Jumat, 05 September 2014

rindu

kadang rindu tak memberi kesempatan untuk menghindar diri
menghentak dada, menekan hati
kadang pun rindu tak mau tahu
pada siapa ia mesti dimaksudkan
bahkan aku pun terlalu sering tak tahu
ini rindumu atau rindu pada seseorang yang ku anggap sebagai dirimu
atau rindu pada hati yang menjadi bagian dari hatiku
ah, entahlah....
kan ku coba untuk menikmati setiap rindu yang mengalir di kalbu
kan ku coba syukuri setiap denyut yang menderu
kan ku coba untuk menyerahkan segala pada Ia Sang Segala

Senin, 11 Agustus 2014

Cerita, Lana dan Jun

Ul, semoga kesejahteraan dan kedamaian senantiasa tercurah untukmu, semoga senyum senantiasa menghias wajahmu, semoga Ia sang Maha Segala senantiasa menganugerahkan kebahagiaan dalam masa penantianmu.


Ul, mungkin hari-hari ini Lana kembali benar-benar merindumu dan mungkin saja beberapa hari ini ia mendapat ‘pelampiasan rindunya padamu’ dengan kehadiran Jun. Tahu ga Ul, beberapa hari ini Lana tampak sangat dekat dengan Jun—padahal biasanya tidak seperti itu, apalagi kalau ada Anip--.


Tadi malam, gara-gara Jun ingin memotong kuku Lana, tiba-tiba Lana diam, ngambek—biasa lah memang Lana agak susah kalau akan dipotong kukunya--. Awalnya memang tak anggap biasa, tapi kemudian Lana diam, ga ngrespon ketika diajak bicara, Cuma cemberut dan wajahnya mulai kelihatan pengen nangis. Akhirnya tak ajak pulang, dan sampai rumah pun ia masih seperti itu, meskipun sudah mulai mau bicara, itu pun bicara tentang hal-hal yang tidak terkait dengan kejadian di omah lor. 


Sekitar setengah jam kemudian, tiba-tiba Lana nangis tanpa sebab, dan seperti biasa Lana ga ngejawab apapun ketika tak tanya, ia cuma nangis dan memelukku (beberapa kali memang Lana seperti itu, menangis tiba-tiba tanpa aku tahu sebabnya). Setelah diam, Lana bilang ia ga bisa tidur, ga ngantuk, padahal siangnya ga tidur dan saat itu sudah lebih dari pukul sembilan (biasanya kalau siang ga tidur, jam 8 Lana sudah mulai ngantuk).


Ul, aku jadi berpikir bahwa mungkin Lana merasa lagi benar-benar merindumu dan apa yang dilakukan beberapa hari ini dengan Jun sedikit banyak merupakan bentuk pelampiasan dari rindunya, ia ingin bermanja-manja (sesuatu yang tidak ia dapatkan setelah engkau melintas alam), dan tiba-tiba tadi malam saat Lana juga bermanja-manja dengan Jun, tiba-tiba Jun ingin melakukan sesuatu yang tidak ia sukai sehingga membuat Lana menjadi kehilangan mood nya, lalu ngambek, ga mau ngomong, ga mau mendengar (mungkin Lana juga memprotes).


Ul, sebenarnya aku kepingin menceritakan hal-hal yang beberapa kali dilakukan Lana pada saat-saat—mungkin—ia lagi benar-benar merindumu kepada Jun, tapi aku merasa mungkin tidak tepat lagi untuk menceritakan hal-hal itu kepadanya. Aku ga enak, karena mungkin itu akan membebani pikirannya.


Ul, beberapa hari lalu—mungkin semingguan—Jun bercerita tentang beberapa hal yang hingga saat ini masih membebani pikirannya terkait dengan kita (aku, awakmu, dan Lana). Sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri, dan mungkin ada saat-saat ketika hal itu meledak dalam dirinya. O ya Ul, saat itu aku berkata kepada Jun bahwa aku mulai terpikir tentang pernikahan dan saat terpikir tentang hal itu maka yang muncul adalah dirinya.

Ul, Jun terdiam beberapa saat, kemudian mulai bercerita tentang hal-hal yang selama ini begitu membebani dan menekan pikirannya—terutama tentangmu, bebannya, keluhanmu, kegagalanku untuk membahagiakanmu, dan mungkin banyak hal lagi yang masih belum mampu ia ceritakan kepadaku terkait denganmu, dengan kehidupan rumah tangga kita yang engkau ceritakan kepadanya, terkait dengan Lana, terkait dengan segala keluhanku kepadanya.


Sungguh Ul, saat itu aku seperti kembali tersadar bahwa aku masih sangat banyak berhutang janji padamu, janji untuk mengejar mimpi-mimpi kita, janji untuk ikut menjadi dan membantu adik-adikmu, janji untuk menebus segala salahku atas setiap keputusan yang ku ambil—yang dulu ku anggap akan menjadi awal bagi kebahagiaan kita dan ternyata hanya membuatmu menderita--.


Ul, pengin juga aku ngomong ke Jun agar ia mau menceritakan segala hal yang mengganjal di hatinya kepadaku, siapa tahu dengan bercerita maka segala beban dan ganjalan di hati akan menjadi lebih ringan, lebih tidak membebani, tak perlu ia merasa ewuh pakewuh atas apa yang akan diceritakan, bahwa tidak mungkin bagiku untuk marah kepadanya—meskipun cerita itu terkait dengan kegagalanku untuk mensurgakan rumah kita--. Aku tahu Ul, bahwa aku mungkin yang paling bersalah atas semua yang terjadi, dan mungkin salah satu jalan yang bisa aku lakukan untuk menebusnya adalah dengan mendengarkan kembali segala kesalahanku yang kembali diceritakan Jun kepadaku, kesalahan-kesalahan yang beberapa mungkin sudah aku ketahui, dan beberapa mungkin belum aku sadari.


Ul, setelah aku bicara dengan Jun tentang itu, memang ada sedikit lega di hatiku karena satu hal menjadi lebih jelas bagiku, bahwa Jun sekarang menjadi tahu tentang ‘keinginan untuk menjadikannya isteriku’. Aku tahu Ul, ada beberapa hal yang mungkin akan membuat hal itu menjadi sekedar hayalan—dan yang paling jelas mungkin adalah bahwa Jun berusaha untuk tidak lagi tinggal dan menetap di Selo dan bahwa ia tidak pernah mau menjadi bayangan siapapun (termasuk menjadi bayanganmu—seseorang yang aku yakin sangat dikagumi dan sangat dicintainya).


Ul, sebenarnya aku sendiri juga tidak benar-benar bisa mengerti dan memahami apa yang ku rasakan. Saat kerinduanku padamu menggejolak, kurasakan juga kerinduan yang sama pada Jun, demikian juga sebaliknya, saat aku teringat dengan Jun maka sepertinya aku benar-benar kembali merasakan kerinduan yang menggelombang padamu. 


Ul, kembali aku bertanya pada diriku, benarkah pada akhirnya engkau benar-benar diperkenankan untuk kembali hadir bagiku dengan mewujud dalam diri Jun, atau aku sebenarnya mulai mencintai Jun sebagai laki-laki kepada seorang perempuan lalu mencari pembenaran dengan menganggap bahwa engkau telah mewujud dalam dirinya?


Ul, kembali ke Lana, ada cerita—entah ini menurutmu lucu atau tidak yang jelas saat hal ini terjadi aku ketawa--. Sekitar tiga atau empat hari lalu, ada undangan untuk srokalan (hajatan karena kelahiran bayi yang waktunya aga panjang sehingga selesainya sekitar jam 9 an), setelah pulang dari srokalan, sambil tiduran Lana berkata padaku; “Bapak golek ibu yuk?”, sebenarnya aku kaget darimana ide itu berasal, aku tetap diam dan Lana meneruskan; “Ngko ben nak bapak hajatan aku ono sing ngancani, ga dewean”. Aku bertanya, “Golek nang ngendi?”, Lana jawab; “ya sembarang, opo golek nang luwes?”. Aku ketawa sambil menjawal; “emang ibu kayak sabun golek nang Luwes” (mungkin pikiran anak-anak itu masih seperti itu, ia tahu bahwa di Luwes ada benda dan barang apapun yang dibutuhkan, karena itu mungkin dalam pikirannya ibu pun bisa dicari di sana, he he he). Tak pikir sudah selesai masalahnya, ternyata tanpa terduga Lana kembali bertanya; “lha bapak ndek kae golek ibu nang ngendi?”. Agak tersentak aku dengan pertanyaan itu, dan Lana mengulang pertanyaannya, tetap saja aku kelabakan dan bingung bagaimana mesti menjawabnya. Akhirnya aku berkata kepadanya; “wis wengi, ndang turu disik, sesok ga iso tangi esuk lho”.


Ul, ini cerita tanpa tendensi ya, aku juga tidak bermaksud meminta ijin kepadamu untuk menikah lagi, karena hari ini Ul, kalau pun aku mesti menikah lagi maka aku hanya bisa menikah dengan Jun, karena darinya aku mendapat kenyamanan sebagaimana yang ku rasakan kepada bersamamu. Dan saat ini kemungkinkan terwujud jauh lebih kecil daripada sebaliknya. Dan mungkin merupakan bagian dari rasa hormat dan mungkin juga rasa bersalahku padamu atau mungkin juga karena aku memang mencintai Jun sebagai seorang lak-laki kepada serang perempuan, jika pada akhirnya aku menikah dan bukan dengan Jun, maka aku ingin itu terjadi setelah Jun menikah.


Entahlah Ul, kadang memang aku juga tidak mengerti sebenarnya apa yang ku cari, yang jelas aku hanya ingin berusaha untuk menebus segala salahku padamu, aku hanya ingin engkau menjadi lebih bahagian, lebih damai dalam peristirahatanmu.


Mungkin sampai hari ini akan ada banyak amalanku yang tak akan mendapat balasan dari Allah karena alasan aku melakukannya adalah sebagai bentuk rasa hormat dan rasa cintaku padamu, bukan ikhlas karena Allah. Ah biarlah, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengungkapkan segala cinta dan sayangku padamu, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menceritakan rinduku padamu.


Ul, mungkin ini dulu cerita kali ini. I love you so much…aku sangat mencintamu dan semoga aku tetap menyadari bahwa besarnya cintaku tak lebih dari anugerah yang diberikan Allah kepadaku, sehingga semakin aku mencintaimu dan merindumu semakin aku menyadari betapa syukur kepada Allah mesti aku lakukan dengan semakin menyuburkan cintaku padamu, dengan semakin mendalamkan rinduku padamu.


Peluk cium dariku, semoga jiwa kita tak pernah terpisah hanya karena batasan alam dan waktu. Amin


Minggu, 03 Agustus 2014

Gimana nih....

Ul, semoga engkau senantiasa berada dalam perlindungan dan kasih sayang Ia yang menetapkan segala.
Ul, aku ga ngerti aku terlalu merindumu atau engkau memang telah menyatu dalam diri adikmu, sehingga kembali detak begitu menekan dan menyiksaku, detak rindu, detak cinta, detak yang sejak lama tak lagi kurasakan sejak engkau berpindah ke dimensi beda.
Ul, kembali aku merasa hampir tak tertahankan untuk mengatakan segala yang ku rasakan pada Jun, bahwa ada getar sama yang kurasakan sebagaimana saat bersamamu ketika bersamanya bahkan ketika sekedar menyebut namanya, ada detak-detak yang menentu yang sekarang terlalu sering hadir ketika terpikir tentang dirinya, bahwa kadang aku merasa bahwa pada suatu saat kayaknya benar bahwa ia akan menjadi bagian dari diriku, bahwa mungkin ia benar-benar perwujudan dirimu. Atau bahwa mungkin saja bukan engkau yang mewujud dalam dirinya, bahwa ia sebenarnya tetaplah ia, namun hatiku telah tertawan oleh sesuatu yang hampir sama dengan yang ada di dirimu.
Ul, sebenarnya tetap seperti dulu bahwa ketakutan terbesarku bukanlah apakah Jun mau menerimaku sebagai pasangannya atau tidak, kekhawatiran terbesarku adalah bahwa Jun akan tersinggung atau bahkan marah dan kemudian tidak lagi mau berhubungan lagi denganku, ketakutanku adalah bahwa aku akan kehilangan kedekatan dengan orang yang sangat engkau sayangi—dan mungkin sekarangpun menjadi orang yang sangat aku sayangi (sebagai kakak dan adik)--.
Ul, sebenarnya aku sendiri masih mempertanyakan apakah ketakutanku ini memang karena aku takut kehilangan kedekatan dengan orang yang sangat engkau sayangi atau ketakutan kehilangan orang yang tanpa aku sadari telah menjadi seseorang yang aku cintai (bukan lagi sebagai kakak adik, namun telah bergerak menjadi cinta seorang laki-laki kepada seorang perempuan). Aku masih juga belum benar-benar mengerti mengapa seperti ini, kalau memang aku tidak memiliki bias dalam keinginanku, mana mungkin aku begini ketakutan untuk mengatakan sesuatu—padahal dulu ketika kami mudah untuk saling berbagi dan bercerita apapun tanpa merasa takut akan kehilangan sesuatu--. Apakah ketakutanku ini bukan merupakan pertanda bahwa sebenarnya aku memang mulai menginginkan Jun sebagai isteriku, bukan sebagai pengganti dirimu, namun sebagai dirinya sendiri (meskipun sampai sekarang pun aku masih yakin bahwa tak mungkin bagiku untuk menggantikan dirimu dengan siapapun).
Ul, seingatku Jun pernah  mengatakan padaku bahwa ia tidak mungkin bisa hidup di Selo. Kalau seperti itu sebenarnya akan sulit bagi kami untuk bisa bersama karena kayaknya aku pun tak mungkin bisa meninggalkan Selo. Dan kalau memang benar demikian, berarti ketika aku bertanya pada Jun, ‘apakah mau jadi isteriku?’, mungkin jawab ya memiliki prosentase lebih kecil dari pada tidak. Lagian, menurutku tidak ada seorang perempuan pun yang mau untuk menjadi bayang-bayang dari perempuan lain, mestipun itu kakaknya sendiri yang sangat ia sayangi. Dan aku pun tidak bisa menjanjikan apapun terkait dengan ini (karena meski aku berusaha semampuku untuk tidak menjadikannya sebagai bayang-bayangmu jika benar ia menjadi isteriku, mungkin ada saat ketika aku pun tidak bisa menghindari hal itu).
Ul, aku ga tahu apakah pada akhirnya pada hari-hari ini aku benar-benar akan mengatakan kepada Jun mengenai hal ini. Yang jelas beberapa hari kebersamaan kami, aku merasa semakin tidak tahan untuk tidak mengatakan hal ini kepadanya. Bahkan ada ketakutan tersendiri pada diriku akan ketidak mampuanku untuk mengendalikan diriku ketika dekat dengannya. Aku takut tiba-tiba aku melakukan hal-hal yang diluar kendali (ada beberapa kali ketika aku mesti menggelengkan kepala ketika memandang Jun untuk menghilangkan hasrat untuk memeluk dan menciumnya,  aku sudah mulai gila kan?).
Ul, kamu tahu kan tahun lalu aku juga merasakan hal yang sama, bahkan mengatakan padamu bahwa mungkin aku akan menulis kepada Jun untuk mengungkapkan hal ini?. Tahun lalu aku juga mengurungkannya dengan alasan aku takut Jun menjadi marah dan tersinggung sehingga tidak lagi mau berbicara dan berhubungan denganku (apalagi saat itu aku merasa hubungan kami agak renggang—dibandingkan pada masa-masa sebelumnya). Tahun ini yang aku rasakan jauh lebih tak tertahankan dari pada tahun lalu dengan ketakutan juga jauh lebih takut dibandingkan tahun lalu. Tapi, bukankah engkau pernah mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengatasi ketakutan adalah dengan menghadapinya? Dan setahun ini aku masih menghindari ketakutanku, aku masih mampu untuk menahannya, entahlah mungkin jika tahun ini aku benar-benar tidak mampu menahannya aku akan mengatakan hal ini kepada Jun.
Kau tahu Ul, bahkan aku merasakan kecanggungan tersendiri ketika hanya bersama dengan Jun, ketika memboncengkannya saat pulang dari tempat Mas Fuad. Mungkin Jun juga melihat dan merasakan kecanggungan dari gerak dan tingkahku--meski sedapat mungkin aku berusaha untuk bersikap wajar--dan mungkin hanya dengan mengatakan semua ini kepadanya semua kecanggungan ini akan kembali seperti semula, dan mungkin hanya dengan mengungkapkan apa yang mulai terbersit di pikiranku kepadanya hubungan kami bisa kembali sebagaimana semula. Aku sangat berharap dengan hal itu meski masih saja sangat takut untuk melakukannya, takut kehilangannya--entah dengan alasan apa hingga kini pun aku belum juga mampu untuk menjawabnya.

Ul, aku benar-benar merindumu, 
merindu semua yang ada di dirimu, 
merindu wajahmu, 
merindu matamu, 
merindu hidungku, 
merindu nafasmu, 
merindu aromamu, 
merindu sentuhanmu, 
merindu belaimu, 
merindu cumbuanmu, 
merindu menyatu denganmu.

Ul, bantu aku ya untuk memutuskan apa yang mesti aku lakukan, bantu aku ya untuk menegarkan diri, bantu aku ya untuk tetap merindumu sepanjang waktu.

Ul, ah….

Rabu, 30 April 2014

hai

mestikah kembali ku urai kata tuk sekedar mengagumimu...
mengurai rindu yang semakin mendayu
membeber cinta yang tak pernah reda melimpahiku

ah....
atau kembali bercerita segala rasa
berbagi kisah sepanjang masa
menaut jiwa mentertawakan duka

Senin, 07 April 2014

ketika kata tak mampu terucap

dengarlah bahasa diamku sayang
saat kata tak lagi mampu mewakili apapun yang ku rasa
rasakan degubku sayang
biar ia yang ceritakan segala padamu
karena hanya engkau dan degubmu yang dianugerahi oleh Sang Pemilik Waktu
untuk mengerti gulungan cerita dalam bahasa diamku
untuk memahami segala rasa yang ada di balik denyut degubku

Jumat, 13 Desember 2013

cerita lagi ya...

Hai Ul, semoga kita selalu senantiasa dalam naungan dan jalan yang diridloi, semoga engkau selalu berada dalam kedamaian dan kebahagiaan. 
Ul, ada banyak cerita yang ingin ku bagi, bahkan mungkin terlalu banyak untuk dapat aku ceritakan dalam satu tulisan ini. Setiap detik perjalanan adalah sebuah cerita, setiap denyut berdetak adalah sebuah cerita, setiap mata berkedip pun adalah sebuah cerita.
Ul, aku ga ngerti kali ini akan kemana jalan ceritaku, seperti juga aku ga ngerti nanti akhirnya dari mana aku akan memulai ceritaku. Atau mungkin suatu saat aku perlu membuat tema-tema dalam ceritaku pa ya? (he he).
Beberapa hari yang lalu Anip dan Jun pulang, mereka membawakan Lana sebuah boneka. Boneka Doraeman yang besar. Jelas Lana senang lah. Bersamaan dengan itu, ndilalah mbak Rima dan keluarga juga ke rumah, so boneka ne disimpan dulu biar ga bikin iri Aisyi dan Salsa. Meskipun akhirnya boneka itupun digunakan untuk main bersama, tapi tidak sampai ada yang tahu bahwa boneka itu diberikan ke Lana.
Ya, sebenarnya tidak ada yang istimewa, semua merupakan hal yang biasa dan lumrah terjadi ketika dalam waktu-waktu tertentu Anip dan Jun pulang. Cuma mungkin aku saja yang melihatnya dengan cara berbeda dibandingkan pada masa-masa sebelumnya.
Kau tahu Ul, entah ini kebetulan yang berapa kali, Jun pulang dengan memakai kerudung biru seperti yang dulu sering kau kenakan. Tidak ada yang salah dengan hal itu, dan mungkin saja ketika mengenakan itu Jun juga tidak kepikiran apa-apa.
Sebenarnya pas pulang, Anip memintaku dan Aam untuk menjemput di Ngantru, tapi karena agak gerimis, akhire mereka naik dokar meskipun aku dan Aam juga sudah sampai di Ngantru. Ketika itulah aku sekilas aku melihat bahwa yang duduk di dokar itu dirimu dengan kerudung biru kesukaanmu bukan Jun. Ah, mungkin aku terlalu merindumu Ul, sehingga segala sesuatu menjadi seakan-akan dirimu ataukah engkau benar-benar ada dalam dirinya? Entahlah Ul.
Ul kau tahu, semakin takut saja aku bertanya sesuatu kepada Jun, semakin takut saja jika pertanyaan yang tak ajukan menyinggungnya, semakin takut saja aku jika ia semakin menjauhiku.
Kadang aku berpikir seperti kembali kepada masa lalu, masa ketika aku takut ngobrol denganmu, masa ketika aku menjadi salah tingkah saat berada di dekatmu, cuma kali ini dengan tingkat ketakutan dan kerumitan yang berbeda.
Serius Ul, aku merasa seperti merasakan getaran yang sama dengan yang pernah kurasakan dalam dirimu, ada rasa nyaman seperti rasa nyaman kala bersamamu. Aku juga tidak tahu aku mesti menyebutnya apa? Apakah engkau benar-benar mulai mewujud dalam dirinya? Ataukah aku mulai mencintainya sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan sehingga aku merasakan getar yang mirip dengan getar kita? Tapi sejauh pengetahuanku dari bacaan yang pernah ku baca getar jiwa yang keluar dari satu orang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Artinya ketika kita mencintai seseorang kemudian karena sesuatu hal kita mesti mencintai orang yang berbeda, maka getar yang kita rasakan tidak ada sama, masing-masing pribadi memiliki pancaran jiwa berbeda yang juga akan menghasilkan getar berbeda.
Ul, ada saat-saat tertentu ketika aku benar-benar merasakan ketidak nyamanan luar biasa dengan segala kekakuan ini. Ada saat-saat ketika aku benar-benar ingin menceritakan segala sesuatu kepada Jun sebagaimana ketika aku menceritakan segala sesuatu kepadamu.
Kadang aku merasa bahwa apa yang menjadi sebab kenapa Jun memutuskan untuk bersikap seperti ini mungkin karena aku telah bercerita banyak hal kepadanya (termasuk hal-hal privasi yang tidak pernah aku ceritakan kepada orang lain). Mungkin ia merasa perlu untuk menjaga jarak karena mungkin menurutnya jarak di antara kami sudah terlalu dekat, atau mungkin ada beberapa ceritaku yang membuatnya kecewa, atau bahkan marah--terutama yang terkait denganmu atau Lana dan beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi (termasuk kemungkinan aku akan memintanya menikah denganku), ah entahlah Ul.
Beberapa kali terlintas dalam pikiranku bahwa mungkin cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah memberitahu Jun tentang apa yang terjadi, bahwa faktanya aku mulai mencintainya sebagai laki-laki kepada perempuan (lepas apakah karena engkau benar-benar mengejawantah dalam dirinya ataukah aku benar-benar mulai mencintainya kemudian merasa bahwa engkau mengejawantah dalam dirinya?), bahwa jika aku mulai berpikir tentang sebuah pernikahan maka yang ada dalam pikiranku adalah menikah dengan dirinya? Atau cukup dengan bertanya kepadanya; 'maukah engkau suatu saat menikah denganku?'. 
Sebenarnya mungkin ketakutan terbesarku bukan apakah kemudian ketika aku bertanya, Jun menerima atau menolakku, ketakutan yang mencegahku untuk mengatakan hal ini adalah ketakutan bahwa kemudian Jun benar-benar menutup segala hal yang terkait denganku. Dan itu sampai sekarang belum bisa aku terima. Tetap saja aku belum sanggup untuk menghadapi kenyataan bahwa orang yang sangat engkau sayangi menjauh dariku, aku belum sanggup menghadapi kenyataan bahwa--entah sengaja atau tidak--aku menyakiti orang yang sangat dekat denganmu.
Saat inipun--lepas dari apakah aku tergetar atau tidak--aku sendiri kadang berhitung terkait dengan kemungkinanku menikah dengan Jun. Bahwa sampai kapanku, jika kami masih memegang prinsip masing-masing maka kans nya kecil. Setidaknya ada dua hal yang tidak mungkin dapat kami pertemukan. Pertama, saat ini aku sama sekali tidak punya keinginan untuk berpindah tempat dari Selo karena di sana ada makammu, sedang Jun pernah berkata padaku pada ia tidak mungkin kembali dan tinggal di Selo. Kedua, aku tahu Jun tidak mau menjadi bayangan bagi siapapun, termasuk menjadi bayanganmu (kakak yang sangat ia banggakan dan sayangi), dan ia tahu bagaimana pandanganku tentang cinta (karena aku pernah bicara banyak dengannya tentang hal ini--dulu saat kami masih bisa bicara dengan bebas tanpa beban).
Kadang aku membayangkan bahwa suatu saat akan ada waktu ketika akan ditunjukkan kepada isyarat-isyarat yang meyakinkanku bahwa--entah dia menerimaku ataupun menolakku sebagai seorang perempuan dewasa--hubungan di antara kami akan baik-baik saja seperti masa-masa yang lalu, bahwa hubungan di antara kami akan kembali seperti semula sebagai kakak dan adik. Sebagaimana dulu ditunjukkan isyarat-isyarat yang meyakinkanku bahwa engkau akan menerimaku sebagai bagian dari dirimu.
Kadang aku juga merasa karena seringkali memberitahu (via sms) dan bercerita tentang Lana mungkin membuat Jun berpikir memang perlu untuk menjaga jarak denganku. Tidak salah memang, namun kau tahu Ul, sejak Jun menunjukkan sms mu kepadanya terkait Lana, sejak itu pula aku meyakini bahwa engkau mewakilkan pengawasanmu terhadap perkembangan Lana kepada Jun, aku aku merasa punya kewajiban untuk memberitahu keadaan dan perkembangan Lana kepada Jun sebanyak yang aku bisa.
Ah, entahlah Ul, aku tidak tahu sampai kapan bisa memendam ini (kadang aku juga berharap Jun menikah dengan laki-laki yang mampu menggetar hatinya dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian segala bias yang ada di antara kami akan hilang, sebuah harapan yang penuh kepentingan, he he). Ada saat-saat ketika aku benar-benar ingin kembali mampu bercerita kepada seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman untuk menceritakan segala hal. Dan hingga saat ini hanya dua orang yang membuatnya nyaman untuk menceritakan segala hal, engkau dan Jun. Itupun tidak bisa hadir dalam satu waktu, baru setelah engkau berpindah ke dimensi lain, aku baru mulai bisa bercerita kepada Jun tentang segala hal dengan nyaman hingga tiba ketika mungkin ceritaku terlalu jauh.
Aku tidak bisa memindahkan rasa nyaman ini kepada orang lain sebagaimana aku juga tidak pernah menyengaja untuk berusaha merasakan kenyamanan saat bercerita kepada Jun setelah engkau berpindah ke dimensi cahaya. Bagiku ini merupakan sesuatu yang taken for granted (sebuah anugerah). Dan yang bisa dilakukan untuk sebuah anugerah adalah menikmati dan mensyukurinya.
Atau mungkin ketakutanku belum sampai puncaknya sehingga aku masih bisa untuk memendamnya.
Ah entahlah Ul, yang jelas dan aku tahu adalah bahwa aku selalu merindumu, merindukan segala yang ada dalam dirimu....

Love you so much as always.....see you.....

O ya, kemarin pas pulang ke Pare, Anip kecopetan, di dalamnya ada uang, KTP, Kartu ATM, STNK Duplikat (padahal KTP baru saja buat sehari sebelumnya, dan STNK duplikat juga baru tak serahkan). Entahlah ada apa dengan anak itu, kenapa cerita tentang kehilangan barang cukup sering mengikuti perjalanannya...

Dah dulu  ya....