Senin, 09 Januari 2017

...dan aku lupa....

...dan aku seperti lupa bagaimana cara menulis sayang, padahal ada banyak hal yang ingin aku goreskan.....

Selasa, 15 November 2016

ah....

hai Ul.....
seringkali hari-hari ini aku merasa seperti tak lagi berpegangan, limbung dalam melangkah.
aku rindu padamu.....dan kau tahu itu....entahlah benar atau salah, aku gak ngerti....
Ul, saat ragu mulai menyusup dalam relungku, ingatanku kembali padamu, dengan segala pengandaian jika...maka...
Aku ga ngerti Ul, ini mengeluh, memprotes, atau apa atas segala yang telah digariskan-Nya...
Semoga aku tidak melampaui batasku...semoga masih diperkenankan dalam saat-saat tertentu bagi kita untuk bersua, semoga....

Senin, 22 Agustus 2016

kembali engkau hadir

Hai Ul, semoga karunia senantiasa terlimpah kepadamu dari Ia yang dalam genggaman-Nya segala yang mewujud di semesta.
Terima kasih atas hadirmu di fajar ini, aku senang karena kali ini engkau hadir dengan segala senyuman dan keceriaan. Pengobat rindu, penyejuk kalbu yang sekaligus juga pembangkit rindu menggebu setelah bangunku.
Memang benar betapa mendalam cinta dan betapa menggebu rindu baru benar-benar kita rasakan saat kita berada dalam ketidak bersamaan. Sebagaimana saat kita tidak begitu menyadari ketergantungan kita pada udara sebelum udara mulai hilang dari sekitar kita.
Begitu pula dengan rindu dan cinta, saat kebersamaan masih kita nikmati, semua seakan berjalan biasa saja bahkan anugerah terbesar cinta yang berwujud kebersamaanpun seringkali tidak kita sadari sebagai sebuah anugerah.
Ul, engkau tetaplah jiwaku, penyempurna ruh sejati kemanusianku, pasangan bagi kelelakianku. Dulu, kini, dan entah sampai kapan di masa depan yang bukan wilayah kemampuanku untuk menentukan arahnya. Mungkin juga selamanya akan begitu, entah dengan cara apa dan bagaimana aku juga tak tahu.
Ul, cahaya mataku, suara bagi telingaku, keindahan jiwaku, udara nafasku, kekasih, isteri, teman, sekaligus 'musuh'ku. Segala bagiku, tak perlu kau tertawa seperti itu, engkau sudah mengenalku kan? Dan tak usah khawatir aku mensyirikkanmu dengan-Nya, kau juga tahu ini tidak seperti itu.
Ul, mencoba senantiasa aku menikmati dan mensyukuri cinta dan rindu yang ditanamkan dalam hatiku kepadamu, menikmati kebersamaan dan keterpisahan denganmu, menikmati setiap denyut menggetarkan saat detak kita bertemu atau berpisah menunggu sua entah kapan waktu.
Ul, sudah sejak lama aku tak lagi memiliki kata untuk mengungkap apa yang ada, kata hilang makna.
Ul, dalam kedekatanmu dengan Rabb, mohonkan agar perkenan mengalir untuk kita. Amin

Senin, 25 Juli 2016

Ternyata memang kami saling memberi harapan

Hai Ul, hampir saja aku berpikir bahwa mungkin aku tidak lagi akan menulis dan bercerita kepadamu. Maaf ya, ini kali pertama setelah lebih dari setahun atau dua tahun aku tidak menulis dan bercerita kepadamu.
Aku berharap dan selalu memohon kepada Ia yang seluruh kehidupan berada di tangan-Nya agar selalu berkenan menganugerahkan segala kebaikan dan kedamaian kepadamu dalam istirahat panjangmu.
Ul, hari ini aku baru menyadari satu hal bahwa ternyata aku dan Jun--entah sejak awal kami sadari atau tidak--memang saling memberi harapan, meskipun itu baru benar-benar aku sadari setelah harapan itu tidak kami ambil.
Ul, lebaran hari  8 kemarin Jun berkirim sms dan mengatakan ada yang pengin diomong. Sedikit banyak aku memang menduga bahwa apa akan diomong Jun akan terkait dengan awakmu, aku, dan Jun sendiri--yang kemudian aku sadari bahwa itu merupakan salah satu indikasi bahwa aku memang memiliki harapan untuk dapat bersama Jun--.
Dan kamu tahun kan Ul bahwa tebakanku  tidak meleset jauh, Jun memang ingin bicara tentang itu, berbicara tentang apa yang kami pikir merupakan keinginanmu bahwa kami mesti bersama dalam sebuah ikatan pernikahan untuk kemudian bersama membesarkan Lana, bahwa awakmu menginginkan Jun sebagai penggantimu sebagai isteriku dan juga sebagai ibu bagi Lana.
Ul, aku  yakin engkau tahu bahkan meski tidak aku ceritakan, dengan izin Sang Segala Maha aku yakin engkau melihat dan menyaksikan apa yang terjadi pada hari itu. Betapa Jun sangat berhati-hati untuk memulai mengatakan bahwa ia merasa menikah denganku merupakan sebuah ketidakmungkinan karena banyak yang jika dilakukan akan melukai banyak orang bahkan akan melukai diri kami sendiri.
Betapa Jun selama ini merasa sangat terbebani dengan pemahaman bahwa ia--suatu saat--mesti menikah denganku sebagai bentuk pelaksanaan dari apa yang ia anggap engkau inginkan dari kami.
Ul, kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama merasa bahwa pernikahan di antara kami mungkin merupakan sesuatu yang diharapkan oleh beberapa orang, namun juga merupakan hal yang tidak baik karena beberapa hal pula.
Ul, saat itu aku katakan kepada Jun bahwa ketika kami memutuskan untuk tidak menikah merupakan sebuah kesalahan, namun tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Pernikahan memang mesti dilaksanakan atas sebagai jalan untuk menemukan kebahagiaan bukan menatap penderitaan. 
Ul, aku menerima keputusan Jun dengan lapang dada saat itu, karena menurutku itu juga merupakan keputusan terbaik bagi kami saat ini. Aku katakan kepadanya bahwa setidaknya satu masalah yang cukup mengganggu dan membebaninya sudah terselesaikan. Setidaknya pula aku juga sudah dapat memastikan bahwa saat ini harapan untuk menikah dengannya hendaknya dihilangkan, dan semoga ini menjadi awal lagi bagi kami untuk kembali berhubungan sebagai kakak dan adik, bukan lagi saling memberi harapan yang belum juga mampu kami terima secara lapang.
Ul, tak pikir setelah itu masalah selesai, tak pikir setelah itu aku akan benar-benar bisa bersikap sebagaimana sikap seorang kakak kepada adiknya, demikian pula sebaliknya. Namun Ul, sehari kemudian aku menyadari bahwa ternyata ada  sesuatu yang hilang dalam diriku.
Kau tahu Ul, bahkan dalam beberapa hari ini aku mulai merasa bahwa sebenarnya--entah dengan rela atau karena satu dan lain hal--ternyata kami telah saling memberi harapan, sehingga ketika harapan itu hilan, maka kami--dalam bentuk yang tidak sama persis--merasakan ada sesuatu yang hilang dari diri kami (aku berharap bahwa hanya aku yang merasakannya, aku berharap Jun tidak mengalami ini).
Ul, satu hal lagi yang kemudian aku sadari bahwa ternyata aku belum benar-benar melepaskanmu. Ternyata aku telah menganggapmu telah larut dan menyatu dalam diri Jun, sehingga aku mulai tidak merasakan getarmu dan berganti getar Jun. Namun ketika Jun telah memutuskan bahwa tidak mungkin kami menikah, kembali getarmu mendetak keras dalam diriku. Ternyata kembali aku temukan bahwa dalam banyak hal aku masih berharap selalu bersamamu, Maafkan aku ya.
Ul, selalu banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, dan mungkin hanya padamu aku bisa bercerita. Semoga Allah senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk tetap saling bercerita. Maafkan aku jika mengusik ketenangan istirahatmu.
Ul, untuk Lana, tolong bantu aku membesarkan dan mendidiknya, tolong mohon perkenan Allah agar senantiasa ia memperkenankanmu untuk mendampingi Lana, biar ia pun selalu merasakan kehadiran kedua orang tuanya dalam setiap moment penting kehidupannya. Amin.

Biarlah rindu selalu menyatu dalam nafasku
biarlah kita senantiasa bersama dalam jiwa
peluk cium selalu dariku
untukmu jiwa yang dianugerahkan sebagai penyempurna jiwaku

Senin, 13 Oktober 2014

Ul....

Ul, ada saat-saat tertentu aku begitu merindukan kehadiranmu. Ada saat-saat tertentu kesendirian merupakan hal yang paling menyiksaku, sebagai jiwa maupun sebagai raga.
Ul, ada saat-saat tertentu ketika ingin kembali ku rasakan bahwa ada seseorang yang begitu memperhatikanku, mengkhawatirkan saat aku hendak melakukan sesuatu, mendoakan keselamatan dan kebaikan sepanjang waktu.
Ada saat-saat ketika lelakiku merindu dan membutuhkan perempuanmu, tubuh meranggas menantikan belai dan usapan tanganmu. Ada saat-saat ketika aliran nafas mesti berpacu dalam kebersamaan, bukan kesendirian.
Ah...entahlah....

Jumat, 05 September 2014

rindu

kadang rindu tak memberi kesempatan untuk menghindar diri
menghentak dada, menekan hati
kadang pun rindu tak mau tahu
pada siapa ia mesti dimaksudkan
bahkan aku pun terlalu sering tak tahu
ini rindumu atau rindu pada seseorang yang ku anggap sebagai dirimu
atau rindu pada hati yang menjadi bagian dari hatiku
ah, entahlah....
kan ku coba untuk menikmati setiap rindu yang mengalir di kalbu
kan ku coba syukuri setiap denyut yang menderu
kan ku coba untuk menyerahkan segala pada Ia Sang Segala

Senin, 11 Agustus 2014

Cerita, Lana dan Jun

Ul, semoga kesejahteraan dan kedamaian senantiasa tercurah untukmu, semoga senyum senantiasa menghias wajahmu, semoga Ia sang Maha Segala senantiasa menganugerahkan kebahagiaan dalam masa penantianmu.


Ul, mungkin hari-hari ini Lana kembali benar-benar merindumu dan mungkin saja beberapa hari ini ia mendapat ‘pelampiasan rindunya padamu’ dengan kehadiran Jun. Tahu ga Ul, beberapa hari ini Lana tampak sangat dekat dengan Jun—padahal biasanya tidak seperti itu, apalagi kalau ada Anip--.


Tadi malam, gara-gara Jun ingin memotong kuku Lana, tiba-tiba Lana diam, ngambek—biasa lah memang Lana agak susah kalau akan dipotong kukunya--. Awalnya memang tak anggap biasa, tapi kemudian Lana diam, ga ngrespon ketika diajak bicara, Cuma cemberut dan wajahnya mulai kelihatan pengen nangis. Akhirnya tak ajak pulang, dan sampai rumah pun ia masih seperti itu, meskipun sudah mulai mau bicara, itu pun bicara tentang hal-hal yang tidak terkait dengan kejadian di omah lor. 


Sekitar setengah jam kemudian, tiba-tiba Lana nangis tanpa sebab, dan seperti biasa Lana ga ngejawab apapun ketika tak tanya, ia cuma nangis dan memelukku (beberapa kali memang Lana seperti itu, menangis tiba-tiba tanpa aku tahu sebabnya). Setelah diam, Lana bilang ia ga bisa tidur, ga ngantuk, padahal siangnya ga tidur dan saat itu sudah lebih dari pukul sembilan (biasanya kalau siang ga tidur, jam 8 Lana sudah mulai ngantuk).


Ul, aku jadi berpikir bahwa mungkin Lana merasa lagi benar-benar merindumu dan apa yang dilakukan beberapa hari ini dengan Jun sedikit banyak merupakan bentuk pelampiasan dari rindunya, ia ingin bermanja-manja (sesuatu yang tidak ia dapatkan setelah engkau melintas alam), dan tiba-tiba tadi malam saat Lana juga bermanja-manja dengan Jun, tiba-tiba Jun ingin melakukan sesuatu yang tidak ia sukai sehingga membuat Lana menjadi kehilangan mood nya, lalu ngambek, ga mau ngomong, ga mau mendengar (mungkin Lana juga memprotes).


Ul, sebenarnya aku kepingin menceritakan hal-hal yang beberapa kali dilakukan Lana pada saat-saat—mungkin—ia lagi benar-benar merindumu kepada Jun, tapi aku merasa mungkin tidak tepat lagi untuk menceritakan hal-hal itu kepadanya. Aku ga enak, karena mungkin itu akan membebani pikirannya.


Ul, beberapa hari lalu—mungkin semingguan—Jun bercerita tentang beberapa hal yang hingga saat ini masih membebani pikirannya terkait dengan kita (aku, awakmu, dan Lana). Sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri, dan mungkin ada saat-saat ketika hal itu meledak dalam dirinya. O ya Ul, saat itu aku berkata kepada Jun bahwa aku mulai terpikir tentang pernikahan dan saat terpikir tentang hal itu maka yang muncul adalah dirinya.

Ul, Jun terdiam beberapa saat, kemudian mulai bercerita tentang hal-hal yang selama ini begitu membebani dan menekan pikirannya—terutama tentangmu, bebannya, keluhanmu, kegagalanku untuk membahagiakanmu, dan mungkin banyak hal lagi yang masih belum mampu ia ceritakan kepadaku terkait denganmu, dengan kehidupan rumah tangga kita yang engkau ceritakan kepadanya, terkait dengan Lana, terkait dengan segala keluhanku kepadanya.


Sungguh Ul, saat itu aku seperti kembali tersadar bahwa aku masih sangat banyak berhutang janji padamu, janji untuk mengejar mimpi-mimpi kita, janji untuk ikut menjadi dan membantu adik-adikmu, janji untuk menebus segala salahku atas setiap keputusan yang ku ambil—yang dulu ku anggap akan menjadi awal bagi kebahagiaan kita dan ternyata hanya membuatmu menderita--.


Ul, pengin juga aku ngomong ke Jun agar ia mau menceritakan segala hal yang mengganjal di hatinya kepadaku, siapa tahu dengan bercerita maka segala beban dan ganjalan di hati akan menjadi lebih ringan, lebih tidak membebani, tak perlu ia merasa ewuh pakewuh atas apa yang akan diceritakan, bahwa tidak mungkin bagiku untuk marah kepadanya—meskipun cerita itu terkait dengan kegagalanku untuk mensurgakan rumah kita--. Aku tahu Ul, bahwa aku mungkin yang paling bersalah atas semua yang terjadi, dan mungkin salah satu jalan yang bisa aku lakukan untuk menebusnya adalah dengan mendengarkan kembali segala kesalahanku yang kembali diceritakan Jun kepadaku, kesalahan-kesalahan yang beberapa mungkin sudah aku ketahui, dan beberapa mungkin belum aku sadari.


Ul, setelah aku bicara dengan Jun tentang itu, memang ada sedikit lega di hatiku karena satu hal menjadi lebih jelas bagiku, bahwa Jun sekarang menjadi tahu tentang ‘keinginan untuk menjadikannya isteriku’. Aku tahu Ul, ada beberapa hal yang mungkin akan membuat hal itu menjadi sekedar hayalan—dan yang paling jelas mungkin adalah bahwa Jun berusaha untuk tidak lagi tinggal dan menetap di Selo dan bahwa ia tidak pernah mau menjadi bayangan siapapun (termasuk menjadi bayanganmu—seseorang yang aku yakin sangat dikagumi dan sangat dicintainya).


Ul, sebenarnya aku sendiri juga tidak benar-benar bisa mengerti dan memahami apa yang ku rasakan. Saat kerinduanku padamu menggejolak, kurasakan juga kerinduan yang sama pada Jun, demikian juga sebaliknya, saat aku teringat dengan Jun maka sepertinya aku benar-benar kembali merasakan kerinduan yang menggelombang padamu. 


Ul, kembali aku bertanya pada diriku, benarkah pada akhirnya engkau benar-benar diperkenankan untuk kembali hadir bagiku dengan mewujud dalam diri Jun, atau aku sebenarnya mulai mencintai Jun sebagai laki-laki kepada seorang perempuan lalu mencari pembenaran dengan menganggap bahwa engkau telah mewujud dalam dirinya?


Ul, kembali ke Lana, ada cerita—entah ini menurutmu lucu atau tidak yang jelas saat hal ini terjadi aku ketawa--. Sekitar tiga atau empat hari lalu, ada undangan untuk srokalan (hajatan karena kelahiran bayi yang waktunya aga panjang sehingga selesainya sekitar jam 9 an), setelah pulang dari srokalan, sambil tiduran Lana berkata padaku; “Bapak golek ibu yuk?”, sebenarnya aku kaget darimana ide itu berasal, aku tetap diam dan Lana meneruskan; “Ngko ben nak bapak hajatan aku ono sing ngancani, ga dewean”. Aku bertanya, “Golek nang ngendi?”, Lana jawab; “ya sembarang, opo golek nang luwes?”. Aku ketawa sambil menjawal; “emang ibu kayak sabun golek nang Luwes” (mungkin pikiran anak-anak itu masih seperti itu, ia tahu bahwa di Luwes ada benda dan barang apapun yang dibutuhkan, karena itu mungkin dalam pikirannya ibu pun bisa dicari di sana, he he he). Tak pikir sudah selesai masalahnya, ternyata tanpa terduga Lana kembali bertanya; “lha bapak ndek kae golek ibu nang ngendi?”. Agak tersentak aku dengan pertanyaan itu, dan Lana mengulang pertanyaannya, tetap saja aku kelabakan dan bingung bagaimana mesti menjawabnya. Akhirnya aku berkata kepadanya; “wis wengi, ndang turu disik, sesok ga iso tangi esuk lho”.


Ul, ini cerita tanpa tendensi ya, aku juga tidak bermaksud meminta ijin kepadamu untuk menikah lagi, karena hari ini Ul, kalau pun aku mesti menikah lagi maka aku hanya bisa menikah dengan Jun, karena darinya aku mendapat kenyamanan sebagaimana yang ku rasakan kepada bersamamu. Dan saat ini kemungkinkan terwujud jauh lebih kecil daripada sebaliknya. Dan mungkin merupakan bagian dari rasa hormat dan mungkin juga rasa bersalahku padamu atau mungkin juga karena aku memang mencintai Jun sebagai seorang lak-laki kepada serang perempuan, jika pada akhirnya aku menikah dan bukan dengan Jun, maka aku ingin itu terjadi setelah Jun menikah.


Entahlah Ul, kadang memang aku juga tidak mengerti sebenarnya apa yang ku cari, yang jelas aku hanya ingin berusaha untuk menebus segala salahku padamu, aku hanya ingin engkau menjadi lebih bahagian, lebih damai dalam peristirahatanmu.


Mungkin sampai hari ini akan ada banyak amalanku yang tak akan mendapat balasan dari Allah karena alasan aku melakukannya adalah sebagai bentuk rasa hormat dan rasa cintaku padamu, bukan ikhlas karena Allah. Ah biarlah, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengungkapkan segala cinta dan sayangku padamu, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menceritakan rinduku padamu.


Ul, mungkin ini dulu cerita kali ini. I love you so much…aku sangat mencintamu dan semoga aku tetap menyadari bahwa besarnya cintaku tak lebih dari anugerah yang diberikan Allah kepadaku, sehingga semakin aku mencintaimu dan merindumu semakin aku menyadari betapa syukur kepada Allah mesti aku lakukan dengan semakin menyuburkan cintaku padamu, dengan semakin mendalamkan rinduku padamu.


Peluk cium dariku, semoga jiwa kita tak pernah terpisah hanya karena batasan alam dan waktu. Amin