pada suatu saat kayaknya benar bahwa ia akan menjadi bagian dari diriku, bahwa mungkin ia benar-benar perwujudan dirimu. Atau bahwa mungkin saja bukan engkau yang mewujud dalam dirinya, bahwa ia sebenarnya tetaplah ia, namun hatiku telah tertawan oleh sesuatu yang hampir sama dengan yang ada di dirimu.
Ul, sebenarnya tetap seperti dulu bahwa ketakutan terbesarku bukanlah apakah Jun mau menerimaku sebagai pasangannya atau tidak, kekhawatiran terbesarku adalah bahwa Jun akan tersinggung atau bahkan marah dan kemudian tidak lagi mau berhubungan lagi denganku, ketakutanku adalah bahwa aku akan kehilangan kedekatan dengan orang yang sangat engkau sayangi—dan mungkin sekarangpun menjadi orang yang sangat aku sayangi (sebagai kakak dan adik)--.
Ul, sebenarnya aku sendiri masih mempertanyakan apakah ketakutanku ini memang karena aku takut kehilangan kedekatan dengan orang yang sangat engkau sayangi atau ketakutan kehilangan orang yang tanpa aku sadari telah menjadi seseorang yang aku cintai (bukan lagi sebagai kakak adik, namun telah bergerak menjadi cinta seorang laki-laki kepada seorang perempuan). Aku masih juga belum benar-benar mengerti mengapa seperti ini, kalau memang aku tidak memiliki bias dalam keinginanku, mana mungkin aku begini ketakutan untuk mengatakan sesuatu—padahal dulu ketika kami mudah untuk saling berbagi dan bercerita apapun tanpa merasa takut akan kehilangan sesuatu--. Apakah ketakutanku ini bukan merupakan pertanda bahwa sebenarnya aku memang mulai menginginkan Jun sebagai isteriku, bukan sebagai pengganti dirimu, namun sebagai dirinya sendiri (meskipun sampai sekarang pun aku masih yakin bahwa tak mungkin bagiku untuk menggantikan dirimu dengan siapapun).
Ul, seingatku Jun pernah  mengatakan padaku bahwa ia tidak mungkin bisa hidup di Selo. Kalau seperti itu sebenarnya akan sulit bagi kami untuk bisa bersama karena kayaknya aku pun tak mungkin bisa meninggalkan Selo. Dan kalau memang benar demikian, berarti ketika aku bertanya pada Jun, ‘apakah mau jadi isteriku?’, mungkin jawab ya memiliki prosentase lebih kecil dari pada tidak. Lagian, menurutku tidak ada seorang perempuan pun yang mau untuk menjadi bayang-bayang dari perempuan lain, mestipun itu kakaknya sendiri yang sangat ia sayangi. Dan aku pun tidak bisa menjanjikan apapun terkait dengan ini (karena meski aku berusaha semampuku untuk tidak menjadikannya sebagai bayang-bayangmu jika benar ia menjadi isteriku, mungkin ada saat ketika aku pun tidak bisa menghindari hal itu).
Ul, aku ga tahu apakah pada akhirnya pada hari-hari ini aku benar-benar akan mengatakan kepada Jun mengenai hal ini. Yang jelas beberapa hari kebersamaan kami, aku merasa semakin tidak tahan untuk tidak mengatakan hal ini kepadanya. Bahkan ada ketakutan tersendiri pada diriku akan ketidak mampuanku untuk mengendalikan diriku ketika dekat dengannya. Aku takut tiba-tiba aku melakukan hal-hal yang diluar kendali (ada beberapa kali ketika aku mesti menggelengkan kepala ketika memandang Jun untuk menghilangkan hasrat untuk memeluk dan menciumnya,  aku sudah mulai gila kan?).
Ul, kamu tahu kan tahun lalu aku juga merasakan hal yang sama, bahkan mengatakan padamu bahwa mungkin aku akan menulis kepada Jun untuk mengungkapkan hal ini?. Tahun lalu aku juga mengurungkannya dengan alasan aku takut Jun menjadi marah dan tersinggung sehingga tidak lagi mau berbicara dan berhubungan denganku (apalagi saat itu aku merasa hubungan kami agak renggang—dibandingkan pada masa-masa sebelumnya). Tahun ini yang aku rasakan jauh lebih tak tertahankan dari pada tahun lalu dengan ketakutan juga jauh lebih takut dibandingkan tahun lalu. Tapi, bukankah engkau pernah mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengatasi ketakutan adalah dengan menghadapinya? Dan setahun ini aku masih menghindari ketakutanku, aku masih mampu untuk menahannya, entahlah mungkin jika tahun ini aku benar-benar tidak mampu menahannya aku akan mengatakan hal ini kepada Jun.
Kau tahu Ul, bahkan aku merasakan kecanggungan tersendiri ketika hanya bersama dengan Jun, ketika memboncengkannya saat pulang dari tempat Mas Fuad. Mungkin Jun juga melihat dan merasakan kecanggungan dari gerak dan tingkahku--meski sedapat mungkin aku berusaha untuk bersikap wajar--dan mungkin hanya dengan mengatakan semua ini kepadanya semua kecanggungan ini akan kembali seperti semula, dan mungkin hanya dengan mengungkapkan apa yang mulai terbersit di pikiranku kepadanya hubungan kami bisa kembali sebagaimana semula. Aku sangat berharap dengan hal itu meski masih saja sangat takut untuk melakukannya, takut kehilangannya--entah dengan alasan apa hingga kini pun aku belum juga mampu untuk menjawabnya.

Ul, aku benar-benar merindumu, 
merindu semua yang ada di dirimu, 
merindu wajahmu, 
merindu matamu, 
merindu hidungku, 
merindu nafasmu, 
merindu aromamu, 
merindu sentuhanmu, 
merindu belaimu, 
merindu cumbuanmu, 
merindu menyatu denganmu.

Ul, bantu aku ya untuk memutuskan apa yang mesti aku lakukan, bantu aku ya untuk menegarkan diri, bantu aku ya untuk tetap merindumu sepanjang waktu.

Ul, ah….

Rabu, 30 April 2014

hai

mestikah kembali ku urai kata tuk sekedar mengagumimu...
mengurai rindu yang semakin mendayu
membeber cinta yang tak pernah reda melimpahiku

ah....
atau kembali bercerita segala rasa
berbagi kisah sepanjang masa
menaut jiwa mentertawakan duka

Senin, 07 April 2014

ketika kata tak mampu terucap

dengarlah bahasa diamku sayang
saat kata tak lagi mampu mewakili apapun yang ku rasa
rasakan degubku sayang
biar ia yang ceritakan segala padamu
karena hanya engkau dan degubmu yang dianugerahi oleh Sang Pemilik Waktu
untuk mengerti gulungan cerita dalam bahasa diamku
untuk memahami segala rasa yang ada di balik denyut degubku

Jumat, 13 Desember 2013

cerita lagi ya...

Hai Ul, semoga kita selalu senantiasa dalam naungan dan jalan yang diridloi, semoga engkau selalu berada dalam kedamaian dan kebahagiaan. 
Ul, ada banyak cerita yang ingin ku bagi, bahkan mungkin terlalu banyak untuk dapat aku ceritakan dalam satu tulisan ini. Setiap detik perjalanan adalah sebuah cerita, setiap denyut berdetak adalah sebuah cerita, setiap mata berkedip pun adalah sebuah cerita.
Ul, aku ga ngerti kali ini akan kemana jalan ceritaku, seperti juga aku ga ngerti nanti akhirnya dari mana aku akan memulai ceritaku. Atau mungkin suatu saat aku perlu membuat tema-tema dalam ceritaku pa ya? (he he).
Beberapa hari yang lalu Anip dan Jun pulang, mereka membawakan Lana sebuah boneka. Boneka Doraeman yang besar. Jelas Lana senang lah. Bersamaan dengan itu, ndilalah mbak Rima dan keluarga juga ke rumah, so boneka ne disimpan dulu biar ga bikin iri Aisyi dan Salsa. Meskipun akhirnya boneka itupun digunakan untuk main bersama, tapi tidak sampai ada yang tahu bahwa boneka itu diberikan ke Lana.
Ya, sebenarnya tidak ada yang istimewa, semua merupakan hal yang biasa dan lumrah terjadi ketika dalam waktu-waktu tertentu Anip dan Jun pulang. Cuma mungkin aku saja yang melihatnya dengan cara berbeda dibandingkan pada masa-masa sebelumnya.
Kau tahu Ul, entah ini kebetulan yang berapa kali, Jun pulang dengan memakai kerudung biru seperti yang dulu sering kau kenakan. Tidak ada yang salah dengan hal itu, dan mungkin saja ketika mengenakan itu Jun juga tidak kepikiran apa-apa.
Sebenarnya pas pulang, Anip memintaku dan Aam untuk menjemput di Ngantru, tapi karena agak gerimis, akhire mereka naik dokar meskipun aku dan Aam juga sudah sampai di Ngantru. Ketika itulah aku sekilas aku melihat bahwa yang duduk di dokar itu dirimu dengan kerudung biru kesukaanmu bukan Jun. Ah, mungkin aku terlalu merindumu Ul, sehingga segala sesuatu menjadi seakan-akan dirimu ataukah engkau benar-benar ada dalam dirinya? Entahlah Ul.
Ul kau tahu, semakin takut saja aku bertanya sesuatu kepada Jun, semakin takut saja jika pertanyaan yang tak ajukan menyinggungnya, semakin takut saja aku jika ia semakin menjauhiku.
Kadang aku berpikir seperti kembali kepada masa lalu, masa ketika aku takut ngobrol denganmu, masa ketika aku menjadi salah tingkah saat berada di dekatmu, cuma kali ini dengan tingkat ketakutan dan kerumitan yang berbeda.
Serius Ul, aku merasa seperti merasakan getaran yang sama dengan yang pernah kurasakan dalam dirimu, ada rasa nyaman seperti rasa nyaman kala bersamamu. Aku juga tidak tahu aku mesti menyebutnya apa? Apakah engkau benar-benar mulai mewujud dalam dirinya? Ataukah aku mulai mencintainya sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan sehingga aku merasakan getar yang mirip dengan getar kita? Tapi sejauh pengetahuanku dari bacaan yang pernah ku baca getar jiwa yang keluar dari satu orang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Artinya ketika kita mencintai seseorang kemudian karena sesuatu hal kita mesti mencintai orang yang berbeda, maka getar yang kita rasakan tidak ada sama, masing-masing pribadi memiliki pancaran jiwa berbeda yang juga akan menghasilkan getar berbeda.
Ul, ada saat-saat tertentu ketika aku benar-benar merasakan ketidak nyamanan luar biasa dengan segala kekakuan ini. Ada saat-saat ketika aku benar-benar ingin menceritakan segala sesuatu kepada Jun sebagaimana ketika aku menceritakan segala sesuatu kepadamu.
Kadang aku merasa bahwa apa yang menjadi sebab kenapa Jun memutuskan untuk bersikap seperti ini mungkin karena aku telah bercerita banyak hal kepadanya (termasuk hal-hal privasi yang tidak pernah aku ceritakan kepada orang lain). Mungkin ia merasa perlu untuk menjaga jarak karena mungkin menurutnya jarak di antara kami sudah terlalu dekat, atau mungkin ada beberapa ceritaku yang membuatnya kecewa, atau bahkan marah--terutama yang terkait denganmu atau Lana dan beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi (termasuk kemungkinan aku akan memintanya menikah denganku), ah entahlah Ul.
Beberapa kali terlintas dalam pikiranku bahwa mungkin cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah memberitahu Jun tentang apa yang terjadi, bahwa faktanya aku mulai mencintainya sebagai laki-laki kepada perempuan (lepas apakah karena engkau benar-benar mengejawantah dalam dirinya ataukah aku benar-benar mulai mencintainya kemudian merasa bahwa engkau mengejawantah dalam dirinya?), bahwa jika aku mulai berpikir tentang sebuah pernikahan maka yang ada dalam pikiranku adalah menikah dengan dirinya? Atau cukup dengan bertanya kepadanya; 'maukah engkau suatu saat menikah denganku?'. 
Sebenarnya mungkin ketakutan terbesarku bukan apakah kemudian ketika aku bertanya, Jun menerima atau menolakku, ketakutan yang mencegahku untuk mengatakan hal ini adalah ketakutan bahwa kemudian Jun benar-benar menutup segala hal yang terkait denganku. Dan itu sampai sekarang belum bisa aku terima. Tetap saja aku belum sanggup untuk menghadapi kenyataan bahwa orang yang sangat engkau sayangi menjauh dariku, aku belum sanggup menghadapi kenyataan bahwa--entah sengaja atau tidak--aku menyakiti orang yang sangat dekat denganmu.
Saat inipun--lepas dari apakah aku tergetar atau tidak--aku sendiri kadang berhitung terkait dengan kemungkinanku menikah dengan Jun. Bahwa sampai kapanku, jika kami masih memegang prinsip masing-masing maka kans nya kecil. Setidaknya ada dua hal yang tidak mungkin dapat kami pertemukan. Pertama, saat ini aku sama sekali tidak punya keinginan untuk berpindah tempat dari Selo karena di sana ada makammu, sedang Jun pernah berkata padaku pada ia tidak mungkin kembali dan tinggal di Selo. Kedua, aku tahu Jun tidak mau menjadi bayangan bagi siapapun, termasuk menjadi bayanganmu (kakak yang sangat ia banggakan dan sayangi), dan ia tahu bagaimana pandanganku tentang cinta (karena aku pernah bicara banyak dengannya tentang hal ini--dulu saat kami masih bisa bicara dengan bebas tanpa beban).
Kadang aku membayangkan bahwa suatu saat akan ada waktu ketika akan ditunjukkan kepada isyarat-isyarat yang meyakinkanku bahwa--entah dia menerimaku ataupun menolakku sebagai seorang perempuan dewasa--hubungan di antara kami akan baik-baik saja seperti masa-masa yang lalu, bahwa hubungan di antara kami akan kembali seperti semula sebagai kakak dan adik. Sebagaimana dulu ditunjukkan isyarat-isyarat yang meyakinkanku bahwa engkau akan menerimaku sebagai bagian dari dirimu.
Kadang aku juga merasa karena seringkali memberitahu (via sms) dan bercerita tentang Lana mungkin membuat Jun berpikir memang perlu untuk menjaga jarak denganku. Tidak salah memang, namun kau tahu Ul, sejak Jun menunjukkan sms mu kepadanya terkait Lana, sejak itu pula aku meyakini bahwa engkau mewakilkan pengawasanmu terhadap perkembangan Lana kepada Jun, aku aku merasa punya kewajiban untuk memberitahu keadaan dan perkembangan Lana kepada Jun sebanyak yang aku bisa.
Ah, entahlah Ul, aku tidak tahu sampai kapan bisa memendam ini (kadang aku juga berharap Jun menikah dengan laki-laki yang mampu menggetar hatinya dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian segala bias yang ada di antara kami akan hilang, sebuah harapan yang penuh kepentingan, he he). Ada saat-saat ketika aku benar-benar ingin kembali mampu bercerita kepada seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman untuk menceritakan segala hal. Dan hingga saat ini hanya dua orang yang membuatnya nyaman untuk menceritakan segala hal, engkau dan Jun. Itupun tidak bisa hadir dalam satu waktu, baru setelah engkau berpindah ke dimensi lain, aku baru mulai bisa bercerita kepada Jun tentang segala hal dengan nyaman hingga tiba ketika mungkin ceritaku terlalu jauh.
Aku tidak bisa memindahkan rasa nyaman ini kepada orang lain sebagaimana aku juga tidak pernah menyengaja untuk berusaha merasakan kenyamanan saat bercerita kepada Jun setelah engkau berpindah ke dimensi cahaya. Bagiku ini merupakan sesuatu yang taken for granted (sebuah anugerah). Dan yang bisa dilakukan untuk sebuah anugerah adalah menikmati dan mensyukurinya.
Atau mungkin ketakutanku belum sampai puncaknya sehingga aku masih bisa untuk memendamnya.
Ah entahlah Ul, yang jelas dan aku tahu adalah bahwa aku selalu merindumu, merindukan segala yang ada dalam dirimu....

Love you so much as always.....see you.....

O ya, kemarin pas pulang ke Pare, Anip kecopetan, di dalamnya ada uang, KTP, Kartu ATM, STNK Duplikat (padahal KTP baru saja buat sehari sebelumnya, dan STNK duplikat juga baru tak serahkan). Entahlah ada apa dengan anak itu, kenapa cerita tentang kehilangan barang cukup sering mengikuti perjalanannya...

Dah dulu  ya....

Minggu, 24 November 2013

Ul, aku terlalu merindumu atau engkau ingin menyampaikan sesuatu kepadaku?

Hi Ul, semoga senantiasa kita diperkenankan untuk menikmati dan mensyukuri setiap anugerah yang dicurahkan kepada kita.
Ul, bingung juga aku mesti mulai dari mana. Beberapa waktu ini memang aku mencoba untuk apapun kepadamu, mencoba untuk menanggung sendiri. Berat dan susah memang, karena aku sudah tidak terbiasa lagi untuk tidak bercerita kepadamu. 
Ul, aku ga pernah mengerti dan memahami dengan apapun yang terjadi, aku hanya mencoba untuk meyakini bahwa apapun yang terjadi adalah hal terbaik yang mesti terjadi dalam pandangan Dzat yang Maha Menetapkan untukku, untukmu, untuk kita.
Ul, minggu lalu tiga kali engkau hadir menemuiku. Aku ga tahu apakah karena aku terlalu merindumu atau mungkin engkau ingin berbicara dan menyampaikan sesuatu kepadaku.
Dalam ketiga pertemuan itu--dengan setting berbeda--kita selalu berada dalam sebuah perjalanan dan kemudian kita pulang. Entah kisahnya aku bertemu dalam sebuah perjalanan kemudian aku mengajakmu pulang, atau engkau memintaku untuk menjemputmu di suatu tempat kemudian kita pulang, atau dari awal kita bersama dalam sebuah perjalanan kemudian kita pulang.
Ul, aku terlalu merindumu atau engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku?. Aku sangat merindumu, ya...ada titik-titik tertentu dalam perjalanan kehidupan di mana kita merasa sendiri, merasa betapa kita tidak akan mampu untuk menjalani kehidupan sendiri, merasa betapa kita merindukan seseorang yang menjadi bagian dari diri kita, merasa betapa kita membutuhkan sandaran dan tempat untuk kembali, merasa betapa aku ingin engkau kembali hadir bersamamu, bersama menjalani hidup dan merencanakan angan, berpeluh keringat membuat dan mengejar impian.
Atau engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku. Engkau ingin menyampaikan bahwa hampir tiba waktunya engkau kembali hadir bersamaku, hampir tiba waktunya kita akan kembali bersama, hampir tiba waktunya kita akan kembali saling bercerita, hampir tiba waktunya engkau hadir kembali dalam hidupku, hampir tiba waktunya kita akan kembali merajut mimpi bersama, hampir tiba waktunya. Meskipun tetap saja aku tak tahu, apakah engkau akan kembali hadir dalam nyataku dalam wujud barumu, ataukah engkau akan kembali hadir dalam nyataku dalam kehadiran jiwa, ataukah aku yang akan menemuimu di dimensi alam yang berbeda.
Ul, pada satu sisi rinduku padamu seakan menghempaskanku dalam ketak berdayaan, rasa sepi sendiri menghempaskanku dalam kesendirian yang seakan tanpa ujung, namun pada sisi lain, ku nikmati setiap tarikan rindu padamu sebagai salah satu anugerah terbaik yang diberikan padaku, ku nikmati setiap pedih dan perihnya sebagai cara Tuhan memberitahu kita betapa kita mesti mensyukuri setiap keindahan yang dihamparkan di hadapan kita, betapa kita mesti mensyukuri setiap perjalanan kehidupan yang membuat kita hidup dalam kematian atau mati dalam kehidupan.
Ul, ada banyak cerita yang kadang ketika dijalani sendiri benar-benar membuatku jatuh dalam ketak berdayaan, ada banyak hal yang membuatku berpikir bahwa aku tidak akan mampu menjalani ini sendiri, ada banyak hal menyenangkan yang membuatku bersedih karena aku tak mampu membaginya denganmu.
Ah entahlah Ul, kadang aku merasa kehidupan kita benar-benar sudah berakhir ketika engkau berpindah ke dimensi alam yang berbeda. Kadang aku merasa bahwa jika pun saat ini aku masih berada di sini, tidak lebih dari sekedar untuk melaksanakan amanat kita, memenuhi tanggung jawab kita sebagai orang tua--sesuatu yang seringkali membuatku luruh dalam ketakberdayaan karena hingga kini pun aku belum benar-benar tahu apa yang mesti aku lakukan untuk menjalankan amanat dengan benar dan sesuai yang dikehendakiNya--. Kadang aku merasa bahwa di sisa nafasku ini aku tak lagi punya keinginan besar untuk mengejar sesuatu, kadang aku berpikir bahwa selain untuk menjalankan amanat kehidupan, di sisa nafasku ini aku hanya ingin berusaha untuk memberi kemanfaatan kepada sekitar, hanya mencoba untuk senantiasa memberi kemanfaatan tanpa peduli apakah aku akan mendapat pujian atau celaan. Kadang aku merasa bahwa aku tak lagi punya keinginan dan ambisi untuk mengejar dan mempertahankan sesuatu, karena keinginanku terbesarku adalah segera kembali bersamamu, menghilangkan dahaga rindu bersamamu, di singgasana keagungan cinta yang penuh ridla dan diridlai.
Ah entahlah Ul, aku lagi benar-benar merindumu dan selalu seperti itu. Aku bersyukur untuk itu. Aku menikmati setiap detik rindu padamu, kadang aku merasa mungkin rinduku padamu adalah jalan bagiku untuk menemukan cinta Tuhan kepadaku, mungkin rinduku padamu adalah jalan bagiku untuk menemukan kerinduan tak tertahan akan Tuhan, mungkin rinduku padamu adalah jalan untukku menemukan kesejatian diri.
Ul, jika memang engkau ingin menyampaikan sesuatu padaku, mohonkan pada Ia yang Segala Maha untuk memperkenankanku memahami bahasanya dengan benar, mohonkan agar Ia memperkenankanku menangkap segala apa yang engkau sampaikan dengan tepat.
Ul, akhirnya kembali ku pejamkan mataku agar engkau kembali hadir di sisiku, merasakan lembut desahmu, menikmati denyat yang mendetak menyambut denyut detakmu, merinding merasakan desir yang berhembus mengawali gerak lingkar tanganmu yang memelukku.
Ul.....

Senin, 21 Oktober 2013

Ul, kangen banget ki.........

Jumat, 13 September 2013

..dan akhirnya....hanya rindu...

Ul, sangat banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu. Begitu banyaknya hingga seakan ketika aku hendak bercerita padamu bukan satu huruf yang muncul untuk mengawali, namun lebih dari lima huruf muncul untuk berebut menjadi huruf pembuka ceritaku, dan akhirnya aku pun tak mampu bercerita apa-apa. 
Namun satu hal yang aku tahu pasti Ul, aku sangat merindumu. Hanya itu pada akhirnya yang bisa aku ucap dalam ceritaku kali ini.

Aku sangat merindumu dalam tiap tarik nafasku
aku sangat merindumu dalam tiap denyut yang mendetak jantungku
aku sangat merindumu dalam tidur dan sadarku
aku sangat merindumu hingga semua menampilkan siluetmu
aku sangat merindumu hingga semua cerita tentangmu menggelombang menghantam
dinding memoriku
aku sangat merindumu hingga kembali ku sebut namamu sebelum dan setelah penyebutan Asma Tuhanku
aku sangat merindumu dalam getar suara yang mendesah dari jiwaku
aku sangat merindumu dalam tatap sendu mata rinduku
aku sangat merindumu hingga seluruh utuh dirimu hadir dalam setiap jengkal peristiwaku
aku sangat merindumu hingga sepi sunyi relung-relungku
aku sangat merindumu hingga aku tak bisa berkata apa-apa lagi
aku sangat merindumu hingga aku hanya bisa berkata aku rindu padamu kekasihku...