Selasa, 15 Januari 2013

DB, kekhawatiranku, dan Lana

hai, gmn kabarmu? tentu selalu dan semakin baik ya kan?
Ul, beberapa hari ini aku agak khawatir dan takut. It's not about me, but it's about Lana. Kau tahu Ul, musim hujan kali ini kayaknya beda dengan musim hujan tahun-tahun sebelumnya. Kayake musim hujan kali ini di Selo lagi kena jatah dan dapat bagian untuk mengalami endemi DB (ya semoga saja aku salah) karena sudah ada beberapa orang yang masuk rumah sakit dalam dua tiga minggu ini karena kena DB, mulai Kuncen hingga Ngrampaan, banyak yang sudah masuk rumah sakit karena penyakit akibat gigitan aides aigepty ini.
Ul, hari minggu kemarin (dan ini yang membuatku have a little bit of scary) Salma dan Anita juga masuk rumah sakit karena gejala DB (meskipun Anita belum diketahui pasti hasil tes darahnya tapi dari gejalanya menurutku DB--Rumah Sakit Umum di sini kan masih seperti itu Sabtu Minggu dokter libur, jan njengkeli masa orang sakit suruh nunggu hari efekfit kerja...).
Ul, alhamdulillah Lana sehat, tapi sekarang sudah sangat susah untuk disuruh tidur siang, serius itu yang membuatku sedikit khawatir, karena DB--menurutku--hanya akan menyerang pada orang yang dalam kondisi kurang fit. Beberapa hari ini Ul, setiap Lana tidur dan setiap bangun tidur aku sempatkan untuk ngecek suhu badannya, rasanya lega banget ketika aku merasa suhu badannya normal, ketika ia masih makan dan minum seperti biasa, ketika ia masih bermain dan berlari seperti biasa. 
Ul, cuaca musim penghujan memang seringkali membuat kondisi badan menjadi kurang fit dan aku berharap semoga Lana termasuk bagian orang yang diselamatkan dari penyakit ini. Amin...
Eh Ul, bicara tentang Lana, beberapa hari lalu ada sedikit peristiwa yang membuatku kudu guyu. Kau tahu Ul, setelah ia memiliki sepeda baru, setiap hari ia selalu memakainya (hanya 3 hari ini ia tidak memakainya karena faktor cuaca dan karena ia njenguk Salma ke rumah sakit), sehingga ia merasa sudah bisa naik sepeda.
Mulai sore ia sudah minta kepadaku untuk melepas dua roda kecil belakang (sepedanya masih pakai dua roda kecil di belakang, jadi sepedanya bukan beroda dua tapi beroda empat), tak bilang padanya bahwa ga usah, Lana durung bisa, ia malah marah dan tetap minta untuk dilepas karena ia merasa sudah bisa. Pagi harinya, tetap ae ia mendesakku untuk melepas dua roda kecil sepedanya (mungkin Lana melihat teman-temannya kayake mudah bersepeda dengan roda dua), akhirnya tak lepas juga.
Kau tahu Ul, setelah roda kecil tak lepas dan ia mencoba untuk menaikinya? yups, Lana jatuh, dan tahu apa yang dikatakannya? Bapak Lana ga iso, masalahe Lana ga iso ngolahi, sepedane tibo terus ki, (ha ha ha....). Kemudian tak pasang satu roda, tetap ae ia belum bisa karena sebenarnya ia belum belajar untuk menjaga keseimbangan badan ketika bersepeda. Ya akhirnya tak pasang lagi dua-duanya, cuma tak bikin agak ke atas sehingga ia dapat belajar keseimbangan tanpa harus terjatuh lagi, he he he....
Ul, mungkin itulah cara Allah menghibur hati kita, melalui kejadian-kejadian kecil yang membuat kita tertawa...
Ul, sekarang Lana sudah mulai mau belajar, meski masih tetap sebentar kemudian ia akan beralih ke hal lainnya, sudah mulai mengingatkan dan mengkritikku ketika aku melakukan sesuatu yang menurutnya ga sesuai (termasuk ngajak shalat di langgar). Ah...semakin banyak saja keluar biasaan yang dimunculkan Tuhan melalui Lana dan aku menyukainya...(lagian ketika tidak ada orang yang mengingatkanku seringkali aku lepas kendali as you know that).
Kapan-kapan aku pengen cerita tentang MTs yang semakin membuatku menjadi seperti tanpa kendali...tapi lain kali ae ya....kali ini sudah dulu ya...

Menggetar hati tiap kali menyebut dan menulis namamu...
menggulung rindu di pantai hatiku....
aku mencintamu, merindumu sepanjang waktuku....
 

Selasa, 08 Januari 2013

aku mencintaimu, maka aku cemburu

Ul, jika ini dimaksudkan untuk menghanguskan cinta dengan api cemburu, maka tak akan cukup api ini untuk menghancurkannya.
Namun jika ini dimaksudkan hanya untuk melihat seberapa cinta dengan membakar api cemburu di dada, maka ku katakan padamu bahwa engkau telah berhasil melakukannya. Aku benar-benar cemburu Ul, hingga langsung terbangun dengan nafas terengah, penuh marah.
Satu hal yang semakin ku mengerti Ul, bahwa aku benar-benar mencintaimu, sangat mencintaimu hingga dalam mimpi pun aku bisa benar-benar cemburu.
Ul, ini juga merupakan kali pertama bagiku merasakan cemburu luar biasa seperti ini, cemburu yang membuatku benar-benar kehilangan daya nalar ku, mungkin inilah sebenar cemburu, mungkin ini pula lah yang ketika lepas kendali mampu membuat seseorang melakukan hal-hal yang bahkan tak pernah terbersit dalam pikiran sama sekali.
Ul, aku bersyukur aku merasakan hebatnya cemburu dalam mimpi, coba misalnya bukan dalam mimpi, mungkin akan terjadi hal-hal yang berada di luar kendali (lha wong dalam mimpi ae, aku baru menguasai diriku beberapa menit kemudian setelah aku terbangun dari tidur, gimana kalo di luar mimpi, mungkin bisa berhari-hari).
Ah, sudahlah Ul, yang jelas aku semakin sadar dan mengerti bahwa aku benar-benar mencintaimu dan semakin mencintaimu. Aku semakin menyadari bahwa engkau lah aliran nadiku, engkau detak jantungku, engkau jiwa bagi ragaku...Dan cemburu ini adalah salah satu bukti nyata betapa engkau sangat berarti bagiku...

Love you so much.....

peluk ciumku untukmu dengan penuh rindu....

Jumat, 04 Januari 2013

Engkau tentu bangga padanya

Ul, engkau pasti bangga dengan Jun, I know that dan I believe that. Tak pikir beberapa mimpimu berhasil mewujud melaluinya, dapat beasiswa dan belajar di luar negeri, berkeliling ke penjuru dunia, dan banyak lagi mimpimu yang pernah kau ceritakan padaku tak pikir mulai mewujud melaluinya.
Ia luar biasa Ul, dan aku tahu engkau pasti jauh lebih mengetahuinya daripada aku.
Banyak hal yang menurutku unik pada dirinya, cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara mensikapi suatu hal dan banyak hal lagi yang unik menurutku.
Ul, aku yakin Jun telah menginspirasi banyak orang--khususnya mereka yang pernah bersinggungan dengannya baik sebagai teman maupun sebagai orang yang pernah belajar bersamanya dan orang-orang yang pernah menjadi anak didiknya.
Dari cerita-cerita yang ku dengar darinya, dari tulisan-tulisan yang ku baca, menurutku, keberangkatannya ke Arizona kali ini sedikit banyak akan memberi inspirasi bahkan mungkin membuka jalan bagi orang-orang yang pernah belajar darinya. Engkau tahu Ul, menurutku Jun memiliki pola hubungan yang unik dengan murid-muridnya, sebuah pola hubungan yang bukan sekedar hubungan antara seorang guru dan murid, sebuah pola hubungan unik yang--menurutku--melahirkan suatu ikatan emosional yang sangat dekat.
Aku sendiri kaget ketika kali pertama ia bercerita padaku tentang kedekatannya dengan para muridnya. Sesuatu yang sampai kini tidak bisa ku mengerti bagaimana cara melakukannya (sesuatu yang dari dulu ingin ku bangun dengan murid-muridku namun hingga sekarang belum juga ku temukan polanya).
Ul aku ga ngerti apakah Jun sudah kembali ke Tempe atau belum, yang pasti kayaknya liburannya kali ini ia gunakan untuk melakukan touring keliling USA (lagian kapan lagi mumpun ada waktu dan kesempatan, ya kan?).
Ul maaf ya karena ternyata aku tak mampu menjaga hubungan baik dengan Jun. Ga tahu juga kenapa aku menjadi seperti ini. Sangat ingin aku meminta maaf atas kesalahan yang aku lakukan, tapi bagaimana melakukannya aku juga belum tahu. Jun bukan dirimu, cara yang biasa aku gunakan untuk meminta maaf padamu, tentu saja tidak ada berlaku atau bahkan mungkin malah membuat masalah makin runyam jika ku gunakan padanya.
Ah entahlah Ul, mungkin karena engkau sangat dekat dengan Jun maka ketika apa yang kulakukan membuatnya tidak nyaman, kecewa, marah, atau apapun lah yang tidak mengenakkan hatinya, akupun merasakan hal yang sama seperti ketika aku melakukannya padamu (meski dengan cara yang berbeda hadirnya).
Ul, aku hanya berharap semua baik-baik saja, berjalan baik sebagaimana yang diharapkan.
By the way, lepas dari apapun, kayaknya kita sependapat bahwa Jun memang hebat, ia telah melakukan dan mengalami hal-hal yang tidak semua orang mampu dan memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Ah Ul, semoga aku menemukan cara untuk memberitahunya bahwa aku benar-benar menyesal atas apa yang terjadi, meminta maaf atas kesilapanku menggunakan satu kata yang tidak kumaksudkan demikian.
Wis sik ya, tak akan ku puaskan dahaga rinduku dengan kesejukanmu karena ku ingin terus merindu kesejukanmu sepanjang sisa waktuku.
Love you so much as always....

Jumat, 28 Desember 2012

semoga engkau tersenyum Ul

Semoga yang tak ceritakan kali ini membuatmu sedikit tersenyum Ul.

Ul, alhamdulillah sekarang tanah kang lih telah benar-benar menjadi milik kita, beberapa hari lalu aku telah melunasinya. Mungkin inilah cara Allah menjaga keyakinan di hati kita, atau mungkin juga cara Allah menunjukkan bahwa ketika kita berniat baik dan meyakininya kita akan mendapat jalan untuk melakukannya.
Sungguh Ul, sempat aku tidak yakin bahwa aku akan dapat melunasinya tahun ini, dulu memang aku berjanji pada diriku sendiri bahwa tahun 2012 tanah itu harus sudah lunas (kau tahu Ul, kang lih begitu baik dengan membolehkanku nyicil pembayarannya, kalau harus kontan mungkin tidak akan mampu aku membayarnya).
Awal Nopember aku mulai khawatir apakah aku bisa melunasinya tahun ini atau tidak, karena beberapa hal yang tak usahakan untuk dapat melunasinya ternyata belum berhasil sehingga aku belum memiliki cukup dana untuk melunasinya. Bahkan hingga pertengahan Desember pun aku belum memilikinya, hingga aku sempat khawatir bahwa aku tidak mampu melunasinya tahun ini. Aku tahu Ul, bahwa engkau sangat ingin kita memiliki tanah itu, dan setelah engkau berpindah ke dimensi cahaya, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membeli tanah itu, untukmu.
Dan alhamdulillah Ul, pada minggu ketiga Desember sesuatu yang tak pikir tak dapat aku peroleh tahun ini bisa aku dapatkan, sebuah rejeki yang akhirnya aku gunakan untuk melunasinya. Dan yups, kini kita sudah memilikinya Ul. Secara utuh tanah itu  sekarang sudah jadi milik kita (dan sesegera mungkin insya Allah akan disertifikatkan).
Selain itu Ul, rejeki tersebut dapat pula aku gunakan untuk membayar hutangku padamu yang kemudian aku titipkan ke panti dengan harapan semoga bisa menjadi bagian dari kebaikan yang akan terus mengalir padamu. Dan dapat juga ku gunakan untuk membelikan Lana sepeda (sepeda lamanya sudah ga bisa digunakan lagi Ul, sudah terlalu kecil dan rusak--sebenarnya Lana memintanya sekitar 3 bulan lalu Ul, sayang saat itu aku tidak memiliki uang sehingga aku bilang padanya, 'Na sok ya nak bapak duwe duit', dan hebatnya Ul, kalau berkait dengan uang Lana selalu bisa terima--satu lagi kemurahan Allah untuk meringankan bebanku). Dan kau tahu Ul, betapa senangnya ia (sungguh sangat senang rasanya bisa membuatnya begitu gembira--engkau juga kan?).
Sungguh Ul, inilah salah satu kemurahan Allah menurutku, cara Allah membuat orang yang percaya tetap berada dalam lindungan-Nya. Sungguh ini merupakan salah satu kemurahan Allah bahkan dalam keadaan yang begini kacau Ia tetap memberikan kemurahannya, dalam kesedihan Ia tetap menurutkan kebahagiaan.
Ul sungguh aku sangat bersyukur, satu per satu impianmu, impian kita mulai berjalan dan mewujud.
Semoga engkau selalu dan semakin baik di sana Ul, aku yakin rinduku padamu sebanding dengan rindumu padaku. Semoga kita segera bertemu dengan cara yang telah ditentukan olehNya untuk kita.

Love you so much as always

Kamis, 27 Desember 2012

Masih tentangku

Ul, maafkan aku ya, kayaknya aku semakin gila, aku semakin ga bisa mengendalikan diriku, semakin tak bisa mengkontrol diriku.
Ul, dalam keadaan seperti ini sungguh aku membutuhkan hadirmu, dalam bentuk dan wujud apapun atau siapapun, aku membutuhkan seseorang untuk mengingatkanku, mengembalikanku pada jalanku, memarahiku ketika aku melenceng dari jalurku, menyemangatiku saat aku kehilangan arah dan tujuan, membangunkanku dari tidur dan kemalasanku. Dan engkau tahu Ul, hingga kini hanya engkau yang bisa melakukan itu. Hanya engkau yang diberi kemampuan oleh Ia yang memiliki segala kehendak untuk melakukan itu.
Ul, hanya dalam dua minggu aku kembali kehilangan isya' ku, sudah hampir sebulan aku kehilangan tahajjud, dhuha menjadi penuh lobang dan semakin jarang, satu rawatib yang coba ku abadikan juga sering ku tinggalkan, wirid dzikir semakin sambil lalu ku lakukan, Qur'an mungkin sudah 2 bulan tak kusentuh. Ah Ul, aku benar-benar berada dalam ketakutan akan hilangnya arah dan tujuan.
Dan kau juga tahu Ul, kondisi psikisku yang menurun dan kehilangan arah tujuan juga mempengaruhi kondisi fisikku, sudah dua minggu bahkan lebih tubuhku masih juga belum kembali fit, mudah lelah, sakit di persendian, mata berkunang, kepala pening, dan lidah pahit adalah hal-hal wajar yang kini aku alami, meski aku tetap bersyukur pada Allah karena masih dalam kondisi yang dapat ditahan oleh tubuhku sehingga kesehatan fisikku saat ini masih baik dan mungkin semakin baik  dibandingkan beberapa hari lalu.
Ul target liburanku pun kayaknya gagal total, aku rencanakan belajar database untuk membuat base sekolah akhirnya tak dapat kulakukan (akibat hancurnya harddisk pada hari perpindahanmu ke dimensi cahaya aku masih malas untuk menginstal kembali program database dan mulai mempelajarinya), kursus online ku tidak mampu kujalani dengan baik (aku baru melihat satu lecture pada minggu pertama padahal ini sudah minggu kelima menjelang keenam dengan lecture tiap minggu rata-rata sekitar 6 lecture). Menata kembali rumah juga belum mampu aku lakukan karena secara fisik aku benar-benar mengalami kemunduran dan kelemahan (meski sudah tak lagi bergetar ketika berdiri), dan bunga dan tanaman depan rumahpun belum mampu kurawat dengan benar (setelah sekitar sebulan lalu ku tata ulang).
Ul, sungguh hingga sekarang aku masih merasa jiwaku kosong, hampa, isinya masih bersamamu pada hari perpindahanmu ke dimensi cahaya, ragaku masih melanggah  mengikuti insting hayawaninya. Tak ada kendali dari jiwa, tak ada arahan dari hati.
Dan kau pasti juga tahu Ul, dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa melakukan apapun, aku menjadi mayat hidup yang berjalan hanya mengikuti arus dan insting belaka, takkan ada tindakan dan langkah yang bisa benar-benar bermakna. 
Maafkan aku Ul, karena mau tidak mau seluruh beban dan kewajibanku pun tidak mampu aku lakukan dengan baik bahkan kadang ku abaikan dalam keadaan seperti ini (mendidik Lana, mengirimimu do'a, menyambung silaturrahmi dengan semua yang pernah menyambung silaturahmi denganmu, menjaga komunikasi dengan orang-orang yang engkau sayangi, dan segala kewajiban-kewajiban lain baik yang bersifat ilahi maupun manusiawi).
Maafkan aku Ul, atas ketak mampuanku untuk mengendalikan diriku, untuk tetap menguasai diriku, untuk tetap menjaga segala yang engkau percayakan padaku.
Sungguh Ul, dalam keadaan seperti ini aku sangat membutuhkanmu, membutuhkan hadirku dalam wujud dan bentuk apapun atau siapapun yang engkau pilih untuk menjalankan peranmu padaku.
Aku merindumu Ul, rindu segala marahmu saat aku melenceng dari jalurku, rindu segala ucapmu saat aku kehilangan semangatku, rindu setiap ancammu kala aku kehilangan arah tujuanku, rindu kesabaranmu untuk meneguhkan kembali aku dari keruntuhanku, rindu segala yang ada pada dirimu.
Ul, maafkan aku, sungguh aku membutuhkan hadirmu agar aku tak terlarut dalam keterombang-ambinganku, agar aku tak benar-benar kehilangan arah tujuanku.
Ul, love you so much as always...



Kamis, 20 Desember 2012

AKU

Ul, sudah dua minggu sejak hari perpindahanmu dan jiwaku belum juga kembali, jiwaku masih berada di tempat yang tidak dapat ku tarik kembali. Sudah dua minggu dan aku masih raga tanpa jiwa, badan tanpa hati, jasmani tanpa ruhani, tak ada keinginan, tak ada semangat, tak ada arah tujuan.
Ul, tak pikir cerita ini tidak lebih dari sebuah bukti bagiku bahwa selama ini apa yang tak yakini adalah benar. Aku yakin kondisi raga seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaannya, jika secara psikis seseorang lagi sakit, lagi tidak punya apa-apa sebagai alasan untuk bertahan, maka raga seseorang pasti akan bertemu dengan berbagai kekurangan dan akan mulai kehilangan kemampuannya untuk menjaga diri, untuk mempertahankan segala kemampuan dan kekuatannya menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari raga.
Ul, aku ga nyangka kalau hal ini akan kembali terjadi padaku, bahwa aku akan kembali kehilangan seluruh jiwa dan ragaku kembali runtuh dan luluh dalam segala kelemahannya, menyerah pada apapun yang menyambanginya.
Ul, semua dimulai dua minggu lalu, Jum'at 7 Desember, menjelang shalat jum'at, aku benar-benar tak mampu mengendalikan diriku, hanya ada kemarahan yang tak lagi mampu aku bendung, dan akhirnya, engkau tahu, notebook menjadi pelampiasan kemarahanku dan hancurlah harddisknya, hilanglah seluruh data yang ku miliki dan jelas ga mungkin bagiku untuk mendapatkannya kembali, bahkan hingga kini tak juga mampu kukembalikan harddisk itu (meski akhirnya aku tetap bisa menggunakan notebook dengan menggunakan harddisk lainnya, dan harus tak gunakan secara eksternal).
Ul setelah itu ku coba untuk memanggil kembali jiwaku dengan melakukan berbagai hal yang akan membangkitkan kebaikan jiwa dan mengurangi segala kemarahan yang masih tersisa. Ku pergi ke Solo, ke Purwodadi, dan juga ke Semarang, tapi tetap saja belum juga mampu ku panggil kembali jiwaku, ku temukan kembali semangat hidupku.
Dan engkau tahu Ul, hari Minggu kemarin, tubuhku benar-benar tak mampu lagi menahan seluruh bebannya, seluruh persendianku rasaku nyeri, sakit saat ku gerakkan, tubuhku lemas tanpa tenaga, kepalaku pening yang aku tahu bahwa itu bukan sekedar penyakit fisik, mulutku rasanya pahit ketika aku makan dan minum, dan yang paling lucu, perutku mudah sekali lapar, sehingga rasanya aku pengin makan terus namun males karena mulutku pahit. Minggu malam Senin kemarin--menurutku--adalah yang paling parah, aku benar-benar terkapar, bahkan untuk berdiri pun rasanya badanku gemetar. Aku benar-benar takut waktu itu Ul, aku takut kalau tubuhku benar-benar tak mampu lagi menahannya sehingga aku harus masuk rumah sakit. Aku benar-benar ga mau masuk rumah sakit lagi--masih saja aku trauma dengan rumah sakit--, tapi alhamdulillah, pagiku--meski badan masih lemas dan persendian bahkan kulitku pun rasanya sakit ketika disentuh--kayaknya kondisi badanku sudah lebih baik. Lagian aku mesti benar-benar bertahan karena engkau tahu Ul, Lana akan menjadi sedih dan menangis jika ia tahu bahwa aku sakit--Lana seperti memiliki ketakutan tersendiri jika melihat aku sakit, ia seperti tidak bisa terima kalau bapaknya sakit, sesuatu yang mungkin menjadi wajar karena ia pun tahu bahwa ia hanya punya bapak, sebuah kenyataan yang kadang membuatku menangis dan sedapat mungkin untuk menahan sakit apapun agar tidak kelihatan di hadapannya.
Dan sampai sekarang pun aku masih terasa pening di kepala, lemah di tubuh, pahit di lidah, nyeri di persendian dan lapar yang cukup menyiksa (karena biasanya perutku tidak gampang lapar) meski kini sudah berkurang dan tak lagi begitu menyiksa seperti hari-hari sebelumnya.
Ul, beberapa obat dan suplemen sudah ku gunakan dan ku usahakan untuk mengembalikan kembali kekuatan dan kondisi badanku namun tetap saja belum mampu mengembalikan vitalitas dan kesehatan badanku sehingga aku semakin yakin bahwa ini bukan sekedar penyakit fisik, namun lebih pada sekedar penyakit fisik yang hanya merupakan efek dari kondisi psikis yang tak lagi mampu ku kuasai dan ku kendalikan. Rasanya kok tidak masuk akal bagiku jika seseorang sakit malah menjadi selalu lapar, namun aku bersyukur karena jika aku tidak merasa sering lapar mungkin aku bahkan tidak akan makan (kau tahu Ul, ketika secara psikis aku mengalami gangguan, biasanya aku malas untuk makan dan biasanya perutku tidak pernah protes dengan hadirnya rasa lapar).
Ul, sebenarnya sebelum tanggal 7, aku memiliki beberapa rencana dan agenda, aku pengin belan sql untuk membuat dan merancang database selama liburan, dan juga aku ingin benar-benar mengikuti dan berperan aktif dalam kursus online yang dimulai tanggal 26 Nopember dan berlangsung selama 12 minggu. Dan engkau pasti tahu Ul, dua-duanya tidak mungkin aku lakukan dalam kondisi seperti ini. Benar Ul, sampai sekarang (ketika libur sekolah sudah berjalan hampir seminggu) belum juga aku punya semangat dan keinginan untuk kembali melakukan apa yang ku rencanakan, bahkan program sql yang kuperlukan hingga sekarang belum juga aku install kembali. Dan untuk kursus online yang aku ikut (aku ambil tema How to think) yang sekarang sudah berjalan 4 minggu dan akan memasuki minggu kelima, tetap saja belum ku sentuh sama sekali, padahal tiap minggu ada tugas yang harus diselesaikan (minimal 5/6 tugas).
Ah, entahlah Ul, sampai kini pun aku ga ngerti kapan bisa ku dapatkan lagi semangatku, kapan ku temukan kembali jiwaku, kapan mampu ku bangkitkan lagi gairahku.
Ul, aku tahu bahwa aku mesti tetap hidup (hidup dalam arti sebenarnya, hidup dalam sebuah keutuhan antara jiwa dan raga, bukan sekedar raga yang melangkah tanpa jiwa) karena aku tahu aku mesti menghebatkan Lana, aku mesti melaksanakan amanat yang engkau berikan kepadaku, kepercayaan yang engkau serahkan pada pundakku.
Namun aku juga tahu Ul bahwa jiwaku ada dalam dirimu, semangatku mengalir dari keinginan-keinginanmu, gairahku bangkit dari mimpi-mimpimu, maka aku minta maaf Ul jika aku masih saja mengganggumu dengan memintamu untuk mengisi kembali ragaku dengan jiwaku yang bersatu dengan jiwamu, mengobarkan kembali semangat yang menyala dalam keinginan-keinginanmu.
Maka, hadirlah selalu bersamaku, bersatu kita dalam cinta yang tak pernah mati.
Ah, mungkin ini yang bisa aku ceritakan padamu kali ini.
I love you Ul, always love you...
rinduku padamu mengalir dari tiap pori tubuhku, memancar dari setiap titik yang membentuk jiwaku. Aku merindumu dalam seutuh seluruh diriku, raga dan jiwa, lahir dan batin, jasmani dan ruhani...
peluk cium selalu untukmu...

Minggu, 16 Desember 2012

pengen cerita tapi belum bisa

Ul, sekolah mulai libur. Kembali aku bingung mesti ngapain. Kemarin aku ada rencana untuk belajar membuat database, tapi ga ngerti apakah jadi tak lakukan atau tidak. Notebook belum normal so bikin kerja dengan jaringan tidak maksimal, lola dan bikin emosi ae, belum lagi rasa malasku yang masih saja bergelayut manja, semangat yang belum kutemukan kembali sejak hari perpindahanmu ke dimensi lain, ah entahlah Ul........
Banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu Ul. Ga kuat aku jika mesti menanggung semua sendiri. Aku rapuh...
Ul.....bingung aku untuk mulai bercerita dari mana, dari diriku, dari Lana, dari sekolah, dari Jun, dari kita, ah....mungkin lain kali saja Ul aku bercerita, mungkin lain kali aku akan membuat tema untuk setiap ceritaku sehingga bisa lebih enak, bisa lebih runtut, bisa lebih memiliki alur.
Lagi kali aja ya Ul....hari ini ternyata aku belum mampu bercerita, masih terlalu penat aku untuk mulai bercerita, masih terlalu sempit hati untuk mulai mengurai kisah.
I love you so much....
peluk cium dan belaiku untukmu.....