ul, kadang sepi serasa hendak membunuhku
begitu rindu aku padamu
seluruh hadirmu
senyum, tawa, canda
cemberut, kesal, marah
belai, peluk, cium
begitu rindu aku padamu
hingga waktu seakan berhenti terpaku
Sabtu, 01 Januari 2011
Selasa, 07 Desember 2010
Ul, aku tetap yakin bahwa engkaulah isteriku, pasangan jiwaku, penghias relung jiwaku. engkau takdir hidupku, tak mungkin ku tukar atau ku ganti.
Ul, bohong jika aku tak butuh perempuan dalam hidup setelahmu, tapi aku hanya akan menikahi perempuan yang ku rasakan ada dirimu dalam dirinya. Aku hanya akan menikahi perempuan yang Lana merasakan ada ibunya dalam dirimu.
Ul, bagiku cinta satu kali. pasangan sejati hanya satu. Jika terganti, pasti pengganti tak lebih dari perwujudan jiwa yang ada dalam cinta satu kali.
Ul, kadang....ah...sudahlah....ku rindu padamu....hanya padamu.
sorry Ul, jika kadang ku lakukan hal-hal yang tak kau senangi untuk atasi rinduku padamu. maaf jika kadang ku kerjakan hal-hal yang menurutmu tak perlu untuk temani diriku...
terlalu rindu aku padamu, entah kapan akhirnya kita ketemu...
Ul, bohong jika aku tak butuh perempuan dalam hidup setelahmu, tapi aku hanya akan menikahi perempuan yang ku rasakan ada dirimu dalam dirinya. Aku hanya akan menikahi perempuan yang Lana merasakan ada ibunya dalam dirimu.
Ul, bagiku cinta satu kali. pasangan sejati hanya satu. Jika terganti, pasti pengganti tak lebih dari perwujudan jiwa yang ada dalam cinta satu kali.
Ul, kadang....ah...sudahlah....ku rindu padamu....hanya padamu.
sorry Ul, jika kadang ku lakukan hal-hal yang tak kau senangi untuk atasi rinduku padamu. maaf jika kadang ku kerjakan hal-hal yang menurutmu tak perlu untuk temani diriku...
terlalu rindu aku padamu, entah kapan akhirnya kita ketemu...
Selasa, 16 November 2010
Jumat, 12 November 2010
lagi kepadamu isteriku
tak pernah patah
tak pernah salah
tak pernah jatuh
tak pernah luruh
tak pernah letih
tak pernah tertatih
itu anganku
angan yang ku tancapkan
kala kau serahkan semua padaku
kadang ragu
kadang termangu
kadang bimbang
kadang mengerang
kadang takut
kadang kalut
hadirmu sangat berarti
itupun aku tahu
bahkan dalam ketak hadirmu
adamu sungguh jauh lebih berarti
tak pernah salah
tak pernah jatuh
tak pernah luruh
tak pernah letih
tak pernah tertatih
itu anganku
angan yang ku tancapkan
kala kau serahkan semua padaku
kadang ragu
kadang termangu
kadang bimbang
kadang mengerang
kadang takut
kadang kalut
hadirmu sangat berarti
itupun aku tahu
bahkan dalam ketak hadirmu
adamu sungguh jauh lebih berarti
Blogged with the Flock Browser
Label:
adamusungguhsangatberarti
Ul, jo bosen krungu gersahku ya
Ul. kadang aku bingung
bingung banget
sampai gak ngerti kudu piye
temani aku ya,
hadir dalam tiap tarik nafasku
hangatkan dingin hatiku
Ul, semakin tak kuatke atiku
semakin ra kuat rasane
Ul,
tetaplah jadi rinduku
yang meniscayakan ketemu
selalu
bingung banget
sampai gak ngerti kudu piye
temani aku ya,
hadir dalam tiap tarik nafasku
hangatkan dingin hatiku
Ul, semakin tak kuatke atiku
semakin ra kuat rasane
Ul,
tetaplah jadi rinduku
yang meniscayakan ketemu
selalu
Blogged with the Flock Browser
Label:
perempuanterbaikku,
ul
Jumat, 29 Oktober 2010
di hari pemberangkatan haji
Dulu pernah kau bertanya padaku: "bisa gak kita naik haji?". Ku jawab saat itu: "Asal ada niat pasti kita akan ketemu jalan menuju ke sana". Dan beragam rencana sudah kau buat untuk mewujudkan hal itu, termasuk rencana untuk mengadakan arisan haji dengan teman-teman kantormu. Kini rencana itupun menguap dan bubar seiring dengan kepergianmu.
Hari ini, dua belas calon jemaah haji berangkat dari Selo, tepat habis shalat jum'atan, acara pemberangkatan dilakukan di masjid.
Ketika ku lihat orang-orang memakai seragam jemaah hati Indonesia, dengan warna biru langitnya, tak urung aku kembali menangis, bukan kesedihan, hanya teringat rencana-rencana kita yang belum kesampaian, hanya teringat segala keindahan yang pernah kita rasakan bersama, hanya teringat akan segala yang ada di dirimu.
Ul, hari ini ku putuskan untuk menegaskan kembali keinginan-keinginan yang belum kesampaian, dengan berlandaskan pada keyakinan bahwa apapun yang pernah terlintas dalam pikiran kita--selama itu kebaikan--insya Allah, Allah pasti akan menyertakan dalam diri kita kemampuan untuk mewujudkannya.
Dan yang jelas Ul, aku rindu padamu. sungguh aku rindu padamu.
Semoga kebaikan selalu menyertaimu, wahai belahan yang ditempatkan di sisi kosong jiwaku.
Hari ini, dua belas calon jemaah haji berangkat dari Selo, tepat habis shalat jum'atan, acara pemberangkatan dilakukan di masjid.
Ketika ku lihat orang-orang memakai seragam jemaah hati Indonesia, dengan warna biru langitnya, tak urung aku kembali menangis, bukan kesedihan, hanya teringat rencana-rencana kita yang belum kesampaian, hanya teringat segala keindahan yang pernah kita rasakan bersama, hanya teringat akan segala yang ada di dirimu.
Ul, hari ini ku putuskan untuk menegaskan kembali keinginan-keinginan yang belum kesampaian, dengan berlandaskan pada keyakinan bahwa apapun yang pernah terlintas dalam pikiran kita--selama itu kebaikan--insya Allah, Allah pasti akan menyertakan dalam diri kita kemampuan untuk mewujudkannya.
Dan yang jelas Ul, aku rindu padamu. sungguh aku rindu padamu.
Semoga kebaikan selalu menyertaimu, wahai belahan yang ditempatkan di sisi kosong jiwaku.
Blogged with the Flock Browser
Minggu, 24 Oktober 2010
Iri telah meracuniku
Hari ini benar-benar aku merasa teracuni oleh rasa iri. Iri akan anugerah dan nikmat yang diberikan Allah kepada orang-orang sekelilingku. Bagaimana mungkin aku merasa sakit ketika melihat teman-teman dekatku berada dalam kebahagiaan. Bagaimana mungkin aku merasa aku lebih berhak atas nikmat itu dari mereka. Padahal aku dulu ikut membantu mereka. Ikut bekerja keras agar mereka dapat berhasil melalui langkah-langkah untuk mendapatkan anugerah ini. Iri benar-benar telah meracuni hatiku hingga aku sempat berpikir dan mempertanyakan kebaikan seluruh titah yang telah ditetapkan.
Dulu aku sering berkata: "Rejeki orang ndak perlu kita hitung karena Allah telah menetapkan rejeki sesuai dengan kadar kebutuhan tiap orang". Lalu mengapa aku sekarang merasa iri. Benar-benar ini.
Benar memang, saat-saat ini aku berada dalam kesulitan yang cukup kompleks. Aku mesti menyelesaikan urusan dengan diriku sendiri dan pada saat yang sama kebutuhan hidup mesti aku penuhi. Tapi, apakah itu boleh digunakan sebagai alasan agar aku iri?
Tak pikir tidak ada alasan apapun yang membolehkan seseorang iri kepada orang lain atas nikmat yang diterimanya, apalagi teman-teman akrabnya.
Tidakkah aku meyakini bahwa nikmat dan rejeki dianugerahkan Allah sesuai dengan kebutuhan tiap insan manusia? Tidakkah aku meyakini bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya? Tidakkah aku meyakini bahwa apapun yang terjadi pasti telah digariskan dan merupakan hal terbaik yang mesti terjadi? Tidakkah pula aku yakin bahwa tidak ada suatu cobaan apapun yang menimpa seorang hamba kecuali Allah telah menanamkan dalam dirinya suatu potensi dan kekuatan untuk menyelesaikannya?
Lalu, kenapa tetap saja iri berhasil meracuni hatiku sehingga merusak pandanganku terhadap teman-teman baikku?
Tak mungkin aku berlari dan menghindar dengan mengatakan ini pekerjaan setan. Tidak ini bukan pekerjaan setan. Mungkin ini lebih pada ketak mampuanku untuk bersabar, untuk melihat sesuatu dari kacamata kebaikan. Mungkin ini lebih karena kenaifanku sebagai manusia. Tak mampu mengendalikan ego yang selalu merasa tinggi, ego yang penginnya menang sendiri, ego yang tak pernah mau mengakui kesalahan diri.
Kini, hanya kepada Engkau ya Rabb aku mampu mengadu. hanya kepada Engkau aku tengadahkan tangan mengharap rahmat kasih-Mu. Mohon kalahkah iri hatiku, mohon tundukkan ego diriku, mohon lapangkan dadaku.
Dan aku pun tahu rahmat-Mu jauh melebihi murka-Mu
Dulu aku sering berkata: "Rejeki orang ndak perlu kita hitung karena Allah telah menetapkan rejeki sesuai dengan kadar kebutuhan tiap orang". Lalu mengapa aku sekarang merasa iri. Benar-benar ini.
Benar memang, saat-saat ini aku berada dalam kesulitan yang cukup kompleks. Aku mesti menyelesaikan urusan dengan diriku sendiri dan pada saat yang sama kebutuhan hidup mesti aku penuhi. Tapi, apakah itu boleh digunakan sebagai alasan agar aku iri?
Tak pikir tidak ada alasan apapun yang membolehkan seseorang iri kepada orang lain atas nikmat yang diterimanya, apalagi teman-teman akrabnya.
Tidakkah aku meyakini bahwa nikmat dan rejeki dianugerahkan Allah sesuai dengan kebutuhan tiap insan manusia? Tidakkah aku meyakini bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya? Tidakkah aku meyakini bahwa apapun yang terjadi pasti telah digariskan dan merupakan hal terbaik yang mesti terjadi? Tidakkah pula aku yakin bahwa tidak ada suatu cobaan apapun yang menimpa seorang hamba kecuali Allah telah menanamkan dalam dirinya suatu potensi dan kekuatan untuk menyelesaikannya?
Lalu, kenapa tetap saja iri berhasil meracuni hatiku sehingga merusak pandanganku terhadap teman-teman baikku?
Tak mungkin aku berlari dan menghindar dengan mengatakan ini pekerjaan setan. Tidak ini bukan pekerjaan setan. Mungkin ini lebih pada ketak mampuanku untuk bersabar, untuk melihat sesuatu dari kacamata kebaikan. Mungkin ini lebih karena kenaifanku sebagai manusia. Tak mampu mengendalikan ego yang selalu merasa tinggi, ego yang penginnya menang sendiri, ego yang tak pernah mau mengakui kesalahan diri.
Kini, hanya kepada Engkau ya Rabb aku mampu mengadu. hanya kepada Engkau aku tengadahkan tangan mengharap rahmat kasih-Mu. Mohon kalahkah iri hatiku, mohon tundukkan ego diriku, mohon lapangkan dadaku.
Dan aku pun tahu rahmat-Mu jauh melebihi murka-Mu
Blogged with the Flock Browser
Label:
iri,
penyakithati
Langganan:
Postingan (Atom)