Minggu, 16 Desember 2012

pengen cerita tapi belum bisa

Ul, sekolah mulai libur. Kembali aku bingung mesti ngapain. Kemarin aku ada rencana untuk belajar membuat database, tapi ga ngerti apakah jadi tak lakukan atau tidak. Notebook belum normal so bikin kerja dengan jaringan tidak maksimal, lola dan bikin emosi ae, belum lagi rasa malasku yang masih saja bergelayut manja, semangat yang belum kutemukan kembali sejak hari perpindahanmu ke dimensi lain, ah entahlah Ul........
Banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu Ul. Ga kuat aku jika mesti menanggung semua sendiri. Aku rapuh...
Ul.....bingung aku untuk mulai bercerita dari mana, dari diriku, dari Lana, dari sekolah, dari Jun, dari kita, ah....mungkin lain kali saja Ul aku bercerita, mungkin lain kali aku akan membuat tema untuk setiap ceritaku sehingga bisa lebih enak, bisa lebih runtut, bisa lebih memiliki alur.
Lagi kali aja ya Ul....hari ini ternyata aku belum mampu bercerita, masih terlalu penat aku untuk mulai bercerita, masih terlalu sempit hati untuk mulai mengurai kisah.
I love you so much....
peluk cium dan belaiku untukmu.....

Sabtu, 15 Desember 2012

Sudah Seminggu

Hai Ul, ku rindu selalu segalanya darimu, senyum, tawa, cemberut, marah, dan apapun saja yang berasal dan berhubungan denganmu, he he...
Ul, sudah seminggu dan aku belum mampu kembali temukan arahku, dalam seminggu aku menjadi males untuk melakukan apapun, semua tak biarkan begitu saja, serangkaian rencana yang dibuat pada minggu-minggu sebelumnya terbengkalai tanpa usaha untuk menyelesaikannya. Dan selalu saja faktor yang mendukungku untuk menjadi semakin malas saja, mulai dari notebook jebol, jaringan internet sering ngadat dan hal-hal lain yang membuatku tidak mungkin untuk melakukan rencana-rencana itu.
Ul, kayake aku benar-benar kacau kali ini, bahkan sudah lebih dari seminggu ini aku mengambil keputusan untuk melangkah di area kiri spiritualitas, semua hal yang biasa aku lakukan, semua hal yang terkait dengan ritualitas untuk meningkatkan kepekaan jiwa kutinggalkan, hanya hal-hal mahdhoh ae yang tak lakukan, ku tinggalkan dhuha, ku tinggalkan tahajud, ku tinggalkan wirid, ku tinggalkan mendaras al-Qur'an, shalat fardlu pun ku lakukan hanya sebentar, tanpa wirid tanpa duduk tenang.
O ya Ul, mulai minggu terakhir November aku ikut semacam kuliah online. Aku ambil materi How to Argue and Reason, materi dapat diunduh secara online setiap minggu, materi berupa ceramah (lectures), sudah tiga minggu berjalan, sudah lebih dari 20 lectures yang ku dapatkan, namun sayang belum ada yang ku cermati dengan sungguh-sungguh, bahkan dari 20-an tes yang diberikan baru 2 tes yang dilakukan, semua masih tak biarkan begitu saja, belum sempat aku mendengarkannya (ato mungkin tepate masih terlalu malas aku untuk memelototi lectures itu).
Ah entahlah Ul, putaran kebengalanku dengan Tuhan mungkin semakin cepat, sehingga titik-titik di mana aku cenderung "melanggar" perintah Tuhan dan melakukan larangan-Nya semakin sering aku lakukan (kau tahu kan Ul, yang paling sering tak lewatkan adalah shalat Isya', dalam 3 bulan ini mungkin sudah lebih dari 3 kali aku terlewatkan shalat isya'--berarti kurang dari sebulan putaran keliaranku kembali ke titik asalnya, sesuatu yang tak pikir sudah hilang ketika kita menikah dulu, karena sebelumnya aku juga seperti itu dengan intensitas yang lebih jarang).
Ul, aku ga ngerti apakah karena kondisi psikologisku tidak baik maka kemudian segala sesuatu berjalan tidak baik. Ada-ada saja hal yang membuatku menjadi tersinggung dan marah tanpa mampu ku kendalikan. Atau karena beberapa hal berjalan tidak sesuai yang ku harapkan maka kondisi psikologisku menjadi semakin labil. Ah, entahlah Ul...
Wis sik ya Ul, satu hal yang aku tahu pasti Ul, aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku merindumu sepanjang waktu....
Love you as always....
eeeeemmmmmmmmmm.........ah...

Senin, 10 Desember 2012

ku pejamkan mata dan kita kembali bersama

dalam terpejam ku temui dirimu
mengajakmu kembali bersamaku
menikmati matahari
menikmati keindahan
menikmati kemegahan
menikmati kehangatan

dengan memejamkan mata
ku penuhi tuntutan rindu
menghadirkanmu di hadapku
bercengkrama kita di kursi tua
nikmati pagi dengan kesejukannya

ku pejamkan mataku
dan engkau pun hadir bagiku
kapanpun
di manapun
cukup pejamkan mata
dan cinta kembali bersama
dan rindu kembali temukan pengobat dahaga

ku katupkan mata
ku masuki dunia di luar raga
dunia bagi jiwa-jiwa pecinta
di mana sang kekasih bertahta
tempat pertemuan penuh cahaya
tempat kesucian tak pernah ternoda

cukup dengan memejamkan mata
kembali kita saling bersua
memadu kasih membagi cinta

cukup dengan memejamkan mata
dan semua kembali seperti semula

Jumat, 07 Desember 2012

Maafkan aku sayang...

Ul...
maafkan aku untuk setiap kekecewaan yang engkau rasakan karenaku
maafkan aku untuk setiap janji yang belum juga mampu aku penuhi
maafkan aku untuk tiap titik luka yang engkau alami bersamaku
maafkan aku untuk segala kekurangan yang aku miliki
maafkan aku atas kebahagiaan yang baru seujung kuku
maafkan aku untuk setiap angan yang belum juga mewujud dalam kenyataan
maafkan aku atas ketakmampuanku menjaga raga dan jiwamu
maafkan aku, belum juga mampu ku bangun tempat belajar sebagaimana inginmu
maafkan aku, belum juga mampu ku hidupkan lagi apa yang telah engkau bangun bersamaku
maafkan aku, belum juga ku temukan jalan untuk menghebatkan Lana, putra kita, putramu dan putraku
maafkan aku, belum juga mampu ku buka jalan menuju tanah suci, berhaji bersamamu
maafkan aku, masih saja aku bocah gegabah yang belum mampu belajar dari waktu
maafkan aku, begitu banyak kekurangan dalam diriku dan hampir tak ada keistimewaan yang dapat dibanggakan di hadapmu
maafkan aku, masih jauh aku dari impian dan harapanmu

peluk cium selalu untukmu, dalam rindu yang tak pernah surut ataupun layu

Kamis, 06 Desember 2012

hanya rindu

Ul, apa lagi yang mesti ku ceritakan padamu? Kerinduan yang tanpa batas? Cinta yang terus bergelora? Atau segala cerita yang beredar dan berlangsung di sekitar kita?.
Ah Ul, sebenarnya apa yang terjadi adalah bahwa aku benar-benar ingin selalu bersamamu, dan cerita hanyalah salah satu cara agar aku tetap merasa bersamamu, berbagi denganmu.
Ul, apa yang saat ini benar-benar aku inginkan, harapkan, butuhkan adalah kebersamaan denganmu, kebersamaan jiwa, kebersamaan dalam rindu dan cinta.
Ul, hari-hari ini adalah hari-hari di mana segala keindahan begitu merasukiku, merasakan sebanyak mungkin kasih dan cinta menyebar dalam seluruh jiwa, mengalir bersama nadi ke seluruh pori.
Ul seperti butuhku pada makanan untuk raga, demikian juga butuhkan pada kebersamaan kita dalam jiwa. Cinta adalah tanaman yang mesti dirawat dan dijaga oleh dua jiwa yang menyatu dalam satu nafas cahaya. Cinta adalah keabadian selama kita meyakini dan meresapinya.
Ul merindumu adalah sebuah kenikmatan dan kegelisahan yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk bersamamu menjadi kita yang tak lagi membedakan aku dan kamu.
Ul, ah entahlah apa aku masih mampu bercerita padamu ketika rindu begitu menguasai kalbu, ketika rindu menjadi pemegang kendali seluruh desir dan denyut nadi yang menjalari seluruh tubuh dan diriku, raga dan jiwaku.
Ul, inilah hari-hari di mana cahaya begitu gemerlap, bintang begitu terang, indah memancar di langit semesta jiwa, hangat menyapa beku sukma.
Ul, inilah rindu sempurna ketika jawaban terbaiknya adalah sua.
Ul, rindu memeluknya raga dan jiwaku
rindu kebersamaan denganmu dalam ada dan tiadamu
rindu menikmati segala keindahan yang tak ternah berkurang kedahsyatan dan keluarbiasaan.
rindu menyatu jiwa bersamamu, arungi samudera kasih di atas sampan kecil cahaya di atas samudera hidup mengharu biru

Rabu, 05 Desember 2012

untukmu puisiku

sungguh ku nikmati seluruh hari-hariku bersamamu
dulu, kini, dan entah sampai kapan aku tak t ahu
karena keabadian ku harapkan dari semua itu

sungguh ku nikmati setiap detakku kala bersatu dengan detakmu
di tempat yang aku sendiri tak tahu
mengalir berkejaran kita di sepanjang waktu
tak ada jeda, tak ada bosan, tak ada jemu
hanya ada tawa, canda, dan seluruh kegembiraan kalbu
berguling kita di hamparan rumput lembut bagi beludru

sungguh ku nikmati saat-saat kebersamaan kita yang tak pernah sirna
dulu, kini, dan ku harap akan sepanjang masa
tiap getarku adalah getarmu, getar kita
tiap denyutku adalah denyutmu, denyut kita
nafasku adalah nafasmu, nafas kita
kebersatuan dalam jiwa, abadi sepanjang masa
karna hanya raga yang mampu sirna
sedang jiwa abadi bersama Asalnya

sungguh ku nikmati saat nafasku merindu nafasmu
sungguh ku nikmati saat desahku merindu desahmu
sungguh ku nikmati saat diriku menyatu dengan dirimu
dalam desah, dalam gairah, dalam gelombang rindu menderu kalbu

ah, entahlah sayang, kadang aku sendiri tak tahu mesti bagaimana keabadian jiwa kualirkan, ku ungkap dalam bentang kata yang seringkali menghilang makna
aku merindumu dalam hadir dan tiadamu
aku merindumu dalam kebersamaan jiwa maupun keterpisahan raga
aku merindumu dalam keramaian dan kesenyapan
aku merindumu dalam seiring tarik nafas yang keluar masuk paru
aku merindumu dalam seluruh dan segalaku...

Senin, 03 Desember 2012

Ul, it's about me and Jun

Hai Ul, tetep ae kangen awakmu, meski tiap hari ku sebut namamu sebagaimana kunikmati desah-desah berat mengalir bersama nafasku.

Ul, kayake Jun benar-benar marah, jengkel, kecewa, mangkel dan segala perasaan ga bersahabat bersatu dalam dirinya ketika harus bersinggungan denganku. Mungkin juga hari-hari ini ia tidak akan pernah mau bersinggungan denganku, bahkan mungkin apapun yang datang dariku akan langsung dihindari dan dibuang biar tidak membuat sesuatu yang tidak mengenakkan hati.
Aku tahu Ul, semua berasal dari salahku, sebuah kesalahan yang sebenarnya tak maksudkan sebagai sebuah candaan, tapi rupanya aku salah tempat dan waktu, so akhirnya menjadi rusak seluruh bangunan komunikasi yang baru saja mulai terhubung lagi.
Ul, kalau aku umpamakan kesalahan yang aku lakukan mungkin adalah nyala api yang menghanguskan seluruh rumah dan bangunan yang untuk membangunnya membutuhkan waktu sangat lama namun untuk menghanguskannya hanya membutuhkan satu percik nyala, dan kesalahan yang aku lakukan telah menjadi percik itu, sehingga bangunan komunikasiku dengan Jun hancur berantakan--tak tahu aku apakah telah menjadi arang atau abu--.
Ul, sungguh aku menyesal dan kecewa dengan diriku, tapi apa lacur semua sudah terjadi, ku coba untuk meminta maaf--meskipun aku juga tidak tahu apakah cara yang ku gunakan dapat diterima atau malah membuat Jun semakin memandangku tak berharga di hadapnya--. Aku tahu Ul, Jun memiliki arti tersendiri bagiku, ia bukan sekedar adik iparku, ia mulai memiliki tempat tersendiri dalam hatiku, tempat yang berada tepat di samping tempatmu, tempat di mana aku merasa nyaman untuk bercerita, untuk mengatakan apapun yang aku rasakan tanpa merasa harus menjaga kerahasiaan.
Ul, aku tidak pernah menyalahkan atau kecewa dengan apa yang ia lakukan, karena menurutku adalah haknya untuk bersikap apapun atas apa yang ia rasakan, atas apa yang ia dapatkan, atas apa yang aku lakukan padanya.
Ul, aku ga ngerti juga kadang aku benar-benar ingin berbicara, bercerita dengannya, berbagai segala beban dalam dada, dan berbagi berbagai rencana seperti dulu kita lakukan bersama.
Ul, aku juga merasakan detak berbeda ketika dalam dirinya--meskipun seringkali juga ku rasakan detakmu ada di dalamnya--ada sedetak kegelisahan, ada sedetak kekecewaan, ada sedetak kemarahan, ada sedetak kerinduan yang kadang menyelip tak terduga.
Ada kalanya juga aku mesti diam lama, mengingat segala peristiwa ketika beberapa kejadian serupa terjadi ketika aku bersama Jun hampir sama seperti beberapa peristiwa yang pernah kita lalui bersama--meski dalam waktu dan set yang berbeda--. Ada beberapa tanda-tanda yang kadang membuatku berpikir bahwa ia adalah perempuan yang engkau tunjukkan padaku untuk menjadi dirimu. 
Ul, mungkin itu juga yang kemudian membuatku melakukan beberapa hal yang membuat Jun merasa tidak nyaman, mungkin kecewa, bahkan marah atau memutuskan untuk tidak bersinggungan sama sekali denganku.
Ah, entahlah Ul, tak aku apa yang sebenarnya, jelas ku rasakan ada sesuatu yang istimewa dalam diri Jun bagiku, meski hingga kini belum bisa aku menetapkan apa sesuatu yang istimewa itu (dan seringkali tak pernah mampu ditetapkan karena seringkali cukup untuk dimengerti dan dinikmati, he he).
Ul, aku tak mungkin bohong padamu dengan mengatakan bahwa diamnya Jun tidak berpengaruh apapun bagiku, karena bagiku, siapapun ia, siapapun yang sudah memiliki tempat istimewa dalam jiwaku, tidak mungkin ia tidak menggelisahkanku ketika ia mulai 'mengabaikanku'.
Ul, kadang aku berpikir apakah aku harus mengatakan semuanya padanya, atau cukuplah ini menjadi sesuatu yang hanya kita yang tahu, aku dan kamu. Ah, entahlah Ul, lihat saja semoga segalanya kembali menjadi seperti sediakala.
Ul, hari ini aku tidak terlalu berharap bahwa Jun mau kembali berbicara, berkomunikasi denganku,--lewat apapun dan dua minggu ini aku merasa ia benar-benar tak mau bersinggungan denganku meski aku berusaha untuk menyapanya--, mungkin satu-satunya harapan yang paling masuk akal bagiku saat ini adalah bahwa ketika ia pulang kami bisa kembali ngobrol seperti biasa atau minimal kami bisa memperlihatkan sikap biasa di hadapan orang-orang yang ada di sekitar kami.
Ul, mungkin ini dulu ceritaku padamu, nanti kita sambung lagi.

I love you so much...
Aku merindumu sepanjang waktu....