Senin, 19 November 2012

Kembali Merayumu

Ul, terus saja kangen menggelayut manja di lengan jiwaku, dalam dingin malam saat musim mulai berganti. Ah, kelelakianku kadang begitu menggebu akan hadir keperempuanmu, bersama desir mengalir, bersama dingin merambat dari dada ke sekujur raga.
Ul kau tahu aku tak bisa membunuh apapun yang muncul dalam hatiku. Bagiku semua adalah karunia, semua punya masa, semua ada saat hadir dan sirnanya. Jadi, apapun yang hadir coba ku nikmati, coba ku resapi, meski kadang membuatku jatuh kembali dan kembali.
Ul, aku tahu aku hanya setengah bahkan mungkin tak ada lagi. Engkau penggenggam hatiku, pengisi jiwaku. Cintamu mengalir dalam nadiku, menggerahkan langkah dan arah hidupku. 
Ini bukan pemujaan sayang, ini adalah caraku menikmati apa yang hidup di hati, caraku meresapi apa yang mengalir di jiwa, caraku mensyukuri apa yang dianugerahkan Sang Pemilik Segala.
Ul aku tak peduli orang bilang aku terjebak dalam masa lalu. Aku tak peduli orang mengatakan bahwa jika terjebak di masa lalu orang tak akan mampu melihat masa depan dengan benar.
Ul sebenarnya juga aku tidak pernah benar-benar tahu, apakah tetap merasakan cintamu mengalir dalam nadiku adalah sebuah keterjebakan di masa lalu? Apakah mengabadikan apa yang tumbuh di jiwa adalah sebuah kesalahan yang akan merusak masa depan?
Sungguh aku tak tahu, aku hanya menuruti apa yang ku pikir sebagai kata hatiku. Aku hanya mengikuti aliran yang berasal dari rasaku, tanpa perlu penentangan, tanpa perlu bertanya pada pendapat nalar. 
Ul, yang aku tahu cinta adalah persoalan jiwa, bukan wilayah nalar. Cinta jauh berada di atas tata nalar dan nalar tak diperlukan kala kita berada dalam dekap cinta. Hanya nalar yang mengenal dan membedakan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Cinta berada di atas semua itu. Cinta dalam jiwa mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa datang dalam satu kali pandangan.
Ul, selama ini dan hingga saat ini aku sangat percaya dengan rasa yang mengalir di hatiku. Aku percaya bahwa apapun yang ada dalam desir jiwaku adalah kebenaran yang mesti aku ikuti. Sebuah kenyataan yang harus aku terima dan jalani.
Aku percaya cinta adalah matahari yang tak akan pernah kehilangan keutuhannya dan rindu adalah rembulan yang senantiasa menanti dan mendamba pancarannya.
Ul, tak akan pernah habis kata untuk mengurai cinta dan rindu padamu, meski pada akhirnya kata kembali kehilangan makna dalam hadirmu.
Ul, seperti yang sering ku katakan padamu, setiap orang dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi dan menjalani garis hidupnya. Apapun yang terjadi pada kita, apapun yang aku lewati, apapun yang aku rasakan, semua pada akhirnya akan berujung pada usaha Tuhan untuk mempersiapkan jiwaku dalam menjalani garis hidupku.
Namun satu hal yang menurutku pasti Ul, bahwa engkau adalah penyempurna jiwa hingga kita menjadi sebuah keutuhan. Bahwa cinta kita adalah sebuah keabadian, bahwa rinduku adalah sebuah kenyataan yang membahagiakan, mesti tentu saja dalam kegelisahan yang kadang hampir tak tertahankan.
Ul, ku coba terima apapun dengan hati lega, meski tetap saja tak bisa ku sirnakan sebuah harapan 'SUATU SAAT ENGKAU AKAN KEMBALI MENJAWAB RINDUKU DALAM WUJUD PEREMPUAN PILIHANMU'. Karena sungguh aku membutuhkanmu dalam wujud lahir untuk bersama menghebatkan Lana.
Ul sungguh aku berharap hingga saat itu tiba--jika memang saat itu ada--tetaplah bersama kita dalam jiwa, kita bertemu di alam khusus bagi pecinta dan sang kekasih untuk sekedar mengurangi dahaga rindu, temani Lana dalam malam-malam saat mimpi mulai merenda.
Ul, aku merindumu, benar-benar merindumu, dalam jiwa dan ragaku, lagi dan lagi.
Ul, I love You as always. more and more...

Minggu, 11 November 2012

mbuh lah.....

ya Allah, kadang seperti tidak mampu lagi aku menahan semua, kadang seperti tidak kuat lagi aku untuk menanggung semua.

Ampunkan aku ya Rabb, karena hingga kini aku belum benar-benar mampu untuk tegak kembali, untuk benar-benar tegar--dan Engkau Maha tahu akan hal itu--.

Ul, semakin ku tahu bahwa engkaulah tempat menyandar kepalaku ketika berat tak lagi tertahankan, engkau selalu menyediakan dadamu untuk meletakkan kepala lelahku,

Ul, ah....engkau segalanya bagiku.........

Ul, terlalu aku merindumu, dalam sadar dan lelapku, dalam jiwa dan ragaku, dalam diam dan bicaraku.....

Ul, dan aku pun tak tahu lagi mesti bicara apa padamu.....setiap huruf kehilangan bentuknya, setiap kata kehilangan maknanya, setiap kalimat kehilangan pesannya, setiap syair kehilangan keindahannya.....semua luruh di depanmu...........

Ah Ul...........love you as always.....

Jumat, 09 November 2012

Ul, masih saja seperti dulu (rinduku padamu)

Ul, kembali rindu padamu. Rindu yang selalu menderu, tak ada surut bahkan semakin besar. Detak-detak kegelisahan yang membahagiakan.
Ul, kadang memang benar-benar tak tertahankan. Benar memang perbedaan alam bukan merupakan penghalang kebersatuan jiwa, bahwa jiwa akan mampu melintasi perbedaan dimensi, namun kadang hadirmu secara raga tetap saja merupakan kerinduan yang menggetarkan, membuatku kadang kehilangan segala akal dan kewarasan, ya akal dan kewarasan. Dua hal yang mungkin hanya ada ketika jiwa masih berada dalam kungkungan raga.
Ul, seperti malam ini, benar-benar ku kembali merindu hadir nyatamu. Ya aku tahu, tak mungkin itu. Tapi rindu tetaplah rindu, keluar dari segala bentuk nalar. Rindu adalah anugerah terindah yang hadir bersama dengan anugerah cinta.
Ul, tak tahu lagi aku apa yang mesti ku tulis untuk sekedar mengungkapkan rinduku padamu, rindu pada keberpaduan jiwa kita, yang kadang sangat sulit aku lakukan karena jiwaku masih berada dalam rengkuhan raga.
Ul, tak ada lagi kata untuk ungkapkan kerinduanku, tak ada kalimat untuk jelaskan betapa aku sangat merindumu, tak ada lagi syair yang mampu mengkiaskan gelombang kegelisahanku, tak ada lagi....
Tapi yang pasti Ul, aku rindu padamu, jiwa dan ragaku. Dan aku bersyukur untuk itu. Bersyukur karena Ia Sang Pemilik Segala masih tetap menanam rasa rindu di hatiku, tetap memelihara rasa cinta dalam jiwaku, tetap memperkenankan kita bersatu berpadu dalam jiwa.
Aku merindumu, jiwa dan ragaku. Love you so much as always....

Selasa, 06 November 2012

Merasa Diabaikan untuk Kali Pertama; Luar Biasa

Ul, mungkin selama ini perjalanan hidupku terlalu mudah, banyak keinginanku terpenuhi dengan cara yang seringkali jauh lebih mudah daripada yang aku perkirakan. Aku belum pernah putus cinta, belum pernah kecewa atas setiap hubungan yang aku jalani.
Ul kau tahu kan bahwa cinta pertamaku pada seorang perempuan adalah dirimu, dan engkau menerimanya sehingga kemudian kita menyatu. Semua indah bersamamu, tak ada kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan apapun yang mampu mengalahkan kebahagiaan dan keindahan cinta kita.
Ul aku juga belum pernah benar-benar diabaikan oleh siapapun dalam hubungan--baik pertemanan maupun pola hubungan lainnya--sehingga real aku belum pernah benar-benar merasakan bagaimana rasa ketika merasa disisihkan, merasa diabaikan, bahkan dalam pertengkaran dan perselisihan yang paling hebat selama inipun--baik dengan teman maupun dengan rekan kerja--aku belum pernah benar-benar merasa tersisihkan atau terabaikan.
Ul cinta yang aku rasakan darimu, cinta yang menyatu dalam jiwa kita mengajarkan padaku bahwa sesengit apapun permusuhan yang diberikan kepada kita asal dalam hari kita masih penuh dengan cinta, maka tak akan mungkin rasa permusuhan mampu memenangkan pertarungan dengan cinta. Cinta berasal dari hati dan pasti akan sampai juga di hati.
Ul aku juga sangat jarang gagal untuk membujuk orang dengan kata-kataku, kecuali denganmu--karena denganmu kata-kataku hilang makna, karena engkaulah sumber dari setiap kata yang mengalir dari lisanku.
Dan tiba-tiba Ul, dalam sebulan ini aku merasa benar-benar diabaikan. Bukan oleh orang yang selama ini menunjukkan penentangan padaku, bukan oleh orang yang selama ini menggelar permusuhan denganku. Tapi oleh orang yang selama ini kurasakan sudah sangat dekat denganku--secara jiwa tentu--. Ya Jun Ul orang itu. Kalau kamu adalah orang pertamaku dalam cinta, keindahan pertama yang melahirkan berjuta keindahan lainnya, maka Jun adalah orang pertama yang membuatku merasa terabaikan, tanpa makna, ah.. ga lucu ya, he he.
Kau tahu kan Ul, aku pernah merasakan begitu dekat dengan Jun, sehingga apapun bisa kuceritakan padanya--kau ingat hanya ada satu orang yang aku bisa bercerita apapun dengannya, hanya ia yang memiliki kedekatan jiwa denganku. Ketika kita masih bersama, engkau orang itu dan ketika engkau telah berpindah ke dimensi alam lain, maka perlahan Jun menjadi orang itu.
Tiba-tiba aku tidak dapat berkomunikasi dengannya, ia menjadi tak tersentuh. Ini benar-benar kali pertama aku merasa diabaikan, disisihkan. Dan rasanya luar biasa. Muncul kegelisahan luar biasa yang disertai ketakutan akan rusaknya sebuah hubungan baik.
Ul, hari-hari pertama merasa terabaikan mampu membuatku benar-benar ga tahu apa yang mesti kulakukan. Kulakukan segala hal agar dapat kembali mengakses komunikasi dengannya, tapi ternyata gagal. Banyak hal yang membuatku mengalami ketakutan yang begitu menggelisahkan, aku takut aku telah menghancurkan suatu hubungan baik tanpa kusadari. Aku takut bahwa kedekatan kami mesti hancur padahal aku sudah mulai tergantung padanya. Aku takut ini, aku takut itu dan seterusnya.
Bayangkan saja Ul, kami yang biasanya selalu bertukar cerita, bahkan hampir tiap hari sms-an, ngobrol di fb atau pakai skype, tiba-tiba benar-benar tak bisa berkomunikasi sama sekali. Berubah dari orang yang merasa sangat dekat menjadi orang yang seperti tak dikenal memang luar biasa, luar biasa menyakitkan, luar biasa menggelisahkan, luar biasa menakutkan.
Pada hari-hari pertama aku masih berusaha untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan Jun memang jauh lebih keras darimu, aku tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya menulis aku lagi ada masalah mas dan ga bisa bicara dengan siapapun.
Ul, hari-hari ini aku sudah tidak ingin lagi mendesaknya untuk bercerita, yang jelas saat ini aku tidak memiliki akses komunikasi untuk berbicara dan ngobrol dengannya.
Ah Ul, kadang aku benar-benar pengen kembali bisa bercerita dan ngobrol dengan Jun seperti dulu (meski aku masih bisa bercerita dengannya dengan berkirim email atau lainnya, tapi ya yang terjadi hanya monolog bukan dialog). Tidak bisa pula ku pungkiri bahwa ketika aku berkirim email, sms, atau apapun tetap saja aku ingin ia membalasnya (meski aku juga tahu bahwa kemungkinan besar Jun tidak membalasnya).
Ah Ul, inilah pengalaman pertama aku merasa diabaikan, luar biasa menyesakkan dada, luar biasa menggelisahkan, luar biasa menggoncangkan, luar biasa.....
Ul, pengalaman pertama aku merasa diabaikan, membuatku belajar banyak hal. Membuatku sadar bahwa tak semestinya aku membebani Jun dengan berbagai persoalan dan permasalahanku, persoalan Lana, persoalan kita.
Dan tentu saja Ul, aku mesti berterima kasih pada Jun atas apa yang terjadi. Jelas ini merupakan salah satu titik dalam proses pendewasaan diri. Sebuah mata kuliah kehidupan yang selama ini belum pernah kuambil.
Tak usah khawatir Ul, ini bukan kemarahan, ini bukan kekecewaan. Lagian ga mungkin aku marah pada Jun karena ia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Percayalah Ul, menyatu jiwa kita menyatu pula apa yang ada di dalamnya. Engkau menyayanginya, aku pun menyayanginya, dan rasa sayang yang memancar dari jiwa kita tidak memungkinkanku untuk marah atau membencinya. Itu juga yang selama ini mengalir dalam diri kita, tak akan kemarahan, kebencian, kekecewaan yang akan mampu memenangkan pertempuran dengan cinta yang memancar dari kebersatuan jiwa kita.

Ul, aku juga ga tahu apakah pada suatu saat nanti aku akan bercerita tentang hal ini pada Jun atau tidak. Entahlah lihat saja situasi dan kondisine, he he..

Kali ini sudah ya Ul, percayalah aku masih meyakini bahwa ketulusan cinta dan menyatu jiwa kita tidak akan mampu dikotori oleh kebencian dan rasa permusuhan.

Love you so much as always....
See you....

Senin, 05 November 2012

Ul, engkau keindahan pertamaku

Setiap segala sesuatu pasti ada awalnya. Ada peristiwa pertama yang menjadi titik awal dari sebuah rangkaian peristiwa yang mengikutinya. Sebuah rangkaian yang akan pada akhirnya merupakan sebuah proses dari perjalanan panjang kehidupan seseorang menuju kedewasaannya.
Dan seperti yang kita tahu Ul, setiap peristiwa pertama pasti akan menjadi peristiwa yang benar-benar akan membekas, akan sangat berkesan--baik yang menyenangkan maupun yang tidak--dalam kehidupan seseorang. Peristiwa pertama pula yang biasanya akan menjadi tonggak bagi jalan kehidupan dan pandangan serta keyakinan seseorang atas sesuatu.
Peristiwa pertama juga akan memberikan beban yang sangat menekan pada saat mengalaminya, sebuah campuran dari kesenangan, ketakutan, kekhawatiran, kebahagiaan. Tak peduli apakah peristiwa pertama itu langsung membuat mata kita berbinar atau menangis darah, semuanya akan memberikan tekanan yang pasti berat dirasakan.
Peristiwa pertama juga memberi kita kejutan-kejutan yang kadang tidak pernah kita pikirkan, membuat kita bertemu hal-hal yang yang tak pernah kita bayangkan, bahkan seringkali membuat kita berpikir, 'kok bisa ya aku jadi kayak gini?'.
Ul, salah satu syukur terbesarku adalah bahwa engkau adalah peristiwa pertamaku dalam cinta, pintu awal bagiku untuk mengenal cinta dan kerinduan. Aku belajar segala keindahan, keagungan, nikmatnya kerinduan, indahnya kegelisahan, kesucian rasa, semua berawal dari anugerah cinta antara kita.
Cinta ini pula yang kemudian mengajarkan padaku bahwa pada hakikatnya segala sesuatu berasal dan lahir dari cinta. Dan bahwa cinta hanya mampu menghasilkan keindahan, keagungan, kesucian. Penderitaan, pengorbanan dan kegelisahan akibat cinta adalah sebuah keindahan. Rindu adalah sebuah kegelisahan yang begitu terdambakan.
Cinta ini pula yang mengajarkan padaku bahwa tak layak bagi kita untuk membunuh rasa cinta di hati hanya karena kita membenci. Bahwa cinta pada akhirnya akan merangkul kebencian dalam dekap hangatnya.
Cinta ini pula yang membuatku selalu bergelora, bersemangat memandang hidup daripada sebelumnya.
Cinta ini pula yang kemudian membuatku selalu berusaha untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, untuk tidak membalas permusuhan dengan permusuhan, untuk tidak membalas dendam dengan dendam.
Cinta ini pula yang membuatku selalu merasa hangat, merasa tak pernah sendiri karena jiwa kita tak mungkin tidak bersama, cinta telah menyatukannya dan cinta abadi berada dalam jiwa.
Cinta ini pula yang membuat rasa marah, rasa kecewa, rasa putus asa tak pernah mampu menghancurkan optimisnya yang mengalir darinya, bahwa pada akhirnya kasih sayang akan menghilangkan kemarahan, cinta akan menghapus kekecewaan, dan jiwa yang penuh dengan cinta akan menukar keputus asaan dengan cahaya harapan.
Perpindahanmu ke dimensi lain kehidupan memang begitu menggoncangkan tata jiwaku, namun cinta kita telah mengembalikan kesadaranku bahwa cinta adalah masalah jiwa, masalah ruh. Cinta kita adalah kebersatuan jiwa kita, keterpaduan ruh kita sehingga tak ada lagi aku, tak ada lagi kamu. Yang ada cuma kita, cinta kita, jiwa kita, ruh kita. Dan itu tidak pernah sirna, itu abadi dalam jiwa, tidak pernah mati karena yang bisa mati hanya raga kita, sekarang ragamu yang telah purna, entah kemudian kapan ragaku akan menyusulnya.
Cinta kita tetap sama, hidup dalam jiwa kita, bersatu dan berpadu ruh. Mesti kadang tetap saja rindu akan pertemuan raga begitu menggoda dan menelanjangi sisi khayawaniyahku.
Seabadi ruh memancar dari Entitas Sang Segala Maha, begitu pula segala sesuatu yang berada dalam jiwa.
Ah, Ul, engkaulah keindahan pertama yang membuatnya melihat segalanya sebagai keindahan. Cinta kita adalah anugerah terindah pertama yang membuatku memandang segala peristiwa dari sisi indahnya, dari sisi kenikmatan dalam menjalaninya. Membuatku mulai memandang segala peristiwa adalah sebuah keindahan yang mesti disyukuri, segala penderitaan adalah sebuah seni indah dan agung yang diciptakan Tuhan untuk kita nikmati, resapi, jalani yang akan membawa kita menuju sempurna takdir kita.
Ah Ul, karena engkau keindahan  pertamaku, maka segala yang mengalir darimu, segala yang berkaitan denganmu tak dapat menghasilkan apapun bagiku kecuali keindahan dan keagungan. Kegelisahan karenamu adalah kegelisahan yang terdambakan, kesedihan mengingatmu adalah kesedihan yang menyenangkan. Kerinduanku padamu yang selalu bergulung dan menggulung adalah keresahan luar biasa yang begitu kudambakan. Engkau pula yang dititahkan bagiku sehingga setiap huruf darimu menjadi bercahaya, setiap kata menjadi keindahan tak terkira, setiap baris menjadi bait puisi dan syair.
Ah Ul, segalanya menuju titik syukur kepada ilah yang telah menetapkanmu sebagai keindahan pertamaku, keindahan yang selalu melahirkan dan menghadirkan keindahan-keindahan dan keluar biasaan baru dalam perjalanan hidupku.

Ul, you're still everything for me (beside God). Love you so much...dan merindumu selalu merupakan keresahan paling indah bagiku....
See you in a special place for us (tempat di mana sang pecinta dan sang kekasih menempati singgasananya)

Sabtu, 03 November 2012

It's about me Ul

Ul, banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, meski rasanya hampir tak lagi dapat ku menulis lagi, semakin tak dapat ku menulis, semakin banyak hal yang ingin ku bagi denganmu.
Ul, bingung juga mesti dari mana memulainya, ya sudahlah mengalir saja ya, ga pa pa kan cerita kali ini di awali dari antah berantah, ga jelas ujung pangkalnya. Lagian kamu kan juga ngerti Ul, ketika terlalu banyak hal mulai menumpuk di kepala dan rasaku, aku jadi ga bisa bercerita, kalaupun akhirnya bercerita ya jadinya sering ga urut dan melompat-lompat.
Ul, beberapa hari ini rasanya badanku belum kembali pulih seperti semula, rasanya proses recovery menjadi lebih lambat daripada sebelumnya. Mungkin sudah mulai tua ya, he he.
Ul mungkin cuaca juga menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi tubuh ga bisa benar-benar fit. ah.....ya ngono lah Ul, daya tahan tubuh mungkin makin bertambah usia makin rapuh pula........
Ul tanpa sadar ternyata cara berpikirku pun juga berubah, bergeser. Sekarang ini aku mulai terganggu dengan pertimbangan kepantasan atas apa yang akan tak lakukan. Padahal kau tahu kan Ul, dulu kita tidak terlalu memusingkan apakah yang akan kita lakukan pantas atau tidak, asal apa yang kita lakukan baik dalam pikiran kita, maka kita lakukan.
Ul, sekarang aku mulai mempertimbangkan faktor-faktor di luar diriku untuk memutuskan apakah sebuah tindakan akan aku lakukan atau tidak, meskipun menurutku baik, tapi kalau dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain bisa jadi aku tidak jadi lakukan.
Ul, aku mulai kehilangan spontanitas dalam mensikapi persoalan, mulai muncul dalam diriku kekhawatiran-kekhawatiran yang pada akhirnya mematikan spontanitasku, nyaliku mulai berada dalam kendali tata aturan nalar, keberanian mulai tunduk di bawah pertimbangan-pertimbangan pikiran. Akibatnya apa yang aku lakukan menjadi semakin lambat, pertimbangan atas berbagai resiko yang mungkin akan kuhadapi mengambil waktu cukup banyak di awal--jauh sebelum tindakan itu sendiri dilakukan--.
Ah Ul, mungkin benar aku sudah mulai tua, mulai usang, mulai kehilangan keberanian untuk mengambil resiko, mulai kehilangan keberanian untuk berbeda dan mengabaikan pendapat sekitar, mulai mempertimbangkan banyak hal yang seringkali malah membuatku kehilangan keberanian untuk melakukan dan memutuskan suatu tindakan.
Ah Ul, mungkin benar aku sudah mulai usang, tua, dan mungkin sudah saatnya untuk digantikan. Daya kreatif berkurang, keberanian hampir hilang, spontanitas kehilangan kehebatan.
Ul kau tahu bagaimana rasanya ketika spontanitas mulai menghilang, ketika nyali mulai berada di bawah kendali nalar, ketika ekspresi dan aktualisasi mulai terganggu dengan pendapat orang?
Tiba-tiba semua persoalan menjadi jauh lebih rumit, jauh lebih repot, jauh lebih sulit untuk diselesaikan, karena ketika kita menggunakan pendapat orang lain masuk dalam pertimbangan untuk memutuskan suatu tindakan, pada saat yang sama kita pasti harus bertarung dengan diri kita sendiri, antara menjaga diri yang khas dan menempatkan diri dalam kepantasan yang nyaman.
Ul kadang sering aku meragukan kemampuanku untuk menahan segala kejadian--tanpamu di sisiku--namun aku terus mencoba meyakini bahwa apapun yang terjadi adalah garis terbaik yang ditetapkan Allah untukku, untukmu, untuk kita. So, seberat dan seperih apapun tentunya aku akan mampu. Lagian trus gimana dengan Lana jika aku menyerah? Tak ada menyerah dalam inginku karena aku tahu engkau dalam abadimu tetap bersamaku--meski kita di alam dengan dimensi berbeda--, kebersamaan kita tak lagi kebersamaan raga, namun kebersamaan jiwa.

Wis sik ya, Ul..emmmmmm.....aahhhhhhhhhhh...........
Love you as always....
dan aku tahu bahwa rindu adalah bukti bahwa cinta di dada masih tetap bergelora...

(Mohon perkenan pada Ia yang Putuskan Segala, semoga ijinkanmu sering temuiku untuk memadu rindu, dan bersama Lana untuk curahkan kasih bunda)

Rabu, 31 Oktober 2012

Lana is Lana

Ul, Lana is still Lana, Lana ya Lana. Mungkin itu yang hari-hari menjadi cerita menarik. 
Kau tahu Ul beberapa hari ini Lana melakukan beberapa hal yang tidak biasa ia lakukan, mulai dari tiba-tiba ga mau ngaji, tiba-tiba ga mau berangkat sekolah, disuruh cukup rambut ga mau dan beberapa hal lain yang sudah menjadi rutinitasnya tiba-tiba ia tidak mau melakukan.
Ul, dalam beberapa hari ini aku melihat Lana sebagai benar-benar gambaran kecil kita berdua, keras kepalamu dan juga ngengkelku dua-duanya ada dalam dirinya dan kadang muncul dengan tiba-tiba. Bayangkan saja tiba-tiba aku harus berhadapan dengan diriku sendiri sekaligus dirimu dalam satu waktu, seorang yang kalau sudah punya keinginan tidak bisa ditawar ditambah selalu punya alasan untuk membenarkan keinginannya, ah....mesti banyak belajar lagi nih...
Ul, benar kata orang bahwa yang paling mampu untuk mengalahkan orang tua adalah anaknya sendiri. Mengapa demikian? aku berpikir mungkin bukan sekedar karena orang tua terlalu menyayangi anaknya, mungkin juga--selain karena sayang--orang tua juga melihat dirinya sendiri dalam diri anaknya. Jadi, mana mungkin seseorang mampu mengalahkan atau mengabaikan dirinya sendiri.
Ul, sebenarnya aku sendiri bingung dengan sikap Lana akhir-akhir ini yang seringkali berubah dengan tiba-tiba. Bisa saja kadang ia jenuh dengan aktivitas harian yang ia lakukan, pagi ke TK, sore TPQ, habis magrib Fasolatan (kalau yang ini kita juga kan, sama-sama mudah bosen dengan rutinitas yang kita lakukan) sehingga kadang ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda dengan rutinitas biasa, mungkin inilah refreshing a la Lana, he he...
Ul, mungkin juga ia sedang benar-benar merindukanmu sehingga seluruh energi dan fokusnya hanya padamu dan akibatnya ia merasakan malas luar biasa untuk melakukan apapun selain mengingatmu (kadang aku juga seperti itu kog) dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengalirkannya, so yang ia lakukan ya pokoke ogah melakukan apa-apa, ah entahlah Ul....
Ul sampai sekarang pun aku masih benar-benar bingung dan tak tahu apa yang mesti ku lakukan untuk memberi Lana bimbingan, pengarahan, dan pembelajaran terbaik (selain memasukkannya ke TK dan TPQ). Serius Ul, sampai sekarang aku belum menemukan cara yang tepat untuk membelajarkan Lana, karena bagiku Lana is a special one, berbeda dengan anak-anak seusianya baik dalam sikap, pilihan, tata pikir dan lain sebagainya.
Ul, Lana tetaplah Lana kita yang dulu, yang selalu heboh dalam mensikapi segala sesuatu, mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal yang tidak menyenangkan. Beberapa hari lalu ketika tiduran di tempat bue, tiba-tiba ia kejatuhan kotoran tokek, ia bilang, 'bapak ki rek teles gene?', kemudian tak lihat, e ternyata ada kotoran tokek di bajunya, maka ku jawab, 'ga pa-pa, mung keno telek tikus', tahu bahwa ia kena kotoran di bajunya, langsung ia ribut, mulai dari minta basuh tangan yang katanya baunya ga enak, terus langsung minta gantu baju--padahal yang kena mung sedikit--dan ga mau ketika tak bilang, ayo bali ganti klambine nang omah, tetap ae ia minta bajunya ditanggalkan dan akhirnya malah tidak berbaju (mung pakai singlet) baru mau ia pulang dengan singletan dan ambil baju ganti. 
Paginya, tiba-tiba ia bilang Bapak Lana ga pe sekolah, tak tanya lha ngapa? sakit?, ia diam saja meski menurutnya satu-satunya alasan adalah males karena terlalu jenuh (mungkin ia lagi boring dengan sekolah). Tak desak dengan pertanyaan, eee seperti biasa ia tetap ae diam dan mulai nangis...
Ah....kalau sudah gini aku yang kalah Ul, so akhire ya ga sekolahlah hari itu......
Ul, kadang aku berpikir jangan-jangan beban yang diterima Lana dengan beragam kegiatan belajarnya terlalu berat baginya. Jangan-jangan aku juga sudah mulai menuntutnya untuk bisa melakukan banyak hal yang sebenarnya ia belum mampu melakukannya, sehingga kadang ia merasa malas untuk melakukannya.
Ah, entahlah Ul......biasanya dalam keadaan seperti ini aku akan menghubungi Jun kemudian berdialog tentang hal ini dan hal-hal yang berkaitan sehingga seringkali menemukan beberapa alternatif untuk mensikapinya, tapi kali ini aku tidak bisa melakukannya. Kau tahu sendiri kan Ul, saat ini aku tidak memiliki akses komunikasi dialogis dengannya, entahlah sampai kapan....ya cuma aku berharap ini ga akan terjadi terlalu lama lah, he he...
Ah, sudahlah Ul, mungkin ini dulu cerita kali ini....Seringlah tengok rumah dan temani Lana ya (aku juga lho, kan aku juga kangen, he he...)

see you, love you so much as always.....
tunggu aku di pantai rindu karena aku akan datang dengan gelombangnya...he he....